Untitled Document
 


Untitled Document
.KITAKITA
:: Jika Anda di Panyingkul ::
 
 KABAR KITA
 
 BERANDAKITA
Kegilaan, Dari Cinta Mati di Pulau Rajuni Hingga Riwayat Kadang
:: Ivan Firdaus ::
Baba Guru, Mengenang Film Rhoma Irama di Klenteng Galesong
:: Kamaruddin Azis ::
Mengagumi Tenun Troso, Mengenang Tenun Sengkang
:: Suryadin Laoddang ::
Perempuan Besi di Gunung Perak (2-selesai)
:: M. Aan Mansyur ::
Perempuan Besi di Gunung Perak (1)
:: M. Aan Mansyur ::
 
 RISETKITA
Rasa Takut : Yang Dicitrakan, Yang Dipelihara
:: Aria W. Yudhistira ::
Risetkita: Pramoedya versus Sejarah Resmi
:: Nurhady Sirimorok ::
Hikayat Rumpon Nelayan Mandar
:: Muhammad Ridwan Alimuddin ::
Di Makassar Pernah Ada “Negeri Wajo”
:: Nurhady Sirimorok ::
Surat Itu Ditulis Upas kepada September
:: Nurhady Sirimorok ::
 
 BUKUKITA
 
 KATAKOTAKITA
Kenapa si Gondrong yang Maju?
:: Ivan Firdaus dan Mustamin al-Mandary ::
Karena ‘Rewa’ Badan Binasa
:: Sudirman Nasir ::
Yang Okkot, yang Salah Sambung
:: Nursamsu danTusiana Noor Alfisyahr ::
Kandala`ka`, Kusta Bila Dusta
:: Panyingkul ::
Ayo, Si(ng)kat Terussss..!
:: Panyingkul! ::

 
 TAHUKAHKITA
 

.
 ::
Kamis, 11-09-2008 
Andrea Hirata Mundur Dua Abad
:: Nurhady Sirimorok ::


Citizen reporter Nurhady Sirimorok yang sedang menyiapkan buku Analisis Modernitas dengan merujuk pada karya-karya Andrea Hirata (Tetralogi Laskar Pelangi), menurunkan nukilan buku tersebut khusus untuk pembaca Panyingkul! Tulisan ini adalah bagian kedua sekaligus terakhir. Bagian pertama nukilan ini dapat dibaca di sini.(p!)
Saya sering membayangkan bagaimana seandainya mendiang Edward Said sempat membaca tiga novel Andrea Hirata. Di sofa perpustakaan pribadinya mungkin dia akan senyum kecil membolak-balik buku-buku itu. Takjub. Betapa pengaruh para Orientalisme menancap sangat dalam di batok kepala sang novelis. Eksploitasinya terhadap dunia Timur yang diciptakan oleh Orientalis Barat begitu maksimal, mencapai tingkat yang benar-benar mencengangkan. Taburan ikon-ikon dan idiom Barat seperti enceng gondok yang memenuhi permukaan sungai di muara.

Sulur narasi Andrea yang berujung di Paris bisa jadi mengingatkan Said pada sepak terjang serdadu dan ilmuan yang diboyong Napoleon di tahun 1798 ketika mereka hendak menaklukkan Mesir. Setelah berhasil mereka membawa pulang banyak benda bersejarah dari negeri tua itu. Invasi sistematis pimpinan sang jenderal menghasilkan karya kolektif, dua puluh tiga jilid, Description de l’egypte, yang membantu orang Eropa menegaskan superioritasnya terhadap dunia yang mereka bayangkan sebagai Timur. Dia merinding mengingat bahwa buku ini pernah berhasil menggoda para Orientalis menjadikan Mesir sebagai “laboratorium dan teater dari pengetahuan Barat yang efektif mengenai dunia Timur.”

Sepulang dari ekspedisi itu, atau lebih tepatnya penjarahan besar-besaran, kenang Said, Napoleon mendirikan sebuah monumen di Paris. Monumen yang kini didatangi jutaan pelancong tiap tahun, mungkin seperti Ikal dan Arai, karena berada tepat di pertengahan jalan paling tersohor di sana, Champ Elysse. Nama monumen itu pun akan membuat sakit hati orang Mesir, Arc de Triomphe, gerbang kemenangan.

Napoleon bagi Mesir seperti van Heutsz bagi Aceh. Bedanya, kalau van Heutsz hanya bergantung pada Snouck Hurgronje untuk mengetahui isi dalam Aceh, maka Napoleon membawa serta “lusinan cendikiawan” untuk mempelajari Mesir. Dan jika van Heutsz memanfaatkan informasi Snouck hanya sebelum menyerang Aceh, maka Napoleon mengkonsumsi banyak sekali teks tentang Mesir sebelum menyerang, dan memerintahkan lusinan ilmuan membuat lebih banyak lagi catatan. Kelak, dari Mesir, dengan bantuan catatan para ilmuannya, Napoleon ingin memperlebar invasinya.

Pemujaan bak berhala Andrea terhadap kehidupan akademik di Paris mungkin membuat Said terkenang pada Bartholomey d’Herbelot yang menulis berjilid-jilid kumpulan risalah di kota itu, yang menghimpun seluruh studi tentang dunia Timur, Oriental. Buku itu diberi judul Bibliotheque Orientale, yang secara sederhana bisa diartikan, ‘Perpustakaan studi Ketimuran’. Buku yang menjadi rujukan hingga akhir abad 19, yang berisi banyak salah paham orang Barat tentang Islam pada masa itu.
Deskripsi Andrea yang begitu bersemangat tentang kota mode itu boleh jadi membuat Said ingat pada kalimatnya sendiri yang dia tulis di buku, yang dalam terjemahan Indonesianya bernama Orientalisme. “…dan selama lebih dari paruh pertama abad ke sembilan belas Paris adalah ibukota dunia Orientalis (bahkan menurut Walter Benjamin, sepanjang abad ke sembilan belas).”

Setelah menyelesaikan ke tiga buku itu—kalau dia tahan—mungkin Said akan menghela nafas panjang sambil geleng-geleng. Saat seperti itu, saya bayangkan dia ingin menulis ulang dalil-dalilnya dari Orientalisme. Bahwa Orientalisme adalah cara untuk memahami dunia Timur dari kacamata Barat. Bahwa Orientalisme adalah gaya berpikir yang menyihir orang untuk menerima mentah-mentah pemikiran bahwa terdapat perbedaan mendasar antara Barat dan Timur. Bahwa Timur itu ciptaan Barat karena orang Barat menulis tentang Timur dengan bebas tanpa adanya perlawanan. Bahwa setelah menarik garis, dan menonjol-nonjolkan perbedaan, orang Barat kemudian datang mempelajari, menaklukkan, dan mencitrakan Timur menurut kehendak mereka. Seperti kodok percobaan yang ditangkap kemudian dibelah untuk kepentingan penelitian skripsi. Bahwa dengan begitu, Barat merawat superioritasnya terhadap Timur.

Setelah itu mungkin Said tidak bisa tidur tenang. Pikirnya, “bagaimana kalau buku Andrea dibaca banyak orang Indonesia?”


Karnaval itu akhirnya tiba juga. Mahar menjadi pahlawan yang dipuja-puja Ikal dalam persiapan karnaval ini. Dialah sang koreografer, penata busana, sekaligus komposer dan pemain musik. Mahar bisa segalanya. Dalam novel Andrea para tokoh memang begitu. Perguruan Muhammadiyah yang doyong dan kemasukan kambing di tempat terpencil itu berisi orang-orang hebat yang tidak kita temukan di tempat manapun. Guru yang sempurna, muridnya pun rata-rata luar biasa. Tak heran bila mereka melakukan hal luar biasa dalam pesta karnaval, menampilkan sebuah tarian perang suku Masai dari Afrika.

Untuk pakaian mereka memanfaatkan bahan-bahan yang sangat banyak dan salah satu anggota Laskar Pelangi harus bekerja empat hari untuk menyelesaikannya. Koreografinya hanya datang dari pemikiran jenius Mahar tanpa kita tahu pernah dia lihat di mana. Soalnya di kampung Ikal tidak ada bioskop. Mungkin Mahar sempat mengintip foto tarian itu buku-buku di perpustakaan kepala sekolah berisi banyak sekali buku sains canggih. Tapi bagaimana Mahar tahu gerakannya kalau itu cuma foto? Ah, agak sulit membayangkan Mahar menemukannya di mana-mana di sekitar rumahnya. Yang paling memungkinkan adalah Andrea Hirata menemukan tarian itu di wikipedia dan menelusuri gambar dan dokumenternya.

Internet memang ajaib. Seluruh informasi yang kita butuhkan ada di sana. Pencitraan tentang orang Afrika yang populer tentu sangat banyak di sana. Memilih informasi untuk saya tuliskan di sini membutuhkan berjam-jam. Ada yang membeberkan dengan datar ada pula mengulasnya dengan analisis kritis. Fenomena keterjajahan Afrika memang luar biasa well-documented, sebab nyaris seluruh bangsa Eropa besar—tentu Perancis termasuk di dalamnya—memotong-motong kue tart Afrika untuk mereka bagi-bagi. Mereka tidak hanya membelah-belah tetapi juga mendokumentasikan, mempelajari, menamai, agar lebih mudah dan efektif untuk diperintah dan dijarah.

Keterangan standar dari wikipedia akan terlihat membosankan bila tak dilengkapi ulasan-ulasan dari beberapa website yang menayangkan analisis postcolonial terhadap penyajian Afrika kepada dunia oleh orang Eropa sejak abad ke-19. Menurut salah satu tulisan Jan Nederveen Pieterse, Colonialism and Representation—hasil membuka-buka halaman dari mesin pencari google, sejak abad ke 19, orang Afrika menjadi bahan pajangan yang laku di Eropa. Gambaran tentang perang adalah salah satu yang paling digemari orang Eropa. Ketika sepasukan Eropa datang ke sebuah pelosok Afrika untuk berperang, mereka membawa serta seniman yang diutus media untuk ‘meliput perang’. Mereka membuat lukisan akurat tentang pakaian angkatan perang Eropa dan lawannya. Namun bagi media yang kurang punya fulus seperti Illustrated London News, mereka hanya menggambar dari ‘tangan ke dua’, hasilnya adalah pencitraan karikatural tentang angkatan perang Afrika yang sangat digemari orang Inggris.

Penggambaran pasukan perang Afrika, yang tersebar menjadi pencitraan populer di Eropa adalah, sepasukan orang telanjang dada, menggunakan senjata manual sederhana seperti tombak, berperang tanpa aturan, dan kalah. Mereka dilukiskan sebagai orang-orang liar dan karena itu gampang ditaklukkan. Padahal yang sebenarnya adalah mereka sudah menggunakan senjata api sejak setidaknya dua abad sebelumnya, dan tidak telanjang dada. Gambaran tarian perang gubahan Andrea Hirata dalam Laskar Pelangi sangat dekat dengan pencitraan populer ala kaum kolonial.

Paris, Mei 1889, sedang menyambut tamu-tamu malang yang didatangkan dari negeri-negeri jajahan. Exposition Universelle atau Pameran Sejagad, sedang berlangsung di kawasan seluas nyaris satu kilometer persegi. Menara Eiffel yang rampung tahun itu menjadi pintu gerbangnya. Pada perhelatan yang menyedot jutaan pengunjung itu, empat ratus orang berkulit gelap dipamerkan seperti hewan-hewan tangkapan di kebun binatang—pameran semacam ini di Eropa memang dirintis oleh pengelola kebun binatang.

