|
|
| . |
| ::
|
| Kamis, 12-06-2008 | Cerita BBM, Pungli dan Lainnya Sepanjang 180 Kilometer :: Anwar J. Rachman ::
| Tak perlu menonton televisi untuk tahu perkembangan yang terjadi di Indonesia. Cukup mendengar perbincangan antara penumpang di angkutan. Dari sana kita akan dengar ragam tanggap dan aneka cakap berbagai soal yang ada di Indonesia. Masalah negara kita pun akan terlihat jelas dari atas kendaraan tatkala melintasi daerah dan pelosok. Citizen reporter Anwar J. Rachman menurunkan catatan reflektif berikut ini. (p)
| Karena kabar kematian seorang keluarga dekat sampai sekitar pukul 09:30 Wita, saya segera mandi dan mengejar mobil angkutan yang menuju Rappang, sekitar 180 kilometer utara Makassar. Tapi setengah jam menunggu tumpangan tak ada, saya memutuskan mengambil mobil Panther trayek Makassar-Palopo siang itu. Di kursi paling belakang saya mendengar dan menyaksikan banyak hal.
Ini dimulai dengan perbincangan antara penumpang yang duduk tepat di depan saya dengan sopir. Mereka bicara soal bahan bakar minyak (BBM) yang melambung. Sayangnya, beberapa kalimat lelaki yang memangku tas laptop Toshiba itu saya tak bisa simak jelas; tenggelam oleh lagu-lagu Bugis dan Malaysia yang dicomot dari telepon seluler si sopir. Hanya anggukan kepala dan gerak bibir sang pengemudi yang terlihat dari kaca spion kanan mobil tersebut.
Sejajar dengan yang memprotes BBM itu duduk seorang lelaki berkumis. Sedari tadi menerima telepon dan pesan singkat. Belakangan saya tahu kalau dia adalah camat di Luwu, karena seseorang yang meneleponnya mengadu. Si kumis pun memberi jaminan, "Percaya saya, Pak, karena saya Camat di situ," katanya.
Tak lama teleponnya berbunyi lagi. Usai membacanya, ia menelepon seorang stafnya. "Tolong wakili saya ke rapat dengan Kabag Pembangunan. Bilang, saya lagi dalam perjalanan dari Suli ke Palopo," terangnya.
Mungkin sadar ia telah berbohong dan didengar orang semobil, si kumis bertopi itu tangkas menjelaskan tentang jadwal pertemuan yang bakal membahas rencana pemecahan rekor. Pemecahan rekor apa gerangan? Rupanya catatan rekor tarik tambang peserta terbanyak yang selama ini dipegang Jawa Timur. "Kami berencana memecahkannya dengan peserta lima ribu peserta. Di Surabaya dulu cuma empat ribu orang," katanya, "rencananya perempuan semua," sambungnya, tersenyum berbalik ke saya.
Penjelasan itu kemudian ditimpali oleh sopir kalau rekor bisa juga dicetak oleh warga Sidrap (Sidenreng Rappang). Mereka, kata si pengemudi, mengalahkan Jakarta yang biasanya cuma menampilkan seorang penyanyi di atas panggung yang berpakaian minim. "Kalau di candoleng-doleng di Sidrap bisa sampai tujuh orang," katanya, tertawa.
Candoleng-doleng merupakan sebutan untuk orkes organ tunggal. Pertunjukan sejenis kini dibatasi oleh Pemerintah Sidrap. Terlalu vulgar dan merusak masyarakat jadi alasannya. Dalam sebuah rekaman yang pernah ditunjukkan seorang teman wartawan, barisan terdepan dari pertunjukan itu justru anak-anak sekitaran umur 10 tahun. Kini, berdasarkan obrolan warga yang sampai ke telinga saya, jadwal penampilan mereka ada yang hanya dibolehkan siang hingga pukul 20:00.
***
MASALAH di negara tercinta ini memang bisa disimak dari atas kendaraan yang melintasi pelosok dan daerah-daerah. Pengalaman serupa saya alami ketika naik pete-pete di trayek yang sama, dua-tiga bulan sebelumnya. Di kawasan pinggir Parepare, daerah Lapadde, mobil yang saya tumpangi melintas di razia bersama kepolisian dan Dinas Perhubungan. Dari motor hingga truk gandeng disuruh berhenti. Tapi tetap saja, ada satu dua sopir yang tak mengindahkan tanda harus meminggir yang diunjukkan personel Dinas Perhubungan. Sopir yang saya tumpangi sendiri, karena mengenal seorang personel Dishub, hanya melambai tangan ke seorang anggota perazia. Menegur, melempar senyum, dan berlalu.
