|
|
| . |
| ::
|
| Kamis, 11-09-2008 | Andrea Hirata Mundur Dua Abad :: Nurhady Sirimorok ::
|  Citizen reporter Nurhady Sirimorok yang sedang menyiapkan buku Analisis Modernitas dengan merujuk pada karya-karya Andrea Hirata (Tetralogi Laskar Pelangi), menurunkan nukilan buku tersebut khusus untuk pembaca Panyingkul! Tulisan ini adalah bagian kedua sekaligus terakhir. Bagian pertama nukilan ini dapat dibaca di sini.(p!)
| Saya sering membayangkan bagaimana seandainya mendiang Edward Said sempat membaca tiga novel Andrea Hirata. Di sofa perpustakaan pribadinya mungkin dia akan senyum kecil membolak-balik buku-buku itu. Takjub. Betapa pengaruh para Orientalisme menancap sangat dalam di batok kepala sang novelis. Eksploitasinya terhadap dunia Timur yang diciptakan oleh Orientalis Barat begitu maksimal, mencapai tingkat yang benar-benar mencengangkan. Taburan ikon-ikon dan idiom Barat seperti enceng gondok yang memenuhi permukaan sungai di muara.
Sulur narasi Andrea yang berujung di Paris bisa jadi mengingatkan Said pada sepak terjang serdadu dan ilmuan yang diboyong Napoleon di tahun 1798 ketika mereka hendak menaklukkan Mesir. Setelah berhasil mereka membawa pulang banyak benda bersejarah dari negeri tua itu. Invasi sistematis pimpinan sang jenderal menghasilkan karya kolektif, dua puluh tiga jilid, Description de l’egypte, yang membantu orang Eropa menegaskan superioritasnya terhadap dunia yang mereka bayangkan sebagai Timur. Dia merinding mengingat bahwa buku ini pernah berhasil menggoda para Orientalis menjadikan Mesir sebagai “laboratorium dan teater dari pengetahuan Barat yang efektif mengenai dunia Timur.”
Sepulang dari ekspedisi itu, atau lebih tepatnya penjarahan besar-besaran, kenang Said, Napoleon mendirikan sebuah monumen di Paris. Monumen yang kini didatangi jutaan pelancong tiap tahun, mungkin seperti Ikal dan Arai, karena berada tepat di pertengahan jalan paling tersohor di sana, Champ Elysse. Nama monumen itu pun akan membuat sakit hati orang Mesir, Arc de Triomphe, gerbang kemenangan.
Napoleon bagi Mesir seperti van Heutsz bagi Aceh. Bedanya, kalau van Heutsz hanya bergantung pada Snouck Hurgronje untuk mengetahui isi dalam Aceh, maka Napoleon membawa serta “lusinan cendikiawan” untuk mempelajari Mesir. Dan jika van Heutsz memanfaatkan informasi Snouck hanya sebelum menyerang Aceh, maka Napoleon mengkonsumsi banyak sekali teks tentang Mesir sebelum menyerang, dan memerintahkan lusinan ilmuan membuat lebih banyak lagi catatan. Kelak, dari Mesir, dengan bantuan catatan para ilmuannya, Napoleon ingin memperlebar invasinya.
Pemujaan bak berhala Andrea terhadap kehidupan akademik di Paris mungkin membuat Said terkenang pada Bartholomey d’Herbelot yang menulis berjilid-jilid kumpulan risalah di kota itu, yang menghimpun seluruh studi tentang dunia Timur, Oriental. Buku itu diberi judul Bibliotheque Orientale, yang secara sederhana bisa diartikan, ‘Perpustakaan studi Ketimuran’. Buku yang menjadi rujukan hingga akhir abad 19, yang berisi banyak salah paham orang Barat tentang Islam pada masa itu.
Deskripsi Andrea yang begitu bersemangat tentang kota mode itu boleh jadi membuat Said ingat pada kalimatnya sendiri yang dia tulis di buku, yang dalam terjemahan Indonesianya bernama Orientalisme. “…dan selama lebih dari paruh pertama abad ke sembilan belas Paris adalah ibukota dunia Orientalis (bahkan menurut Walter Benjamin, sepanjang abad ke sembilan belas).”
Setelah menyelesaikan ke tiga buku itu—kalau dia tahan—mungkin Said akan menghela nafas panjang sambil geleng-geleng. Saat seperti itu, saya bayangkan dia ingin menulis ulang dalil-dalilnya dari Orientalisme. Bahwa Orientalisme adalah cara untuk memahami dunia Timur dari kacamata Barat. Bahwa Orientalisme adalah gaya berpikir yang menyihir orang untuk menerima mentah-mentah pemikiran bahwa terdapat perbedaan mendasar antara Barat dan Timur. Bahwa Timur itu ciptaan Barat karena orang Barat menulis tentang Timur dengan bebas tanpa adanya perlawanan. Bahwa setelah menarik garis, dan menonjol-nonjolkan perbedaan, orang Barat kemudian datang mempelajari, menaklukkan, dan mencitrakan Timur menurut kehendak mereka. Seperti kodok percobaan yang ditangkap kemudian dibelah untuk kepentingan penelitian skripsi. Bahwa dengan begitu, Barat merawat superioritasnya terhadap Timur.
Setelah itu mungkin Said tidak bisa tidur tenang. Pikirnya, “bagaimana kalau buku Andrea dibaca banyak orang Indonesia?”
Karnaval itu akhirnya tiba juga. Mahar menjadi pahlawan yang dipuja-puja Ikal dalam persiapan karnaval ini. Dialah sang koreografer, penata busana, sekaligus komposer dan pemain musik. Mahar bisa segalanya. Dalam novel Andrea para tokoh memang begitu. Perguruan Muhammadiyah yang doyong dan kemasukan kambing di tempat terpencil itu berisi orang-orang hebat yang tidak kita temukan di tempat manapun. Guru yang sempurna, muridnya pun rata-rata luar biasa. Tak heran bila mereka melakukan hal luar biasa dalam pesta karnaval, menampilkan sebuah tarian perang suku Masai dari Afrika.
Untuk pakaian mereka memanfaatkan bahan-bahan yang sangat banyak dan salah satu anggota Laskar Pelangi harus bekerja empat hari untuk menyelesaikannya. Koreografinya hanya datang dari pemikiran jenius Mahar tanpa kita tahu pernah dia lihat di mana. Soalnya di kampung Ikal tidak ada bioskop. Mungkin Mahar sempat mengintip foto tarian itu buku-buku di perpustakaan kepala sekolah berisi banyak sekali buku sains canggih. Tapi bagaimana Mahar tahu gerakannya kalau itu cuma foto? Ah, agak sulit membayangkan Mahar menemukannya di mana-mana di sekitar rumahnya. Yang paling memungkinkan adalah Andrea Hirata menemukan tarian itu di wikipedia dan menelusuri gambar dan dokumenternya.
Internet memang ajaib. Seluruh informasi yang kita butuhkan ada di sana. Pencitraan tentang orang Afrika yang populer tentu sangat banyak di sana. Memilih informasi untuk saya tuliskan di sini membutuhkan berjam-jam. Ada yang membeberkan dengan datar ada pula mengulasnya dengan analisis kritis. Fenomena keterjajahan Afrika memang luar biasa well-documented, sebab nyaris seluruh bangsa Eropa besar—tentu Perancis termasuk di dalamnya—memotong-motong kue tart Afrika untuk mereka bagi-bagi. Mereka tidak hanya membelah-belah tetapi juga mendokumentasikan, mempelajari, menamai, agar lebih mudah dan efektif untuk diperintah dan dijarah.
Keterangan standar dari wikipedia akan terlihat membosankan bila tak dilengkapi ulasan-ulasan dari beberapa website yang menayangkan analisis postcolonial terhadap penyajian Afrika kepada dunia oleh orang Eropa sejak abad ke-19. Menurut salah satu tulisan Jan Nederveen Pieterse, Colonialism and Representation—hasil membuka-buka halaman dari mesin pencari google, sejak abad ke 19, orang Afrika menjadi bahan pajangan yang laku di Eropa. Gambaran tentang perang adalah salah satu yang paling digemari orang Eropa. Ketika sepasukan Eropa datang ke sebuah pelosok Afrika untuk berperang, mereka membawa serta seniman yang diutus media untuk ‘meliput perang’. Mereka membuat lukisan akurat tentang pakaian angkatan perang Eropa dan lawannya. Namun bagi media yang kurang punya fulus seperti Illustrated London News, mereka hanya menggambar dari ‘tangan ke dua’, hasilnya adalah pencitraan karikatural tentang angkatan perang Afrika yang sangat digemari orang Inggris.
Penggambaran pasukan perang Afrika, yang tersebar menjadi pencitraan populer di Eropa adalah, sepasukan orang telanjang dada, menggunakan senjata manual sederhana seperti tombak, berperang tanpa aturan, dan kalah. Mereka dilukiskan sebagai orang-orang liar dan karena itu gampang ditaklukkan. Padahal yang sebenarnya adalah mereka sudah menggunakan senjata api sejak setidaknya dua abad sebelumnya, dan tidak telanjang dada. Gambaran tarian perang gubahan Andrea Hirata dalam Laskar Pelangi sangat dekat dengan pencitraan populer ala kaum kolonial.
Paris, Mei 1889, sedang menyambut tamu-tamu malang yang didatangkan dari negeri-negeri jajahan. Exposition Universelle atau Pameran Sejagad, sedang berlangsung di kawasan seluas nyaris satu kilometer persegi. Menara Eiffel yang rampung tahun itu menjadi pintu gerbangnya. Pada perhelatan yang menyedot jutaan pengunjung itu, empat ratus orang berkulit gelap dipamerkan seperti hewan-hewan tangkapan di kebun binatang—pameran semacam ini di Eropa memang dirintis oleh pengelola kebun binatang.
Titik yang paling menyedot perhatian dalam pameran itu adalah village negro atau perkampungan orang berkulit hitam. Sebagian orang Eropa di masa itu menamainya Human Zoo atau kebun binatang berisi manusia—tentu pertunjukan tarian perang mereka yang liar juga ada di dalamnya. Di masa itu orang Eropa sangat percaya teori evolusi Darwin, bahwa manusia berasal dari kera. Nah, di antara kera dan bangsa Eropa, ada spesies setengah jadi, spesies beradab rendah, telanjang dan liar, cuma mengenakan kulit kayu atau jerami tanpa baju, dan berkulit gelap. Mahluk ‘belum jadi manusia’ ini sungguh menarik ditonton orang Eropa yang beradab. Bagi ilmuan mereka subyek penelitian. Bagi penguasa mereka benda taklukan. Bagi para agamawan mereka calon gembala.
Selain itu juga ada layanan merasakan menjadi penjajah. Mereka tidak perlu repot-repot ke Afrika untuk merasakan enaknya jadi penguasa. Selain memanjakan mata dengan pertunjukan eksotik, mereka juga merasakan digendong di atas hammock khas Afrika dengan bayaran murah. Orang-orang berkulit hitam yang malang itu harus merasakan malu di negeri penjajahnya.
Reaksi penonton dan juri karnaval dalam Laskar Pelangi mirip dengan orang-orang Eropa beradab di Paris akhir abad ke-19. Mereka berdecak kagum melihat pertunjukan aneh nan eksotis itu. Tentu dari mata warga kolonial Eropa, yang diwakili Andrea, dan ditularkannya kepada seluruh audiens dalam novel larisnya itu, marching band yang sudah sering mereka lihat tidak akan bisa menandingi tarian langka bangsa ‘biadab’ ini. Sungguh sebuah adopsi sempurna sebuah colonial mind dari seorang putera Melayu Belitong. Dan guru-guru Muhammadiyah turut bangga pada pertunjukan murid-muridnya.
Entah mengapa saya teringat lagu Bob Marley, Bufallo Soldier, ketika membaca adegan tarian perang itu. Mungkin karena melibatkan Ikal yang tampil sebagai sapi. Lagu itu bercerita tentang perjalanan panjang orang Afrika yang dirampas dari kampungnya, untuk dijual sebagai budak di benua Amerika.