Titik yang paling menyedot perhatian dalam pameran itu adalah village negro atau perkampungan orang berkulit hitam. Sebagian orang Eropa di masa itu menamainya Human Zoo atau kebun binatang berisi manusia—tentu pertunjukan tarian perang mereka yang liar juga ada di dalamnya. Di masa itu orang Eropa sangat percaya teori evolusi Darwin, bahwa manusia berasal dari kera. Nah, di antara kera dan bangsa Eropa, ada spesies setengah jadi, spesies beradab rendah, telanjang dan liar, cuma mengenakan kulit kayu atau jerami tanpa baju, dan berkulit gelap. Mahluk ‘belum jadi manusia’ ini sungguh menarik ditonton orang Eropa yang beradab. Bagi ilmuan mereka subyek penelitian. Bagi penguasa mereka benda taklukan. Bagi para agamawan mereka calon gembala.

Selain itu juga ada layanan merasakan menjadi penjajah. Mereka tidak perlu repot-repot ke Afrika untuk merasakan enaknya jadi penguasa. Selain memanjakan mata dengan pertunjukan eksotik, mereka juga merasakan digendong di atas hammock khas Afrika dengan bayaran murah. Orang-orang berkulit hitam yang malang itu harus merasakan malu di negeri penjajahnya.

Reaksi penonton dan juri karnaval dalam Laskar Pelangi mirip dengan orang-orang Eropa beradab di Paris akhir abad ke-19. Mereka berdecak kagum melihat pertunjukan aneh nan eksotis itu. Tentu dari mata warga kolonial Eropa, yang diwakili Andrea, dan ditularkannya kepada seluruh audiens dalam novel larisnya itu, marching band yang sudah sering mereka lihat tidak akan bisa menandingi tarian langka bangsa ‘biadab’ ini. Sungguh sebuah adopsi sempurna sebuah colonial mind dari seorang putera Melayu Belitong. Dan guru-guru Muhammadiyah turut bangga pada pertunjukan murid-muridnya.

Entah mengapa saya teringat lagu Bob Marley, Bufallo Soldier, ketika membaca adegan tarian perang itu. Mungkin karena melibatkan Ikal yang tampil sebagai sapi. Lagu itu bercerita tentang perjalanan panjang orang Afrika yang dirampas dari kampungnya, untuk dijual sebagai budak di benua Amerika.


Lapland masih belum dikenal orang ketika Carl Linnaeus tiba di sana. Dialah yang akan membuat kawasan di ujung utara Swedia itu menjadi terkenal. Sang ahli botani dan ekologi berlayar dari Uppsala di tahun 1732 menuju tempat itu untuk sebuah ekspedisi penelitian yang dibiayai akademi Sains Uppsala. Sesampai di sana dia mulai mengumpulkan dan membuat klasifikasi tumbuhan yang ada di sana. Setelah itu dia meneruskan ekspedisinya beberapa tempat lain untuk melakukan hal serupa. Di Belanda, tahun 1735, dia menerbitkan catatan tentang klasifikasi tumbuhan sepanjang sebelas halaman berjudul systema naturae. Akhirnya, setelah kembali ke Uppsala, terus meneliti sembari mengajar sebagai guru besar, pada tahun 1741, catatan kecil itu telah menjadi buku besar.

Buku ini sangat berpengaruh bagi para ahli botani Eropa yang saat itu sedang giat-giatnya menduduki belahan dunia lain. Sejak tahun 1878 sampai 1914, atau hingga berkecamuknya perang dunia pertama, mereka menguasai sekitar 84 persen permukaan bumi. Dengan membawa sistem buatan Linneaus para ilmuan Eropa, atas sokongan dana pemerintah kolonial, melakukan pengumpulan dan pembuatan klasifikasi tumbuhan dan hewan—manusia termasuk di dalamnya.
Taksonomi gaya Linnean ini, yang bertaburan dalam buku Laskar Pelangi, mengundang banyak komentar dari ilmuan-ilmuan generasi belakangan. Mary Pratt, dalam bukunya, Imperial Eyes, sains taksonomi Eropa utara, yakni praktek mengklasifikasi dan menamai organisme yang belum dikenali di Eropa, menciptakan sebuah kesadaran baru. Sejak itu orang menganggap bahwa planet ini berpusat di Eropa. Untuk menyebutkan sebuah orgnisme yang ada di bumi orang harus merujuk dari apa yang dibuat Eropa.

Andrea Hirata hanya salah seorang warga bumi yang harus menggunakan nama latin agar yakin dia tidak sedang berbuat kesalahan ketika menyebutkan nama tumbuhan yang ada di kampungnya. Inilah cara yang benar untuk melakukannya. Dia bayangkan pembacanya berpendidikan ala Eropa, sama seperti dia, sehingga juga bergantung pada taksonomi untuk mengenali tumbuhan. Cara penyebutan lain akan dianggap tak ilmiah, berisiko tidak dikenali oleh pembaca, dan harus dinomorduakan atau dihilangkan sama sekali.

Kemungkinan lain, Andrea adalah produk sekolah Orde Baru yang rajin menghilangkan nama lokal. Bisa jadi, satu-satunya jalan bagi dia untuk mempelajari nama asing adalah dari sekolah. Sementara nama lokalnya telah hilang dibawa ke kuburan oleh para pendahulunya. Saya yang tak berusia tak jauh dari sang novelis, juga turut menjadi korban dari fenomena semacam ini.

Bagi gaya berpikir kolonial bangsa Eropa, orang-orang berkulit gelap itu adalah hewan-hewan biadab piaraan yang telah dijinakkan. Mereka dan sebagian negeri serta isinya telah diberi nama menurut cara berpikir Eropa agar lebih mudah dipelajari. Sebelum menjadi jinak mereka tentu harus ditaklukkan dulu. Untuk menaklukkan mereka dibutuhkan keunggulan senjata dan siasat. Sebelum itu pemilik modal dan pemegang kuasa harus diyakinkan. Para ilmuan sangat dipercaya untuk hal ini.

Lanskap, tumbuhan, hewan, dan manusia: bangsa jajahan, harus dipelajari oleh para ilmuan. Nama-nama aslinya mesti diubah menjadi nama yang lebih saintifik, yang asing ditelinga orang setempat. Lalu nama-nama itu dibawa pulang ke universitas untuk diajarkan sebagai ‘ilmu’ sebelum diekspor kembali ke tanah jajahan lewat ‘pendidikan’ formal bentukan pemerintah penjajah. Ketika generasi muda Melayu mempelajarinya sebagai ‘ilmu’, sebagaimana Ikal, hilanglah nama Melayunya. Kasus pohon filicium yang muncul ratusan kali di Laskar Pelangi menjadi salah satu buktinya.

Demikian berkuasanya ‘ilmu’ Linneaus itu, sampai Andrea harus menempatkan nama asli dari nama-nama asing itu di daftar glosarium. Para pembaca Melayu disuguhi nama kolonial tumbuh-tumbuhan asli mereka, dan baru tahu (atau menerka-nerka) nama aslinya di bagian paling belakang novel.

Anehnya, masih di novel yang sama, kawan Ikal mau mengubah nama-nama tempat asing kembali ke nama aslinya. Di sini terlihat ambiguitas Andrea. Nama tempat biasanya datang dari Jawa, dibawa oleh pemerintah pusat, yang tidak terlalu kuat dan ruwet untuk dihadapi. Untuk mengubahnya tidak perlu membuat peta dunia baru yang telah bisa diterima orang sebumi. Lawan ini cukup enteng. Sedangkan untuk mengabaikan taksonomi yang sudah mendunia itu cerita lain. Sistem ini telah menguasai jagad ilmu pengentahuan yang belindung di balik benteng maha kukuh. Seluruh universitas besar dan berpengaruh di dunia akan menertawakan mereka bila anak-anak Melayu itu mencoba mengubahnya. Itu pun bila mereka sadar bahwa ini juga adalah sebentuk penjajahan.


Drs. Julian Ichsan Balia guru sastra SMP Bukan Main, dalam novel Sang Pemimpi, telah menyihir Ikal—juga Arai meski suaranya selalu diwakili Ikal. Dia guru sastra, bidang yang dianggap oleh ikal sebagai ‘muara segala keindahan’. Dia kreatif bak John Keating guru bahasa Inggris Welton Academy di film Dead Poet Society yang kadang mengajar di luar kelas, mengutip-ngutip karya sastra dunia berbahasa asing, dan kadang mengajukan pertanyaan filosofis kepada siswa-siswinya yang baru SMP. Di salah satu adegannya, sangat mirip dengan adegan di film keluaran tahun 1989 itu, Pak Balia bertanya, “what do we do in life…,” kata Pak Balia teatrikal, “…echoes in eternity...!!” (hl. 72)

Pengandaian ini rasanya tidak imbang karena dalam film itu, anak-anak sekolah Welton Academy adalah anak-anak dari keluarga makmur di negara makmur, AS, yang tengah bersiap masuk universitas dan terlatih mendengar kutipan-kutipan dari karya sastra. Anak-anak SMP Bukan Main dalam Sang Pemimpi adalah anak-anak miskin yang tidak membaca karya sastra.

Di suatu hari ketika Pak Balia mengajar di lapangan sekolah, dia mengucapkan sesuatu yang akan menjadi mimpi masa depan Ikal dan Arai. Dia bilang: “Jelajahi kemegahan Eropa sampai ke Afrika yang eksotis. Temukan berliannya budaya sampai ke Prancis. Langkahkan kakimu di atas altar suci almamater terhebat tiada tara: Sorbonne. Ikuti jejak-jejak Sartre, Louis Pasteur, Montesquieu, Voltaire. Di sanalah orang belajar science, sastra, dan seni hingga mengubah peradaban….” (hl. 73)

Kalimat ini diulang sebanyak lima kali dalam berbagai varian. Secara spesifik yang paling dikenang Ikal, tak pernah absen dalam perulangan-perulangannya, adalah ‘altar suci almamater Sorbonne’ dan ‘menjelajahi Eropa sampai ke Afrika’. Bila pada Laskar Pelangi yang jadi penyemangat adalah Lintang, atau kecerdasan dan perjuangan Lintang, maka dalam Sang Pemimpi penyemangatnya adalah dua susunan kata di atas. Kalau di buku pertama Lintang kadang menjadi gantungan nasib seluruh sekolah Muhammadiyah—selain Mahar. Maka di buku berikutnya, dua mantra di atas menjadi gantungan Ikal dan Arai. Awalnya, sekolah yang bergantung pada murid. Kini sang murid bergantung pada mimpi.
Selanjutnya, di Laskar Pelangi Ikal tak bermasalah melanjutkan sekolah karena keasikan dengan suasana sekolah. Di sana dia berjumpa dengan banyak tokoh manusia-tipe-ideal. Kehidupannya di kampung pun tidak begitu sulit. Tidak harus mencari uang sendiri dan masih tinggal bersama orangtua yang baik. Di Sang Pemimpi Ikal kehilangan sekolah yang dia cintai, sosok-sosok guru ideal yang dia kagumi, kawan-kawan Laskar Pelangi yang mengisi waktunya dengan beragam pengalaman eksotik. Latarnya berganti dengan kehidupan keras di luar sekolah. Meski di sekolahnya masih ada guru yang inspiratif, namun keadaan luar sekolah yang demikian keras membuatnya kadang patah semangat. Dia harus bekerja sejak pukul dua pagi sebelum pergi ke sekolah. Dia berganti-ganti pekerjaan dari tukang selam di lapangan golf, tukang bersih-bersih dan buat teh di kantor pemerintahan, sampai kuli pengangkut ikan dari perahu ke dermaga. Begitu pula ketika dia tiba di Jawa, dia harus bergantu-ganti pekerjaan untuk melanjutkan sekolah di UI Depok. Dalam kehidupan keras seperti ini, dia berkali-kali diselamatkan oleh mantra ajaran Pak Balian yang kini menjadi mimpinya.

