|
|
| . |
| ::
|
| Senin, 10-12-2007 | Di Makassar Pernah Ada “Negeri Wajo” :: Nurhady Sirimorok ::
| Apakah Anda akrab dengan nama Amanna Gappa dan Kampung Wajo di Makassar? Kali ini citizen reporter Nurhady Sirimorok merangkum makalah dan catatan penelitian mengenai komunitas Wajo di Makassar pada abad ke-17 hingga ke-19. Di naskah-naskah tua yang tersimpan rapi di Leiden, Belanda, terekam jejak Negeri Wajo di Makassar. Terungkap bahwa Amanna Gappa sebagai salah satu matoa (pemimpin komunitas) di masa itu, berhasil meletakkan dasar-dasar pemerintahan dan perdagangan. "Negeri Wajo" adalah sebuah komunitas yang berhasil mempertahankan aturannya secara independen sampai sekitar dua setengah abad, yang membuat aturannya dari tumpukan pengalaman dan pengetahuan warganya, bahkan mampu meluaskan pengaruh dan efektifitasnya lewat intelektualitas. Berikut rangkuman riset tentang Negeri Wajo di Makassar. (p!)
|
Seorang editor sebuah penerbitan universitas memulai mencatatkan pengalaman dan pengetahuannya pada secarik kertas di tahun 1893. Lembar demi lembar dia tuliskan sehingga membentuk buku kecil pedoman menulis karya ilmiah. Butuh waktu 7 tahun sebelum catatan-catatan itu terbit dalam bentuk buku.
Usaha mengembangkan isi buku ini tidak berhenti di situ. Buku ini terus mengalami penambahan dan refisi hingga enam dekade kemudian, setelah itu baru dia kemudian muncul sebagai buku yang disegani. Dan, buku ini ternyata tetap direvisi dan direproduksi. Versi terakhir buku ini terbit satu abad setelah dia mulai ditulis. Kini buku itu berjudul Chicago Manual, dan menjadi rujukan utama di banyak negara di dunia tentang aturan penulisan karya ilmiah.
Kontinuitas seperti ini agaknya telah tenggelam dalam kehidupan masyarakat kita. Untuk menjawab persoalan sehari-hari kita tidak mempunyai catatan yang menumpuk, yang dapat kita rujuk. Begitu pula, anak serta cucu kita tidak punya rujukan ‘dari dalam’ yang dapat dijadikan ‘dasar’ untuk kembangkan sesuai dengan konteks mereka masing-masing.
Kealpaan rujukan ini menyebabkan kita tidak punya pegangan sejarah. Kita lupa ‘proses’ apa saja yang berlangsung di masa lalu yang membentuk masyarakat kita hari ini. Rujukan kita hampir seluruhnya berasal dari sesuatu yang dikembangkan di luar kita, dan bukan lagi diperlakukan sebagai ‘rujukan’ karena langsung ditelan bulat-bulat.
Di Makassar pernah ada satu komunitas yang berhasil mempertahankan aturannya secara independen sampai sekitar dua setengah abad, yang membuat aturannya dari tumpukan pengalaman dan pengetahuan warganya, bahkan mampu meluaskan pengaruh dan efektifitasnya lewat intelektualitas. Komunitas itu adalah para pedagang Wajo di Makassar.
Adalah J. Noorduyn yang menulis sebuah artikel menarik tentang sebuah naskah lontara yang mengisahkan kehidupan orang Wajo di Makassar. Ia menulis artikel itu untuk sebuah seminar di Leiden sekitar dua dekade silam, kemudian di tahun 2000 terbit dalam buku kumpulan artikel Authority and Enterprise among the peoples of South Sulawesi. Dia memberi judul sederhana pada artikel itu, yang bila diindonesiakan menjadi ‘Komunitas Saudagar Wajo di Makassar’.