Lapland masih belum dikenal orang ketika Carl Linnaeus tiba di sana. Dialah yang akan membuat kawasan di ujung utara Swedia itu menjadi terkenal. Sang ahli botani dan ekologi berlayar dari Uppsala di tahun 1732 menuju tempat itu untuk sebuah ekspedisi penelitian yang dibiayai akademi Sains Uppsala. Sesampai di sana dia mulai mengumpulkan dan membuat klasifikasi tumbuhan yang ada di sana. Setelah itu dia meneruskan ekspedisinya beberapa tempat lain untuk melakukan hal serupa. Di Belanda, tahun 1735, dia menerbitkan catatan tentang klasifikasi tumbuhan sepanjang sebelas halaman berjudul systema naturae. Akhirnya, setelah kembali ke Uppsala, terus meneliti sembari mengajar sebagai guru besar, pada tahun 1741, catatan kecil itu telah menjadi buku besar.
Buku ini sangat berpengaruh bagi para ahli botani Eropa yang saat itu sedang giat-giatnya menduduki belahan dunia lain. Sejak tahun 1878 sampai 1914, atau hingga berkecamuknya perang dunia pertama, mereka menguasai sekitar 84 persen permukaan bumi. Dengan membawa sistem buatan Linneaus para ilmuan Eropa, atas sokongan dana pemerintah kolonial, melakukan pengumpulan dan pembuatan klasifikasi tumbuhan dan hewan—manusia termasuk di dalamnya.
Taksonomi gaya Linnean ini, yang bertaburan dalam buku Laskar Pelangi, mengundang banyak komentar dari ilmuan-ilmuan generasi belakangan. Mary Pratt, dalam bukunya, Imperial Eyes, sains taksonomi Eropa utara, yakni praktek mengklasifikasi dan menamai organisme yang belum dikenali di Eropa, menciptakan sebuah kesadaran baru. Sejak itu orang menganggap bahwa planet ini berpusat di Eropa. Untuk menyebutkan sebuah orgnisme yang ada di bumi orang harus merujuk dari apa yang dibuat Eropa.
Andrea Hirata hanya salah seorang warga bumi yang harus menggunakan nama latin agar yakin dia tidak sedang berbuat kesalahan ketika menyebutkan nama tumbuhan yang ada di kampungnya. Inilah cara yang benar untuk melakukannya. Dia bayangkan pembacanya berpendidikan ala Eropa, sama seperti dia, sehingga juga bergantung pada taksonomi untuk mengenali tumbuhan. Cara penyebutan lain akan dianggap tak ilmiah, berisiko tidak dikenali oleh pembaca, dan harus dinomorduakan atau dihilangkan sama sekali.
Kemungkinan lain, Andrea adalah produk sekolah Orde Baru yang rajin menghilangkan nama lokal. Bisa jadi, satu-satunya jalan bagi dia untuk mempelajari nama asing adalah dari sekolah. Sementara nama lokalnya telah hilang dibawa ke kuburan oleh para pendahulunya. Saya yang tak berusia tak jauh dari sang novelis, juga turut menjadi korban dari fenomena semacam ini.
Bagi gaya berpikir kolonial bangsa Eropa, orang-orang berkulit gelap itu adalah hewan-hewan biadab piaraan yang telah dijinakkan. Mereka dan sebagian negeri serta isinya telah diberi nama menurut cara berpikir Eropa agar lebih mudah dipelajari. Sebelum menjadi jinak mereka tentu harus ditaklukkan dulu. Untuk menaklukkan mereka dibutuhkan keunggulan senjata dan siasat. Sebelum itu pemilik modal dan pemegang kuasa harus diyakinkan. Para ilmuan sangat dipercaya untuk hal ini.
Lanskap, tumbuhan, hewan, dan manusia: bangsa jajahan, harus dipelajari oleh para ilmuan. Nama-nama aslinya mesti diubah menjadi nama yang lebih saintifik, yang asing ditelinga orang setempat. Lalu nama-nama itu dibawa pulang ke universitas untuk diajarkan sebagai ‘ilmu’ sebelum diekspor kembali ke tanah jajahan lewat ‘pendidikan’ formal bentukan pemerintah penjajah. Ketika generasi muda Melayu mempelajarinya sebagai ‘ilmu’, sebagaimana Ikal, hilanglah nama Melayunya. Kasus pohon filicium yang muncul ratusan kali di Laskar Pelangi menjadi salah satu buktinya.
Demikian berkuasanya ‘ilmu’ Linneaus itu, sampai Andrea harus menempatkan nama asli dari nama-nama asing itu di daftar glosarium. Para pembaca Melayu disuguhi nama kolonial tumbuh-tumbuhan asli mereka, dan baru tahu (atau menerka-nerka) nama aslinya di bagian paling belakang novel.
Anehnya, masih di novel yang sama, kawan Ikal mau mengubah nama-nama tempat asing kembali ke nama aslinya. Di sini terlihat ambiguitas Andrea. Nama tempat biasanya datang dari Jawa, dibawa oleh pemerintah pusat, yang tidak terlalu kuat dan ruwet untuk dihadapi. Untuk mengubahnya tidak perlu membuat peta dunia baru yang telah bisa diterima orang sebumi. Lawan ini cukup enteng. Sedangkan untuk mengabaikan taksonomi yang sudah mendunia itu cerita lain. Sistem ini telah menguasai jagad ilmu pengentahuan yang belindung di balik benteng maha kukuh. Seluruh universitas besar dan berpengaruh di dunia akan menertawakan mereka bila anak-anak Melayu itu mencoba mengubahnya. Itu pun bila mereka sadar bahwa ini juga adalah sebentuk penjajahan.
Drs. Julian Ichsan Balia guru sastra SMP Bukan Main, dalam novel Sang Pemimpi, telah menyihir Ikal—juga Arai meski suaranya selalu diwakili Ikal. Dia guru sastra, bidang yang dianggap oleh ikal sebagai ‘muara segala keindahan’. Dia kreatif bak John Keating guru bahasa Inggris Welton Academy di film Dead Poet Society yang kadang mengajar di luar kelas, mengutip-ngutip karya sastra dunia berbahasa asing, dan kadang mengajukan pertanyaan filosofis kepada siswa-siswinya yang baru SMP. Di salah satu adegannya, sangat mirip dengan adegan di film keluaran tahun 1989 itu, Pak Balia bertanya, “what do we do in life…,” kata Pak Balia teatrikal, “…echoes in eternity...!!” (hl. 72)
Pengandaian ini rasanya tidak imbang karena dalam film itu, anak-anak sekolah Welton Academy adalah anak-anak dari keluarga makmur di negara makmur, AS, yang tengah bersiap masuk universitas dan terlatih mendengar kutipan-kutipan dari karya sastra. Anak-anak SMP Bukan Main dalam Sang Pemimpi adalah anak-anak miskin yang tidak membaca karya sastra.
Di suatu hari ketika Pak Balia mengajar di lapangan sekolah, dia mengucapkan sesuatu yang akan menjadi mimpi masa depan Ikal dan Arai. Dia bilang: “Jelajahi kemegahan Eropa sampai ke Afrika yang eksotis. Temukan berliannya budaya sampai ke Prancis. Langkahkan kakimu di atas altar suci almamater terhebat tiada tara: Sorbonne. Ikuti jejak-jejak Sartre, Louis Pasteur, Montesquieu, Voltaire. Di sanalah orang belajar science, sastra, dan seni hingga mengubah peradaban….” (hl. 73)
Kalimat ini diulang sebanyak lima kali dalam berbagai varian. Secara spesifik yang paling dikenang Ikal, tak pernah absen dalam perulangan-perulangannya, adalah ‘altar suci almamater Sorbonne’ dan ‘menjelajahi Eropa sampai ke Afrika’. Bila pada Laskar Pelangi yang jadi penyemangat adalah Lintang, atau kecerdasan dan perjuangan Lintang, maka dalam Sang Pemimpi penyemangatnya adalah dua susunan kata di atas. Kalau di buku pertama Lintang kadang menjadi gantungan nasib seluruh sekolah Muhammadiyah—selain Mahar. Maka di buku berikutnya, dua mantra di atas menjadi gantungan Ikal dan Arai. Awalnya, sekolah yang bergantung pada murid. Kini sang murid bergantung pada mimpi.
Selanjutnya, di Laskar Pelangi Ikal tak bermasalah melanjutkan sekolah karena keasikan dengan suasana sekolah. Di sana dia berjumpa dengan banyak tokoh manusia-tipe-ideal. Kehidupannya di kampung pun tidak begitu sulit. Tidak harus mencari uang sendiri dan masih tinggal bersama orangtua yang baik. Di Sang Pemimpi Ikal kehilangan sekolah yang dia cintai, sosok-sosok guru ideal yang dia kagumi, kawan-kawan Laskar Pelangi yang mengisi waktunya dengan beragam pengalaman eksotik. Latarnya berganti dengan kehidupan keras di luar sekolah. Meski di sekolahnya masih ada guru yang inspiratif, namun keadaan luar sekolah yang demikian keras membuatnya kadang patah semangat. Dia harus bekerja sejak pukul dua pagi sebelum pergi ke sekolah. Dia berganti-ganti pekerjaan dari tukang selam di lapangan golf, tukang bersih-bersih dan buat teh di kantor pemerintahan, sampai kuli pengangkut ikan dari perahu ke dermaga. Begitu pula ketika dia tiba di Jawa, dia harus bergantu-ganti pekerjaan untuk melanjutkan sekolah di UI Depok. Dalam kehidupan keras seperti ini, dia berkali-kali diselamatkan oleh mantra ajaran Pak Balian yang kini menjadi mimpinya.
Setelah diucapkan Pak Balian, lima kali mantra itu muncul. Pertamakali ketika Ikal mengulangi dalam hati mantra itu segera setelah diucapkan Pak Balian. Satu kali mantra ini digunakan untuk menyembuhkan Jimbron yang tengah sedih setelah dihardik Ikal karena terlalu bersemangat bercerita tentang kuda. Tiga kali ketika semangat Ikal tengah yang merosot.
Kerasnya kehidupan fisik sebagai pekerja kuli membuatnya menjadi pesimis menjalani cita-cita. Dia menghardik mimpi itu. “Altar suci almamater Sorbonne, menjelajahi Eropa sampai ke Afrika, hanyalah muslihat untuk menipu tubuh yang kelelahan agar tegar bangun pukul dua pagi untuk memikul ikan.” Di sini Andrea memainkan narasi perjuangan sebagai jalan menuju mimpi, lalu dia benturkan dengan kenyataan hidup tokoh utamanya. Namun kenyataan harus dikalahkan oleh mimpi.
Rasa pesimis Ikal membuat prestasi sekolahnya menurun. Peringkat kelasnya terlempar jauh sekali. Dia semakin sedih melihat ayahnya datang dan pergi dengan tenang ketika menerima nilai sekolahnya yang terjun bebas. Di tengah kegalauan itulah, Arai mengeluarkan mantra penjinak rasa pesimis. Dia mulai dengan mengingatkan bahwa, “Tanpa mimpi, orang seperti kita akan mati…” Orang susah harus punya mimpi, itulah dasar logikannya. Lalu dia mengajukan ancaman yang tak disukai para pemimpi kehidupan modernis seperti Ikal. “Mungkin setemat SMA kita hanya akan mendulang timaah atau menjadi kuli…” (hl. 153)
Setelah mengingatkan dalilnya, bahwa orang susah harus punya mimpi, dan mengajukan ancaman bila tidak terus bermimpi, barulah Arai mengucapkan mantranya. “Kita lakukan yang terbaik di sini!! Dan kita akan berkelana menjelajahi Eropa sampai ke Afrika!! Kita akan sekolah ke Prancis!! Kita akan menginjakkan kaki di altar suci almamater Sorbonne! Apa pun yang terjadi!!” (hl. 154)
Maka sembuhlah Ikal.