Setelah diucapkan Pak Balian, lima kali mantra itu muncul. Pertamakali ketika Ikal mengulangi dalam hati mantra itu segera setelah diucapkan Pak Balian. Satu kali mantra ini digunakan untuk menyembuhkan Jimbron yang tengah sedih setelah dihardik Ikal karena terlalu bersemangat bercerita tentang kuda. Tiga kali ketika semangat Ikal tengah yang merosot.

Kerasnya kehidupan fisik sebagai pekerja kuli membuatnya menjadi pesimis menjalani cita-cita. Dia menghardik mimpi itu. “Altar suci almamater Sorbonne, menjelajahi Eropa sampai ke Afrika, hanyalah muslihat untuk menipu tubuh yang kelelahan agar tegar bangun pukul dua pagi untuk memikul ikan.” Di sini Andrea memainkan narasi perjuangan sebagai jalan menuju mimpi, lalu dia benturkan dengan kenyataan hidup tokoh utamanya. Namun kenyataan harus dikalahkan oleh mimpi.

Rasa pesimis Ikal membuat prestasi sekolahnya menurun. Peringkat kelasnya terlempar jauh sekali. Dia semakin sedih melihat ayahnya datang dan pergi dengan tenang ketika menerima nilai sekolahnya yang terjun bebas. Di tengah kegalauan itulah, Arai mengeluarkan mantra penjinak rasa pesimis. Dia mulai dengan mengingatkan bahwa, “Tanpa mimpi, orang seperti kita akan mati…” Orang susah harus punya mimpi, itulah dasar logikannya. Lalu dia mengajukan ancaman yang tak disukai para pemimpi kehidupan modernis seperti Ikal. “Mungkin setemat SMA kita hanya akan mendulang timaah atau menjadi kuli…” (hl. 153)

Setelah mengingatkan dalilnya, bahwa orang susah harus punya mimpi, dan mengajukan ancaman bila tidak terus bermimpi, barulah Arai mengucapkan mantranya. “Kita lakukan yang terbaik di sini!! Dan kita akan berkelana menjelajahi Eropa sampai ke Afrika!! Kita akan sekolah ke Prancis!! Kita akan menginjakkan kaki di altar suci almamater Sorbonne! Apa pun yang terjadi!!” (hl. 154)

Maka sembuhlah Ikal.

Kali lain mantra ini muncul saat Ikal menghitung-hitung biaya kuliah yang dia kumpulkan sebagai kuli ngambat. Mendapati cita-citanya terlalu tinggi, karena uang yang dia tabung bakal terlalu kecil, keraguan merayapinya. Namun dia segera melawannya dengan kekuatan cita-cita. Dia mengubah makna kata ‘realistis’ dalam kamusnya, menjadi “berbuat yang terbaik pada titik di mana aku berdiri..” Berbuat untuk sebuah mimpi adalah realistis menurutnya. Tak apalah, untuk sebuah mimpi segala makna bisa diubah. Memang demikianlah salah satu cara menyemangati diri dalam deraan kekerasan hidup, melarikan diri ke dunia impian. Sebagaimana bangsa Indonesia, tertimpa banyak tekanan dan melarikan diri memelototi wajah halus muda dan kaya di sinetron dan lomba pemilihan idola.

“Aku semakin terpatri dengan cita-cita agung kami: ingin sekolah ke Prancis, menginjakkan kaki di altar suci almamater Sorbonne, menjelajahi Eropa sampai ke Afrika. Tak pernah sedikit pun terpikir untuk mengkompromikan cita-cita itu.”

Demikian Ikal meyakinkan dirinya di halaman 208.

Saat menunggu surat lulus dari pemberi beasiswa Uni Eropa, mantra ini muncul lagi. Dia merefleksikan bagaimana susahnya melanjutkan sekolah dan bagaimana mimpi itu menyemangatinya.

“Tiga tahun kami melakukan pekerjaan paling kasar di dermaga itu. Menahan kantuk, lelah dan dingin dengan meraupi seluruh tubuh kami dengan kehangatan mimpi-mimpi. Betapa kami adalah pemberani, para patriot nasib. Dengan kaki tenggelam di dalam lumpur sampai ke lutut kami tak surut menggantungkan cita-cita di bulan: ingin sekolah ke Prancis, ingin menginjakkan kaki-kaki miskin kami di atas altar suci almamater Sorbonne, ingin menjelajahi Eropa sampai ke Afrika.”

Perjuangan anak kampung cerdas yang keras. Inilah racikan yang menurut rumus paling manjur bagi narasi ‘perjuangan’—bahwa orang harus bekerja keras secara fisik—dan narasi ‘pendidikan’—bahwa setelah S1 di UI hanya ada S2 di universitas ‘terbaik di dunia’—untuk mencapai mimpi. Setinggi apa pun mimpi itu.

Agak aneh juga bila kita memutar ulang cerita ini dari awal sekali lagi. Rumus ajaib yang meluluskan mimpi Ikal dan Arai, tidak begitu mujarab bagi Lintang. Apakah mungkin karena Lintang tidak cukup kuat bermimpi? Di sinilah indahnya sastra, rumus tidak berlaku universal, apalagi untuk menciptakan kontras demi mengoyak emosi pembaca.

Maka, dengan selesainya nasib Lintang, rumus itu pun bebas bekerja dengan baik. ‘Altar suci almamater Sorbonne’ dan ‘menjelajahi Eropa sampai ke Afrika’ muncul dalam tahap-tahap kritis para tokohnya. Terutama Ikal. Membuat mereka sanggup bertahan, ‘berjuang’ dalam ‘hidup yang terpuruk’, menempuh ‘pendidikan’ demi mendapatkan ‘ilmu’. Dan mimpi pun tercapai.


“Subhanallah!”
Aku berlari meloncati anak tangga […] Aku terpaku melihat sosok hitam samara-samar di balut kabut, tinggi perkasa menjulang langit seperti hantu. Menara Eiffel laksana nyonya besar.” (hl. 78-79)

Lalu tibalah Ikal dan Arai di altar suci alamamater Sorbonne di Paris. Di sepanjang Edensor, novel ke tiga Andrea hirata, kita bisa membaca realisasi mimpi Ikal dan Arai. Novel ini lebih enak di baca. Kekacauan kronologis penuturan sudah lenyap. Sang penutur, Ikal dewasa, bisa diasumsikan sudah mengenal seluruh Ikon barat yang dia sebutkan. Latar utama Paris pun membantu melenyapkan banyak keanehan pembaratan Belitong di Laskar Pelangi. Cerita sekuel ini, mimpi Ikal, telah menemukan tempatnya.

Bersamaan dengan itu mencuatlah gejala lain. Tabiat yang sering muncul ketika anak Melayu bertandang ke negara maju. Inferioty complex. Sejak dari Schipol, insiden di Brugge, Belgia, hingga tiba di Paris, novel ini dipenuhi deskripsi kekaguman. Orang-orang, bangunan, lanskap, teknologi, semua membuat Ikal dan Arai berdecak kagum, atau diceritakan secara dramatis sedikian rupa supaya pembaca tertegun takjub.

“Kudekati Eiffel, kusentuhkan tanganku padanya. Ia masih tak peduli. Apalagi sekarang, ia makin cantik karena matahari merekah menghangatkan lengan-lengan perkasanya yang hitam berkilat-kilat. Kawan, mimpi-mimpi telah melontar kami sampai ke Perancis.” (hl.79) Begitulah salah satu dari sekian banyak tuturan kekaguman Ikal terhadap kota impiannya.

Bunyi nama seorang perempuan Perancis pun menjadi incaran Ikal. Liaison officer pemberi beasiswa itu, bernama Maurent Leblanch. Dibaca dengan bunyi sengau ala Prancis terdengar memukau bagi telinga Melayu Ikal. Dia begitu suka bunyi itu sehingga melakukan macam-macam trik agar sang wanita menyebutkan namanya dalam aksen Prancis. “Indah bukan main. Morong leBlang, sengau, beradab, terpelajar, dan sangat berkelas.” (hl. 84) Itulah pendapat Ikal.

Andrea mendedikasikan satu bab khusus untuk menceritakan—mungkin secara tidak sadar—rasa minder sang tokoh. Judul bab nya pun sudah bisa membuat kita sadar apa isi dibaliknya. The pathetic four. Empat mahluk menyedihkan. Kita tahu judul ini merupakan plesetan dari The Fantastic Four, sebuah komik yang menceritakan empat manusia berkekuatan super.
Sebelum menceritakan siapa the pathetic four, tentu dia butuh perbandingan. Maka berceritalah dia tentang kawan-kawan sekelasnya dari negara maju. Berderetlah tokoh-tokoh tersebut berdasarkan stereotip dangkal terhadap karakter masing-masing negara. Tentu diceritakan sedemikian rupa untuk menunjukkan superioritas akademik di bandingkan the pathetic four.

Sosok wanita Inggris kawan Ikal tampil dalam stereotip the Brit, primordial, lalu ada dilengkapi dengan stereotip wanita metropolitan, trendy, suka dipuji. Namanya Naomi Stansfield. Lalu Virginia Sue Townsend dari Amerika yang dia juluki Virginia stubborn berdasarkan cerita populer dari tempat itu. dia keras hati dan suka meniru artis Jennifer Aniston. Keduanya suka bertengkar. Namun prestasi akademik mereka, meski fluktuatif, sangat hebat. “Ide-ide cemerlang mereka sampai dapat mengubah silabus mata kuliah perilaku konsumen. Dosen sering menghargai mereka dengan nilai tres bien alias bagus sekali.” (hl.98)

Lalu ada tiga orang Jerman Marcus Holdsvessel, Christian Diedrich dan Katya Kristanaema. Mereka digambarkan sebagaimana orang kebanyakan mengenal atau membayangkan mengenal orang Jerman, tidak pernah ribut, kikuk dan tenang. “Motto mereka Tiga P: Preparation Perfect Performance” membawa prestasi akademik luar biasa. “…orang-orang Jerman ini menyatakan untuk sekalian mengubah silabus ilmu ekonomi.” (hl. 99). Saskia de Rooijs dan Marike Ritsema, dua gadis Belanda, lebih hebat lagi. Mereka selalu mendapat nilai parfait atau sempurna. Mereka bahkan bisa mengusulkan untuk “mengubah Universite de Paris, Sorbonne!”. (hl.100) \

Yang paling hebat tentu saja orang Yahudi, sebagaimana pengetahuan stereotip popular yang beredar di seluruh dunia. Abraham Levin, Y’hudit Oxxenberg, Yoram Ben Mazuz dan Becky Avshalom, itulah nama mereka. Kita tentu sudah bisa menebak apa yang ingin diubah orang-orang Yahudi ini. Ya. “mengubah Prancis.” (hl.101) Lalu ada orang-orang ramah pencinta seni dari Prancis dan orang-orang berpikiran terbuka dari Hong Kong.

Sungguh kebetulan Ikal bisa ketemu orang-orang tipe-ideal sehebat itu dikelasnya.

Setelah tuntas menjelaskan orang-orang hebat dari negara maju, barulah Andrea memberi kesempatan kepada empat mahluk menyedihkan. Saya akan mengutip dua alinea di akhir bab The Pathetic Four, dimana Andrea memperkenalkan empat tokoh menyedihkan dalam Edensor.

