Untitled Document
 


Untitled Document
.KITAKITA
:: Jika Anda di Panyingkul ::
 
 KABAR KITA
 
 BERANDAKITA
Kegilaan, Dari Cinta Mati di Pulau Rajuni Hingga Riwayat Kadang
:: Ivan Firdaus ::
Baba Guru, Mengenang Film Rhoma Irama di Klenteng Galesong
:: Kamaruddin Azis ::
Mengagumi Tenun Troso, Mengenang Tenun Sengkang
:: Suryadin Laoddang ::
Perempuan Besi di Gunung Perak (2-selesai)
:: M. Aan Mansyur ::
Perempuan Besi di Gunung Perak (1)
:: M. Aan Mansyur ::
 
 RISETKITA
Rasa Takut : Yang Dicitrakan, Yang Dipelihara
:: Aria W. Yudhistira ::
Risetkita: Pramoedya versus Sejarah Resmi
:: Nurhady Sirimorok ::
Hikayat Rumpon Nelayan Mandar
:: Muhammad Ridwan Alimuddin ::
Di Makassar Pernah Ada “Negeri Wajo”
:: Nurhady Sirimorok ::
Surat Itu Ditulis Upas kepada September
:: Nurhady Sirimorok ::
 
 BUKUKITA
 
 KATAKOTAKITA
Kenapa si Gondrong yang Maju?
:: Ivan Firdaus dan Mustamin al-Mandary ::
Karena ‘Rewa’ Badan Binasa
:: Sudirman Nasir ::
Yang Okkot, yang Salah Sambung
:: Nursamsu danTusiana Noor Alfisyahr ::
Kandala`ka`, Kusta Bila Dusta
:: Panyingkul ::
Ayo, Si(ng)kat Terussss..!
:: Panyingkul! ::

 
 TAHUKAHKITA
 

.
 ::
Senin, 10-12-2007 
Di Makassar Pernah Ada “Negeri Wajo”
:: Nurhady Sirimorok ::

Apakah Anda akrab dengan nama Amanna Gappa dan Kampung Wajo di Makassar? Kali ini citizen reporter Nurhady Sirimorok merangkum makalah dan catatan penelitian mengenai komunitas Wajo di Makassar pada abad ke-17 hingga ke-19. Di naskah-naskah tua yang tersimpan rapi di Leiden, Belanda, terekam jejak Negeri Wajo di Makassar. Terungkap bahwa Amanna Gappa sebagai salah satu matoa (pemimpin komunitas) di masa itu, berhasil meletakkan dasar-dasar pemerintahan dan perdagangan. "Negeri Wajo" adalah sebuah komunitas yang berhasil mempertahankan aturannya secara independen sampai sekitar dua setengah abad, yang membuat aturannya dari tumpukan pengalaman dan pengetahuan warganya, bahkan mampu meluaskan pengaruh dan efektifitasnya lewat intelektualitas. Berikut rangkuman riset tentang Negeri Wajo di Makassar. (p!)


Seorang editor sebuah penerbitan universitas memulai mencatatkan pengalaman dan pengetahuannya pada secarik kertas di tahun 1893. Lembar demi lembar dia tuliskan sehingga membentuk buku kecil pedoman menulis karya ilmiah. Butuh waktu 7 tahun sebelum catatan-catatan itu terbit dalam bentuk buku.

Usaha mengembangkan isi buku ini tidak berhenti di situ. Buku ini terus mengalami penambahan dan refisi hingga enam dekade kemudian, setelah itu baru dia kemudian muncul sebagai buku yang disegani. Dan, buku ini ternyata tetap direvisi dan direproduksi. Versi terakhir buku ini terbit satu abad setelah dia mulai ditulis. Kini buku itu berjudul Chicago Manual, dan menjadi rujukan utama di banyak negara di dunia tentang aturan penulisan karya ilmiah.

Kontinuitas seperti ini agaknya telah tenggelam dalam kehidupan masyarakat kita. Untuk menjawab persoalan sehari-hari kita tidak mempunyai catatan yang menumpuk, yang dapat kita rujuk. Begitu pula, anak serta cucu kita tidak punya rujukan ‘dari dalam’ yang dapat dijadikan ‘dasar’ untuk kembangkan sesuai dengan konteks mereka masing-masing.