Kali lain mantra ini muncul saat Ikal menghitung-hitung biaya kuliah yang dia kumpulkan sebagai kuli ngambat. Mendapati cita-citanya terlalu tinggi, karena uang yang dia tabung bakal terlalu kecil, keraguan merayapinya. Namun dia segera melawannya dengan kekuatan cita-cita. Dia mengubah makna kata ‘realistis’ dalam kamusnya, menjadi “berbuat yang terbaik pada titik di mana aku berdiri..” Berbuat untuk sebuah mimpi adalah realistis menurutnya. Tak apalah, untuk sebuah mimpi segala makna bisa diubah. Memang demikianlah salah satu cara menyemangati diri dalam deraan kekerasan hidup, melarikan diri ke dunia impian. Sebagaimana bangsa Indonesia, tertimpa banyak tekanan dan melarikan diri memelototi wajah halus muda dan kaya di sinetron dan lomba pemilihan idola.
“Aku semakin terpatri dengan cita-cita agung kami: ingin sekolah ke Prancis, menginjakkan kaki di altar suci almamater Sorbonne, menjelajahi Eropa sampai ke Afrika. Tak pernah sedikit pun terpikir untuk mengkompromikan cita-cita itu.”
Demikian Ikal meyakinkan dirinya di halaman 208.
Saat menunggu surat lulus dari pemberi beasiswa Uni Eropa, mantra ini muncul lagi. Dia merefleksikan bagaimana susahnya melanjutkan sekolah dan bagaimana mimpi itu menyemangatinya.
“Tiga tahun kami melakukan pekerjaan paling kasar di dermaga itu. Menahan kantuk, lelah dan dingin dengan meraupi seluruh tubuh kami dengan kehangatan mimpi-mimpi. Betapa kami adalah pemberani, para patriot nasib. Dengan kaki tenggelam di dalam lumpur sampai ke lutut kami tak surut menggantungkan cita-cita di bulan: ingin sekolah ke Prancis, ingin menginjakkan kaki-kaki miskin kami di atas altar suci almamater Sorbonne, ingin menjelajahi Eropa sampai ke Afrika.”
Perjuangan anak kampung cerdas yang keras. Inilah racikan yang menurut rumus paling manjur bagi narasi ‘perjuangan’—bahwa orang harus bekerja keras secara fisik—dan narasi ‘pendidikan’—bahwa setelah S1 di UI hanya ada S2 di universitas ‘terbaik di dunia’—untuk mencapai mimpi. Setinggi apa pun mimpi itu.
Agak aneh juga bila kita memutar ulang cerita ini dari awal sekali lagi. Rumus ajaib yang meluluskan mimpi Ikal dan Arai, tidak begitu mujarab bagi Lintang. Apakah mungkin karena Lintang tidak cukup kuat bermimpi? Di sinilah indahnya sastra, rumus tidak berlaku universal, apalagi untuk menciptakan kontras demi mengoyak emosi pembaca.
Maka, dengan selesainya nasib Lintang, rumus itu pun bebas bekerja dengan baik. ‘Altar suci almamater Sorbonne’ dan ‘menjelajahi Eropa sampai ke Afrika’ muncul dalam tahap-tahap kritis para tokohnya. Terutama Ikal. Membuat mereka sanggup bertahan, ‘berjuang’ dalam ‘hidup yang terpuruk’, menempuh ‘pendidikan’ demi mendapatkan ‘ilmu’. Dan mimpi pun tercapai.
“Subhanallah!”
Aku berlari meloncati anak tangga […] Aku terpaku melihat sosok hitam samara-samar di balut kabut, tinggi perkasa menjulang langit seperti hantu. Menara Eiffel laksana nyonya besar.” (hl. 78-79)
Lalu tibalah Ikal dan Arai di altar suci alamamater Sorbonne di Paris. Di sepanjang Edensor, novel ke tiga Andrea hirata, kita bisa membaca realisasi mimpi Ikal dan Arai. Novel ini lebih enak di baca. Kekacauan kronologis penuturan sudah lenyap. Sang penutur, Ikal dewasa, bisa diasumsikan sudah mengenal seluruh Ikon barat yang dia sebutkan. Latar utama Paris pun membantu melenyapkan banyak keanehan pembaratan Belitong di Laskar Pelangi. Cerita sekuel ini, mimpi Ikal, telah menemukan tempatnya.
Bersamaan dengan itu mencuatlah gejala lain. Tabiat yang sering muncul ketika anak Melayu bertandang ke negara maju. Inferioty complex. Sejak dari Schipol, insiden di Brugge, Belgia, hingga tiba di Paris, novel ini dipenuhi deskripsi kekaguman. Orang-orang, bangunan, lanskap, teknologi, semua membuat Ikal dan Arai berdecak kagum, atau diceritakan secara dramatis sedikian rupa supaya pembaca tertegun takjub.
“Kudekati Eiffel, kusentuhkan tanganku padanya. Ia masih tak peduli. Apalagi sekarang, ia makin cantik karena matahari merekah menghangatkan lengan-lengan perkasanya yang hitam berkilat-kilat. Kawan, mimpi-mimpi telah melontar kami sampai ke Perancis.” (hl.79) Begitulah salah satu dari sekian banyak tuturan kekaguman Ikal terhadap kota impiannya.
Bunyi nama seorang perempuan Perancis pun menjadi incaran Ikal. Liaison officer pemberi beasiswa itu, bernama Maurent Leblanch. Dibaca dengan bunyi sengau ala Prancis terdengar memukau bagi telinga Melayu Ikal. Dia begitu suka bunyi itu sehingga melakukan macam-macam trik agar sang wanita menyebutkan namanya dalam aksen Prancis. “Indah bukan main. Morong leBlang, sengau, beradab, terpelajar, dan sangat berkelas.” (hl. 84) Itulah pendapat Ikal.
Andrea mendedikasikan satu bab khusus untuk menceritakan—mungkin secara tidak sadar—rasa minder sang tokoh. Judul bab nya pun sudah bisa membuat kita sadar apa isi dibaliknya. The pathetic four. Empat mahluk menyedihkan. Kita tahu judul ini merupakan plesetan dari The Fantastic Four, sebuah komik yang menceritakan empat manusia berkekuatan super.
Sebelum menceritakan siapa the pathetic four, tentu dia butuh perbandingan. Maka berceritalah dia tentang kawan-kawan sekelasnya dari negara maju. Berderetlah tokoh-tokoh tersebut berdasarkan stereotip dangkal terhadap karakter masing-masing negara. Tentu diceritakan sedemikian rupa untuk menunjukkan superioritas akademik di bandingkan the pathetic four.
Sosok wanita Inggris kawan Ikal tampil dalam stereotip the Brit, primordial, lalu ada dilengkapi dengan stereotip wanita metropolitan, trendy, suka dipuji. Namanya Naomi Stansfield. Lalu Virginia Sue Townsend dari Amerika yang dia juluki Virginia stubborn berdasarkan cerita populer dari tempat itu. dia keras hati dan suka meniru artis Jennifer Aniston. Keduanya suka bertengkar. Namun prestasi akademik mereka, meski fluktuatif, sangat hebat. “Ide-ide cemerlang mereka sampai dapat mengubah silabus mata kuliah perilaku konsumen. Dosen sering menghargai mereka dengan nilai tres bien alias bagus sekali.” (hl.98)
Lalu ada tiga orang Jerman Marcus Holdsvessel, Christian Diedrich dan Katya Kristanaema. Mereka digambarkan sebagaimana orang kebanyakan mengenal atau membayangkan mengenal orang Jerman, tidak pernah ribut, kikuk dan tenang. “Motto mereka Tiga P: Preparation Perfect Performance” membawa prestasi akademik luar biasa. “…orang-orang Jerman ini menyatakan untuk sekalian mengubah silabus ilmu ekonomi.” (hl. 99). Saskia de Rooijs dan Marike Ritsema, dua gadis Belanda, lebih hebat lagi. Mereka selalu mendapat nilai parfait atau sempurna. Mereka bahkan bisa mengusulkan untuk “mengubah Universite de Paris, Sorbonne!”. (hl.100) \
Yang paling hebat tentu saja orang Yahudi, sebagaimana pengetahuan stereotip popular yang beredar di seluruh dunia. Abraham Levin, Y’hudit Oxxenberg, Yoram Ben Mazuz dan Becky Avshalom, itulah nama mereka. Kita tentu sudah bisa menebak apa yang ingin diubah orang-orang Yahudi ini. Ya. “mengubah Prancis.” (hl.101) Lalu ada orang-orang ramah pencinta seni dari Prancis dan orang-orang berpikiran terbuka dari Hong Kong.
Sungguh kebetulan Ikal bisa ketemu orang-orang tipe-ideal sehebat itu dikelasnya.
Setelah tuntas menjelaskan orang-orang hebat dari negara maju, barulah Andrea memberi kesempatan kepada empat mahluk menyedihkan. Saya akan mengutip dua alinea di akhir bab The Pathetic Four, dimana Andrea memperkenalkan empat tokoh menyedihkan dalam Edensor.
“Sisanya selalu terlambat, berantakan, dan tergopoh-gopoh adalah The Pathetic Four—empat mahluk menyedihkan—penghuni jejeran bangku paling depan. Jika dosen menjelaskan, mereka berulang kali bertanya soal remeh-temeh, sampai menjengkelkan. Anak-anak ini melengkapi diri dengan perekam agar petuah dosen dapat diputar lagi di rumah. Norak dan repot sekali. Beginilah akibat penguasaan bahasa asing ilmiah yang memalukan dan efek gizi buruk masa balita. Jika ide mahasiswa negara lain demikian besar sampai ingin mengubah Prancis, The Pathetic Four sangat sederhana, yaitu agar bagaimana dapat nilai passable atau cukup, lulus seadanya dengan nilai C-, tak perlu mengulang, sehingga dapat menghabiskan waktu sejadi-jadinya menonton bola.
Ide lainnya adalah membujuk pemberi beasiswa agar menaikkan uang saku. Kenaikan itu disimpan untuk belanja sandang murah pada obral end season, maka pakaian musim semi dipakai saat musim salju, pakaian musim salju dipakai saat musim panas. Biasanya keempat orang itu menangguk-angguk takzim saat menerima kuliah. Lagaknya seperti paham saja, padahal tak tahu apa yang sedang dibicarakan. Mereka itu Monahar Vikram Raj Chauduri Manooj [India], Pablo Arian Gonzales [Mexico], Ninochka Stranovsky [Georgia], dan aku. Kami blingsatan, terbirit-birit mengejar ketinggalan.”
Sungguh kebetulan orang-orang menyedihkan ini berasal dari negara Miskin. “Gonzales berasal dari keluarga pandai besi di Guadalajara, kantong kemelaratan Amerika Utara.” Atau “Ninoch, gadis kecil kurus ini, berasal Georgia, Negara miskin yang baru memerdekakan diri dari cengkraman cakar beruang merah Rusia.” (hl. 106). Kontras dengan kawan-kawannya yang cerdas, yang semuanya (harus) dari negara maju. Tak ada penyeberangan. Hanya dinding tebal tegas yang bertuliskan ‘hanya orang dari negara kaya yang boleh cerdas’.
Bisa jadi Andrea beralasan, melakukan ini secara sadar, sebagai tindakan tawaddhu. Merendah biar tidak takabbur. Namun dengan demikian dia melanggengkan cara berpikir Orientalisme bahwa, satu, ada garis perbedaan yang terang benderang antara Barat yang diwakili Eropa dan mereka yang berhasil mengadopsinya dengan baik, seperti Hongkong. Dua, bahwa bangsa non Barat memang sudah lebih rendah dari sono-nya. Tiga, untuk bisa lebih sejajar, namun tidak boleh benar benar sejajar, mereka harus meniru Barat. “Being white but not quite.”
Dengan mengambil ‘ilmu’ dari ‘pendidikan’ menurut versi Ikal sebagai standarnya, maka sempurnalah superioritas absolut modernitas. Modernitas Barat tersederhanakan ala Andrea Hirata. (p!)
