Untitled Document
 


Untitled Document
.KITAKITA
:: Jika Anda di Panyingkul ::
 
 KABAR KITA
 
 BERANDAKITA
Kegilaan, Dari Cinta Mati di Pulau Rajuni Hingga Riwayat Kadang
:: Ivan Firdaus ::
Baba Guru, Mengenang Film Rhoma Irama di Klenteng Galesong
:: Kamaruddin Azis ::
Mengagumi Tenun Troso, Mengenang Tenun Sengkang
:: Suryadin Laoddang ::
Perempuan Besi di Gunung Perak (2-selesai)
:: M. Aan Mansyur ::
Perempuan Besi di Gunung Perak (1)
:: M. Aan Mansyur ::
 
 RISETKITA
Rasa Takut : Yang Dicitrakan, Yang Dipelihara
:: Aria W. Yudhistira ::
Risetkita: Pramoedya versus Sejarah Resmi
:: Nurhady Sirimorok ::
Hikayat Rumpon Nelayan Mandar
:: Muhammad Ridwan Alimuddin ::
Di Makassar Pernah Ada “Negeri Wajo”
:: Nurhady Sirimorok ::
Surat Itu Ditulis Upas kepada September
:: Nurhady Sirimorok ::
 
 BUKUKITA
 
 KATAKOTAKITA
Kenapa si Gondrong yang Maju?
:: Ivan Firdaus dan Mustamin al-Mandary ::
Karena ‘Rewa’ Badan Binasa
:: Sudirman Nasir ::
Yang Okkot, yang Salah Sambung
:: Nursamsu danTusiana Noor Alfisyahr ::
Kandala`ka`, Kusta Bila Dusta
:: Panyingkul ::
Ayo, Si(ng)kat Terussss..!
:: Panyingkul! ::

 
 TAHUKAHKITA
 

.
 ::
Kamis, 10-08-2006 
Tamasya Bersama Kata di Sepanjang Jalan
:: Anwar Jimpe Rachman ::

Benar kata Sapardi Djoko Damono, tamasya bahasa adalah kegiatan hiburan yang murah dan menyenangkan. Dalam tulisannya di Majalah Berita Mingguan Tempo beberapa waktu lalu, penyair Hujan Bulan Juni ini mengusulkan tamasya bahasa sebagai salah satu cara untuk mengurangi stres saat terjebak kemacetan atau sekadar untuk mengisi waktu.

Di suatu hari yang senggang, saya memutuskan untuk mengikuti saran Sapardi. Ia melakukannya saat terjebak macet di Depok. Saya mencobanya di sepanjang poros Jalan Perintis Kemerdekaan, Makassar.
Tamasya bahasa saya mulai dari Jembatan Tello menuju ke arah Daya. Sepanjang jalan, saya menikmati suguhan papan nama yang penulisannya sangat beragam. Ada toko yang menulis apotik, namun tidak sedikit yang menulis apotek. Tak jauh dari jejeren apotek, berderet papan nama dokter dengan tulisan: praktek dokter bersama, dokter praktik, dokter praktek, tapi ada juga menulis praktek dokter.

Jadi, mana yang benar: apotek atau apotik? Praktek atau praktik? Soal benar atau salah, paling tidak, ada baiknya membuka kamus. Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, apotek dan praktik adalah kata yang dibenarkan penggunaannya. Memang ada kawan yang bilang, soal bahasa tak perlulah terlalu memusingkan masalah ejaan dan huruf mana yang salah dalam sebuah kata. “Yang pokok … pengertiannya sampai ke kita,” katanya, enteng. Kawan ini benar juga. Apotek atau apotik, bukanlah soal yang mendasar bagi masyarakat kebanyakan. Artinya mudah dipahami. Yang penting, jangan sampai mampir ke optik untuk membeli obat.

Tapi soal pemilihan kata yang tepat kerap menimbulkan persoalan, sebab kata ini kemudian akan menjadi pokok terbentuknya kata turunan. Sebutlah contoh, praktikum atau praktis, atau praksis. Apalagi kata itu memang berasal dari serapan bahasa Inggris—practice. Begitu juga dengan apotek, yang menjadi asal pembentukan kata apoteker. Rasa-rasanya saya belum pernah mendapatkan kata apotiker dalam Bahasa Indonesia.
Saya jadi ingat ketika ikut dalam kelompok paduan suara upacara bendera di sekolah dasar dulu. Setiap menyanyikan lagu Indonesia Raya, pastilah kami serentak memulainya dengan ucapan “Endonesia, tanah airku” bukan “Indonesia, tanah airku” dan seterusnya.