Kealpaan rujukan ini menyebabkan kita tidak punya pegangan sejarah. Kita lupa ‘proses’ apa saja yang berlangsung di masa lalu yang membentuk masyarakat kita hari ini. Rujukan kita hampir seluruhnya berasal dari sesuatu yang dikembangkan di luar kita, dan bukan lagi diperlakukan sebagai ‘rujukan’ karena langsung ditelan bulat-bulat.

Di Makassar pernah ada satu komunitas yang berhasil mempertahankan aturannya secara independen sampai sekitar dua setengah abad, yang membuat aturannya dari tumpukan pengalaman dan pengetahuan warganya, bahkan mampu meluaskan pengaruh dan efektifitasnya lewat intelektualitas. Komunitas itu adalah para pedagang Wajo di Makassar.

Adalah J. Noorduyn yang menulis sebuah artikel menarik tentang sebuah naskah lontara yang mengisahkan kehidupan orang Wajo di Makassar. Ia menulis artikel itu untuk sebuah seminar di Leiden sekitar dua dekade silam, kemudian di tahun 2000 terbit dalam buku kumpulan artikel Authority and Enterprise among the peoples of South Sulawesi. Dia memberi judul sederhana pada artikel itu, yang bila diindonesiakan menjadi ‘Komunitas Saudagar Wajo di Makassar’.

Naskah lontara itu dia temukan di Universitas Leiden, yang merupakan salah satu dari sekian banyak naskah dari proyek panjang penyalinan naskah Bugis dan Makassar yang dilakukan Dr. B. F. Matthes selama beberapa dekade pada pertengahan abad ke-19. Di dalamnya tertera informasi secara kronologis komunitas tersebut menurut urutan matoa atau pemimpin komunitas Wajo di Makassar. Gaya kronik yang entrinya mengikuti pemimpin (raja bangsawan dan pemimpin komunitas) ini merupakan praktik lazim naskah tradisional di Sulawesi Selatan.

Rentangan masa lebih dari satu setengah abad termuat dalam salinan naskah itu—mulai tahun 1671—mendata empat belas matoa berikut kejadian-kejadian penting yang menyertai masa pemerintahan mereka. Noorduyn membaca, menerjemahkan bagian penting, dan memberi penjelasan konteks tentang naskah itu dan sebagian matoa yang diceritakannya dari sumber-sumber lain. Ini membuat kita bisa menikmati, meski serbasedikit, perjalanan komunitas ini dari masa pasca-perang Makassar di dekade 1660-an hingga masa surutnya di akhir abad ke 19.

Pada entri kedua, di masa pemerintahan To Pakkalo, matoa kedua, disebutkan lima aturan komunitas, secara ringkas aturan-aturan itu adalah sebagai berikut. Pertama, tidak boleh menawar barang dagangan lebih tinggi dari matoa. Kedua, matoa berhak turut dalam sebuah pembelian demi urusan darang yang dijalankan oleh satu atau lebih orang Wajo, yang mendapat tambahan oleh Matthes bahwa: hanya ketika barang-barang telah terjual barulah penjual mendatangi matoa dan menawarinya pembagian, baik dalam keadaan untung maupun rugi.

Ketiga, Matoa boleh menitipkan barang atau dagangan dengan nilai hingga 100 real sebagai komisi untuk kapten kapal, dan menjualnya atas nama matoa. Empat, orang Wajo mengurus rumah matoa dengan membangunkannya sebuah rumah atau, jika dibutuhkan, memperbaiki dan menggantikan rumahnya yang sudah tua. Kelima, jika seorang pedagang Wajo meninggal, seekor sapi dibelikan dari warisannya dan dipotong. Aturan ini berlaku hingga dua abad setelahnya, bahkan ditambahkan beberapa aturan lagi di masa matoa-matoa setelahnya.

Komunitas ini merupakan sebuah institusi pendukung yang membuat aturan ini bisa terjaga, dan komunitas ini pula yang mematikannya manakala penguasa tidak lagi sanggup mengikuti aturan-aturan ini. Namun pada awalnya adalah pengetahuan warga yang ditumpuk. Dan itu sangat terlihat pada beberapa aturan tambahan yang terbuat di bawah entri matoa ke tiga saudagar Wajo di Makassar: Amanna Gappa.