*Citizen reporter Nurhady Sirimorok dapat dihubungi melalui email nurhadys@gmail.com
|
| | Jumlah
Komentar (57) |
|
| Komentar :
28-03-2009 Dari : tulus jawa masih kere | kudarabaru@gmail.com mau skali ka'
ngritik kita, tapi
setelah kubaca lagi
baik-baik tulisanta,
iyo tawwa! ngaku ma'
saya. jengkel ka'
juga deh! kapan saya
punya kesempatan
untuk gantian
marah-marah? dulu
khan ka' Ary dan ka'
dandy yang
memonopoli hak
moro-moro N.14.
hehehehee..... tapi
kita berdua juga
yang memonopoli hak
untuk nyuapin
anak-anak. 19-12-2008 Dari : maryam | maryamalmaosy@yahoo.com maksud saya Lintang
=andrea, ,sifat
cerdas Lintang
adalah milik Andrea.
Disini kita lihat
andrea sosok yang
rendah hati,dg
mengaku sbg Ikal,
bkn sbg Lintang.
Cerita yg
sesungguhnya cerita
dibelokkan Lintang
putus sekolah,smtr
Andrea asli kan ga
putus sekolah.
Kita pantas
berterimakasih pada
Andrea meskipun
menurut anda dia
mundur,toh banyak
sekali yang
terinspirasi buku
itu. 19-12-2008 Dari : maryam | maryamalmaosy@yahoo.com maksud saya Lintang
=andrea, ,sifat
cerdas Lintang
adalah milik Andrea.
Disini kita lihat
andrea sosok yang
rendah hati,dg
mengaku sbg Ikal,
bkn sbg Lintang.
Cerita yg
sesungguhnya cerita
dibelokkan Lintang
putus sekolah,smtr
Andrea asli kan ga
putus sekolah.
Kita pantas
berterimakasih pada
Andrea meskipun
menurut anda dia
mundur,toh banyak
sekali yang
terinspirasi buku
itu. 19-12-2008 Dari : maryam | maryamalmaosy@yahoo.com maksud saya Lintang
=andrea, ,sifat
cerdas Lintang
adalah milik Andrea.
Disini kita lihat
andrea sosok yang
rendah hati,dg
mengaku sbg Ikal,
bkn sbg Lintang.
Cerita yg
sesungguhnya cerita
dibelokkan Lintang
putus sekolah,smtr
Andrea asli kan ga
putus sekolah.
Kita pantas
berterimakasih pada
Andrea meskipun
menurut anda dia
mundur,toh banyak
sekali yang
terinspirasi buku
itu. 19-12-2008 Dari : maryam | maryamalmaosy@yahoo.com maksud saya Lintang
=andrea, ,sifat
cerdas Lintang
adalah milik Andrea.
Disini kita lihat
andrea sosok yang
rendah hati,dg
mengaku sbg Ikal,
bkn sbg Lintang.
Cerita yg
sesungguhnya cerita
dibelokkan Lintang
putus sekolah,smtr
Andrea asli kan ga
putus sekolah.
Kita pantas
berterimakasih pada
Andrea meskipun
menurut anda dia
mundur,toh banyak
sekali yang
terinspirasi buku
itu. 19-12-2008 Dari : maryam | maryamalmaosy@yahoo.com maksud saya Lintang
=andrea, ,sifat
cerdas Lintang
adalah milik Andrea.
Disini kita lihat
andrea sosok yang
rendah hati,dg
mengaku sbg Ikal,
bkn sbg Lintang.
Cerita yg
sesungguhnya cerita
dibelokkan Lintang
putus sekolah,smtr
Andrea asli kan ga
putus sekolah.
Kita pantas
berterimakasih pada
Andrea meskipun
menurut anda dia
mundur,toh banyak
sekali yang
terinspirasi buku
itu. 19-12-2008 Dari : maryam | maryamalmaosy@yahoo.com maksud saya Lintang
=andrea, ,sifat
cerdas Lintang
adalah milik Andrea.
Disini kita lihat
andrea sosok yang
rendah hati,dg
mengaku sbg Ikal,
bkn sbg Lintang.
Cerita yg
sesungguhnya cerita
dibelokkan Lintang
putus sekolah,smtr
Andrea asli kan ga
putus sekolah.
Kita pantas
berterimakasih pada
Andrea meskipun
menurut anda dia
mundur,toh banyak
sekali yang
terinspirasi buku
itu. 19-12-2008 Dari : maryam | maryamalmaosy@yahoo.com Untuk Bu Mus, saya
percaya itu fakta.
Karena BuMus dengan
SD yg muridnya
sediktdan gedung mau
ambruk tidak hanya
di novel.Cuma BuMUS
yg ini bisa membuat
andrea sgt terkesan
sampaimembuatkan
buku untuknya. Pasti
mmg BuMus
mendidikdgn sepenuh
cinta dihatinya.
Orang secerdas
Lintang dan Maharpun
tidak aneh.Mmg
Mahar seperti
didramatisir
sedemikian rupa,demi
mendidik pembaca
mungkin. Tp kl untuk
Lintang, menurut
saya itu adalah
andrea sendiri,cuma
mungkin andrea
memarginalkan diri
menjadi Ikal yang
abadi di rangking
2.Sptnya Andrea mmg
sukamerendahkan
dirinya,padabagian
The Patetic Four
itupun saya tangkap
spt itu.Nyatanya dia
lulus cumlaude.
Bgmnapun novel itu
telah memberikan
efek positif yang
sangat banyak baik
dari segi
spiritual,maupun
materi.Semacam efek
domino ya. Banayk
yang kecipratan
rejeki dari novel
itu. Dari:
tokobuku,mamorabilia
,agen perjalanan ke
Belitong, pemda
Belitong juga
karena semakin
banyak wisatawan
datang ke Belitong.
DAn mgkn anda juga
bila menerbitkan
komentar-2ini he.. 17-12-2008 Dari : Alam Alone | alam_alone28@yahoo.com indonesia
bro....penuh dengan
warna warni
perbedaannya, tapi
justru itu yg
membuat kita semakin
cerdas, perdedaan
itu indah
lho...lanjutttttttt
BROOOOOOOOOOOOOOOOOO
OOOOOOOOOOOOOO 01-12-2008 Dari : Bang Aswi | bangaswi@yahoo.com Saya hanya bertanya,
"Apa jadinya seorang
penulis yang tidak
tahan terhadap
kritikan dan apa
jadinya seorang fans
yang tidak tahan
terhadap seseorang
yang mengkritik
idolanya?"
Sepertinya semua
sudah terjawab di
sini. Saya pun
bertanya lagi, "Jika
Andrea Hirata tidak
seterkenal sekarang,
apakah pro dan
kontra ini akan
seramai ini?" Pada
akhirnya saya
menjadi bertanya
kepada diri sendiri,
"Apa jadinya saya
kalau tidak pernah
dikritik oleh
sastrawan sekelas
Joni Ariadinata?"
Alhamdulillah, saya
memang pernah
dikritik oleh beliau
dan ini menjadi
pelajaran berharga
bagaimana kita
melihat kualitas
karya kita dari
kacamata orang lain
daripada hanya
menjawab, "Yah
namanya novel,
mau-maunya gue dong,
kok sampai bawa-bawa
logika segala. Sirik
aja lo pade." Terima
kasih buat Andrea
dan Nurhady yang
telah memberikan
kontribusi nyata
jagad sastra
Indonesia. 01-12-2008 Dari : rahmad | abangrahmad@gmail.com permisi izin
komentar,
Saya sudah baca
laskar pelangi sama
seperti beberapa
bagian laskar
pemimpi.Menurut saya
kedua buku ini
sekedar bagian dari
"proyek ego".kalau
lewat laskar pelangi
Andre Hirata menjadi
pe-narasi akan
kehidupannya sendiri
dengan "narsis
halus" sama seperti
istilah bocor halus.
Dalam laskar pemimpi
karya k dandi dengan
semua teori
kolonialisme dan
post kolonial, juga
menyajikan kehebatan
dan kecerdasan sang
penulis yang sudah
membaca sekian
banyak buku teori .
Keduanya esensinya
sama, ingin
bercerita ke
"Akuan", aku yang
sekolah di prancis
bagi andre, sedang
aku yang mengerti
bagaimana sastra
ditulis dan
bagaimana seharusnya
memandang sebuah
masyarakat dan
pendidikan( bagi k
dandi).
Bagi saya kedua
orang ini dengan
ke-akuanya mesti
diberikan apresiasi
karena mereka telah
memulai sebuah
karya.
Terlepas dari semua
tentang kelemahan
laskar pelangi, buku
ini memang bagus
untuk dibaca karena
membuat kita berani
untuk bermimpi "tak
ada yang tak mungkin
sekalipun mimpi itu
hanya berawal dari
sebuah SD kecil di
belitong".
Dan kehadiran
langskar pemimpi
karya k dandi, patut
pula diberikan
apresiasi sebagai
wujud pembaca
kritis yang memang
ada dinegri ini
walau jumlahnya
kecil.
Selamat saling
beradu, cuman k
dandi hati-hati
jangan-jangan jadi
artis. he,,,,karena
biasanya kalau kita
mengkritik orang
terkenal bisa juga
ikutan masuk TV
kayak suaminya
susana, atau prepuan
yang mengaku
istrinya
andrea........hahahh
ahahahaha
30-11-2008 Dari : Putri Sarinande | duniaputri@medhex.com jah, ini debat kusir
antara si penulis
kritik dan pembaca
yah?
saya sih mengakui
Andrea nulisnya
lebai. sebab apa,
saya ternyata klo
nulis gak suka
lebai,,, :D
tp esensi nyah sih
emg buku si bang
Andrea ini berhasil
meracuni secara
positip agar orang2
memiliki mimpi
kembali. arahannya
apa? biar bisa hidup
lagi laaah orang2 tu
...
mungkin kudunya
dibuka forum yah,
soalnya klo di sini
sy lihat jd kek si
penulis kritik
ngehujat andrea dan
para pembaca andrea
panas malah mbelai
tokoh pujaannya itu
gak taunya si andrea
malah masup
ingfotainmen
gara2tragedi gak
ngaku ud penah nikah
dan cerei... eh,
orang2 akhirnya lg2
komentar, bukan ama
karyanya tp perihal
dy masup
ingfotenmen...
kok komentar saya
ngamprak yah?
intinya sih, jadilah
kritikus dan pembela
dan penghujat yang
cerdas,,,setuju
bukan? bukannnn :D 28-11-2008 Dari : bukan-siapa | susantoa28@yahoo.co.id maaf neh nyela
dikit. . .
saya rasa adalah
lebih baik membuat
suatu hal yang dapat
berguna bagi banyak
orang, ketimbang
terlalu banyak
bicara tetapi
perwujudannya tidak
ada.
andaikan memang
tulisan itu
bla...bla,,,bla,,,
menurut anda, tapi
toh masyarakat
menerima dengan
baik. memang,
sebagian besar para
pembaca tidak
"secerdas" anda,
tapi mereka menilai
dari hati, bukan
dari otak doank.
ketika satu hal
sangat memberikan
mamfaat, itu jauuuuh
lebih baik daripada
beribu hal tapi
tidak berguna.
seandainya anda yang
jadi andrea dan juga
mengalami nasib yang
sama, dan akhirnya
juga membuat tulisan
untuk sebuah
penghargaan kepada
seorang guru, untuk
menyemangati
anak-anak bangsa
yang kebanyakan
gampang putus asa,
saya yakin anda pun
pasti menulis
(kalaupun tidak sama
persis, pasti
senada!!!). jadi,
kritik itu baik
dengan tujuan yang
baik, dan pula harus
menawarkan
penyelesaian yang
baik.
maaf. . . cuma
numpang nyela,
kebetulan lewat. 20-11-2008 Dari : dedy | dedy_belukarhujan@yahoo.co.id selamat, selamat
buku "Laskar
Pemimpi" nya sudah
terbit..... 15-11-2008 Dari : ulla | oellaode@ymail.com maaf...saya tidak
bilang anda mencaci
maki. Bahkan saya
tulis boleh mencaci
maki.... Saya juga
tidak menuduh anda
mencaci orang yang
suka nonton film
karena itu cuma
perumpamaan saja.
Dalam hidup ini akan
banyak kita temukan
orang orang yang
menyukai hal2 yang
menurut kita tidak
rasional sampai kita
sering merasa gemas.