“Sisanya selalu terlambat, berantakan, dan tergopoh-gopoh adalah The Pathetic Four—empat mahluk menyedihkan—penghuni jejeran bangku paling depan. Jika dosen menjelaskan, mereka berulang kali bertanya soal remeh-temeh, sampai menjengkelkan. Anak-anak ini melengkapi diri dengan perekam agar petuah dosen dapat diputar lagi di rumah. Norak dan repot sekali. Beginilah akibat penguasaan bahasa asing ilmiah yang memalukan dan efek gizi buruk masa balita. Jika ide mahasiswa negara lain demikian besar sampai ingin mengubah Prancis, The Pathetic Four sangat sederhana, yaitu agar bagaimana dapat nilai passable atau cukup, lulus seadanya dengan nilai C-, tak perlu mengulang, sehingga dapat menghabiskan waktu sejadi-jadinya menonton bola.

Ide lainnya adalah membujuk pemberi beasiswa agar menaikkan uang saku. Kenaikan itu disimpan untuk belanja sandang murah pada obral end season, maka pakaian musim semi dipakai saat musim salju, pakaian musim salju dipakai saat musim panas. Biasanya keempat orang itu menangguk-angguk takzim saat menerima kuliah. Lagaknya seperti paham saja, padahal tak tahu apa yang sedang dibicarakan. Mereka itu Monahar Vikram Raj Chauduri Manooj [India], Pablo Arian Gonzales [Mexico], Ninochka Stranovsky [Georgia], dan aku. Kami blingsatan, terbirit-birit mengejar ketinggalan.”

Sungguh kebetulan orang-orang menyedihkan ini berasal dari negara Miskin. “Gonzales berasal dari keluarga pandai besi di Guadalajara, kantong kemelaratan Amerika Utara.” Atau “Ninoch, gadis kecil kurus ini, berasal Georgia, Negara miskin yang baru memerdekakan diri dari cengkraman cakar beruang merah Rusia.” (hl. 106). Kontras dengan kawan-kawannya yang cerdas, yang semuanya (harus) dari negara maju. Tak ada penyeberangan. Hanya dinding tebal tegas yang bertuliskan ‘hanya orang dari negara kaya yang boleh cerdas’.

Bisa jadi Andrea beralasan, melakukan ini secara sadar, sebagai tindakan tawaddhu. Merendah biar tidak takabbur. Namun dengan demikian dia melanggengkan cara berpikir Orientalisme bahwa, satu, ada garis perbedaan yang terang benderang antara Barat yang diwakili Eropa dan mereka yang berhasil mengadopsinya dengan baik, seperti Hongkong. Dua, bahwa bangsa non Barat memang sudah lebih rendah dari sono-nya. Tiga, untuk bisa lebih sejajar, namun tidak boleh benar benar sejajar, mereka harus meniru Barat. “Being white but not quite.”

Dengan mengambil ‘ilmu’ dari ‘pendidikan’ menurut versi Ikal sebagai standarnya, maka sempurnalah superioritas absolut modernitas. Modernitas Barat tersederhanakan ala Andrea Hirata. (p!)

*Citizen reporter Nurhady Sirimorok dapat dihubungi melalui email nurhadys@gmail.com

| Beri Komentar| Jumlah Komentar (57) |

Komentar :

28-03-2009
Dari : tulus jawa masih kere | kudarabaru@gmail.com
mau skali ka' ngritik kita, tapi setelah kubaca lagi baik-baik tulisanta, iyo tawwa! ngaku ma' saya. jengkel ka' juga deh! kapan saya punya kesempatan untuk gantian marah-marah? dulu khan ka' Ary dan ka' dandy yang memonopoli hak moro-moro N.14. hehehehee..... tapi kita berdua juga yang memonopoli hak untuk nyuapin anak-anak.

19-12-2008
Dari : maryam | maryamalmaosy@yahoo.com
maksud saya Lintang =andrea, ,sifat cerdas Lintang adalah milik Andrea. Disini kita lihat andrea sosok yang rendah hati,dg mengaku sbg Ikal, bkn sbg Lintang. Cerita yg sesungguhnya cerita dibelokkan Lintang putus sekolah,smtr Andrea asli kan ga putus sekolah. Kita pantas berterimakasih pada Andrea meskipun menurut anda dia mundur,toh banyak sekali yang terinspirasi buku itu.

19-12-2008
Dari : maryam | maryamalmaosy@yahoo.com
maksud saya Lintang =andrea, ,sifat cerdas Lintang adalah milik Andrea. Disini kita lihat andrea sosok yang rendah hati,dg mengaku sbg Ikal, bkn sbg Lintang. Cerita yg sesungguhnya cerita dibelokkan Lintang putus sekolah,smtr Andrea asli kan ga putus sekolah. Kita pantas berterimakasih pada Andrea meskipun menurut anda dia mundur,toh banyak sekali yang terinspirasi buku itu.

19-12-2008
Dari : maryam | maryamalmaosy@yahoo.com
maksud saya Lintang =andrea, ,sifat cerdas Lintang adalah milik Andrea. Disini kita lihat andrea sosok yang rendah hati,dg mengaku sbg Ikal, bkn sbg Lintang. Cerita yg sesungguhnya cerita dibelokkan Lintang putus sekolah,smtr Andrea asli kan ga putus sekolah. Kita pantas berterimakasih pada Andrea meskipun menurut anda dia mundur,toh banyak sekali yang terinspirasi buku itu.

19-12-2008
Dari : maryam | maryamalmaosy@yahoo.com
maksud saya Lintang =andrea, ,sifat cerdas Lintang adalah milik Andrea. Disini kita lihat andrea sosok yang rendah hati,dg mengaku sbg Ikal, bkn sbg Lintang. Cerita yg sesungguhnya cerita dibelokkan Lintang putus sekolah,smtr Andrea asli kan ga putus sekolah. Kita pantas berterimakasih pada Andrea meskipun menurut anda dia mundur,toh banyak sekali yang terinspirasi buku itu.

19-12-2008
Dari : maryam | maryamalmaosy@yahoo.com
maksud saya Lintang =andrea, ,sifat cerdas Lintang adalah milik Andrea. Disini kita lihat andrea sosok yang rendah hati,dg mengaku sbg Ikal, bkn sbg Lintang. Cerita yg sesungguhnya cerita dibelokkan Lintang putus sekolah,smtr Andrea asli kan ga putus sekolah. Kita pantas berterimakasih pada Andrea meskipun menurut anda dia mundur,toh banyak sekali yang terinspirasi buku itu.

19-12-2008
Dari : maryam | maryamalmaosy@yahoo.com
maksud saya Lintang =andrea, ,sifat cerdas Lintang adalah milik Andrea. Disini kita lihat andrea sosok yang rendah hati,dg mengaku sbg Ikal, bkn sbg Lintang. Cerita yg sesungguhnya cerita dibelokkan Lintang putus sekolah,smtr Andrea asli kan ga putus sekolah. Kita pantas berterimakasih pada Andrea meskipun menurut anda dia mundur,toh banyak sekali yang terinspirasi buku itu.

19-12-2008
Dari : maryam | maryamalmaosy@yahoo.com
Untuk Bu Mus, saya percaya itu fakta. Karena BuMus dengan SD yg muridnya sediktdan gedung mau ambruk tidak hanya di novel.Cuma BuMUS yg ini bisa membuat andrea sgt terkesan sampaimembuatkan buku untuknya. Pasti mmg BuMus mendidikdgn sepenuh cinta dihatinya. Orang secerdas Lintang dan Maharpun tidak aneh.Mmg Mahar seperti didramatisir sedemikian rupa,demi mendidik pembaca mungkin. Tp kl untuk Lintang, menurut saya itu adalah andrea sendiri,cuma mungkin andrea memarginalkan diri menjadi Ikal yang abadi di rangking 2.Sptnya Andrea mmg sukamerendahkan dirinya,padabagian The Patetic Four itupun saya tangkap spt itu.Nyatanya dia lulus cumlaude. Bgmnapun novel itu telah memberikan efek positif yang sangat banyak baik dari segi spiritual,maupun materi.Semacam efek domino ya. Banayk yang kecipratan rejeki dari novel itu. Dari: tokobuku,mamorabilia ,agen perjalanan ke Belitong, pemda Belitong juga karena semakin banyak wisatawan datang ke Belitong. DAn mgkn anda juga bila menerbitkan komentar-2ini he..

17-12-2008
Dari : Alam Alone | alam_alone28@yahoo.com
indonesia bro....penuh dengan warna warni perbedaannya, tapi justru itu yg membuat kita semakin cerdas, perdedaan itu indah lho...lanjutttttttt BROOOOOOOOOOOOOOOOOO OOOOOOOOOOOOOO

01-12-2008
Dari : Bang Aswi | bangaswi@yahoo.com
Saya hanya bertanya, "Apa jadinya seorang penulis yang tidak tahan terhadap kritikan dan apa jadinya seorang fans yang tidak tahan terhadap seseorang yang mengkritik idolanya?" Sepertinya semua sudah terjawab di sini. Saya pun bertanya lagi, "Jika Andrea Hirata tidak seterkenal sekarang, apakah pro dan kontra ini akan seramai ini?" Pada akhirnya saya menjadi bertanya kepada diri sendiri, "Apa jadinya saya kalau tidak pernah dikritik oleh sastrawan sekelas Joni Ariadinata?" Alhamdulillah, saya memang pernah dikritik oleh beliau dan ini menjadi pelajaran berharga bagaimana kita melihat kualitas karya kita dari kacamata orang lain daripada hanya menjawab, "Yah namanya novel, mau-maunya gue dong, kok sampai bawa-bawa logika segala. Sirik aja lo pade." Terima kasih buat Andrea dan Nurhady yang telah memberikan kontribusi nyata jagad sastra Indonesia.

01-12-2008
Dari : rahmad | abangrahmad@gmail.com
permisi izin komentar, Saya sudah baca laskar pelangi sama seperti beberapa bagian laskar pemimpi.Menurut saya kedua buku ini sekedar bagian dari "proyek ego".kalau lewat laskar pelangi Andre Hirata menjadi pe-narasi akan kehidupannya sendiri dengan "narsis halus" sama seperti istilah bocor halus. Dalam laskar pemimpi karya k dandi dengan semua teori kolonialisme dan post kolonial, juga menyajikan kehebatan dan kecerdasan sang penulis yang sudah membaca sekian banyak buku teori . Keduanya esensinya sama, ingin bercerita ke "Akuan", aku yang sekolah di prancis bagi andre, sedang aku yang mengerti bagaimana sastra ditulis dan bagaimana seharusnya memandang sebuah masyarakat dan pendidikan( bagi k dandi). Bagi saya kedua orang ini dengan ke-akuanya mesti diberikan apresiasi karena mereka telah memulai sebuah karya. Terlepas dari semua tentang kelemahan laskar pelangi, buku ini memang bagus untuk dibaca karena membuat kita berani untuk bermimpi "tak ada yang tak mungkin sekalipun mimpi itu hanya berawal dari sebuah SD kecil di belitong". Dan kehadiran langskar pemimpi karya k dandi, patut pula diberikan apresiasi sebagai wujud pembaca kritis yang memang ada dinegri ini walau jumlahnya kecil. Selamat saling beradu, cuman k dandi hati-hati jangan-jangan jadi artis. he,,,,karena biasanya kalau kita mengkritik orang terkenal bisa juga ikutan masuk TV kayak suaminya susana, atau prepuan yang mengaku istrinya andrea........hahahh ahahahaha