Keterangan tentang Amanna Gappa jauh lebih detil dibandingkan matoa lain. Di samping memuat aturan di atas yang lebih detil, juga ada beberapa tambahan. Yang paling penting adalah pengangkatan Amanna Gappa sebagai pemimpin dagang seluruh Makassar, dan detil ongkos muatan.

Delapan bulan setelah Amanna Gappa menjadi matoa, dia dipanggil oleh gubernur di Fort Rotterdam dan diangkat menjadi kepala seluruh pedagang di Makassar. Detil ongkos angkutan barang menjelaskan tentang berapa yang harus dibayarkan jika muatan seorang pedagang akan diantar dari Makassar ke beberapa pelabuhan di kawasan Nusantara. Kota-kota itu antara lain, Johor, Aceh, Sulu, Kutai, Banjar, Pasir, Sukadana, Palembang, Bangka, Belitung, Manggarai, Bali, dan tentu saja Batavia.

Sayang sekali ade allopi-loping yang memuat detil jalur, ongkos dan aturan dagang, tidak termaktub dalam naskah yang khusus bicara tentang matoa dan masa pemerintahannya ini.

Tentu kita bisa membayangkan bagaimana para pedagang Wajo tiba dari sebuah pelayaran dagang lalu berkumpul dan berdiskusi tentang pengamatan mereka di daerah yang baru saja mereka kunjungi. Langgar yang dibangun secara kolektif, yang juga dijelaskan dalam naskah ini, menjadi tempat yang sering mereka gunakan untuk membahas temuan-temuan ini.

Ketika Amanna Gappa diangkat menjadi kepala pedagang, itu berarti aturan yang diterapkan komunitas dagang Wajo diakui efektifitasnya oleh banyak pihak. Fort Rotterdam dibangun, dan Makassar dikuasai, untuk mengamankan arus dagang Belanda, sehingga mereka tidak akan mengambil risiko mengangkat seorang pemimpin dari satu komunitas tertentu di kawasan kosmopolitan itu bila urusan utama mereka tidak terpenuhi. Mengangkat pemimpin salah satu komunitas yang berpengetahuan luas dan tatanan dagang yang diakui komunitas lain, tentu merupakan langkah taktis bagi Belanda.

Sementara itu, bagi komunitas Wajo sendiri, ini bukti bahwa penumpukan pengetahuan dan pengalaman dagang yang mereka kumpulkan sanggup membawa mereka melebarkan pengaruh. Bukti bahwa institusi mereka sanggup menjaga tradisi praktis yang berkembang menjadi produk jasa yang efektif. Ini berarti kecurigaan banyak orang sekarang tentang pranata tradisional yang selalu dipandang primordial dan irasional tidak sepenuhnya benar.

Namun masih ada pertanyaan yang mengganjal: di naskah ini tidak muncul tugas-tugas matoa? Apa tanggung jawab matoa secara administratif? Mengingat dia mendapat banyak sekali keistimewaan. Noorduyn menjawab bahwa tanggungjawab matoa, dalam naskah ini, tidak tersurat namun tersebar dalam beberapa deskripsi yang muncul secara acak.

Pertama, dia berfungsi sebagai semacam jaringan pengaman sosial, dia bertindak sebagai penjamin barang dagangan bila terjadi malapetaka, misalnya kapal karam atau bencana lainnya. Matoa juga berfungsi untuk menyelesaikan pertikaian, seperti ketika matoa Wajo, kapten Cina dan Malayu menyelesaikan pertikaian dagang yang melibatkan komunitas masing-masing. Mereka pun bertindak sebagai hakim yang adil. Dan menjadi perwakilan rakyatnya untuk berhubungan dengan pihak luar komunitas.

Dalam teori sistem pemerintahan moderen yang kita kenal sekarang, fungsi-fungsi ini diemban oleh Negara. Sehingga pada titik ini kita bisa katakan bahwa, komunitas pedagang ini sejatinya adalah sebuah “Negara” yang membentuk aturannya sendiri lewat penumpukan pengalaman warganya yang dijaga dan disebarkan lewat berbagai pranata, seperti jabatan/fungsi matoa dan pertemuan di langkara (langgar).