Dalam LP dan
antusiasme orang2pun
sedikit banyak hal
itu terlihat. Itu
yang saya anggap
selalu ada hal yang
gak 'masuk akal'.
Tapi itulah hidup,
sebaiknya semua hal
berjalan menuju
kesempurnaan.Sya,
anda, andrea dan
semua manusia.
Kritik anda
bagus...dan saya
meyakinkan diri kalo
itu keluar dari
nurani anda.
Mudah2an suatu waktu
kita dapat
berdiskusi tentang
'kritk sastra dan
caci maki'. Oh
yah...perlu saya
beritahu... saya
juga gak merasa
'wah' dengan novel
LP,SP dan Edensor. 15-11-2008 Dari : ulla |
04-11-2008 Dari : akhmad | cari teman diskusi.com Mungkin memang tidak
ada postmodernisme
yang benar-benar
meninggalkan
modernitas,
postmodernisme yang
sungguh-sungguh
radikal atau
benar-benar ‘post’.
Mengapa? Lihat
misalnya kutipan
paragraf 52 bagian I
tulisan ini.
“Teknologi pertanian
menetap ini
merefleksikan
antipati tradisional
pemerintah Indonesia
terhadap perladangan
berpindah. Mereka
sangat percaya bahwa
perladangan
berpindah selalu
menyebabkan
kerusakan hutan.
Padahal berbagai
penelitian telah
membuktikan hal
sebaliknya. Nature
and the Colonial
Mind karya William M
Adams dalam buku
Decolizing Nature
menjelaskan
penelitian di
berbagai tempat,
misalnya di Afrika,
yang menunjukkan
bahwa peladangan
berpindah justru
berfungsi menjaga
keseimbangan
ekosistem di sebuah
tempat. Teknik
tradisional yang
ternyata punya
logika pelestarian.
Ini cuma salah satu
contoh dari sekian
banyak penelitian
yang memperlihatkan
hasil serupa.” Bisa
kita perhatikan
frasa yang dimulai
dengan kata
“Padahal” (dalam
teks aslinya di
belakangnya ada
tanda kurung).
Lengkapnya, “Padahal
berbagai penelitian
telah membuktikan
hal sebaliknya.
Nature and the
Colonial Mind karya
William M Adams
dalam buku
Decolizing Nature
menjelaskan
penelitian di
berbagai tempat,
misalnya di Afrika,
yang menunjukkan
bahwa peladangan
berpindah justru
berfungsi menjaga
keseimbangan
ekosistem di sebuah
tempat”. Di situ
pembenaran terhadap
‘yang lain’ rupanya
tetap didasarkan
pada legitimasi a la
modernisme.
“Penelitian”.
“Penelitian
akademik”. Fakta
peladang berpindah
di Afrika (tentu
saja sebagai ‘yang
lain’ dalam kerangka
ini), dipotret
sahih-tidaknya
berdasar ‘adab
modernis’ itu.
Penelitian. Jika
misalnya berdasar
“penelitian”--yang
seterusnya kita tahu
bahwa dalam istilah
itu epistemologi
modernis a la
Newton, Descartes,
Kant dsb tersebar di
mana-mana--ia tidak
terbukti ‘menjaga
keseimbangan
ekosistem di suatu
tempat’ (termasuk
dipakainya istilah
‘ekosistem’itu
sendiri)? Maka kita
pun paham bahwa
legitimasi terhadap
‘yang lain’ itu akan
dicabut, 'dianulir'.
‘Kelainan’nya tidak
akan diakui karena
ia terbukti
“merusak” dalam kaca
mata adab modern
itu. Entahlah jika
narasi Bang Dandi
saja yang keliru:
memotret ‘kelainan’
para peladang
berpindah di Afrika
itu dengan
mendasarkannya pada
bahasa
modernis/“penelitian
” (William M Adams)
tadi, jika bukan
defenisi
potmodernisme
menurut Habermas,
dan juga Giddens,
itulah yang lebih
bisa diterima
ketimbang yang lain
dengan
didefenisikannya
postmodernisme
sebagai tahap dari
modernitas yang
memang belum
selesai, atau
sebagai ‘modernitas
yang ‘sadar
diri’’.[] Ada
beberapa soal dalam
tulisan ini menurut
saya. sebagai
berikut[] Pertama,
bagaimana posisi
Andrea Hirata, dan
karenanya juga
Mansur Samin, dalam
hubungannya dengan
modernitas.
Maksudnya, apakah
Mansur Samin atau
Andrea Hirata adalah
subyek yang ‘sadar
akan modernitas’
saat mereka menulis
novelnya?
(Pendapatnya “Emma”
di bawah—sayang
bahwa hanya selesai
di frasa
pertama-menurut saya
layak
dipertimbangkan,
terutama untuk ‘ia
adalah sebuah
memoar’) Pertanyaan
itu perlu sebab
tulisan ini
sepertinya punya
kesimpulan final
bahwa keduanya
adalah subyek yang
‘sadar modernitas’
saat mereka menulis
novelnya. Apakah
mereka sadar atau
tidak, soalnya
adalah itu tidak
pernah dipersoalkan.
Hal ini berbeda
dengan sejumlah
ulasan serupa,
misalnya ulasan
terhadap sejumlah
karya-karya STA atau
tulisan-tulisan
Daniel Dhakidae
mengenai sejumlah
teoritikus, di mana
pembahasan (di
wilayah) itu selalu
disertakan. Entah
itu di bagian depan,
tengah atau akhir
tulisan. Karena
wilayah itu
dipersoalkan, maka
ulasan itu tampak
lebih ‘fair’ (dan
karenanya, juga
terasa ‘lebih
obyektif’). Dengan
kata lain, sekritis
apapun sebuah
ulasan, di sana
selalu ada
‘pemakluman’
terhadap sang author
(terlebih bahwa
roland barthes
terterima luas? Dan
bukan sebaliknya:
Karena yang ada
adalah ‘the death of
author’ maka
semuanya berhak
menafsirnya
manasuka?). Dengan
begitu, usul saya:
Wilayah semacam itu
perlu dihadirkan...
kecuali memang jika
penulis mengabaikan
aspek ini seraya
menyadari bahwa itu
bukan tidak beresiko
bagi pembaca
(disengaja untuk
‘mengganggu’ para
pemuja Hirata?).[]
Kedua, porsi
pembahasan tentang
negara sepertinya
terlalu banyak.
Sementara porsinya
banyak, kita tahu
bahwa siapapun yang
mengenal wacana
postmodernisme akan
paham bahwa negara
dan modernitas
ibarat dua sisi mata
uang. Entah jika ini
hanya cara penulis
untuk menjelaskan
kepada audiens bahwa
negara ko-eksis,
satu-sebangun,
dengan modernitas
(tentu saja terjadi
dengan mengasumsikan
pembaca tak mengenal
wacana
postmodernisme, dan
dengan begitu muncul
resiko bahwa para
pembaca akan
mengikut begitu saja
pada teks yang ada
dan mungkin tidak
akan sempat sadar
bahwa argumentasi
itulah yang biasa
disebut sebagai
argumentasi
postmodernis dalam
register teori-teori
sosial kontemporer,
berikut bahwa mereka
tidak akan menemukan
ruang untuk
melakukan ‘tanggapan
kritis’ terhadap
sepanjang
argumentasi Bung
Hady, kecuali
mungkin jika para
pembaca itu berada
pada titik pandang
yang sejajar dengan
Lyotard,
Baudrillard,
Habermas dan
sebagainya).[]
Ketiga, kembali lagi
soal wacana
postmodernise itu
sendiri. “Itu
sendiri”, seumpama
Bung Hady [memang]
menempatkannya
sebagai semacam
‘barang jadi’ selaku
kacamata/perspektifn
ya. Seperti halnya
poin dua di atas,
wacana itu juga
tidak pernah
dipersoalkan. Saya
pribadi
menanti-nanti
satu-dua paragraf
yang mempersoalkan
terminologi ini,
Postmodernisme
(meski mungkin dari
situ terulang
pertanyaan, seperti
pula untuk nomor dua
di atas: apakah
memang bung Hady
sengaja menempatkan
wacana
postmodernisme
sebagai semacam
perspektif atau
tidak?--meski
pertanyaan ini
agaknya dijawab oleh
paragraf 6 tulisan
bagian I yang secara
terang mengatakan
mengutip istilah
‘eksklusi’ dari Sara
Mills). Laku
menempatkan wacana
postmodernisme
sebagai sebuah
perspektif tanpa
pernah melakukan
penjarakan
terhadapnya akan
beresiko menjadikan
wacana itu sebagai
sebuah teori, bahkan
tools. Ini tentu
berbeda jika yang
kita lakukan adalah
meminjam konsep
‘diskurus’ Foucault
untuk menganalisis
teks, atau gagasan,
seperti yang
dilakukan oleh
Daniel Dhakidae
dalam karyanya
Cendekiawan dan
Kekuasaan Dalam
Negara Orde Baru.
Kita tahu bahwa
postmodernisme lebih
dulu terterima
sebagai wacana
ketimbang sebuah
teori (‘khittah’
postmodernisme, jika
bisa disebut
demikian, adalah
‘ethos’ yang
berupaya melampui,
atau yang seperti
yang banyak
dikatakan; ‘berusaha
membangkitkan
kembali’, ethos
modern. Terlebih
jika Nietszche
disepakati sebagai
‘kakek guru’nya, dan
yang disebut sebagai
gagasan teoritiknya
yang banyak muncul
di dekade 60-an itu,
nomor dua). Terhadap
yang terakhir ini
mungkin bisa
ditambahi dengan
‘kecemasan Sekolah
Frankfurt’;
mistifikasi rasio,
rasio instrumental
dsb. Maksudnya,
jangan-jangan wacana
postmodernisme
mengalami nasib
serupa, semacam
dimistifikasi, jika
ditempatkan sebagai
perspektif tanpa ia
sendiri pernah
dipersoalkan oleh
teks yang
menukilnya... 02-11-2008 Dari : baharmakkutana | makkutana@yahoo.com antara tulisan dandi
dengan andrea
menarik perhatian
publik.
Novel membangkitkan
emosi kemudian
meng-kultus-kan
seseorang.
Lanjutki' dandi.
31-10-2008 Dari : nurhady to ayam den lapeh | lucu juga kalao
dipikir-pikir
ya..ketika anda
menjelaskan betapa
jenuhnya orang
terhadap para
kritikus bahasa anda
agak berapi-api,
sadarkah anda, bahwa
anda juga tengah
melakukan kritik? ya
anda juga kritikus.
janganlah bersedih
sebab anda telah
menjadi orang-orang
yang telah anda
serang, welcome
aboard!
eh, mengenai
kritik-mengkritik.
anda mungkin tidak
sadar, revolusi yang
sekarang membentuk
negeri ini berasal
dari kritik, kritik
terhadap
kolonialisme. bila
anda menginginkan
masa 'tenang' tanpa
kritik, maka kita
harus kembali either
ke masa kolonial
belanda atau masa
kolonial orde baru.
dimana orang-orang
ditembaki tanpa
kritik. orang-orang
digusur tanpa
kritik. orang-orang
dirusak cara
berpikirnya tanpa
kritik. maukah kita
mundur lagi ke masa
itu? hidup ini harus
selalu seimbang.
kita sudah terlalu
lama hidup dalam
mimpi modernitas
yang dijaga tentara,
yang memabukkan.
sekarang mimpi itu
merasuk lewat media
pop seperti tivi dan
novel. salah satunya
lewat novel laskar
pelangi. apakah saya
yang mengetahui
bakal bahaya yang
ada di dalam novel
ini akan
membiarkannya
berlalu tanpa
teguran? apakah saya
mesti membiarkan
kezaliman dalam
bentuk fisik di masa
lalu berlanjut dalam
kezaliman dalam
dunia episteme?
bukan kita wajib
memberitahu kalau
ada yang salah? dan
kalau diam berarti
kita membiarkan
kezaliman itu
berlangsung terus?
bagi saya, di banyak
bagian, laskar
pelangi adalah
kezaliman! mimpi
seragam jutaan orang
yang berdesakan di
lorong sempit untuk
menuju ke alam mimpi
tersebut, bisa
berubah menjadi
bencana besar!
mengenai bahasa
mau-maunya
gue...anda bisa
membacanya sebagai
ungkapan emosional.
itu hak anda.
sayangnya anda tidak
beda dengan yang
lain, hanya
mengeluh, tidak
melakukan kritik
terhadap tulisan
saya. tidak akan
lahir perdebatan
yang sehat kalau
anda hanya
'menembak' komentar
saya tanpa membaca
tulisannya, yang
sekarang terbentang
pasrah menjadi
sasaran tembak anda.
sama seperti saya
yang berhak membaca
secara beda lasakar
pelangi, anda juga
bebas menembak
tulisan saya.
silahkan, dan
tunjukkan alasannya,
lalu kita debat. kan
itu lebih produktif.
anyway, sebenarnya
saya punya jawaban
terhadap mengapa
saya menggunakan
'mau-maunya gue'
sebuah jawaban yang
jauh lebih canggih
dari hanya sekedar
self-defence-mechani
sm yang anda
tuduhkan. tetapi
karena pembacaan
anda sudah demikian,
saya biarkan saya.
saya tak perlu
melakukan
'pelurusan', karena
toh begitulah dunia
sastra, penuh dengan
interpretasi.
pengarang telah
mati! pembaca adalah
Tuhan yang
menentukan bagus
tidaknya sebuah
karya. 28-10-2008 Dari : Ayam den lapeh | jablai@ymail.com Bukannya membela
andrea hirata, tapi
memang karya yang
memotivasi ratusan
ribu rakyat RI
jarang lagi muncul
dan menjadi hiburan
sekaligus motivator
kita semua. Sosok
pahlawan dan panutan
di tengah-tangah
kita makin jarang
ditemukan. Kita
sudah lama krisis
pemimpin yang bisa
diteladani.