Sekitar sekilometer dari tempat razia, seorang sopir pete-pete di depan Universitas Muhammadiyah Parepare (Umpar) bertanya soal pemeriksaan. "Ke sana mi. Tidak ada apa-apa ji, Pelloreng! (Penakut)," serunya tertawa, seraya melambatkan mobil.
Namun si sopir kemudian menjelaskan kenapa rekan seprofesinya itu bertindak demikian. Menurut pengalaman sopir bertubuh subur itu ia pernah kena razia. Kala itu, diharuskan membayar sekitar Rp40.000. Hasil jerih payahnya seharian itu, "Diambil semua polisi. Sepertinya hanya polisi yang dicarikan. Habis semua," tanggapnya, dongkol.
Sekitar perjalanan dari kampus di pinggiran Parepare itu, mobil kami melintas di sekitar Gudang Bulog. Sebuah gardu biru berdiri. Seorang polisi duduk di sana. “Apa lagi yang dia bikin di situ?” seru si sopir lagi. Ia tertawa lagi dan melajukan kendaraan angkutannya.
***
TAK SANGKILNYA pengelolaan transportasi kita tampak pula pada pengalaman saya pertengahan tahun 2007 lalu. Saya beruntung sempat menikmati fasilitas angkutan plat hitam bertrayek Makassar-Parepare. Tak lama setelah memberitahu tujuan, si Aheng segera menyetopkan mobil Suzuki APV merah marun buat saya di sekitar gerbang batas Makassar-Maros.
Pintu kiri tengah mobil itu terbuka. Mobilnya masih bergerak pelan. Sang sopir meminta saya segera meloncat ke kursi tengahnya. ”Cepat ki naik, nanti dilihat polisi!” perintah si sopir 40-an tahun itu. Saya menurut. Begitu bokong saya mendarat di kursi empuknya, mobil baru itu segera melaju. Saya bersama ketujuh penumpangnya dibawa melaju ke utara Makassar.
Mobil yang sejak tadi menyalip kendaraan sepanjang jalan memelankan lajunya sebelum belokan masuk Terminal Maros. Kok tidak belok ke terminal, kata saya dalam hati. Mobil malah dipinggirkan ke kiri, melampaui beberapa meter sebuah pos pengawas yang berisi 3 petugas Dishub. Salah seorang petugasnya berlari-lari kecil menuju pintu sopir. Dengan kaca setengah terbuka, si sopir kemudian menggulung selembar uang ribuan lalu menyerahkan ke tangan si petugas langsing itu. Mobil melaju lagi. Ah, saya baru sadar kalau mobil yang saya tumpangi ini adalah berplat hitam.
Bila hendak menuju keluar Makassar, saya lebih suka menunggu mobil di tempat itu. Malas rasanya menunggu di Terminal Regional Daya. Saya pernah menunggu sampai dua setengah jam lebih ketika saya hendak berangkat ke luar daerah.
***
DIAM-DIAM saya coba menumpang plat hitam lagi dalam sebuah kesempatan ke luar Makassar. Tapi si aheng menjelaskan kalau dia tidak mau ambil risiko menyetopkan mobil. Pasalnya, di seberang jalan tempat saya biasa menunggu mobil sudah dipasang pos polisi.
Diam-diam, setiap hendak ke Parepare atau Rappang, saya mengidamkan naik fasilitas istimewa itu. Hitungan saya sangat sederhana begini: ada empat atau lima kabupaten yang akan dilalui, yang berarti sebanyak itu pula terminal yang akan dilewati. Masuk terminal, yang biasanya hanya membayar retribusi ke pos Dishub yang ada di dalam terminal, benar-benar menguras energi, terutama capek duduk. Pokoknya, mobil sekadar masuk terminal, berputar, membayar, dan pergi. Dengan angkutan antar kota dalam provinsi plat hitam, kendaraan yang saya tumpangi melaju mulus, tanpa harus singgah dan berkitar di terminal kosong.
