Untitled Document
 


Untitled Document
.KITAKITA
:: Jika Anda di Panyingkul ::
 
 KABAR KITA
 
 BERANDAKITA
Kegilaan, Dari Cinta Mati di Pulau Rajuni Hingga Riwayat Kadang
:: Ivan Firdaus ::
Baba Guru, Mengenang Film Rhoma Irama di Klenteng Galesong
:: Kamaruddin Azis ::
Mengagumi Tenun Troso, Mengenang Tenun Sengkang
:: Suryadin Laoddang ::
Perempuan Besi di Gunung Perak (2-selesai)
:: M. Aan Mansyur ::
Perempuan Besi di Gunung Perak (1)
:: M. Aan Mansyur ::
 
 RISETKITA
Rasa Takut : Yang Dicitrakan, Yang Dipelihara
:: Aria W. Yudhistira ::
Risetkita: Pramoedya versus Sejarah Resmi
:: Nurhady Sirimorok ::
Hikayat Rumpon Nelayan Mandar
:: Muhammad Ridwan Alimuddin ::
Di Makassar Pernah Ada “Negeri Wajo”
:: Nurhady Sirimorok ::
Surat Itu Ditulis Upas kepada September
:: Nurhady Sirimorok ::
 
 BUKUKITA
 
 KATAKOTAKITA
Kenapa si Gondrong yang Maju?
:: Ivan Firdaus dan Mustamin al-Mandary ::
Karena ‘Rewa’ Badan Binasa
:: Sudirman Nasir ::
Yang Okkot, yang Salah Sambung
:: Nursamsu danTusiana Noor Alfisyahr ::
Kandala`ka`, Kusta Bila Dusta
:: Panyingkul ::
Ayo, Si(ng)kat Terussss..!
:: Panyingkul! ::

 
 TAHUKAHKITA
 

.
 ::
Kamis, 12-06-2008 
Cerita BBM, Pungli dan Lainnya Sepanjang 180 Kilometer
:: Anwar J. Rachman ::

Tak perlu menonton televisi untuk tahu perkembangan yang terjadi di Indonesia. Cukup mendengar perbincangan antara penumpang di angkutan. Dari sana kita akan dengar ragam tanggap dan aneka cakap berbagai soal yang ada di Indonesia. Masalah negara kita pun akan terlihat jelas dari atas kendaraan tatkala melintasi daerah dan pelosok. Citizen reporter Anwar J. Rachman menurunkan catatan reflektif berikut ini. (p)
Karena kabar kematian seorang keluarga dekat sampai sekitar pukul 09:30 Wita, saya segera mandi dan mengejar mobil angkutan yang menuju Rappang, sekitar 180 kilometer utara Makassar. Tapi setengah jam menunggu tumpangan tak ada, saya memutuskan mengambil mobil Panther trayek Makassar-Palopo siang itu. Di kursi paling belakang saya mendengar dan menyaksikan banyak hal.

Ini dimulai dengan perbincangan antara penumpang yang duduk tepat di depan saya dengan sopir. Mereka bicara soal bahan bakar minyak (BBM) yang melambung. Sayangnya, beberapa kalimat lelaki yang memangku tas laptop Toshiba itu saya tak bisa simak jelas; tenggelam oleh lagu-lagu Bugis dan Malaysia yang dicomot dari telepon seluler si sopir. Hanya anggukan kepala dan gerak bibir sang pengemudi yang terlihat dari kaca spion kanan mobil tersebut.

Sejajar dengan yang memprotes BBM itu duduk seorang lelaki berkumis. Sedari tadi menerima telepon dan pesan singkat. Belakangan saya tahu kalau dia adalah camat di Luwu, karena seseorang yang meneleponnya mengadu. Si kumis pun memberi jaminan, "Percaya saya, Pak, karena saya Camat di situ," katanya.

Tak lama teleponnya berbunyi lagi. Usai membacanya, ia menelepon seorang stafnya. "Tolong wakili saya ke rapat dengan Kabag Pembangunan. Bilang, saya lagi dalam perjalanan dari Suli ke Palopo," terangnya.

Mungkin sadar ia telah berbohong dan didengar orang semobil, si kumis bertopi itu tangkas menjelaskan tentang jadwal pertemuan yang bakal membahas rencana pemecahan rekor. Pemecahan rekor apa gerangan? Rupanya catatan rekor tarik tambang peserta terbanyak yang selama ini dipegang Jawa Timur. "Kami berencana memecahkannya dengan peserta lima ribu peserta. Di Surabaya dulu cuma empat ribu orang," katanya, "rencananya perempuan semua," sambungnya, tersenyum berbalik ke saya.