Sementara sosok
kritikus (dari
berbagai bidang)
sudah lama booming
terutama sejak
bangsa ini mengalami
krisis dan puncaknya
ketika reformasi
sedang ibarat tai
baru keluar dari
dubur. Mulai dari
mahasiswa yang
berdemonstrasi di
pinggir jalan dengan
sangat
"mengganggunya"
sampai
kritikus-kritikus
berdasi yang muncul
di TV-TV entah
menertawai
pemerintah yang ada,
berkeluh kesah atas
ketidak-puasan apa
saja hingga yang
remeh-temeh, hingga
seolah-olah tidak
ada anak bangsa yang
ini yang benar.
Seolah-olah negeri
ini begitu rapuhnya
dan dihuni hanya
oleh orang-orang
brengsek dan bajak
laut yang penuh
manipulasi.
Sebagian besar dari
rakyat kita tentu
saja bosan dengan
sosok seperti ini.
Kita Tidak heran
buku ini booming.
Tidak heran ia juga
menjadi sasaran
kritik. Kritik itu
membangun dan itu
benar. Dan sang
pengkritik
bersiap-siaplah
menerima kritikan
berkali-kali lipat
atas kritikannya thd
karya populer itu,
karena sikap
"defensif" atas
usaha yang mencoba
menyerang pahlawan
mereka. Ditambah
kejenuhan sebagian
besar orang kita
atas sosok-sosok
skeptis penuh kritik
ini.
olehnya Bung Dandy
harus dewasa, jangan
ikut-ikutan bersifat
defensif dan
terpancing emosi
atas kritikan balik
(entah yang ilmiah
atau sekedar remeh
temeh). Karena
bukankah tata krama
kita disini adalah
"tidak boleh
melarang". Begitu
pula dengan kritik
balik, terserah
pembaca kan, mau
asal aja (baca "caci
maki") atau yang
cerdas ala panel
diskusi di
seminar-seminar,
harus disikapi
dengan lapang dada
hingga pameo orang
Indo yang hanya bisa
mengkritik, segan
dikritik bisa
terbantahkan. Atau
dengan kata lain
anda tidak kena
karma yang berbalik
pada anda.
Saya berkata
demikian karena ada
sedikit guratan
tersirat bernada
"menantang" (selain
jawaban cerdas nan
ilmiah)yang
emosional dari anda
sebagai reaksi atas
kritikan balik dari
pembaca Andrea
Hirata.
Memang kata-kata
mau-mau gue adalah
nama lain dari tata
krama kita disini.
Tapi setidaknya
dewasalah, karena
anda yang mengkritik
bukan Andrea Hirata.
Anda harus lebih
dari yang anda
kritik.
Selamat buat anda
berdua (dandy dan
Andrea yang makin
memperkaya kita
secara emosionaldan
intelektual.
Indonesia bangkit !! 27-10-2008 Dari : dedy | dedy_belukarhujan@yahoo.co.id ada yang mengganggu
saya dalam
perdebatan tentang
andrea hirata.
orang-orang yang
membela novel itu
sebagian besar tak
memberikan alasan
ilmiah atau masuk
akal. selalu yang
muncul adalah:
jangan iri dengan
karya orang, biarkan
orang menikmati
karya itu, jangan
rusak mimpi banyak
orang dengan
mengkritik, andrea
telah memberi oase
kepada banyak orang.
kita tak mungkin
mendapatkan sebuah
pemahaman baru dari
diskusi
ini(setidaknya,
sesengit apapun
saling balas
komentar, saya
menganggapnya sebuah
diskusi). jika
alasan yang
diberikan tak
rasional. artikel
ini jelas-jelas
mengganggu, tapi
mengganggunya dengan
sangat beralasan.
punya asal alur
pemikiran yang
bertanggung-jawab.
lalu orang-orang
yang membantah hanya
mampu menggunakan
bahasa-bahasa
emosionil tak tentu
tuju. usul saya,
kenapa tidak novel
andrea ini menjadi
jembatan bagi kita
untuk mendiskusikan
tentang banyak hal
dari kehidupan kita.
(karya)sastra itu
bukanlah karya yang
terlalu suci-suci
amat. bagaimana pun
ia adalah hasil
perenungan realitas
si pengarang, yang
bisa jadi sudah
bercampur dengan
hasil-hasil
"pemikiran keliru"
atawa hegemoni dari
kekuatan kekuasaan.
andrea, meminjam
bahasa dandy, adalah
seorang anak yang
lahir dari masa
bengisnya zaman
orde-baru. dan saya
yakin kita sepakat,
orde-baru banyak
menanamkan
mimpi-mimpi
menyesatkan tentang
pembangunan yang
katanya untuk
kesejahteraan semua
rakyat, ternyata
hanya untuk
segelintir orang.
maka, selepas
orde-baru, ada saja
orang-orang yang
merindukan masa-masa
jayanya soeharto.
dengan alasan, dulu
tak ada kerusuhan,
tak ada kesusahan
dan sebgainya. ya,
jelas, karena
orde-baru mengontrol
semuanya, melarang
media untuk
mengkritik dan
menyiarkan
kejahtan-kejahatan
orde-baru tersebut.
mengapa kita tak
memperlakukan
artikel ini sebagai
usaha untuk
membongkar sisa-sisa
hegemoni orde-baru
itu lewat novel
andrea hirata.
janganlah bersikap
sebgaimana para
penguasa masa-masa
dulu: pemerintah
Yunani menghukum
Socrates hanya
terlalu sering
bertanya dan
mengajak orang
berdiskusi, kaum
gerejawan eropa
menghukum
Galileo-galilei
karena berpendapat
berbeda dengan
gereja: bumilah yang
mengitari matahari,
bukan sebaliknya.
atau para anggota
DPR yang menertawai
Gus Dur karena
berpendapat ulah
wakil rakyat seperti
anak di Taman
Kanak-kanak. jangan
terlalu mendewakan
andrea, sebagaimana
jangan pula
mendewakan kritik
ini. semua ini
(andrea dan dandy)
adalah upaya untuk
terus berpikiran
kritis, tak hanya
menerima satu
kebenaran saja. saya
tidak peduli, apakah
dandy atau siapa
yang menuliskan
artikel yang sangat
memperkaya ini,
selama ia mengajak
kita untuk terus
bepikir kritis, saya
akan terus
mengapresiasinya.
baik, untuk
teman-teman yang
ingin mengajukan
ketidak-sepakatannya
, mohon yang
beralasan. agar ada
pemikiran baru yang
tumbuh. terima-kasih
untuk semuanya.... 27-10-2008 Dari : iMAs | yahyai@inco.com Tetralogy - sekarang
ini baru Trilogi
Laskar Pelangi
sanggup
meng-inspirasi
banyak orang.
Inspirasi yang
diberikan bukan dari
hal - hal seperti
Tarian, atau bahasa
latin yang
dipergunakan. saya
yakin banyak cerita
yang ter-skip dari
ingatan para pembaca
dari Novel Andrea
Yang dibacanya. Bab
demi bab yang kata
orang alurnya tidak
beraturan itu cuma
jembatan - jembatan
untuk menyampaikan
makna dan memberikan
kesimpulan terhadap
cerita tersebut. toh
dari 3 buku yang
dibaca, kesimpulan
yang bisa ditarik
salah satu contohnya
adalah bahwa mimpi
akan tetap menjadi
mimpi jika kita
tidak berusaha
mewujudkannya.
kita bangsa
indonesia ini adalah
bangsa yang
kekurangan
motivator. negara
kita ini cuma
dipenuhi oleh
orang-orang yang
menyampaikan apa
yang mereka sebut
"analisa", dengan
mengemukakan jutaan
fakta2 otyentik
untuk menumbangkan
statement2 yang
diserangnya,
berfikir jungkir
balik, padahal apa
yang dikoreksinya
hanya sebuah
kesederhanaan yang
mampu memicu
semangat. novel
Andrea itu oase
untuk banyak orang,
biarkanlah mereka
menikmati oase itu,
toh hasilnya
positif. jangan
rusak mimpi orang2
dengan segala tetek
bengek kesalahan ini
itu. sama saja ini
seperti melihat
semut di seberang
lautan sementara
gajah di pelupuk
mata tidak nampak.
Janganlah rumitkan
hidup dengan
memikirkan hal2
berat mumet
njelimet. di negara
kita ini orang
dongo' jumlahnya
ampun2an. biarkanlah
saya, dan mereka
mencoba memahami
banyak hal dari yang
sifatnya sederhana,
nda usahmi jejali
kepala kami dengan
segala teori, kami
sudah muak dengan
teori, kami butuh
contoh realistis.
jika kita belum mapu
berbuat apa2 untuk
menolong bangsa yang
bobrok ini,
setidaknya membantu
mereka untuk belajar
berfikir positif
saja sudah cukup.
tidak perlu pakai
bahasa tingkat
tinggi, pakai cara
sederhana saja. 27-10-2008 Dari : upi | citty_angel@yahoo.com 13-10-2008
Dari : andrea hirata
|
yah namanya novel ,
mau-maunya gue dong,
kok sampai ba-bawa
logika segala. Sirik
aja lo padeserius
nih comment dari
andrea hirata?kl aku
sih jg blm baca
novel2 dr
dia...males gara2
dah baca comment dia
di harian fajar:
salut pada riri, bla
bla
bla.....lupa...lalu.
..:sy punya 200
koleksi film, tp
hanya karya ini yg
bisa bikin sy
menangis"....hallahh
...segituna..:P
27-10-2008 Dari : Ipul | ipul.ji@gmail.com saya sepakat dengan
bung Dedy, bukan
cuma karena saya
berteman dengan
Nurhady. (sebagian
besar) orang kita
memang masih alergi
dengan yang namanya
kritikan. sesuatu
yang populer dan
kemudian diminati
orang banyak tiba2
dijadikan barometer
sebuah kesempurnaan
sehingga kemudian
setiap kritikan
terhadap hal
tersebut langsung
disamakan dengan
caci maki yang tak
berdasar. membaca
sastra bagi saya
yang masih awam
adalah sama dengan
menikmati sebuah
musik, semua
tergantung kepada
selera dan tidak
dengan barometer
yang gampang
digerakkan. anda
mungkin menyukai
sebuah jenis musik
yang bagi saya
adalah musik cemen
dan sampah, begitu
juga dengan musik
yang saya gemari,
bagi anda mungkin
adalah sebuah musik
yang sama sekali
tidak menarik. di
sinilah saya pikir
fungsi utama sebuah
kritikan, kritikan
yang menggunakan
dasar tentu saja,
sehingga sebuah
karya tetap
mempunyai
perbandingan yang
dapat
dipertanggungjawabka
n..untuk teman-teman
yang membaca artikel
ini (yang nantinya
akan jadi buku),
mohon untuk bisa
membedakan mana
kritikan dan mana
caci maki, jangan
sampai kita terjebak
untuk mencaci maki
sebuah
kritikan...that's
it, that's all.. 26-10-2008 Dari : yankovich | andiahmadyani@yahoo.com Saya tersedak
membaca tulisan
kritik cerdas bung
ady (dandy)....