Naskah lontara itu dia temukan di Universitas Leiden, yang merupakan salah satu dari sekian banyak naskah dari proyek panjang penyalinan naskah Bugis dan Makassar yang dilakukan Dr. B. F. Matthes selama beberapa dekade pada pertengahan abad ke-19. Di dalamnya tertera informasi secara kronologis komunitas tersebut menurut urutan matoa atau pemimpin komunitas Wajo di Makassar. Gaya kronik yang entrinya mengikuti pemimpin (raja bangsawan dan pemimpin komunitas) ini merupakan praktik lazim naskah tradisional di Sulawesi Selatan.
Rentangan masa lebih dari satu setengah abad termuat dalam salinan naskah itu—mulai tahun 1671—mendata empat belas matoa berikut kejadian-kejadian penting yang menyertai masa pemerintahan mereka. Noorduyn membaca, menerjemahkan bagian penting, dan memberi penjelasan konteks tentang naskah itu dan sebagian matoa yang diceritakannya dari sumber-sumber lain. Ini membuat kita bisa menikmati, meski serbasedikit, perjalanan komunitas ini dari masa pasca-perang Makassar di dekade 1660-an hingga masa surutnya di akhir abad ke 19.
Pada entri kedua, di masa pemerintahan To Pakkalo, matoa kedua, disebutkan lima aturan komunitas, secara ringkas aturan-aturan itu adalah sebagai berikut. Pertama, tidak boleh menawar barang dagangan lebih tinggi dari matoa. Kedua, matoa berhak turut dalam sebuah pembelian demi urusan darang yang dijalankan oleh satu atau lebih orang Wajo, yang mendapat tambahan oleh Matthes bahwa: hanya ketika barang-barang telah terjual barulah penjual mendatangi matoa dan menawarinya pembagian, baik dalam keadaan untung maupun rugi.
Ketiga, Matoa boleh menitipkan barang atau dagangan dengan nilai hingga 100 real sebagai komisi untuk kapten kapal, dan menjualnya atas nama matoa. Empat, orang Wajo mengurus rumah matoa dengan membangunkannya sebuah rumah atau, jika dibutuhkan, memperbaiki dan menggantikan rumahnya yang sudah tua. Kelima, jika seorang pedagang Wajo meninggal, seekor sapi dibelikan dari warisannya dan dipotong. Aturan ini berlaku hingga dua abad setelahnya, bahkan ditambahkan beberapa aturan lagi di masa matoa-matoa setelahnya.
Komunitas ini merupakan sebuah institusi pendukung yang membuat aturan ini bisa terjaga, dan komunitas ini pula yang mematikannya manakala penguasa tidak lagi sanggup mengikuti aturan-aturan ini. Namun pada awalnya adalah pengetahuan warga yang ditumpuk. Dan itu sangat terlihat pada beberapa aturan tambahan yang terbuat di bawah entri matoa ke tiga saudagar Wajo di Makassar: Amanna Gappa.
Keterangan tentang Amanna Gappa jauh lebih detil dibandingkan matoa lain. Di samping memuat aturan di atas yang lebih detil, juga ada beberapa tambahan. Yang paling penting adalah pengangkatan Amanna Gappa sebagai pemimpin dagang seluruh Makassar, dan detil ongkos muatan.
Delapan bulan setelah Amanna Gappa menjadi matoa, dia dipanggil oleh gubernur di Fort Rotterdam dan diangkat menjadi kepala seluruh pedagang di Makassar. Detil ongkos angkutan barang menjelaskan tentang berapa yang harus dibayarkan jika muatan seorang pedagang akan diantar dari Makassar ke beberapa pelabuhan di kawasan Nusantara. Kota-kota itu antara lain, Johor, Aceh, Sulu, Kutai, Banjar, Pasir, Sukadana, Palembang, Bangka, Belitung, Manggarai, Bali, dan tentu saja Batavia.
Sayang sekali ade allopi-loping yang memuat detil jalur, ongkos dan aturan dagang, tidak termaktub dalam naskah yang khusus bicara tentang matoa dan masa pemerintahannya ini.