Penjelasan itu kemudian ditimpali oleh sopir kalau rekor bisa juga dicetak oleh warga Sidrap (Sidenreng Rappang). Mereka, kata si pengemudi, mengalahkan Jakarta yang biasanya cuma menampilkan seorang penyanyi di atas panggung yang berpakaian minim. "Kalau di candoleng-doleng di Sidrap bisa sampai tujuh orang," katanya, tertawa.

Candoleng-doleng merupakan sebutan untuk orkes organ tunggal. Pertunjukan sejenis kini dibatasi oleh Pemerintah Sidrap. Terlalu vulgar dan merusak masyarakat jadi alasannya. Dalam sebuah rekaman yang pernah ditunjukkan seorang teman wartawan, barisan terdepan dari pertunjukan itu justru anak-anak sekitaran umur 10 tahun. Kini, berdasarkan obrolan warga yang sampai ke telinga saya, jadwal penampilan mereka ada yang hanya dibolehkan siang hingga pukul 20:00.

***

MASALAH di negara tercinta ini memang bisa disimak dari atas kendaraan yang melintasi pelosok dan daerah-daerah. Pengalaman serupa saya alami ketika naik pete-pete di trayek yang sama, dua-tiga bulan sebelumnya. Di kawasan pinggir Parepare, daerah Lapadde, mobil yang saya tumpangi melintas di razia bersama kepolisian dan Dinas Perhubungan. Dari motor hingga truk gandeng disuruh berhenti. Tapi tetap saja, ada satu dua sopir yang tak mengindahkan tanda harus meminggir yang diunjukkan personel Dinas Perhubungan. Sopir yang saya tumpangi sendiri, karena mengenal seorang personel Dishub, hanya melambai tangan ke seorang anggota perazia. Menegur, melempar senyum, dan berlalu.

Sekitar sekilometer dari tempat razia, seorang sopir pete-pete di depan Universitas Muhammadiyah Parepare (Umpar) bertanya soal pemeriksaan. "Ke sana mi. Tidak ada apa-apa ji, Pelloreng! (Penakut)," serunya tertawa, seraya melambatkan mobil.

Namun si sopir kemudian menjelaskan kenapa rekan seprofesinya itu bertindak demikian. Menurut pengalaman sopir bertubuh subur itu ia pernah kena razia. Kala itu, diharuskan membayar sekitar Rp40.000. Hasil jerih payahnya seharian itu, "Diambil semua polisi. Sepertinya hanya polisi yang dicarikan. Habis semua," tanggapnya, dongkol.

Sekitar perjalanan dari kampus di pinggiran Parepare itu, mobil kami melintas di sekitar Gudang Bulog. Sebuah gardu biru berdiri. Seorang polisi duduk di sana. “Apa lagi yang dia bikin di situ?” seru si sopir lagi. Ia tertawa lagi dan melajukan kendaraan angkutannya.

***

TAK SANGKILNYA pengelolaan transportasi kita tampak pula pada pengalaman saya pertengahan tahun 2007 lalu. Saya beruntung sempat menikmati fasilitas angkutan plat hitam bertrayek Makassar-Parepare. Tak lama setelah memberitahu tujuan, si Aheng segera menyetopkan mobil Suzuki APV merah marun buat saya di sekitar gerbang batas Makassar-Maros.

Pintu kiri tengah mobil itu terbuka. Mobilnya masih bergerak pelan. Sang sopir meminta saya segera meloncat ke kursi tengahnya. ”Cepat ki naik, nanti dilihat polisi!” perintah si sopir 40-an tahun itu. Saya menurut. Begitu bokong saya mendarat di kursi empuknya, mobil baru itu segera melaju. Saya bersama ketujuh penumpangnya dibawa melaju ke utara Makassar.

Mobil yang sejak tadi menyalip kendaraan sepanjang jalan memelankan lajunya sebelum belokan masuk Terminal Maros. Kok tidak belok ke terminal, kata saya dalam hati. Mobil malah dipinggirkan ke kiri, melampaui beberapa meter sebuah pos pengawas yang berisi 3 petugas Dishub. Salah seorang petugasnya berlari-lari kecil menuju pintu sopir. Dengan kaca setengah terbuka, si sopir kemudian menggulung selembar uang ribuan lalu menyerahkan ke tangan si petugas langsing itu. Mobil melaju lagi. Ah, saya baru sadar kalau mobil yang saya tumpangi ini adalah berplat hitam.
Bila hendak menuju keluar Makassar, saya lebih suka menunggu mobil di tempat itu. Malas rasanya menunggu di Terminal Regional Daya. Saya pernah menunggu sampai dua setengah jam lebih ketika saya hendak berangkat ke luar daerah.