30-11-2008
Dari : Putri Sarinande | duniaputri@medhex.com
jah, ini debat kusir antara si penulis kritik dan pembaca yah? saya sih mengakui Andrea nulisnya lebai. sebab apa, saya ternyata klo nulis gak suka lebai,,, :D tp esensi nyah sih emg buku si bang Andrea ini berhasil meracuni secara positip agar orang2 memiliki mimpi kembali. arahannya apa? biar bisa hidup lagi laaah orang2 tu ... mungkin kudunya dibuka forum yah, soalnya klo di sini sy lihat jd kek si penulis kritik ngehujat andrea dan para pembaca andrea panas malah mbelai tokoh pujaannya itu gak taunya si andrea malah masup ingfotainmen gara2tragedi gak ngaku ud penah nikah dan cerei... eh, orang2 akhirnya lg2 komentar, bukan ama karyanya tp perihal dy masup ingfotenmen... kok komentar saya ngamprak yah? intinya sih, jadilah kritikus dan pembela dan penghujat yang cerdas,,,setuju bukan? bukannnn :D

28-11-2008
Dari : bukan-siapa | susantoa28@yahoo.co.id
maaf neh nyela dikit. . . saya rasa adalah lebih baik membuat suatu hal yang dapat berguna bagi banyak orang, ketimbang terlalu banyak bicara tetapi perwujudannya tidak ada. andaikan memang tulisan itu bla...bla,,,bla,,, menurut anda, tapi toh masyarakat menerima dengan baik. memang, sebagian besar para pembaca tidak "secerdas" anda, tapi mereka menilai dari hati, bukan dari otak doank. ketika satu hal sangat memberikan mamfaat, itu jauuuuh lebih baik daripada beribu hal tapi tidak berguna. seandainya anda yang jadi andrea dan juga mengalami nasib yang sama, dan akhirnya juga membuat tulisan untuk sebuah penghargaan kepada seorang guru, untuk menyemangati anak-anak bangsa yang kebanyakan gampang putus asa, saya yakin anda pun pasti menulis (kalaupun tidak sama persis, pasti senada!!!). jadi, kritik itu baik dengan tujuan yang baik, dan pula harus menawarkan penyelesaian yang baik. maaf. . . cuma numpang nyela, kebetulan lewat.

20-11-2008
Dari : dedy | dedy_belukarhujan@yahoo.co.id
selamat, selamat buku "Laskar Pemimpi" nya sudah terbit.....

15-11-2008
Dari : ulla | oellaode@ymail.com
maaf...saya tidak bilang anda mencaci maki. Bahkan saya tulis boleh mencaci maki.... Saya juga tidak menuduh anda mencaci orang yang suka nonton film karena itu cuma perumpamaan saja. Dalam hidup ini akan banyak kita temukan orang orang yang menyukai hal2 yang menurut kita tidak rasional sampai kita sering merasa gemas. Dalam LP dan antusiasme orang2pun sedikit banyak hal itu terlihat. Itu yang saya anggap selalu ada hal yang gak 'masuk akal'. Tapi itulah hidup, sebaiknya semua hal berjalan menuju kesempurnaan.Sya, anda, andrea dan semua manusia. Kritik anda bagus...dan saya meyakinkan diri kalo itu keluar dari nurani anda. Mudah2an suatu waktu kita dapat berdiskusi tentang 'kritk sastra dan caci maki'. Oh yah...perlu saya beritahu... saya juga gak merasa 'wah' dengan novel LP,SP dan Edensor.

15-11-2008
Dari : ulla |

04-11-2008
Dari : akhmad | cari teman diskusi.com
Mungkin memang tidak ada postmodernisme yang benar-benar meninggalkan modernitas, postmodernisme yang sungguh-sungguh radikal atau benar-benar ‘post’. Mengapa? Lihat misalnya kutipan paragraf 52 bagian I tulisan ini. “Teknologi pertanian menetap ini merefleksikan antipati tradisional pemerintah Indonesia terhadap perladangan berpindah. Mereka sangat percaya bahwa perladangan berpindah selalu menyebabkan kerusakan hutan. Padahal berbagai penelitian telah membuktikan hal sebaliknya. Nature and the Colonial Mind karya William M Adams dalam buku Decolizing Nature menjelaskan penelitian di berbagai tempat, misalnya di Afrika, yang menunjukkan bahwa peladangan berpindah justru berfungsi menjaga keseimbangan ekosistem di sebuah tempat. Teknik tradisional yang ternyata punya logika pelestarian. Ini cuma salah satu contoh dari sekian banyak penelitian yang memperlihatkan hasil serupa.” Bisa kita perhatikan frasa yang dimulai dengan kata “Padahal” (dalam teks aslinya di belakangnya ada tanda kurung). Lengkapnya, “Padahal berbagai penelitian telah membuktikan hal sebaliknya. Nature and the Colonial Mind karya William M Adams dalam buku Decolizing Nature menjelaskan penelitian di berbagai tempat, misalnya di Afrika, yang menunjukkan bahwa peladangan berpindah justru berfungsi menjaga keseimbangan ekosistem di sebuah tempat”. Di situ pembenaran terhadap ‘yang lain’ rupanya tetap didasarkan pada legitimasi a la modernisme. “Penelitian”. “Penelitian akademik”. Fakta peladang berpindah di Afrika (tentu saja sebagai ‘yang lain’ dalam kerangka ini), dipotret sahih-tidaknya berdasar ‘adab modernis’ itu. Penelitian. Jika misalnya berdasar “penelitian”--yang seterusnya kita tahu bahwa dalam istilah itu epistemologi modernis a la Newton, Descartes, Kant dsb tersebar di mana-mana--ia tidak terbukti ‘menjaga keseimbangan ekosistem di suatu tempat’ (termasuk dipakainya istilah ‘ekosistem’itu sendiri)? Maka kita pun paham bahwa legitimasi terhadap ‘yang lain’ itu akan dicabut, 'dianulir'. ‘Kelainan’nya tidak akan diakui karena ia terbukti “merusak” dalam kaca mata adab modern itu. Entahlah jika narasi Bang Dandi saja yang keliru: memotret ‘kelainan’ para peladang berpindah di Afrika itu dengan mendasarkannya pada bahasa modernis/“penelitian ” (William M Adams) tadi, jika bukan defenisi potmodernisme menurut Habermas, dan juga Giddens, itulah yang lebih bisa diterima ketimbang yang lain dengan didefenisikannya postmodernisme sebagai tahap dari modernitas yang memang belum selesai, atau sebagai ‘modernitas yang ‘sadar diri’’.[] Ada beberapa soal dalam tulisan ini menurut saya. sebagai berikut[] Pertama, bagaimana posisi Andrea Hirata, dan karenanya juga Mansur Samin, dalam hubungannya dengan modernitas. Maksudnya, apakah Mansur Samin atau Andrea Hirata adalah subyek yang ‘sadar akan modernitas’ saat mereka menulis novelnya? (Pendapatnya “Emma” di bawah—sayang bahwa hanya selesai di frasa pertama-menurut saya layak dipertimbangkan, terutama untuk ‘ia adalah sebuah memoar’) Pertanyaan itu perlu sebab tulisan ini sepertinya punya kesimpulan final bahwa keduanya adalah subyek yang ‘sadar modernitas’ saat mereka menulis novelnya. Apakah mereka sadar atau tidak, soalnya adalah itu tidak pernah dipersoalkan. Hal ini berbeda dengan sejumlah ulasan serupa, misalnya ulasan terhadap sejumlah karya-karya STA atau tulisan-tulisan Daniel Dhakidae mengenai sejumlah teoritikus, di mana pembahasan (di wilayah) itu selalu disertakan. Entah itu di bagian depan, tengah atau akhir tulisan. Karena wilayah itu dipersoalkan, maka ulasan itu tampak lebih ‘fair’ (dan karenanya, juga terasa ‘lebih obyektif’). Dengan kata lain, sekritis apapun sebuah ulasan, di sana selalu ada ‘pemakluman’ terhadap sang author (terlebih bahwa roland barthes terterima luas? Dan bukan sebaliknya: Karena yang ada adalah ‘the death of author’ maka semuanya berhak menafsirnya manasuka?). Dengan begitu, usul saya: Wilayah semacam itu perlu dihadirkan... kecuali memang jika penulis mengabaikan aspek ini seraya menyadari bahwa itu bukan tidak beresiko bagi pembaca (disengaja untuk ‘mengganggu’ para pemuja Hirata?).[] Kedua, porsi pembahasan tentang negara sepertinya terlalu banyak. Sementara porsinya banyak, kita tahu bahwa siapapun yang mengenal wacana postmodernisme akan paham bahwa negara dan modernitas ibarat dua sisi mata uang. Entah jika ini hanya cara penulis untuk menjelaskan kepada audiens bahwa negara ko-eksis, satu-sebangun, dengan modernitas (tentu saja terjadi dengan mengasumsikan pembaca tak mengenal wacana postmodernisme, dan dengan begitu muncul resiko bahwa para pembaca akan mengikut begitu saja pada teks yang ada dan mungkin tidak akan sempat sadar bahwa argumentasi itulah yang biasa disebut sebagai argumentasi postmodernis dalam register teori-teori sosial kontemporer, berikut bahwa mereka tidak akan menemukan ruang untuk melakukan ‘tanggapan kritis’ terhadap sepanjang argumentasi Bung Hady, kecuali mungkin jika para pembaca itu berada pada titik pandang yang sejajar dengan Lyotard, Baudrillard, Habermas dan sebagainya).[] Ketiga, kembali lagi soal wacana postmodernise itu sendiri. “Itu sendiri”, seumpama Bung Hady [memang] menempatkannya sebagai semacam ‘barang jadi’ selaku kacamata/perspektifn ya. Seperti halnya poin dua di atas, wacana itu juga tidak pernah dipersoalkan. Saya pribadi menanti-nanti satu-dua paragraf yang mempersoalkan terminologi ini, Postmodernisme (meski mungkin dari situ terulang pertanyaan, seperti pula untuk nomor dua di atas: apakah memang bung Hady sengaja menempatkan wacana postmodernisme sebagai semacam perspektif atau tidak?--meski pertanyaan ini agaknya dijawab oleh paragraf 6 tulisan bagian I yang secara terang mengatakan mengutip istilah ‘eksklusi’ dari Sara Mills). Laku menempatkan wacana postmodernisme sebagai sebuah perspektif tanpa pernah melakukan penjarakan terhadapnya akan beresiko menjadikan wacana itu sebagai sebuah teori, bahkan tools. Ini tentu berbeda jika yang kita lakukan adalah meminjam konsep ‘diskurus’ Foucault untuk menganalisis teks, atau gagasan, seperti yang dilakukan oleh Daniel Dhakidae dalam karyanya Cendekiawan dan Kekuasaan Dalam Negara Orde Baru. Kita tahu bahwa postmodernisme lebih dulu terterima sebagai wacana ketimbang sebuah teori (‘khittah’ postmodernisme, jika bisa disebut demikian, adalah ‘ethos’ yang berupaya melampui, atau yang seperti yang banyak dikatakan; ‘berusaha membangkitkan kembali’, ethos modern. Terlebih jika Nietszche disepakati sebagai ‘kakek guru’nya, dan yang disebut sebagai gagasan teoritiknya yang banyak muncul di dekade 60-an itu, nomor dua). Terhadap yang terakhir ini mungkin bisa ditambahi dengan ‘kecemasan Sekolah Frankfurt’; mistifikasi rasio, rasio instrumental dsb. Maksudnya, jangan-jangan wacana postmodernisme mengalami nasib serupa, semacam dimistifikasi, jika ditempatkan sebagai perspektif tanpa ia sendiri pernah dipersoalkan oleh teks yang menukilnya...

02-11-2008
Dari : baharmakkutana | makkutana@yahoo.com
antara tulisan dandi dengan andrea menarik perhatian publik. Novel membangkitkan emosi kemudian meng-kultus-kan seseorang. Lanjutki' dandi.