Di sini juga terlihat bahwa, salah satu syarat mereka bisa bertahan, bahkan bisa mengembangkan pengaruh lewat aturan dagangnya, adalah mereka secara intelektual tidak bergantung. Mereka membuat aturan sendiri dari mendengarkan pengalaman warganya sendiri yang tentu saja sudah melancong ke mana-mana. Tumpukan pengetahuan yang dihimpun dan diuji dengan pelayaran-pelayaran selama bebeberapa generasi ini menghasilkan sesuatu yang orisinil dan dapat diterapkan.

Ringkasnya, sebagaimana Chicago Manual di atas, aturan ini dibuat dalam sebuah institusi yang independen dan dibuat untuk membuat praktik menjadi lebih baik bagi banyak orang.

Seperti Chicago Manual yang banyak dipakai di luar negeri, pentingnya praktik ade allopi-loping ini membuat Fort Rotterdam tertarik untuk menerapkannya lewat Amanna Gappa. Membuatnya diterjemahkan ke bahasa asing untuk dijadikan rujukan studi lebih lanjut. Tahun 1832, versi inggrisnya, terjemahan Ch. Thomsen terbit di Singapura. Kajian hukum laut tradisional Indonesia harus berterima kasih dengan keberadaan naskah kecil yang senantiasa dijadikan rujukan ini.

Namun beda dengan Chicago manual, jika mengunjungi anjungan google book dan mengetik ade allopi-loping maka yang muncul hanya enam hit. Itupun ia dibahas sebagai sebuah sejarah, bukan lagi sesuatu yang masih hidup. Mengapa demikian?

Aturan ini mulai dibuat mungkin di akhir perang Makassar sekitaran 1670-an dan mulai populer sejak Amanna Gappa menjadi matoa pada tahun 1697-1723. Namun ia harus menyusul lenyap sebagaimana pranata pendukungnya, negeri Wajo di Makassar, yang telah raib tak lama sebelumnya. Kini, ia hanya bisa dikenali samar-samar, bahkan disalahpahami sebagai Amanna Gappa—pemimpin komunitas Wajo yang mempopulerkannya.

Lantas apakah yang meredupkan negeri kecil ini?

Komunitas ini surut karena banyak penduduknya yang pindah ke kampung lain. Meski kampung Wajo di Makassar masih ada secara geografis, namun komunitasnya yang independen dan punya aturan sendiri telah lama hilang. Menurut naskah itu, orang Wajo mulai meninggalkan kampung itu ketika, cucu matoa Wajo mulai bertindak sewenang-wenang, dan tindakan Raja Bone, Muhammad Ismail, membatasi gerak dagang dan mempekerjapaksakan mereka karena keinginannya meminjam uang ditolak komunitas itu.

Akhirnya, sebagaimana kerap kita baca dari buku sejarah, adalah penguasa zalim, baik dari luar maupun dari dalam, yang menyudahi sebuah negeri kecil yang independen dan intelek ini, sekaligus mengakhiri kontinuitas penumpukan pengetahuan orisinil yang praktis dan berpengaruh. (p!)

*Citizen reporter Nurhady Sirimorok dapat dihubungi melalui email nurhadys@gmail.com

| Beri Komentar| Jumlah Komentar (20) |

Komentar :

07-04-2010
Dari : muhith | muhith_nur@yahoo.com
saya mendengar nama Amanna Gappa pertama kali dari dosen saya difakultas hukum unhas, yang pada saat itu membawakan mata kuliah 'hukum laut' (kalau tidak salah). Dalam kuliahnya sang dosen menceritakan sosok amanna gappa, sebagai peletak dasar hukum laut pada masanya...dan hukum/aturan yang dibuatnya dikemudian hari, mendasari atau menjadi rujukan bagi hukum laut/perdagangan di benua lain (eropa). benar tidaknya saya tidak terlalu paham. akan tetapi sosok Amanna Gappa sampai saat ini masih dikenang di FH Unhas, sebagai nama Jurnal Ilmiah Amanna Gappa. Mungkin masih terbit sampai saat ini.