***
DIAM-DIAM saya coba menumpang plat hitam lagi dalam sebuah kesempatan ke luar Makassar. Tapi si aheng menjelaskan kalau dia tidak mau ambil risiko menyetopkan mobil. Pasalnya, di seberang jalan tempat saya biasa menunggu mobil sudah dipasang pos polisi.
Diam-diam, setiap hendak ke Parepare atau Rappang, saya mengidamkan naik fasilitas istimewa itu. Hitungan saya sangat sederhana begini: ada empat atau lima kabupaten yang akan dilalui, yang berarti sebanyak itu pula terminal yang akan dilewati. Masuk terminal, yang biasanya hanya membayar retribusi ke pos Dishub yang ada di dalam terminal, benar-benar menguras energi, terutama capek duduk. Pokoknya, mobil sekadar masuk terminal, berputar, membayar, dan pergi. Dengan angkutan antar kota dalam provinsi plat hitam, kendaraan yang saya tumpangi melaju mulus, tanpa harus singgah dan berkitar di terminal kosong.

Tapi kembali ke Panther yang saya tumpangi beberapa hari lalu, hanya Terminal Maros yang dimasuki. Terminal Pangkep tidak lagi jadi pos yang harus kami singgahi; mungkin memang sudah tidak berfungsi. Ke arah Terminal Barru, rupanya si sopir tak membanting stir masuk terminal. Hanya tangannya yang mengulurkan uang untuk mengambil kertas tanda retribusi. Sesampai di Parepare, terminal yang selalu jadi ”momok” bagi saya karena jalan masuknya yang sangat panjang, tak jadi dimasuki. Pak Sopir hanya mengulur tangan yang memegang uang seribuan ke petugas Dishub lalu berbelok ke pompa bensin mengisi bahan bakar. Siapa yang mau ke terminal kosong dan jauh? (p!)

*Citizen reporter Anwar J. Rachman dapat dihubungi melalui email saintjimpe@gmail.com

| Beri Komentar| Jumlah Komentar (7) |

Komentar :

18-06-2008
Dari : Juna |
Hufs... Saya tidak menyalahkan siapa2. Atau menuntut macam2. Saya sebagai warga biasa merasa bertanggung jawab dengan kondisi negara kita saat ini. Masalahnya adalah, kalau hukum mau ditegakkan kenapa harus tanggung2. Bukan masalah sogok menyogok. Parahnya, warga masyarakat biasa yang selalu menjadi korban. Percaya atau tidak, tergantung siapa 'anda' sekarang. Aparat pemerintah atau warga masyarakat biasa.

17-06-2008
Dari : riswan |
menanggapi idrus, nih. bahwa masalahnya ada dalam diri kita sendiri, ya. tapi mengatakannya "masalah "utamanya" ada dalam diri kita sendiri("diri kita sendiri" sebagai warga ya, yg dimaksud idrus?)" sepertinya agak problematik. polisi, penegak hukum, disebut sebagai penegak hukum karena tugasnya menegakkan hukum. warga disebut warga karena ia bukan bagian dari penyelenggara atau aparatur negara, paling tidak: bukan bagian dari aparat penegak hukum. totalitas sistem akan semakin kacau jika "warga" disamakan posisi dan tanggungjawabnya dengan "penegak hukum" --seperti yang tampak dalam argumentasi "kita"-nya idrus. tanggungjawab untuk memberantas korupsi pertama-tama adalah tanggungjawab negara dan aparatnya. jika kemudian hipotesis yang dibangun untuk menjelaskan perilaku korupsi, misalnya, adalah "korupsi terjadi karena mental warga yang memang koruptif" maka akan terjadi silogisme, bahwa: adalah tanggungjawab negara untuk memperbaiki mental itu. "negara" (pemerintah dan segenap aparatnya) adalah berbeda "warga". dalam skema ini, menganggap masalah-masalah sosial timbul dari individu, dari para warga, adalah sama dengan perspektif menyalahkan korban. inilah sebenarnya sikap "buruk rupa, cermin dibelah" (sekadar ralat juga; bunyi peribahasanya sepertinya bukan "buruk rupa, cermin dipecah", tapi "cermin dibelah"). dengan kata lain, jika masalah sosial dilihat berasal dari problem individu, dan selesai di situ, maka untuk apa negara (beserta segenap aparatnya) hadir?