Tersedak karena
kelihain bung ady
meramu fact dan
beyond fact menjadi
term yang sederhana
untuk dipahami oleh
orang awan seperti
saya.
Pada saat saya
membaca bab "The
pathetic four",
saya juga merasa ada
keganjilan dari
cerita ini.
Generalisasi (gaya
khas orang
posifistik) sangat
terlihat jelas di
bab ini. Dan tentu
saja ini adalah
bukti asli sistem
pendidikan
Indonesia.
Saya menunggu buku
karya bung ady....
Mahalo 25-10-2008 Dari : dedy | dedy_belukarhujan@yahoo.co.id wah, tambah menarik
saja semua komentar
tentang artikel ini
(yang sebentar lagi
akan menjadi buku).
bagi saya,
perdebatan dalam
komentar ini bisa
menjadi cerminan
betapa kita (orang
indonesia) belum
bisa menerima sebuah
pendapat yang
berbeda dari yang
kita punya. juga
sekaligus
membuktikan bahwa
dandy benar, pembaca
andrea adalah
"manusia modern"
yang memang telah
punya mimpi yang
sama dengan andrea
yang tak boleh
diganggu-gugat,
dipertanyakan dari
mana mimpi itu
sebenarnya muncul.
di luar dari novel
dan artikel ini,
saya ingin
mengajukan beberapa
ketidak-sepakatan
saya terhadap andrea
pada beberapa hal.
pertama, tentang
pendidikan. pada
rubrik wawancara di
fajar (saya lupa
bulan dan
tanggalnya,tapi
masih di tawhun
2008) andrea
mengatakan bahwa ia
tidak sepakat dengan
sekolah gratis.
alasannya: sekolah
gratis bukan solusi
terhadap kebodohan
dan kemalasan
(karena kemiskinan)
di indoenesia ini.
lanjutnya, toh
banyak juga orang
kaya yang anaknya
bodoh dan malas.
sekolah itu memang
harus mahal, agar
orang mau
bersusah-payah untuk
menuntut ilmu.
bagaimana bisa
andrea berkata
seperti itu? meski
pun alasan dia
sebagian besar benar
(malas dan bodoh tak
ada hubungan dengan
gratis tidaknya
pendidikan), tapi
pendidikan gratis
merupakan pintu
utama bagi
orang-orang miskin
bisa mengecap
pendidikan.
kedua, tentang
sastra. andrea
menganggap bahwa
pembaca indonesia
tidak menghargai
sastra, atau sastra
di indonesia tidak
dihargai (ah, sama
saja). untuk itu,
dengan larisnya
novel itu, dia
mengkamapanyekan
kepada semua
sastrawan untuk
mulai pasang tarif
yang gede, baik
terhadap karyanya
mau pun jika
sastrawan itu
diundang untuk
mengisi acara
diskusi sastra.
andrea memasang
tarif dari yang
paling murah 25 juta
sekali bicara hingga
paling tinggi 500
juta. untuk yang
terakhir, saya
sangat sesalkan.
pasalnya, dia
dibayar oleh bupati
daerahku di sumbawa
sana untuk
bincang-bincang
masalah sastra. di
sumbawa (dengan
sangat berat hati)
sana, masih banyak
kasus kemiskinan
seperti busung lapar
dan sebagainya?
mengapa andrea mau
memasang tarif
begitu tinggi?
sastra itu bukan
profesi, tapi sastra
itu adalah gerakan.
dandy, dengan
"karya"nya memang
telah "mengganggu"
kita. tapi seorang
pengganggu yang baik
dan berseni adalah
pengganggu yang
selalu menyisakan
renungan dalam
setiap ucapannya.
25-10-2008 Dari : aroel | arl_04amb yahoo.co.id buat bang ady saya
salut krna bisa
melihat dgn jeli dan
seksama tulisan bang
andrea..
orang2 yg membaca
novel bang andrea
mengalir begitu saja
hingga lupa dengan
apa yg tersirat
didlm tulisan novel
tsb... coba klau
semua peminat novel
tsb dpt dgn sabar
melihat
realitasnya.. thanks
bang ady..bravo 25-10-2008 Dari : La Nardi | politea_04@yahoo.com menurutKu kritik
terhadap Andrea itu
setidaknya
memberikan kita
informasi lain.
apalagi seperti saya
yang hanya menjadi
pembaca hasil karya
sastra tanpa
mendalami sastra
lebih jauh...
Memang didalam karya
tersebut(andrea)ceri
tanya sangat
mengajak kita untuk
bermimpi terlalu
jauh ditengah
kondisi bangsa yang
amburadul.
..menurutku novel
tersebut tidak cocok
jadi best seller...
tapi lebih cocok
untuk orang yang
PEMIMPI DI SIANG
BOLONG
buat yang lain..Coba
klo semua Orang
punya mimpi seperti
yg diceritakan di
novel tersebut..
pastinya orang yang
sakit hati akan
lebih banyak
ketimbang orang yang
bisa menggapai
mimpi..
banyak yang stress
nanti.
dan sorboune penuh,
terus UI, UNHAS,
ITB, UGM
bagaimana?????
(aku bukan laskar
pelangi)
25-10-2008 Dari : nurhady to toni dan nach | pertama, apa yang
saya tulis adalah
kritik sastra. itu
sudah biasa di
mana-mana di seluruh
dunia. cuma karena
kalian (mungkin)
belum pernah baca
kritik sastra,
jadinya kalian
'kaget', lalu
menyuruh saya
menulis novel.
negara-negara dengan
karya sastra terbaik
di dunia, bisa
menjadi demikian
juga berkat
dampingan kritik
sastra. dari mana
penulis novel tahu
kesalahannya bila
tak ada yang
menuliskannya, agar
kelak dia bisa
menulis lebih baik.
kedua, menulis novel
bukan tugasnya
kritikus. kalau pun
dia kelak memutuskan
menulis novel, itu
bukan karena desakan
pemuja novel yang
dikritiknya. tapi
karena dia ingin
menyampaikan sesuatu
dan model penulisan
lain tidak sanggup
menampung pesan yang
mau disampaikannya.
ketiga, SBY itu
tidak begitu
mengenal sastra,
sehingga tidak
begitu tepat untuk
dijadikan barometer
sebagai penilai mana
karya sastra yang
baik mana yang
jelek. dalam sastra
atau karya seni
lainnya, setiap
orang berhak
melakukan penilaian
dan tidak harus
mengikut apa kata
presiden sebab dia
tidak lebih tau
sastra daripada
pembaca lainnya.
keempat, dalam dunia
sastra, kritik
sastra juga adalah
karya, bukan cuma
novel yang disebut
karya. jadi kalau
kalian menyuruh saya
berkarya, baca saja
kritik saya. dan
jika kalian tidak
setuju, tulis
bantahannya, dengan
demikian kalian juga
berkarya, nah itu
lebih produktif.
kelima, anda tidak
bisa memaksa saya
tidak mengkritik
andrea, karena cara
membaca setiap orang
beda-beda.
belajarlah menerima
perbedaan itu, bahwa
ada orang yang
memuji, karena ada
alasannya, ada juga
orang yang
mengkritik, karena
alasan lainnya.
belajarlah menerima
itu. yang penting
adalah, jika
mengkritik, harus
sampaikan alasannya,
jangan cuma sekedar
mengkritik. kalau
tidak ada alasannya
itu namanya caci
maki, bukan kritik.
keenam, kritik itu
bukan hal yang
buruk. kritik itu
bisa membuat penulis
belajar pada
kesalahannnya.
seperti juga bila
ada orang yang
menyampaikan kritik
terhadap kritik
saya, kalau
alasannya kuat,
tentu akan saya
ucapkan terimakasih
atas kritiknya,
karena dengan
demikian saya sadar
akan kesalahan saya.
jadi belajarlah
menerima kritik.
karena kritik itu
pada dasarnya baik.
karena tak ada
gading yang tak
retak! ke tujuh,
selama menulis
kritik saya
terhadap andrea saya
tentu juga melakukan
kritik terhadap
tulisan saya.
sebelum
menyampaikannya ke
publik, proses
menyaring apa yang
patut dan tidak
patut saya sampaikan
kepada publik itu
berlangsung lama,
bahkan lebih lama
daripada proses
menulisnya. nah bila
masih ada yang
lolos, tentu saya
dengan senang hati
menerima kritik dari
anda terhadap karya
saya, karena dengan
demikian saya jadi
tahu dimana
kelemahan karya
saya. kedelapan,
untuk menjadi
manusia kita tidak
harus menjadi
penulis novel laris,
sebab larisnya novel
tidak menjadi
indikator novel itu
bagus untuk semua
orang, dan belum
tentu novel bisa
berdiri sendiri
menyelesaikan banyak
masalah yang
menumpuk di sekitar
kita. kita boleh
kagum akan seseorang
tapi tidak lantas
menerima
mentah-mentah apa
yang dia katakan,
dan bersikap
bermusuhan terhadap
orang yang
mengatakan hal lain.
itu namanya
represif, bung.
untuk sementara itu
saja dulu. saya
menunggu tanggapan
anda, boleh via
japri,
nurhadys@yahoo.com,
kita bisa ngobrol
lebih panjang. salam 24-10-2008 Dari : Tony | nur...jangan cuma
bisa mengkritik
orang, buat lah
karya
juga....nantinya
kita juga bisa
membaca dan tonton
hasil karyamu,
itupun kalo bagus
dan membuat SBY bisa
tertarik
menontonnya...bisa
gak??????? jangan
cuma mengkritik
deh.... 24-10-2008 Dari : nach che | nurhady jangan cuma
pinter kritik
orang...biarkan
orang berkembang
melalui karya2nya,
kalo kamu bisa bikin
novel,
yah..buatlah..jangan
cuma kritik aja yang
kamu tau, tapi gak
bisa
berkarya.......!!!!!
cobalah menghargai
karya orang lain
kalo kamu mau di
hargai.....ok bos.
saya mau lihat kamu
bikin karya yang
spektakuler dan
membuat SBY mau baca
novel
kamu?????berani gak
ama tantangan itu???
ok NUR....kita
tunggu hasil
karyamu...thankz 24-10-2008 Dari : Reni Susanti | justrainy@yahoo.com Wow, Kak Ady, kelas
Discourse analysis
Des Garper nilainya
berapa ya? hehehe
keren banget
analisisnya. Aku
sempat baca sedikit
LP, tapi berhenti di
awal-awal karena aku
merasa ada yang aneh
dengan novel
itu...(waktu itu
lagi ikutan kelas
DA-nya Des juga
hehehe) Selamat ya,
atas penerbitan
bukunya! Melihat
discourse yang
berkembang di
komentar-komentar
ini, rasanya kita
punya banyak PR nih
Kak. Sampai ketemu
Desember nanti di
Makassar.. 23-10-2008 Dari : The boEgis art graphiC | lakellu@live.com iri aj lw ma om
Andre.....
Kalo bisa lw juga
buktiin dong diri lw
ma sesuatu yang bisa
membanggakan... jngn
cuma bisa kritik
orang
lain................
..
Kritik dulu diri
sendiri baru kkritik
orang lain.