Tapi kembali ke Panther yang saya tumpangi beberapa hari lalu, hanya Terminal Maros yang dimasuki. Terminal Pangkep tidak lagi jadi pos yang harus kami singgahi; mungkin memang sudah tidak berfungsi. Ke arah Terminal Barru, rupanya si sopir tak membanting stir masuk terminal. Hanya tangannya yang mengulurkan uang untuk mengambil kertas tanda retribusi. Sesampai di Parepare, terminal yang selalu jadi ”momok” bagi saya karena jalan masuknya yang sangat panjang, tak jadi dimasuki. Pak Sopir hanya mengulur tangan yang memegang uang seribuan ke petugas Dishub lalu berbelok ke pompa bensin mengisi bahan bakar. Siapa yang mau ke terminal kosong dan jauh? (p!)
*Citizen reporter Anwar J. Rachman dapat dihubungi melalui email saintjimpe@gmail.com
|
| | Jumlah
Komentar (7) |
|
| Komentar :
18-06-2008 Dari : Juna | Hufs...
Saya tidak
menyalahkan siapa2.
Atau menuntut
macam2. Saya sebagai
warga biasa merasa
bertanggung jawab
dengan kondisi
negara kita saat
ini. Masalahnya
adalah, kalau hukum
mau ditegakkan
kenapa harus
tanggung2. Bukan
masalah sogok
menyogok. Parahnya,
warga masyarakat
biasa yang selalu
menjadi korban.
Percaya atau tidak,
tergantung siapa
'anda' sekarang.
Aparat pemerintah
atau warga
masyarakat biasa. 17-06-2008 Dari : riswan | menanggapi idrus,
nih.
bahwa masalahnya ada
dalam diri kita
sendiri, ya. tapi
mengatakannya
"masalah "utamanya"
ada dalam diri kita
sendiri("diri kita
sendiri" sebagai
warga ya, yg
dimaksud idrus?)"
sepertinya agak
problematik. polisi,
penegak hukum,
disebut sebagai
penegak hukum karena
tugasnya menegakkan
hukum. warga disebut
warga karena ia
bukan bagian dari
penyelenggara atau
aparatur negara,
paling tidak: bukan
bagian dari aparat
penegak hukum.
totalitas sistem
akan semakin kacau
jika "warga"
disamakan posisi dan
tanggungjawabnya
dengan "penegak
hukum" --seperti
yang tampak dalam
argumentasi
"kita"-nya idrus.
tanggungjawab untuk
memberantas korupsi
pertama-tama adalah
tanggungjawab negara
dan aparatnya. jika
kemudian hipotesis
yang dibangun untuk
menjelaskan perilaku
korupsi, misalnya,
adalah "korupsi
terjadi karena
mental warga yang
memang koruptif"
maka akan terjadi
silogisme, bahwa:
adalah tanggungjawab
negara untuk
memperbaiki mental
itu.
"negara" (pemerintah
dan segenap
aparatnya) adalah
berbeda "warga".
dalam skema ini,
menganggap
masalah-masalah
sosial timbul dari
individu, dari para
warga, adalah sama
dengan perspektif
menyalahkan korban.
inilah sebenarnya
sikap "buruk rupa,
cermin dibelah"
(sekadar ralat juga;
bunyi peribahasanya
sepertinya bukan
"buruk rupa, cermin
dipecah", tapi
"cermin dibelah").
dengan kata lain,
jika masalah sosial
dilihat berasal dari
problem individu,
dan selesai di situ,
maka untuk apa
negara (beserta
segenap aparatnya)
hadir? 15-06-2008 Dari : Rijal | rijalidrus@gmail.com Terimakasih,
ceritanya menarik,
bagus untuk
refleksi, tp jgn
disikapi spt "buruk
rupa, cermin
dipecah". Beginilah
keadaan kita sbg
masyarakat. Kalo ada
pertanyaan kenapa
usaha pemberantasan
korupsi belum bisa
berhasil, masalah
utamanya ternyata
ada dalam diri kita
sendiri. Menegakkan
hukum itu susah.