31-10-2008
Dari : nurhady to ayam den lapeh |
lucu juga kalao dipikir-pikir ya..ketika anda menjelaskan betapa jenuhnya orang terhadap para kritikus bahasa anda agak berapi-api, sadarkah anda, bahwa anda juga tengah melakukan kritik? ya anda juga kritikus. janganlah bersedih sebab anda telah menjadi orang-orang yang telah anda serang, welcome aboard! eh, mengenai kritik-mengkritik. anda mungkin tidak sadar, revolusi yang sekarang membentuk negeri ini berasal dari kritik, kritik terhadap kolonialisme. bila anda menginginkan masa 'tenang' tanpa kritik, maka kita harus kembali either ke masa kolonial belanda atau masa kolonial orde baru. dimana orang-orang ditembaki tanpa kritik. orang-orang digusur tanpa kritik. orang-orang dirusak cara berpikirnya tanpa kritik. maukah kita mundur lagi ke masa itu? hidup ini harus selalu seimbang. kita sudah terlalu lama hidup dalam mimpi modernitas yang dijaga tentara, yang memabukkan. sekarang mimpi itu merasuk lewat media pop seperti tivi dan novel. salah satunya lewat novel laskar pelangi. apakah saya yang mengetahui bakal bahaya yang ada di dalam novel ini akan membiarkannya berlalu tanpa teguran? apakah saya mesti membiarkan kezaliman dalam bentuk fisik di masa lalu berlanjut dalam kezaliman dalam dunia episteme? bukan kita wajib memberitahu kalau ada yang salah? dan kalau diam berarti kita membiarkan kezaliman itu berlangsung terus? bagi saya, di banyak bagian, laskar pelangi adalah kezaliman! mimpi seragam jutaan orang yang berdesakan di lorong sempit untuk menuju ke alam mimpi tersebut, bisa berubah menjadi bencana besar! mengenai bahasa mau-maunya gue...anda bisa membacanya sebagai ungkapan emosional. itu hak anda. sayangnya anda tidak beda dengan yang lain, hanya mengeluh, tidak melakukan kritik terhadap tulisan saya. tidak akan lahir perdebatan yang sehat kalau anda hanya 'menembak' komentar saya tanpa membaca tulisannya, yang sekarang terbentang pasrah menjadi sasaran tembak anda. sama seperti saya yang berhak membaca secara beda lasakar pelangi, anda juga bebas menembak tulisan saya. silahkan, dan tunjukkan alasannya, lalu kita debat. kan itu lebih produktif. anyway, sebenarnya saya punya jawaban terhadap mengapa saya menggunakan 'mau-maunya gue' sebuah jawaban yang jauh lebih canggih dari hanya sekedar self-defence-mechani sm yang anda tuduhkan. tetapi karena pembacaan anda sudah demikian, saya biarkan saya. saya tak perlu melakukan 'pelurusan', karena toh begitulah dunia sastra, penuh dengan interpretasi. pengarang telah mati! pembaca adalah Tuhan yang menentukan bagus tidaknya sebuah karya.

28-10-2008
Dari : Ayam den lapeh | jablai@ymail.com
Bukannya membela andrea hirata, tapi memang karya yang memotivasi ratusan ribu rakyat RI jarang lagi muncul dan menjadi hiburan sekaligus motivator kita semua. Sosok pahlawan dan panutan di tengah-tangah kita makin jarang ditemukan. Kita sudah lama krisis pemimpin yang bisa diteladani. Sementara sosok kritikus (dari berbagai bidang) sudah lama booming terutama sejak bangsa ini mengalami krisis dan puncaknya ketika reformasi sedang ibarat tai baru keluar dari dubur. Mulai dari mahasiswa yang berdemonstrasi di pinggir jalan dengan sangat "mengganggunya" sampai kritikus-kritikus berdasi yang muncul di TV-TV entah menertawai pemerintah yang ada, berkeluh kesah atas ketidak-puasan apa saja hingga yang remeh-temeh, hingga seolah-olah tidak ada anak bangsa yang ini yang benar. Seolah-olah negeri ini begitu rapuhnya dan dihuni hanya oleh orang-orang brengsek dan bajak laut yang penuh manipulasi. Sebagian besar dari rakyat kita tentu saja bosan dengan sosok seperti ini. Kita Tidak heran buku ini booming. Tidak heran ia juga menjadi sasaran kritik. Kritik itu membangun dan itu benar. Dan sang pengkritik bersiap-siaplah menerima kritikan berkali-kali lipat atas kritikannya thd karya populer itu, karena sikap "defensif" atas usaha yang mencoba menyerang pahlawan mereka. Ditambah kejenuhan sebagian besar orang kita atas sosok-sosok skeptis penuh kritik ini. olehnya Bung Dandy harus dewasa, jangan ikut-ikutan bersifat defensif dan terpancing emosi atas kritikan balik (entah yang ilmiah atau sekedar remeh temeh). Karena bukankah tata krama kita disini adalah "tidak boleh melarang". Begitu pula dengan kritik balik, terserah pembaca kan, mau asal aja (baca "caci maki") atau yang cerdas ala panel diskusi di seminar-seminar, harus disikapi dengan lapang dada hingga pameo orang Indo yang hanya bisa mengkritik, segan dikritik bisa terbantahkan. Atau dengan kata lain anda tidak kena karma yang berbalik pada anda. Saya berkata demikian karena ada sedikit guratan tersirat bernada "menantang" (selain jawaban cerdas nan ilmiah)yang emosional dari anda sebagai reaksi atas kritikan balik dari pembaca Andrea Hirata. Memang kata-kata mau-mau gue adalah nama lain dari tata krama kita disini. Tapi setidaknya dewasalah, karena anda yang mengkritik bukan Andrea Hirata. Anda harus lebih dari yang anda kritik. Selamat buat anda berdua (dandy dan Andrea yang makin memperkaya kita secara emosionaldan intelektual. Indonesia bangkit !!

27-10-2008
Dari : dedy | dedy_belukarhujan@yahoo.co.id
ada yang mengganggu saya dalam perdebatan tentang andrea hirata. orang-orang yang membela novel itu sebagian besar tak memberikan alasan ilmiah atau masuk akal. selalu yang muncul adalah: jangan iri dengan karya orang, biarkan orang menikmati karya itu, jangan rusak mimpi banyak orang dengan mengkritik, andrea telah memberi oase kepada banyak orang. kita tak mungkin mendapatkan sebuah pemahaman baru dari diskusi ini(setidaknya, sesengit apapun saling balas komentar, saya menganggapnya sebuah diskusi). jika alasan yang diberikan tak rasional. artikel ini jelas-jelas mengganggu, tapi mengganggunya dengan sangat beralasan. punya asal alur pemikiran yang bertanggung-jawab. lalu orang-orang yang membantah hanya mampu menggunakan bahasa-bahasa emosionil tak tentu tuju. usul saya, kenapa tidak novel andrea ini menjadi jembatan bagi kita untuk mendiskusikan tentang banyak hal dari kehidupan kita. (karya)sastra itu bukanlah karya yang terlalu suci-suci amat. bagaimana pun ia adalah hasil perenungan realitas si pengarang, yang bisa jadi sudah bercampur dengan hasil-hasil "pemikiran keliru" atawa hegemoni dari kekuatan kekuasaan. andrea, meminjam bahasa dandy, adalah seorang anak yang lahir dari masa bengisnya zaman orde-baru. dan saya yakin kita sepakat, orde-baru banyak menanamkan mimpi-mimpi menyesatkan tentang pembangunan yang katanya untuk kesejahteraan semua rakyat, ternyata hanya untuk segelintir orang. maka, selepas orde-baru, ada saja orang-orang yang merindukan masa-masa jayanya soeharto. dengan alasan, dulu tak ada kerusuhan, tak ada kesusahan dan sebgainya. ya, jelas, karena orde-baru mengontrol semuanya, melarang media untuk mengkritik dan menyiarkan kejahtan-kejahatan orde-baru tersebut. mengapa kita tak memperlakukan artikel ini sebagai usaha untuk membongkar sisa-sisa hegemoni orde-baru itu lewat novel andrea hirata. janganlah bersikap sebgaimana para penguasa masa-masa dulu: pemerintah Yunani menghukum Socrates hanya terlalu sering bertanya dan mengajak orang berdiskusi, kaum gerejawan eropa menghukum Galileo-galilei karena berpendapat berbeda dengan gereja: bumilah yang mengitari matahari, bukan sebaliknya. atau para anggota DPR yang menertawai Gus Dur karena berpendapat ulah wakil rakyat seperti anak di Taman Kanak-kanak. jangan terlalu mendewakan andrea, sebagaimana jangan pula mendewakan kritik ini. semua ini (andrea dan dandy) adalah upaya untuk terus berpikiran kritis, tak hanya menerima satu kebenaran saja. saya tidak peduli, apakah dandy atau siapa yang menuliskan artikel yang sangat memperkaya ini, selama ia mengajak kita untuk terus bepikir kritis, saya akan terus mengapresiasinya. baik, untuk teman-teman yang ingin mengajukan ketidak-sepakatannya , mohon yang beralasan. agar ada pemikiran baru yang tumbuh. terima-kasih untuk semuanya....

27-10-2008
Dari : iMAs | yahyai@inco.com
Tetralogy - sekarang ini baru Trilogi Laskar Pelangi sanggup meng-inspirasi banyak orang. Inspirasi yang diberikan bukan dari hal - hal seperti Tarian, atau bahasa latin yang dipergunakan. saya yakin banyak cerita yang ter-skip dari ingatan para pembaca dari Novel Andrea Yang dibacanya. Bab demi bab yang kata orang alurnya tidak beraturan itu cuma jembatan - jembatan untuk menyampaikan makna dan memberikan kesimpulan terhadap cerita tersebut. toh dari 3 buku yang dibaca, kesimpulan yang bisa ditarik salah satu contohnya adalah bahwa mimpi akan tetap menjadi mimpi jika kita tidak berusaha mewujudkannya. kita bangsa indonesia ini adalah bangsa yang kekurangan motivator. negara kita ini cuma dipenuhi oleh orang-orang yang menyampaikan apa yang mereka sebut "analisa", dengan mengemukakan jutaan fakta2 otyentik untuk menumbangkan statement2 yang diserangnya, berfikir jungkir balik, padahal apa yang dikoreksinya hanya sebuah kesederhanaan yang mampu memicu semangat. novel Andrea itu oase untuk banyak orang, biarkanlah mereka menikmati oase itu, toh hasilnya positif. jangan rusak mimpi orang2 dengan segala tetek bengek kesalahan ini itu. sama saja ini seperti melihat semut di seberang lautan sementara gajah di pelupuk mata tidak nampak. Janganlah rumitkan hidup dengan memikirkan hal2 berat mumet njelimet. di negara kita ini orang dongo' jumlahnya ampun2an. biarkanlah saya, dan mereka mencoba memahami banyak hal dari yang sifatnya sederhana, nda usahmi jejali kepala kami dengan segala teori, kami sudah muak dengan teori, kami butuh contoh realistis. jika kita belum mapu berbuat apa2 untuk menolong bangsa yang bobrok ini, setidaknya membantu mereka untuk belajar berfikir positif saja sudah cukup. tidak perlu pakai bahasa tingkat tinggi, pakai cara sederhana saja.