09-05-2009
Dari : sJEwXJoXqcyEIiFvE | drxwki@dnznpt.com
tPCS3O wwplcspmhpkh, [url=http://euygqdvt xiew.com/]euygqdvtxi ew[/url], [link=http://yezcvpq ucroj.com/]yezcvpquc roj[/link], http://osnvarvfzegb. com/

28-10-2008
Dari : syukri_b@yahoo.com | 120571
Saya tidak terlalu tahu detil-detil waktu masa lalu,karena tempo dulu bagi orang bugis/makasaar belum terlalu mengenal sistem penanggalan waktu seperti sekarang.misalnya penaggalan masehi atau hijriyah.yang saya tahu kerajaan yang pernah berkuasa di sulawesi-selatan berturut-turut;keraj aan Siang di Pangkep yang pernah menguasai Pantai barat Sulawesi-selatan dan Kerajaan Luwu di Pantai timur.Siang di gantikan oleh Persekutuan Gowa(makassar)/Tallo (makassar bugis) Sedangkan Luwwu di gantikan oleh Persekutuan Bone,Soppeng dan Wajo( Tellu botccoe).Sebagaimana Antara Kerajaan Siang dan Luwu Yang sering memperebutkan perluawasan kekuasaan,Hal yang sama juga di alami oleh Kerajaan Gowa/Tallo dengan Bone,Soppeng dan wajo.Tetapi ketika Latobala arung Tanete menjadi raja di Bone,saat itulah arung matoa Wajo mulai berkoalisi dengan makassar.perkoalisia n ini sampai pada pertalian darah dan perkawinan.Mulai saat itulah orang wajo di beri tempat khusus oleh raja makassar hingga perlawanan Latatta Andi patunru ( arung ri palakka ).Pesan yang hendak saya sampaikan pada tulisan ini adalah: 1.Sebagai orang bugis/makassar kita semua pernah memiliki sejarah,nenek moyang yang hebat dan memang pantas untuk di banggakan.hanya saja kejayaan suatu kaum itu memang saling berganti sehingga kebanggaan yang kita miliki jangan sampai pada tingkat melecehkan sesama saudara maupun orang lain. 2.Pada saat ini kita semua orang bugis/makassar mengalami masa surut yang berkepanjangan.meman g banyak orang bugis/makassar yang sukses sebagai pengusaha,tetapi lebih banyak lagi orang/bugis makassar yang sudah hilang kehormatan dan harga dirinya demi sesuap nasi.Yang jago menerkam yang lemah-yang pintar membodohi yang memang sudah bodoh-yang kaya malah menghisap yang miskin.Kalau mau berubah hentikan itu!"cari rejeki halal yang berkah dengan tangan,kaki,ilmu dan iman.Insya Allah akan berkah dan nikmat.( naiaya ritellae burane tongeng-tongeng,tani a abbatireng,tania mana',tania to passigajang.naiya burane tongeng-tongengnge iyanaritu paccolliengngi aju matewe).yang di katakan lelaki (satria) bukanlah turunan,bukan pula warisan dan bukan pula jago baku tikam,akan tetapi yang di katakan lelaki (satria) adalah yang mampu kembangkan pucuk pohon kayu mati.Selleng Uddanikku ri tanah ogi,salama'ki to pada salama ri allabuangetta aamiin.

07-10-2008
Dari : joe | joepwk_uh@yahoo.co.id
sy br tau klo orang wajo dulu pernah berjaya di makassar.. skrng bagaimana mi???? jangankan berjaya di negeri orang, di tanah sendiri tak berdaya... maradeka towajoe ade'na na popuang.

21-08-2008
Dari : Cullang |
betul itu Nhie. sudah goblok pede lagi

21-08-2008
Dari : Anhie |
hm, para matoa yang hidupnya di abad-abad XVII itu rupanya jauh lebih punya ethos modernis ketimbang pemimpin-pemimpin kita sekarang. mereka merawat kontinuitas, sementara pemimpin-pemimpin kita sekarang? mereka membangun sesukanya. sudah itu, main gusur lagi. mereka kira banyak mall, jalan raya lebar, atau banyak gedung, berarti sudah modern. modern apanya, goblok? perilaku mereka lebih mirip kelakuan juragan-juragan pribumi jaman kolonial: matanya selalu berbinar-binar klo meliat barang-barang baru didatangkan dari Eropa. kampungan betul. hidup golput! tidak satupun di antara mereka itu yang pantas dipilih.

16-07-2008
Dari : Budi | crd_art@yahoo.com
Melo Mopa Bacai na Cappuni. Tamba-tambaipi carita sejarata tentang wajo. Supaya irissengngi budayata idi to wajoe. Aja napada makkakkue, padai naseng Pak DAhlan Maulana, Ibarat Paggolo'. Macca maneng towajoe tapi pada melo manengngi mappattama golo. Mammagi-magi towajoe nasseddi paimeng mancaji conto.