Kalo kena persoalan,
"membeli hukum"
adalah jln keluar yg
praktis. Berapa
banyak diantara kita
yg, kalo kena
masalah lalulintas,
bersikeras minta
ditilang saja
ketimbang "berdamai"
ditempat? Untuk apa
capek2 berdemo,
berteriak minta
korupsi diberantas,
giliran motornya
kena sweeping lantas
ikut juga menyogok
supaya lepas? Itu
hanya satu contoh
kecil, silahkan
dijejer berbagai
contoh lain... 13-06-2008 Dari : kapitipiti | kapitipitie@yahoo.co.jp Wah, bisa jadi
masukan bagi
pengelola terminal.
Ternyata terminal yg
biaya pembangunannya
mahal, tidak bisa
digunakan optimal. 12-06-2008 Dari : lakipadada | luar biasa kak
jim....sangat2
sportif...hehehehe 12-06-2008 Dari : Juna | yustio004@yahoo.com Ah, membaca tulisan
Anwar, saya jadi
teringat perjalanan
saya dari Ponorogo
(jatim) menuju
Surabaya akhir 2007
lalu.
Setelah melaksanakan
Study Banding di
Institut Studi Islam
Darussalam Gontor,
saya dan salah
seorang teman
(Hasmon Kulati),
pulang ke surabaya
dengan mengendarai
sepeda motor, dan
rombongan yang lain
pulang degan Bis.
Dalam perjalan kami
menyadari kalau
tenyata STNK motor
yang kami pakai di
bawa oleh teman saya
yang ikut di bis.
Dan tahulah apa
jadinya kalau
berkendaraan motor
tanpa STNK keluar
kota.
Masuk di kota
Jombang, apa yang
kami hawatirkan
terjadi. 'R A Z I
A'. Sontak saya dan
teman saya kaget.
Priiiit.... Seorang
polisi menghentikan
kami.
"Surat-suratnya
ada". Polisi itu
bertanya (Jelas g
ada. ucapku dalam
hati)
Dengan sedikit gugup
saya sodorkan SIM.
"Lo STNK-nya
mana?".
"Maaf pak, STNK-nya
kebawa sama teman
kami di Bis."
Panjang lebar kami
menjelaskan penyebab
kami tidak membawa
STNK. Tapi tetap
saja si polisi tidak
mau tahu. Akhirnya
kami melakukan nego.
Dan Rp.20,rb
ternyata cukup ampuh
untuk melancarkan
perjalanan kami.
"Bussset kata teman
saya". Polisinya
minta Rp.40,rb. Tapi
kami bilang, "maaf
pak kami hanya bisa
memeberikan sekian,
seraya menyodorkan
selembar uang 20rb.
"Ya sudah, g pa2,
sini cepat."
Dalam perjalan saya
dan teman saya tidak
bisa menahan tawa
apabila mengingat
kembali kejadian
tersebut.
Tahun lalu, (2007,
bulan puasa di
mamuju). Saya juga
mengalami kejadian
yang hampir sama.
Tapi bukan karena
tidak punya
surat-surat
kendaraan,
masalahnya adalah
karena saya
melanggar
rambu-rambu lalu
lintas. Kebetulah
jalur baru. Saya
yang baru pulang
dari Jawa jelas
tidak tahu jalur
tersebut. Tapi kalau
polisi sudah mau
duit, tidak ada
alasan. Terpaksa
saya harus merogoh
uang Rp,20.Rb.
Hfs... saya jadi
punya jurus ampuh.
Yang penting punya
uang 20.Rb kita
pasti bisa lolos,
meskipun melanggar.
Wajar saja kalau
para KORUPTOR bisa
lolos dari jeratan
hukum. Yah, karena
mereka punya uang
meliaran. 12-06-2008 Dari : nesia | nesiari@yahoo.com fresh from the J.
akhirnya. |
|
|
|
|
| ::
CITIZEN REPORTER |
 | (Kamis, 12-07-2007) |  | (Minggu, 29-04-2007) |  | (Selasa, 31-10-2006) |  | (Rabu, 11-10-2006) |  | (Rabu, 16-08-2006) | |
|
Untitled Document
| ::
DUNIA SEGIEMPAT KAREBOSI |
|
Untitled Document
| ::
KONTAK TIM PANYINGKUL! |
Email Redaksi :
redaksi@panyingkul.com
Tim:
yus@panyingkul.com
+62 813 226 80844
Moch. Hasymi
+62 811 955 954
|
|
|