Tentu kita bisa membayangkan bagaimana para pedagang Wajo tiba dari sebuah pelayaran dagang lalu berkumpul dan berdiskusi tentang pengamatan mereka di daerah yang baru saja mereka kunjungi. Langgar yang dibangun secara kolektif, yang juga dijelaskan dalam naskah ini, menjadi tempat yang sering mereka gunakan untuk membahas temuan-temuan ini.
Ketika Amanna Gappa diangkat menjadi kepala pedagang, itu berarti aturan yang diterapkan komunitas dagang Wajo diakui efektifitasnya oleh banyak pihak. Fort Rotterdam dibangun, dan Makassar dikuasai, untuk mengamankan arus dagang Belanda, sehingga mereka tidak akan mengambil risiko mengangkat seorang pemimpin dari satu komunitas tertentu di kawasan kosmopolitan itu bila urusan utama mereka tidak terpenuhi. Mengangkat pemimpin salah satu komunitas yang berpengetahuan luas dan tatanan dagang yang diakui komunitas lain, tentu merupakan langkah taktis bagi Belanda.
Sementara itu, bagi komunitas Wajo sendiri, ini bukti bahwa penumpukan pengetahuan dan pengalaman dagang yang mereka kumpulkan sanggup membawa mereka melebarkan pengaruh. Bukti bahwa institusi mereka sanggup menjaga tradisi praktis yang berkembang menjadi produk jasa yang efektif. Ini berarti kecurigaan banyak orang sekarang tentang pranata tradisional yang selalu dipandang primordial dan irasional tidak sepenuhnya benar.
Namun masih ada pertanyaan yang mengganjal: di naskah ini tidak muncul tugas-tugas matoa? Apa tanggung jawab matoa secara administratif? Mengingat dia mendapat banyak sekali keistimewaan. Noorduyn menjawab bahwa tanggungjawab matoa, dalam naskah ini, tidak tersurat namun tersebar dalam beberapa deskripsi yang muncul secara acak.
Pertama, dia berfungsi sebagai semacam jaringan pengaman sosial, dia bertindak sebagai penjamin barang dagangan bila terjadi malapetaka, misalnya kapal karam atau bencana lainnya. Matoa juga berfungsi untuk menyelesaikan pertikaian, seperti ketika matoa Wajo, kapten Cina dan Malayu menyelesaikan pertikaian dagang yang melibatkan komunitas masing-masing. Mereka pun bertindak sebagai hakim yang adil. Dan menjadi perwakilan rakyatnya untuk berhubungan dengan pihak luar komunitas.
Dalam teori sistem pemerintahan moderen yang kita kenal sekarang, fungsi-fungsi ini diemban oleh Negara. Sehingga pada titik ini kita bisa katakan bahwa, komunitas pedagang ini sejatinya adalah sebuah “Negara” yang membentuk aturannya sendiri lewat penumpukan pengalaman warganya yang dijaga dan disebarkan lewat berbagai pranata, seperti jabatan/fungsi matoa dan pertemuan di langkara (langgar).
Di sini juga terlihat bahwa, salah satu syarat mereka bisa bertahan, bahkan bisa mengembangkan pengaruh lewat aturan dagangnya, adalah mereka secara intelektual tidak bergantung. Mereka membuat aturan sendiri dari mendengarkan pengalaman warganya sendiri yang tentu saja sudah melancong ke mana-mana. Tumpukan pengetahuan yang dihimpun dan diuji dengan pelayaran-pelayaran selama bebeberapa generasi ini menghasilkan sesuatu yang orisinil dan dapat diterapkan.
Ringkasnya, sebagaimana Chicago Manual di atas, aturan ini dibuat dalam sebuah institusi yang independen dan dibuat untuk membuat praktik menjadi lebih baik bagi banyak orang.
Seperti Chicago Manual yang banyak dipakai di luar negeri, pentingnya praktik ade allopi-loping ini membuat Fort Rotterdam tertarik untuk menerapkannya lewat Amanna Gappa. Membuatnya diterjemahkan ke bahasa asing untuk dijadikan rujukan studi lebih lanjut. Tahun 1832, versi inggrisnya, terjemahan Ch. Thomsen terbit di Singapura. Kajian hukum laut tradisional Indonesia harus berterima kasih dengan keberadaan naskah kecil yang senantiasa dijadikan rujukan ini.