Dengan pengalaman itu, saya yakin kalau perbedaan penulisan “i” dan “e” dalam sejumlah kata itu diserap dari bahasa percakapan atau yang dilisankan setiap hari. Tidakkah huruf ‘i’ membutuhkan nada yang lebih tinggi daripada huruf ‘e’ ketika mengucapkannya?

Kalau misalnya bunyi dan penulisan huruf “i” dan “e” kita sepakati muncul secara beragam karena perbedaan tulisan dan cara pengucapan, lantas bagaimana dengan tulisan yang saya lihat di depan gerbang Perumahan Telkom Mas, Jalan Perintis Kemerdekaan - Kilometer 12, yang memajang dua kata: praktek dokter. Apakah ini ditulis berdasarkan kreativitas semata atau ada alasan lain? Dokter praktik atau dokter praktek --berarti bahwa di dalam tempat yang dirujuk tulisan itu terdapat ahli kesehatan yang melakukan praktik medis untuk umum. Singkatnya, dokter yang membuka praktek. Tapi kalau praktek dokter? Jangan-jangan di dalam rumah bercat putih itu bukannya terdapat dokter yang memberi pelayanan medis, melainkan menyediakan layanan semacam bimbingan atau sejenis simulasi bagaimana rasanya menjadi dokter.

Tamasya kemudian saya lanjutkan dengan melintasi kawasan sekitar Kampus Universitas Kristen Indonesia Paulus (UKIP) di Kilometer 16. Di tepi jalan terpampang sebuah papan bertuliskan: “JANGAN MENAMBAH MATI KONYOL KECELAKAAN LALU LINTAS”. Apakah maksud pesan ini agar para pengguna jalan disarankan tidak membuat kecelakaan lalu lintas makin mati konyol? Tentu saja tidak. Bagaimana mungkin mematikan kecelakaan lalu lintas secara konyol?

Saya membutuhkan waktu beberapa lama untuk menelaah maksud kalimat itu dan mereka-reka kata apa yang kurang dari peringatan tersebut. Tentu pesan yang ingin disampaikan adalah, “Jangan menambah jumlah korban kecelakaan lalu lintas yang mati konyol,” atau “Jangan mau mati konyol karena kecelakaan lalu lintas." Aha! Ternyata kata ”korban” yang seharusnya ditambahkan ke dalam peringatan itu, sehingga pesannya menjadi jelas seperti ini,“JANGAN MENAMBAH KORBAN MATI KONYOL KECELAKAAN LALU LINTAS”.

Sapardi memang benar, tamasya bahasa itu mengasyikkan. Saya menjadi ketagihan. Di hari yang lain saya pun mencatat hasil tamasya bahasa di setiap jalan yang saya lalui. Di salah satu warung di Kampung Unhas Tamalanrea, sebuah warung memajang tulisan: “Jual Pulsa E.Tronik”. Tentu maksudnya adalah pulsa elektronik untuk ponsel. Bila huruf “e” di situ berarti elektronik (seperti halnya yang ada pada istilah email yang merujuk electronic mail) maka iklan itu tidak salah bila dibaca: Jual Pulsa Elektronik Tronik. Bukan hanya itu, di warung itu pun dijual “kopi mix” (yang dimaksud tentu saja adalah coffee mix). Dan di kesempatan yang lain saya merasa senang bisa menghitung sejumlah perbedaan kata: “foto” yang tertera pada deretan kios. Ada yang menulis Photocopy, Fotocopy, Potocopy, dan bahkan ada yang memajang pengumuman: Fhotostudio. Wah, yang terakhir ini bagaimana melafalkannya dengan baik? (p!)

| Beri Komentar| Jumlah Komentar (8) |

Komentar :

27-07-2010
Dari : Karaeng Mattarada | kr_mattarada@yahoo.co.id
baa,,patut di coba,,,wisata bahasa... sering mi sebenarnya dicallai yg begitu2an,,tapi belum kepikiran untuk dibuat tulisan,, salut kawan..,

31-03-2010
Dari : ivhank | iyulia32@yahoo.co.id
tojeng cika.......