12-07-2008
Dari : R. Zainuddin | rzain@yahoo.com
Apa tidak ada hubungan antara orang Wajo yang memihak Gowa, sehingga ketika Hasanuddin kalah penduduk kampung Wajo meninggalkan kampungnya untuk menghindari balas dendam orang Bone dan sekutunya.

28-06-2008
Dari : Muh. Nur Taqwim Yunus | taqwim@yahoo.co.id
Apapun alasannya, kita perlu kembali menghidupkan dan kalau bisa menginternalisasikan nilai2 luhur (nilai2 kemasyarakatan dan nilai2 kemanusiaan)yg dititipkan pendahulu kita di dalam jiwa raga ini. Jujur saja, bahwa petuah yang dibuat leluhur kita itu merupakan hasil kontemplasi yg mendalam dan sudah sulit untuk kita ciptakan. Saran saya adalah, tulisan tersebut menginspirasikan agar kita mau mengajarkan nilai luhur tsb minimal kepada generasi kita.

19-05-2008
Dari : idho | mursid_aida@yahoo.co
yang menggugah saya ialah, dimanakah saat ini jejak sejarah itu. apakah hilang bersama kemasabodohan kita?

04-04-2008
Dari : Ikranagara | ikra_twin@yahoo.com
Saya k,ahir di Desa Loloan di Kabupaten Jemberana, Bali, di wilayah selatan-Barat. Desa itu merupakan desanya orang bugis dari Wajo sekian abad yang lalu. Mereka datang dengan kapal yang dilengkapi dengan meriam dan peralatan perang. Mereka adalah bagian dari para perpmpak Bugis di zaman perlawanan menentang VOC, karena itulah mereka dikenal sebagai momok yang menakutkan, dan orang Bewlanda menyebut mereka ini adalah the Boegyman. Pemimpin mereka dikenal dengan nama legendaris Daeng Nakhoda yang beragama islam, dan berdamai dengan Raja Kerajaan Jemberana yang beragama Hindu. Mereka bahu membahu dalam menangkis serangan dari kerajaan lainnya, misalnya dari Kerajaan Buleleng yang wilayahnya di sebelah utara. Dan menurut catatan sejarawan I Wayan Reken, masyarakat Bugis itu berasal dari Wajo.

18-02-2008
Dari : Nuntung | daeng.nuntung@gmail.com
Uq, apakah itu berarti tidak ada lagi kerjaan GOWA? apakah mereka kehilangan pengaruh? Saya kira tidak !

22-01-2008
Dari : uq | uqhymks@yahoo.com
sedikit komenntar atas komentar daeng gajang. sepertinya ada sedikit kesalahpahaman. masa amanna gappa sebagaimana dalam tulisan ini adalah masa setelah keemasan gowa-tallo. masa amanna gappa adalah masa Belanda berusaha menguasai seluruh wilayah sulawesi. dalam masa ini kekuasaan di makassar ada di tangan koalisi bone dan belanda. dimana Belanda tidaklah secara penuh menguasai makassar. makanya komunitas-komunitas etnik yg ada di makassar mengembangkan pola aturannya sendiri dengan koordinasi dari penguasa bone dan belanda. Belanda tidaklah berkuasa penuh atas seluruh Makassar. Belanda berkuasa penuh nanti pada tahun 1905 setelah Belanda benar-benar menguasai Bone. persitiwa ini dikenal dengan peristiwa Rumpa'na Bone. jadi masa antara 1669 (jatuhnya benteng somba opu) hingga 1905 saya kira bukan masa penjajahan apalagi masa gowa-tallo. Masa 1905 dst adalah masa penjajahan Belanda Kemudian Jepang dst. sy kira kita baru benar2 bebas setelah 1998.

13-12-2007
Dari : Daeng Gajang | syamsusalewangan@yahoo.com
Tulisan ini membuktikan bahwa betapa damainya kehidupan di Makassar ketika Kerajaan Gowa Tallo masih mengontrol jalannya pemerintahan. Setiap suku bangsa yang datang ke Makassar diberi kesempatan yang sama tanpa ada diskriminasi. Makanya ada Kampung Wajo, Paccinang, Kampung Malayu, Sambung Jawa, Butung (Buton), Kampung Arab, dll. Alangkah sempurnanya tulisan ini jika ditelusuri lagi tahun - tahun penting sebelum Amanagappa diangkat menjadi kepala pedagang ketika beliau masih menuntut ilmu di lingkungan kaum intelektual Kerajaan Gowa.