27-10-2008
Dari : upi | citty_angel@yahoo.com
13-10-2008 Dari : andrea hirata | yah namanya novel , mau-maunya gue dong, kok sampai ba-bawa logika segala. Sirik aja lo padeserius nih comment dari andrea hirata?kl aku sih jg blm baca novel2 dr dia...males gara2 dah baca comment dia di harian fajar: salut pada riri, bla bla bla.....lupa...lalu. ..:sy punya 200 koleksi film, tp hanya karya ini yg bisa bikin sy menangis"....hallahh ...segituna..:P

27-10-2008
Dari : Ipul | ipul.ji@gmail.com
saya sepakat dengan bung Dedy, bukan cuma karena saya berteman dengan Nurhady. (sebagian besar) orang kita memang masih alergi dengan yang namanya kritikan. sesuatu yang populer dan kemudian diminati orang banyak tiba2 dijadikan barometer sebuah kesempurnaan sehingga kemudian setiap kritikan terhadap hal tersebut langsung disamakan dengan caci maki yang tak berdasar. membaca sastra bagi saya yang masih awam adalah sama dengan menikmati sebuah musik, semua tergantung kepada selera dan tidak dengan barometer yang gampang digerakkan. anda mungkin menyukai sebuah jenis musik yang bagi saya adalah musik cemen dan sampah, begitu juga dengan musik yang saya gemari, bagi anda mungkin adalah sebuah musik yang sama sekali tidak menarik. di sinilah saya pikir fungsi utama sebuah kritikan, kritikan yang menggunakan dasar tentu saja, sehingga sebuah karya tetap mempunyai perbandingan yang dapat dipertanggungjawabka n..untuk teman-teman yang membaca artikel ini (yang nantinya akan jadi buku), mohon untuk bisa membedakan mana kritikan dan mana caci maki, jangan sampai kita terjebak untuk mencaci maki sebuah kritikan...that's it, that's all..

26-10-2008
Dari : yankovich | andiahmadyani@yahoo.com
Saya tersedak membaca tulisan kritik cerdas bung ady (dandy).... Tersedak karena kelihain bung ady meramu fact dan beyond fact menjadi term yang sederhana untuk dipahami oleh orang awan seperti saya. Pada saat saya membaca bab "The pathetic four", saya juga merasa ada keganjilan dari cerita ini. Generalisasi (gaya khas orang posifistik) sangat terlihat jelas di bab ini. Dan tentu saja ini adalah bukti asli sistem pendidikan Indonesia. Saya menunggu buku karya bung ady.... Mahalo

25-10-2008
Dari : dedy | dedy_belukarhujan@yahoo.co.id
wah, tambah menarik saja semua komentar tentang artikel ini (yang sebentar lagi akan menjadi buku). bagi saya, perdebatan dalam komentar ini bisa menjadi cerminan betapa kita (orang indonesia) belum bisa menerima sebuah pendapat yang berbeda dari yang kita punya. juga sekaligus membuktikan bahwa dandy benar, pembaca andrea adalah "manusia modern" yang memang telah punya mimpi yang sama dengan andrea yang tak boleh diganggu-gugat, dipertanyakan dari mana mimpi itu sebenarnya muncul. di luar dari novel dan artikel ini, saya ingin mengajukan beberapa ketidak-sepakatan saya terhadap andrea pada beberapa hal. pertama, tentang pendidikan. pada rubrik wawancara di fajar (saya lupa bulan dan tanggalnya,tapi masih di tawhun 2008) andrea mengatakan bahwa ia tidak sepakat dengan sekolah gratis. alasannya: sekolah gratis bukan solusi terhadap kebodohan dan kemalasan (karena kemiskinan) di indoenesia ini. lanjutnya, toh banyak juga orang kaya yang anaknya bodoh dan malas. sekolah itu memang harus mahal, agar orang mau bersusah-payah untuk menuntut ilmu. bagaimana bisa andrea berkata seperti itu? meski pun alasan dia sebagian besar benar (malas dan bodoh tak ada hubungan dengan gratis tidaknya pendidikan), tapi pendidikan gratis merupakan pintu utama bagi orang-orang miskin bisa mengecap pendidikan. kedua, tentang sastra. andrea menganggap bahwa pembaca indonesia tidak menghargai sastra, atau sastra di indonesia tidak dihargai (ah, sama saja). untuk itu, dengan larisnya novel itu, dia mengkamapanyekan kepada semua sastrawan untuk mulai pasang tarif yang gede, baik terhadap karyanya mau pun jika sastrawan itu diundang untuk mengisi acara diskusi sastra. andrea memasang tarif dari yang paling murah 25 juta sekali bicara hingga paling tinggi 500 juta. untuk yang terakhir, saya sangat sesalkan. pasalnya, dia dibayar oleh bupati daerahku di sumbawa sana untuk bincang-bincang masalah sastra. di sumbawa (dengan sangat berat hati) sana, masih banyak kasus kemiskinan seperti busung lapar dan sebagainya? mengapa andrea mau memasang tarif begitu tinggi? sastra itu bukan profesi, tapi sastra itu adalah gerakan. dandy, dengan "karya"nya memang telah "mengganggu" kita. tapi seorang pengganggu yang baik dan berseni adalah pengganggu yang selalu menyisakan renungan dalam setiap ucapannya.

25-10-2008
Dari : aroel | arl_04amb yahoo.co.id
buat bang ady saya salut krna bisa melihat dgn jeli dan seksama tulisan bang andrea.. orang2 yg membaca novel bang andrea mengalir begitu saja hingga lupa dengan apa yg tersirat didlm tulisan novel tsb... coba klau semua peminat novel tsb dpt dgn sabar melihat realitasnya.. thanks bang ady..bravo

25-10-2008
Dari : La Nardi | politea_04@yahoo.com
menurutKu kritik terhadap Andrea itu setidaknya memberikan kita informasi lain. apalagi seperti saya yang hanya menjadi pembaca hasil karya sastra tanpa mendalami sastra lebih jauh... Memang didalam karya tersebut(andrea)ceri tanya sangat mengajak kita untuk bermimpi terlalu jauh ditengah kondisi bangsa yang amburadul. ..menurutku novel tersebut tidak cocok jadi best seller... tapi lebih cocok untuk orang yang PEMIMPI DI SIANG BOLONG buat yang lain..Coba klo semua Orang punya mimpi seperti yg diceritakan di novel tersebut.. pastinya orang yang sakit hati akan lebih banyak ketimbang orang yang bisa menggapai mimpi.. banyak yang stress nanti. dan sorboune penuh, terus UI, UNHAS, ITB, UGM bagaimana????? (aku bukan laskar pelangi)

25-10-2008
Dari : nurhady to toni dan nach |
pertama, apa yang saya tulis adalah kritik sastra. itu sudah biasa di mana-mana di seluruh dunia. cuma karena kalian (mungkin) belum pernah baca kritik sastra, jadinya kalian 'kaget', lalu menyuruh saya menulis novel. negara-negara dengan karya sastra terbaik di dunia, bisa menjadi demikian juga berkat dampingan kritik sastra. dari mana penulis novel tahu kesalahannya bila tak ada yang menuliskannya, agar kelak dia bisa menulis lebih baik. kedua, menulis novel bukan tugasnya kritikus. kalau pun dia kelak memutuskan menulis novel, itu bukan karena desakan pemuja novel yang dikritiknya. tapi karena dia ingin menyampaikan sesuatu dan model penulisan lain tidak sanggup menampung pesan yang mau disampaikannya. ketiga, SBY itu tidak begitu mengenal sastra, sehingga tidak begitu tepat untuk dijadikan barometer sebagai penilai mana karya sastra yang baik mana yang jelek. dalam sastra atau karya seni lainnya, setiap orang berhak melakukan penilaian dan tidak harus mengikut apa kata presiden sebab dia tidak lebih tau sastra daripada pembaca lainnya. keempat, dalam dunia sastra, kritik sastra juga adalah karya, bukan cuma novel yang disebut karya. jadi kalau kalian menyuruh saya berkarya, baca saja kritik saya. dan jika kalian tidak setuju, tulis bantahannya, dengan demikian kalian juga berkarya, nah itu lebih produktif. kelima, anda tidak bisa memaksa saya tidak mengkritik andrea, karena cara membaca setiap orang beda-beda. belajarlah menerima perbedaan itu, bahwa ada orang yang memuji, karena ada alasannya, ada juga orang yang mengkritik, karena alasan lainnya. belajarlah menerima itu. yang penting adalah, jika mengkritik, harus sampaikan alasannya, jangan cuma sekedar mengkritik. kalau tidak ada alasannya itu namanya caci maki, bukan kritik. keenam, kritik itu bukan hal yang buruk. kritik itu bisa membuat penulis belajar pada kesalahannnya. seperti juga bila ada orang yang menyampaikan kritik terhadap kritik saya, kalau alasannya kuat, tentu akan saya ucapkan terimakasih atas kritiknya, karena dengan demikian saya sadar akan kesalahan saya. jadi belajarlah menerima kritik. karena kritik itu pada dasarnya baik. karena tak ada gading yang tak retak! ke tujuh, selama menulis kritik saya terhadap andrea saya tentu juga melakukan kritik terhadap tulisan saya. sebelum menyampaikannya ke publik, proses menyaring apa yang patut dan tidak patut saya sampaikan kepada publik itu berlangsung lama, bahkan lebih lama daripada proses menulisnya. nah bila masih ada yang lolos, tentu saya dengan senang hati menerima kritik dari anda terhadap karya saya, karena dengan demikian saya jadi tahu dimana kelemahan karya saya. kedelapan, untuk menjadi manusia kita tidak harus menjadi penulis novel laris, sebab larisnya novel tidak menjadi indikator novel itu bagus untuk semua orang, dan belum tentu novel bisa berdiri sendiri menyelesaikan banyak masalah yang menumpuk di sekitar kita. kita boleh kagum akan seseorang tapi tidak lantas menerima mentah-mentah apa yang dia katakan, dan bersikap bermusuhan terhadap orang yang mengatakan hal lain. itu namanya represif, bung. untuk sementara itu saja dulu. saya menunggu tanggapan anda, boleh via japri, nurhadys@yahoo.com, kita bisa ngobrol lebih panjang. salam

24-10-2008
Dari : Tony |
nur...jangan cuma bisa mengkritik orang, buat lah karya juga....nantinya kita juga bisa membaca dan tonton hasil karyamu, itupun kalo bagus dan membuat SBY bisa tertarik menontonnya...bisa gak??????? jangan cuma mengkritik deh....

24-10-2008
Dari : nach che |
nurhady jangan cuma pinter kritik orang...biarkan orang berkembang melalui karya2nya, kalo kamu bisa bikin novel, yah..buatlah..jangan cuma kritik aja yang kamu tau, tapi gak bisa berkarya.......!!!!! cobalah menghargai karya orang lain kalo kamu mau di hargai.....ok bos. saya mau lihat kamu bikin karya yang spektakuler dan membuat SBY mau baca novel kamu?????berani gak ama tantangan itu??? ok NUR....kita tunggu hasil karyamu...thankz

24-10-2008
Dari : Reni Susanti | justrainy@yahoo.com
Wow, Kak Ady, kelas Discourse analysis Des Garper nilainya berapa ya? hehehe keren banget analisisnya. Aku sempat baca sedikit LP, tapi berhenti di awal-awal karena aku merasa ada yang aneh dengan novel itu...(waktu itu lagi ikutan kelas DA-nya Des juga hehehe) Selamat ya, atas penerbitan bukunya! Melihat discourse yang berkembang di komentar-komentar ini, rasanya kita punya banyak PR nih Kak. Sampai ketemu Desember nanti di Makassar..