Andre Hirata tetep
The best 23-10-2008 Dari : nurhady to ulla | kalau Ulla lebih
hati-hati membaca
komentar saya, saya
tidak pernah
'mencaci orang yang
suka nonton film'.
bahkan saya
berpendapat filmnya
lebih bagus daripada
novelnya. (tapi itu
tentu pendapat saya
pribadi yang tidak
harus anda setujui) 23-10-2008 Dari : nurhady to ulla | mohon maaf, saya
agak segan
memberitahu mimpi
saya kepada orang
yang saya tidak
ketahui
identitasnya. kalau
mau ketemu, kita
bisa ketemu dan
ngobrol, pasti lebih
asik, dan lebih
akrab, daripada
balas-balasan di
komentar, bagaimana
bos? kita juga bisa
diskusi tentang
perbedaan kritik
sastra dan caci
maki. 23-10-2008 Dari : ulla' | oellaode@ymail.com Selalu ada yang tdk
masuk akal dalam
hidup. ANda boleh
percaya atau tidak,
terserah...termasuk
mencaci maki.
Seperti nonton film;
kalo mau masuk akal,
jangan nonton film.
Tapi jangan juga
mencemoh orang yang
suka nonton film.
Kalo boleh tahu, apa
mimpi anda? 22-10-2008 Dari : nurhady to 'andrea hirata' | mau maunya gue dong,
mau baca andrea
hirata kayak
apa...kok dipaksa
harus muji muji 22-10-2008 Dari : nurhady to atari | saya punya mimpi
sendiri, yang tidak
sama dengan mimpi
andrea yang sekarang
sudah jadi kayak
ajaran agama...harus
di ikuti. dan kalau
kita tidak ikut di
anggap 'menyimpang'.
saya mau menjadi
diri sendiri saja.
nggak apa-apa kan
saya tak bermimpi
jadi penulis novel
laris? nggak apa-apa
kan kalo saya punya
tafsir lain ketika
membaca buku buku
andrea? toh mbak
atari gak harus
setuju sama apa yang
saya bilang. kita
kan tidak perlu
punya mimpi yang
seragam...kayak
seragam sekolahan 21-10-2008 Dari : Naima | novel yang memberiku
pelajaran baru
tentang hidup 21-10-2008 Dari : Atari Drean | atari@yahoo.com om, capailah
mimpimu, yang
tinggi, jadilah
penulis novel
laris... kalau
bisa... 20-10-2008 Dari : achiem | Luar biasa..ditengah
jutaan pujian
terhadap buku dan
film laskar
pelangi,kak dandy
membuka wawasan kita
tentang sisi lain
dari buku andrea
hirata ini.tapi
bagaimanapun arai
telah memberi
semangat kepada
jutaan orang untuk
menggapai mimpinya
dan berharap Tuhan
akan memeluk
mimpi-mimpi itu. 16-10-2008 Dari : carkhu_037 | Essay yang menarik.
Tapi kayaknya berat
di EDENSOR .... Tapi
biarlah, mungkin
Abang yang satu ini
punya pertimbangan
lain. Bagaimanapun
Andrea Hirata telah
memberi satu warna
baru dalam dunia
sastra terkhusus di
Idonesia. 14-10-2008 Dari : Agung Prasetio | sagarmatha_abimanyu@yahoo.co.id ini
novel...fiksi..jadi
pengarang bebas
untuk
menulis...tetapi dia
punya tanggung jawab
sosial kepada
masyarakat
pembacanya. Kita
orang
Indonesia...sedikit
nasionalis lah... 13-10-2008 Dari : andrea hirata | yah namanya novel ,
mau-maunya gue dong,
kok sampai ba-bawa
logika segala. Sirik
aja lo pade 13-10-2008 Dari : emma | Saya pikir, kita
harus kembali pada
kenyataan bahwa
tetralogi ini adalah
novel, walaupun juga
merupakan memoar.
Dan sepengetahuan
saya, penulis novel
berhak menulis
berdasar cara
pandang dia akan
suatu hal, termasuk
kalau dia (ternyata)
memang mengagungkan
Barat. Dan tentu
berhak juga, untuk
memilih cara
penulisan yang lain
dari yang lain,
seperti menulis nama
tumbuhan dengan
dengan nama
biologinya.Apakah
itu terlalu
kebarat-baratan atau
tidak, menurut saya
itu menambah cita
rasa edukatif pada
bukunya.
Tapi artikel ini
cukup menambah
wawasan juga. 08-10-2008 Dari : nurhady | thanks sugi.
mengenai gembala,
saya sudah perbaiki
setelah baca ulang
tulisan ini di
panyingkul! mengenai
tarian afrika.
memang Riri
melakukan koreksi
terhadap novel
Andrea dengan
mencari alasan yang
lebih masuk akal
terhadap munculnya
tarian orang Masai
itu. meskipun masih
tetap sangat
meragukan bagi saya,
bagaimana Mahar bisa
merekonstruksi
gerakannya hanya
dengan melihat
gambar atau membaca
artikelnya yang
berbahasa inggris
itu (waktu itu belum
ada NG edisi bahasa
Indonesia). anyway,
thank you 07-10-2008 Dari : sugi | ini hanya komentar
tidak penting, meski
penting untuk
konteks agamawan ke
jamaahan Kristen.
Pertama: Istilah
yang umum digunakan
untuk merujuk pada
"jemaat" Kristen,
-dalam tulisan ini-
calon jemaat
(paragraf 15) adalah
"kawanan domba"..
bukan "gembala."
Ke dua: Saya hanya
menonton film LP,
penjelasan logis
mengenai kehadiran
orang Masai di
karnaval tahunan
Belitong itu,
dijembatani Riri dgn
sebuah majalah
National
Geographic.. kalau g
salah edisi Asmat..
baru tahu kalau
dibuku adegan itu
dirujuk ke orang
masai.. kupikir
seperti yg di NG,
kaum yang "lebih
dekat": orang asmat. 07-10-2008 Dari : ochi | ochi_k95@yahoo.com Tulisannya keren
wawasan baru buat
saya but I'll still
love Andrea Hirata 26-09-2008 Dari : amus | agus.moslem@gmail.com saya bahkan berhenti
membaca laskar
pelangi pada halaman
134. Akal saya tidak
terlalu bisa
menerima sesuatu
yang kurang masuk
akal. 15-09-2008 Dari : nurhady | thank you bos ipul.
sangat jeli. itumi
gunanya banyak teman
yang
mengoreksi..mengenai
dead poet society
akan saya coba
nonton lagi 15-09-2008 Dari : Ipul | ipul.ji@gmail.com Halo Dandi...apa
kabar boss..?,
tulisanmu mantap
sekali. sebuah
perspektif yang
berbeda namun
sekaligus juga
mencerahkan karena
disertai data dan
fakta yang
mendukung..dalam
beberapa hal saya
memang setuju dengan
Dandi. novel LP
kadang terasa kurang
logis. Andrea
mungkin terlalu
memaksakan
strereotip para
pembacanya sehingga
kemudian larut dalam
kebiasaan
menggunakan berbagai
istilah dan bahasa
yang susah
dimengerti. selain
itu, alur cerita
dari LP ada yang
bolong dan cukup
mengganggu bagi
saya. namun dari
keseluruhan kritikan
yang pernah muncul
di kepala saya, apa
yang ditulis oleh
Dandi di atas adalah
hal baru. dan tentu
saja ini sangat
mencerahkan bagi
saya...jadi terima
kasih kawan..btw,
koreksika sedikit:
pak Balian itu bukan
guru SMP tawwa, dia
guru SMA Bukan Main,
karena Ikal dkk.
sekolah di SD dan
SMP Muhammadiyah
yang reyot
itu...tentang metode
mengajarnya yang
rada2 mirip Dead
Poets Society,
hmmm...mungkinkah
dia terinsipirasi
dari sana ?, atau
Andrea yang
mengarangnya ?,
atau...kebetulan
saja..Wallahu Alam.. 14-09-2008 Dari : saurlin | saurlin@gmail.com oh..tulisannya rame
ya bos...
salut, dengan
menulis saja,
perlu
diapresiasi...
belum sempat baca
nih, bung pasti tahu
alasannya..:)
tetap berkarya,
saurlin
13-09-2008 Dari : nurhady | untuk ambo dalla:
saya kira sudah
banyak sanjungan
terhadap andrea
tersebar di
mana-mana. cukuplah
saya menambahkan
kelemahannya saja.
tentang yang
baik-baiknya, sudah
dikerjakan banyak
orang. sebenarnya
saya cuma ingin
membuat
keseimbangan.
meskipun upaya saya
ini tidak akan bisa
mengimbangi
kecenderungan umum
sekarang. tapi
setidaknya ada
sedikit upaya serius
untuk itu, bagi
saya, lebih baik
daripada tidak ada
sama sekali. sebab
saya melihat orang
indonesia sudah
mulai terbius dengan
mimpi dan melupakan
realitas. seperti
penjual mobil, semua
yang dia sampaikan
tentang barang
jualannya adalah
yang baik-baik
tentang mobil. dan
klihatannya orang
banyak menelannya
bulat-bulat. jarang
orang yang
mengingatkan bahwa
mobil itu juga ada
sisi merusaknya. ini
agak mirip dengan,
hanya sedikit yang
bersedia mengulas
panjang lebar
tentang
kelemahan-kelemahan
buku andrea, dan
dengan demikian
bersedia dihujat
ramai-ramai oleh
penggemarnya..hehehe 12-09-2008 Dari : ambo dalla | analisa kritik yg
jitu. cma kok sisi
negatif aja yg di
paparkan. kl bisa
sisi positif nya.
apalagi buku ini
banyak skli
menginspirasi orang.
saya lom baca
bukunya... 11-09-2008 Dari : ham | bwithm@gmail.com Saya pernah membaca
buku berjudul 'Asia'
ditulis oleh orang
barat yang nama dan
tahunnya sudah
lupa...katanya
"..satu yang pasti
tentang pemahaman
orang asia terhadap
dirinya adalah bahwa
merekalah yang
superior..juga
digambarkan bahwa
orang asia umumnya
berperilaku mirip
dengan kaum sparta
di yunani kuno;
maksudnya,biarpun
terasa sakit tetapi
seolah-olah tidak
sakit. Juga orang
asia taat tradisi;
tepat sekali tatkala
nabi Isa/Yesus
bersabda
berpeganglah kepada
tali tradisi 11-09-2008 Dari : halim hd. | halimhade@yahoo.com dua kali terakhir
membaca esainya
dandy, saya merasa,
walaupun belum
pernah membaca
bukunya andrea
hirata dan mansur
samin, rasanya teman
kita ini sangat
pantas dianggap
kritikus sastera
yang handal yang ada
di makassar. gaya
esainya yang
gamblang, tidak
berbelit dan seperti
kebiasaan akademisi
yang terlalu fasih
mengutip dan
menghafal sejumlah
"teori" (baca:
istilah) yang
ditutupi seolah-olah
miliknya yang sering
membuat saya pening.
di gedung kesenian
di makassar, sering
nongkrong kalangan
akademisi yang saya
anggap hanya
memamerkan istilah
yang baru dibacanya,
sehingga tidak
naampak pemikiran
dirinya. itu beda
dengan apa yang
ditulis oleh dandy.
tapi, ada pertanyaan
yang perlu saya
sodorkan
disini:apakah
oerientalisme itu
sekedar "pemujaan"
kepada eropa,
ataukah dia juga
sebaliknya,
"pemujaan" kepada
apa yang kita miliki
sebagai harta karun
atau "jimat" yang
dianggap sebagai
sesuatu yang bisa
menjawab eropa? 11-09-2008 Dari : rao | rao_some agak bingungka juga
baca novelnya LP
|
|
|
|
|
| ::
CITIZEN REPORTER |
 | (Kamis, 12-07-2007) |  | (Minggu, 29-04-2007) |  | (Selasa, 31-10-2006) |  | (Rabu, 11-10-2006) |  | (Rabu, 16-08-2006) | |
|
Untitled Document
| ::
DUNIA SEGIEMPAT KAREBOSI |
|
Untitled Document
| ::
KONTAK TIM PANYINGKUL! |
Email Redaksi :
redaksi@panyingkul.com
Tim:
yus@panyingkul.com
+62 813 226 80844
Moch. Hasymi
+62 811 955 954
|
|
|