11-12-2007
Dari : Ipul | ipul.ji@gmail.com
saya setuju sama pak Kapiti-piti yang sama sekali tidak kapiti-piti... bung Dandy mungkin bisa merangkum berbagai catatan sejarah yang sudah dia bikin kedalam satu buku... (ato suda mi kah..?)

11-12-2007
Dari : kapitipiti | kapitipitie@yahoo.co.jp
Pak Dandy, saya yakin banyak yg tunggu penerbitan buku terjemahan naskah-naskah sejarahta'. Enak dibaca dan sangat perlu dalam mengetahui akar budaya kita.

10-12-2007
Dari : |
Yang saya maknai dari tulisan ini adalah pentingnya "INDEPENDENSI" pak Dandi menyentak ruang bawah sadar kita bahwa; "SEBAGAI BANGSA-KITA pernah mempunyai SIKAP". "Karakter Wajo" adalah sebuah sistem nilai, sebagai sistem sosial (bukan geography)yang bisa dikembangkan untuk melengkapi sisi kebangsaan kita yg compang. Perlu kita menjalarkan prinsip, sikap, rasa percaya diri dengan niat sebuah sistem sosial yang bermartabat......Aih , menurut saya, disitumi sesungguhnya sisi manusiawita. Sebuah apresiasi layak diberikan ke penulis yang menyentil pentingnya kebersamaan sebagai bangsa (nation)! Bravo!

10-12-2007
Dari : arifuddin patunru | patunru_240647@yahoo.co.id
Yang dimaksud "negeri wajo" di makassar, apakah yang sekarang ini kita kenal dengan "Kampung Wajo" atau Kecamatan Wajo, yang perbatasannya setelah perempatan Jl.Seram dan Jl.Irian, ke utara hingga Jl.Tarakan? Jabatan "matoa" apakah setingkat dengan camat ataukah bupati? Di paragraf 11 sampai habis, dapat diartikan bahwa pada zaman itu sistem perekonomian masih di bawah kontrol pemerintah atau belum diserahkan pada mekanisme pasar. Yang menarik adalah loncatan jauh pemikiran Amanna Gappa yang sudah menerapkan konsep C & F (cost and freight) FOB (free on board), loko pelabuhan etc. dalam lalu-lintas arus barang dan jasa.

10-12-2007
Dari : Sultan Habnoer | sultan@yps-srk.sch.id
Betul nabilang ustadz Mus, macca metto Dandy. Rasanya mengalir bak air ini tulisan. Tetapi, tidak tercantum ki alamat emailnya alena beliau, sepertinya terputus ki sedikit naskah ini.

10-12-2007
Dari : Mustamin Al-Mandary |
Haruski' mengaku, macca mentong Dandy meracik tulisan2 sejarah. Saya butuh orang yang seperti Dandy ini. Ini bukan pujian. Sebagai penikmat buku2 sejarah, saya sangat menyukai cara Dandy merangkai dan membentuk alur cerita sehingga membaca sejarah yang ditulisnya laiknya membaca cerita fiksi, padahal itu kisah sejarah. Tojenga'.



 :: CITIZEN REPORTER
Makassar di Panyingkul!: Sebuah Persembahan
(Kamis, 12-07-2007)
Ayo Bergabung di Panyingkul!
(Minggu, 29-04-2007)
Catatan Sederhana Para Citizen Reporter
(Selasa, 31-10-2006)
Tentang Citizen Reporter dan Rubrik di Panyingkul!
(Rabu, 11-10-2006)
Riuh Rendah di Panyingkul!
(Rabu, 16-08-2006)

Untitled Document
 :: DUNIA SEGIEMPAT KAREBOSI






 :: PILKADA




 :: ALBUM PUASA 2008




Untitled Document
 :: KONTAK TIM PANYINGKUL!

Email Redaksi :

redaksi@panyingkul.com

Tim:
yus@panyingkul.com
+62 813 226 80844

Moch. Hasymi
+62 811 955 954


© Juni 2006 - Panyingkul.com All Rights Reserved
Desain Web : Nesia Andriana -- Supported by: Yuhardin