15-06-2008
Dari : Rijal | rijalidrus@gmail.com
Terimakasih, ceritanya menarik, bagus untuk refleksi, tp jgn disikapi spt "buruk rupa, cermin dipecah". Beginilah keadaan kita sbg masyarakat. Kalo ada pertanyaan kenapa usaha pemberantasan korupsi belum bisa berhasil, masalah utamanya ternyata ada dalam diri kita sendiri. Menegakkan hukum itu susah. Kalo kena persoalan, "membeli hukum" adalah jln keluar yg praktis. Berapa banyak diantara kita yg, kalo kena masalah lalulintas, bersikeras minta ditilang saja ketimbang "berdamai" ditempat? Untuk apa capek2 berdemo, berteriak minta korupsi diberantas, giliran motornya kena sweeping lantas ikut juga menyogok supaya lepas? Itu hanya satu contoh kecil, silahkan dijejer berbagai contoh lain...

13-06-2008
Dari : kapitipiti | kapitipitie@yahoo.co.jp
Wah, bisa jadi masukan bagi pengelola terminal. Ternyata terminal yg biaya pembangunannya mahal, tidak bisa digunakan optimal.

12-06-2008
Dari : lakipadada |
luar biasa kak jim....sangat2 sportif...hehehehe

12-06-2008
Dari : Juna | yustio004@yahoo.com
Ah, membaca tulisan Anwar, saya jadi teringat perjalanan saya dari Ponorogo (jatim) menuju Surabaya akhir 2007 lalu. Setelah melaksanakan Study Banding di Institut Studi Islam Darussalam Gontor, saya dan salah seorang teman (Hasmon Kulati), pulang ke surabaya dengan mengendarai sepeda motor, dan rombongan yang lain pulang degan Bis. Dalam perjalan kami menyadari kalau tenyata STNK motor yang kami pakai di bawa oleh teman saya yang ikut di bis. Dan tahulah apa jadinya kalau berkendaraan motor tanpa STNK keluar kota. Masuk di kota Jombang, apa yang kami hawatirkan terjadi. 'R A Z I A'. Sontak saya dan teman saya kaget. Priiiit.... Seorang polisi menghentikan kami. "Surat-suratnya ada". Polisi itu bertanya (Jelas g ada. ucapku dalam hati) Dengan sedikit gugup saya sodorkan SIM. "Lo STNK-nya mana?". "Maaf pak, STNK-nya kebawa sama teman kami di Bis." Panjang lebar kami menjelaskan penyebab kami tidak membawa STNK. Tapi tetap saja si polisi tidak mau tahu. Akhirnya kami melakukan nego. Dan Rp.20,rb ternyata cukup ampuh untuk melancarkan perjalanan kami. "Bussset kata teman saya". Polisinya minta Rp.40,rb. Tapi kami bilang, "maaf pak kami hanya bisa memeberikan sekian, seraya menyodorkan selembar uang 20rb. "Ya sudah, g pa2, sini cepat." Dalam perjalan saya dan teman saya tidak bisa menahan tawa apabila mengingat kembali kejadian tersebut. Tahun lalu, (2007, bulan puasa di mamuju). Saya juga mengalami kejadian yang hampir sama. Tapi bukan karena tidak punya surat-surat kendaraan, masalahnya adalah karena saya melanggar rambu-rambu lalu lintas. Kebetulah jalur baru. Saya yang baru pulang dari Jawa jelas tidak tahu jalur tersebut. Tapi kalau polisi sudah mau duit, tidak ada alasan. Terpaksa saya harus merogoh uang Rp,20.Rb. Hfs... saya jadi punya jurus ampuh. Yang penting punya uang 20.Rb kita pasti bisa lolos, meskipun melanggar. Wajar saja kalau para KORUPTOR bisa lolos dari jeratan hukum. Yah, karena mereka punya uang meliaran.

12-06-2008
Dari : nesia | nesiari@yahoo.com
fresh from the J. akhirnya.



 :: CITIZEN REPORTER
Makassar di Panyingkul!: Sebuah Persembahan
(Kamis, 12-07-2007)
Ayo Bergabung di Panyingkul!
(Minggu, 29-04-2007)
Catatan Sederhana Para Citizen Reporter
(Selasa, 31-10-2006)
Tentang Citizen Reporter dan Rubrik di Panyingkul!
(Rabu, 11-10-2006)
Riuh Rendah di Panyingkul!
(Rabu, 16-08-2006)

Untitled Document
 :: DUNIA SEGIEMPAT KAREBOSI






 :: PILKADA




 :: ALBUM PUASA 2008




Untitled Document
 :: KONTAK TIM PANYINGKUL!

Email Redaksi :

redaksi@panyingkul.com

Tim:
yus@panyingkul.com
+62 813 226 80844

Moch. Hasymi
+62 811 955 954


© Juni 2006 - Panyingkul.com All Rights Reserved
Desain Web : Nesia Andriana -- Supported by: Yuhardin