15-06-2007
Dari : Samalona | juncheng_ducobu@yahoo.com
Disampaikan secara santai-serius, tapi ini salah satu cara menertawakan diri sendiri dan belajar lebih dewasa lagi. Salam kenal. O ya, ada juga cerita tentang warung Coto Makassar yang di pojok tendanya (kanan bawah) ditambahi tulisan "Dg. Sangkala", maksudnya yang punya warung itu namanya Daeng Sangkala. Tapi, ada satu orang yang masuk warung Coto Makassar itu trus bilang begini, "Pesan cotonya satu, tidak pake Sangkala". Dikiranya "Dg." = "Dengan".

11-02-2007
Dari : Daeng_kulmu |
Matemaki, nala'jumaki okkots

04-11-2006
Dari : kasman | kasmanpost@yahoo.co.id
he..he..he.. hidup 'okkopts' eh 'okkopts'..'okkopts' .. matimi ja' nagigi' maki'E...

21-10-2006
Dari : toke naing | www.kaltimpost.web.id
jim, tulisan yang cerdas. kita tau bahwa orang indonesia paling senang mencontoh. terutama penyerapan dalam bahasa asing. membuat kita berkaca apakah kita orang indonesia atau orang asing. apa yang menyebabkan hal ini..? saya yakin 100% kalau kita juga tidak menggunakan bahasa indonesia dengan benar. karena bukan hanya terpengaruh bahasa asing tapi juga bahasa daerah. apakah kita bisa menghindari pengaruh dari bahasa daerah, apakah bahasa daerah termaksud bahasa indonesia.tanya kenapa...? ka, kapan buat berita seperti ini lagi.

22-08-2006
Dari : adam | adambdg@gmail.com
Sebuah wisata yang unik, kritis, namun sepertinya cukup disimpan dalam hati saja. Sepertinya, untuk beberapa praktisi bahasa jalanan, lebih baik ambil jalan pragmatis: yang penting oranbg ngerti. Kalau bahasa dinisbahkan sebagai cerminan budaya, maka apakah memang bangsa kita ini adalah bangsa yang sangat pragmatis? Yang penting anu, yang penting ini, yang penting itu, yang penting..., yang penting... dan seribu yang penting. Adakah yang peduli pada idealisme di republik ini? Idealisme seolah sudah menjadi cibiran di negara kepulauan ini. Semua ingin mengambil jalan pintas dan termudah, apapun caranya. Hmmm... sepertinya wisata bahasa mengingatkan saya pada arti sebuah idealisme yang paling sederhana.

18-08-2006
Dari : Maqbul Halim | maqbulhalim@unhas.ac.id
Saya telah membaca artikel ini dengan kesan saya sendiri. Ketika usai membaca, saya akhirnya berpikir bahwa di tengah-tengah kita, ada banyak ketidak-teraturan yang telah dilazimkan. Setahu saya, seperti halnya bahasa dengan segala tata kramanya, selalu ada norma-norman sejak bangun pagi hingga kembali tidur di malam hari. Seperti halnya norma-norma itu, bahasa juga tidak seenak-udelnya. Tapi dalam "Tamasnya Bersama Kata Kita di Sepanjang Jalan" ini, saya diajak menertawai wibawa norma bahasa itu sendiri. Pada sisi lain, saya juga yakin bahwa liarnya bahasa dalam Tamasya Bahasa benar-benar jauh dari pretensi budaya. Artinya, saya yakin bahwa kelalaian kolektif berbahasa dalam Tamasya Bahasa itu bukan karena "okkot", milsanya. Karena itu pula, saya memberinya arti lain: sebuah kebebasan yang hanya mungkin ditegur-protes oleh orang-orang gila. Hmmmm...



 :: CITIZEN REPORTER
Makassar di Panyingkul!: Sebuah Persembahan
(Kamis, 12-07-2007)
Ayo Bergabung di Panyingkul!
(Minggu, 29-04-2007)
Catatan Sederhana Para Citizen Reporter
(Selasa, 31-10-2006)
Tentang Citizen Reporter dan Rubrik di Panyingkul!
(Rabu, 11-10-2006)
Riuh Rendah di Panyingkul!
(Rabu, 16-08-2006)

Untitled Document
 :: DUNIA SEGIEMPAT KAREBOSI






 :: PILKADA




 :: ALBUM PUASA 2008




Untitled Document
 :: KONTAK TIM PANYINGKUL!

Email Redaksi :

redaksi@panyingkul.com

Tim:
yus@panyingkul.com
+62 813 226 80844

Moch. Hasymi
+62 811 955 954


© Juni 2006 - Panyingkul.com All Rights Reserved
Desain Web : Nesia Andriana -- Supported by: Yuhardin