23-10-2008
Dari : The boEgis art graphiC | lakellu@live.com
iri aj lw ma om Andre..... Kalo bisa lw juga buktiin dong diri lw ma sesuatu yang bisa membanggakan... jngn cuma bisa kritik orang lain................ .. Kritik dulu diri sendiri baru kkritik orang lain. Andre Hirata tetep The best

23-10-2008
Dari : nurhady to ulla |
kalau Ulla lebih hati-hati membaca komentar saya, saya tidak pernah 'mencaci orang yang suka nonton film'. bahkan saya berpendapat filmnya lebih bagus daripada novelnya. (tapi itu tentu pendapat saya pribadi yang tidak harus anda setujui)

23-10-2008
Dari : nurhady to ulla |
mohon maaf, saya agak segan memberitahu mimpi saya kepada orang yang saya tidak ketahui identitasnya. kalau mau ketemu, kita bisa ketemu dan ngobrol, pasti lebih asik, dan lebih akrab, daripada balas-balasan di komentar, bagaimana bos? kita juga bisa diskusi tentang perbedaan kritik sastra dan caci maki.

23-10-2008
Dari : ulla' | oellaode@ymail.com
Selalu ada yang tdk masuk akal dalam hidup. ANda boleh percaya atau tidak, terserah...termasuk mencaci maki. Seperti nonton film; kalo mau masuk akal, jangan nonton film. Tapi jangan juga mencemoh orang yang suka nonton film. Kalo boleh tahu, apa mimpi anda?

22-10-2008
Dari : nurhady to 'andrea hirata' |
mau maunya gue dong, mau baca andrea hirata kayak apa...kok dipaksa harus muji muji

22-10-2008
Dari : nurhady to atari |
saya punya mimpi sendiri, yang tidak sama dengan mimpi andrea yang sekarang sudah jadi kayak ajaran agama...harus di ikuti. dan kalau kita tidak ikut di anggap 'menyimpang'. saya mau menjadi diri sendiri saja. nggak apa-apa kan saya tak bermimpi jadi penulis novel laris? nggak apa-apa kan kalo saya punya tafsir lain ketika membaca buku buku andrea? toh mbak atari gak harus setuju sama apa yang saya bilang. kita kan tidak perlu punya mimpi yang seragam...kayak seragam sekolahan

21-10-2008
Dari : Naima |
novel yang memberiku pelajaran baru tentang hidup

21-10-2008
Dari : Atari Drean | atari@yahoo.com
om, capailah mimpimu, yang tinggi, jadilah penulis novel laris... kalau bisa...

20-10-2008
Dari : achiem |
Luar biasa..ditengah jutaan pujian terhadap buku dan film laskar pelangi,kak dandy membuka wawasan kita tentang sisi lain dari buku andrea hirata ini.tapi bagaimanapun arai telah memberi semangat kepada jutaan orang untuk menggapai mimpinya dan berharap Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu.

16-10-2008
Dari : carkhu_037 |
Essay yang menarik. Tapi kayaknya berat di EDENSOR .... Tapi biarlah, mungkin Abang yang satu ini punya pertimbangan lain. Bagaimanapun Andrea Hirata telah memberi satu warna baru dalam dunia sastra terkhusus di Idonesia.

14-10-2008
Dari : Agung Prasetio | sagarmatha_abimanyu@yahoo.co.id
ini novel...fiksi..jadi pengarang bebas untuk menulis...tetapi dia punya tanggung jawab sosial kepada masyarakat pembacanya. Kita orang Indonesia...sedikit nasionalis lah...

13-10-2008
Dari : andrea hirata |
yah namanya novel , mau-maunya gue dong, kok sampai ba-bawa logika segala. Sirik aja lo pade

13-10-2008
Dari : emma |
Saya pikir, kita harus kembali pada kenyataan bahwa tetralogi ini adalah novel, walaupun juga merupakan memoar. Dan sepengetahuan saya, penulis novel berhak menulis berdasar cara pandang dia akan suatu hal, termasuk kalau dia (ternyata) memang mengagungkan Barat. Dan tentu berhak juga, untuk memilih cara penulisan yang lain dari yang lain, seperti menulis nama tumbuhan dengan dengan nama biologinya.Apakah itu terlalu kebarat-baratan atau tidak, menurut saya itu menambah cita rasa edukatif pada bukunya. Tapi artikel ini cukup menambah wawasan juga.

08-10-2008
Dari : nurhady |
thanks sugi. mengenai gembala, saya sudah perbaiki setelah baca ulang tulisan ini di panyingkul! mengenai tarian afrika. memang Riri melakukan koreksi terhadap novel Andrea dengan mencari alasan yang lebih masuk akal terhadap munculnya tarian orang Masai itu. meskipun masih tetap sangat meragukan bagi saya, bagaimana Mahar bisa merekonstruksi gerakannya hanya dengan melihat gambar atau membaca artikelnya yang berbahasa inggris itu (waktu itu belum ada NG edisi bahasa Indonesia). anyway, thank you

07-10-2008
Dari : sugi |
ini hanya komentar tidak penting, meski penting untuk konteks agamawan ke jamaahan Kristen. Pertama: Istilah yang umum digunakan untuk merujuk pada "jemaat" Kristen, -dalam tulisan ini- calon jemaat (paragraf 15) adalah "kawanan domba".. bukan "gembala." Ke dua: Saya hanya menonton film LP, penjelasan logis mengenai kehadiran orang Masai di karnaval tahunan Belitong itu, dijembatani Riri dgn sebuah majalah National Geographic.. kalau g salah edisi Asmat.. baru tahu kalau dibuku adegan itu dirujuk ke orang masai.. kupikir seperti yg di NG, kaum yang "lebih dekat": orang asmat.

07-10-2008
Dari : ochi | ochi_k95@yahoo.com
Tulisannya keren wawasan baru buat saya but I'll still love Andrea Hirata

26-09-2008
Dari : amus | agus.moslem@gmail.com
saya bahkan berhenti membaca laskar pelangi pada halaman 134. Akal saya tidak terlalu bisa menerima sesuatu yang kurang masuk akal.

15-09-2008
Dari : nurhady |
thank you bos ipul. sangat jeli. itumi gunanya banyak teman yang mengoreksi..mengenai dead poet society akan saya coba nonton lagi

15-09-2008
Dari : Ipul | ipul.ji@gmail.com
Halo Dandi...apa kabar boss..?, tulisanmu mantap sekali. sebuah perspektif yang berbeda namun sekaligus juga mencerahkan karena disertai data dan fakta yang mendukung..dalam beberapa hal saya memang setuju dengan Dandi. novel LP kadang terasa kurang logis. Andrea mungkin terlalu memaksakan strereotip para pembacanya sehingga kemudian larut dalam kebiasaan menggunakan berbagai istilah dan bahasa yang susah dimengerti. selain itu, alur cerita dari LP ada yang bolong dan cukup mengganggu bagi saya. namun dari keseluruhan kritikan yang pernah muncul di kepala saya, apa yang ditulis oleh Dandi di atas adalah hal baru. dan tentu saja ini sangat mencerahkan bagi saya...jadi terima kasih kawan..btw, koreksika sedikit: pak Balian itu bukan guru SMP tawwa, dia guru SMA Bukan Main, karena Ikal dkk. sekolah di SD dan SMP Muhammadiyah yang reyot itu...tentang metode mengajarnya yang rada2 mirip Dead Poets Society, hmmm...mungkinkah dia terinsipirasi dari sana ?, atau Andrea yang mengarangnya ?, atau...kebetulan saja..Wallahu Alam..

14-09-2008
Dari : saurlin | saurlin@gmail.com
oh..tulisannya rame ya bos... salut, dengan menulis saja, perlu diapresiasi... belum sempat baca nih, bung pasti tahu alasannya..:) tetap berkarya, saurlin

13-09-2008
Dari : nurhady |
untuk ambo dalla: saya kira sudah banyak sanjungan terhadap andrea tersebar di mana-mana. cukuplah saya menambahkan kelemahannya saja. tentang yang baik-baiknya, sudah dikerjakan banyak orang. sebenarnya saya cuma ingin membuat keseimbangan. meskipun upaya saya ini tidak akan bisa mengimbangi kecenderungan umum sekarang. tapi setidaknya ada sedikit upaya serius untuk itu, bagi saya, lebih baik daripada tidak ada sama sekali. sebab saya melihat orang indonesia sudah mulai terbius dengan mimpi dan melupakan realitas. seperti penjual mobil, semua yang dia sampaikan tentang barang jualannya adalah yang baik-baik tentang mobil. dan klihatannya orang banyak menelannya bulat-bulat. jarang orang yang mengingatkan bahwa mobil itu juga ada sisi merusaknya. ini agak mirip dengan, hanya sedikit yang bersedia mengulas panjang lebar tentang kelemahan-kelemahan buku andrea, dan dengan demikian bersedia dihujat ramai-ramai oleh penggemarnya..hehehe

12-09-2008
Dari : ambo dalla |
analisa kritik yg jitu. cma kok sisi negatif aja yg di paparkan. kl bisa sisi positif nya. apalagi buku ini banyak skli menginspirasi orang. saya lom baca bukunya...

11-09-2008
Dari : ham | bwithm@gmail.com
Saya pernah membaca buku berjudul 'Asia' ditulis oleh orang barat yang nama dan tahunnya sudah lupa...katanya "..satu yang pasti tentang pemahaman orang asia terhadap dirinya adalah bahwa merekalah yang superior..juga digambarkan bahwa orang asia umumnya berperilaku mirip dengan kaum sparta di yunani kuno; maksudnya,biarpun terasa sakit tetapi seolah-olah tidak sakit. Juga orang asia taat tradisi; tepat sekali tatkala nabi Isa/Yesus bersabda berpeganglah kepada tali tradisi

11-09-2008
Dari : halim hd. | halimhade@yahoo.com
dua kali terakhir membaca esainya dandy, saya merasa, walaupun belum pernah membaca bukunya andrea hirata dan mansur samin, rasanya teman kita ini sangat pantas dianggap kritikus sastera yang handal yang ada di makassar. gaya esainya yang gamblang, tidak berbelit dan seperti kebiasaan akademisi yang terlalu fasih mengutip dan menghafal sejumlah "teori" (baca: istilah) yang ditutupi seolah-olah miliknya yang sering membuat saya pening. di gedung kesenian di makassar, sering nongkrong kalangan akademisi yang saya anggap hanya memamerkan istilah yang baru dibacanya, sehingga tidak naampak pemikiran dirinya. itu beda dengan apa yang ditulis oleh dandy. tapi, ada pertanyaan yang perlu saya sodorkan disini:apakah oerientalisme itu sekedar "pemujaan" kepada eropa, ataukah dia juga sebaliknya, "pemujaan" kepada apa yang kita miliki sebagai harta karun atau "jimat" yang dianggap sebagai sesuatu yang bisa menjawab eropa?

11-09-2008
Dari : rao | rao_some
agak bingungka juga baca novelnya LP



 :: CITIZEN REPORTER
Makassar di Panyingkul!: Sebuah Persembahan
(Kamis, 12-07-2007)
Ayo Bergabung di Panyingkul!
(Minggu, 29-04-2007)
Catatan Sederhana Para Citizen Reporter
(Selasa, 31-10-2006)
Tentang Citizen Reporter dan Rubrik di Panyingkul!
(Rabu, 11-10-2006)
Riuh Rendah di Panyingkul!
(Rabu, 16-08-2006)

Untitled Document
 :: DUNIA SEGIEMPAT KAREBOSI






 :: PILKADA




 :: ALBUM PUASA 2008




Untitled Document
 :: KONTAK TIM PANYINGKUL!

Email Redaksi :

redaksi@panyingkul.com

Tim:
yus@panyingkul.com
+62 813 226 80844

Moch. Hasymi
+62 811 955 954


© Juni 2006 - Panyingkul.com All Rights Reserved
Desain Web : Nesia Andriana -- Supported by: Yuhardin