Namun beda dengan Chicago manual, jika mengunjungi anjungan google book dan mengetik ade allopi-loping maka yang muncul hanya enam hit. Itupun ia dibahas sebagai sebuah sejarah, bukan lagi sesuatu yang masih hidup. Mengapa demikian?
Aturan ini mulai dibuat mungkin di akhir perang Makassar sekitaran 1670-an dan mulai populer sejak Amanna Gappa menjadi matoa pada tahun 1697-1723. Namun ia harus menyusul lenyap sebagaimana pranata pendukungnya, negeri Wajo di Makassar, yang telah raib tak lama sebelumnya. Kini, ia hanya bisa dikenali samar-samar, bahkan disalahpahami sebagai Amanna Gappa—pemimpin komunitas Wajo yang mempopulerkannya.
Lantas apakah yang meredupkan negeri kecil ini?
Komunitas ini surut karena banyak penduduknya yang pindah ke kampung lain. Meski kampung Wajo di Makassar masih ada secara geografis, namun komunitasnya yang independen dan punya aturan sendiri telah lama hilang. Menurut naskah itu, orang Wajo mulai meninggalkan kampung itu ketika, cucu matoa Wajo mulai bertindak sewenang-wenang, dan tindakan Raja Bone, Muhammad Ismail, membatasi gerak dagang dan mempekerjapaksakan mereka karena keinginannya meminjam uang ditolak komunitas itu.
Akhirnya, sebagaimana kerap kita baca dari buku sejarah, adalah penguasa zalim, baik dari luar maupun dari dalam, yang menyudahi sebuah negeri kecil yang independen dan intelek ini, sekaligus mengakhiri kontinuitas penumpukan pengetahuan orisinil yang praktis dan berpengaruh. (p!)
*Citizen reporter Nurhady Sirimorok dapat dihubungi melalui email nurhadys@gmail.com
|
| | Jumlah
Komentar (20) |
|
| Komentar :
07-04-2010 Dari : muhith | muhith_nur@yahoo.com saya mendengar nama
Amanna Gappa pertama
kali dari dosen saya
difakultas hukum
unhas, yang pada
saat itu membawakan
mata kuliah 'hukum
laut' (kalau tidak
salah). Dalam
kuliahnya sang dosen
menceritakan sosok
amanna gappa,
sebagai peletak
dasar hukum laut
pada masanya...dan
hukum/aturan yang
dibuatnya dikemudian
hari, mendasari atau
menjadi rujukan bagi
hukum
laut/perdagangan di
benua lain (eropa).
benar tidaknya saya
tidak terlalu paham.
akan tetapi sosok
Amanna Gappa sampai
saat ini masih
dikenang di FH
Unhas, sebagai nama
Jurnal Ilmiah Amanna
Gappa. Mungkin masih
terbit sampai saat
ini.
09-05-2009 Dari : sJEwXJoXqcyEIiFvE | drxwki@dnznpt.com tPCS3O
wwplcspmhpkh,
[url=http://euygqdvt
xiew.com/]euygqdvtxi
ew[/url],
[link=http://yezcvpq
ucroj.com/]yezcvpquc
roj[/link],
http://osnvarvfzegb.
com/ 28-10-2008 Dari : syukri_b@yahoo.com | 120571 Saya tidak terlalu
tahu detil-detil
waktu masa
lalu,karena tempo
dulu bagi orang
bugis/makasaar belum
terlalu mengenal
sistem penanggalan
waktu seperti
sekarang.misalnya
penaggalan masehi
atau hijriyah.yang
saya tahu kerajaan
yang pernah berkuasa
di sulawesi-selatan
berturut-turut;keraj
aan Siang di Pangkep
yang pernah
menguasai Pantai
barat
Sulawesi-selatan dan
Kerajaan Luwu di
Pantai timur.Siang
di gantikan oleh
Persekutuan
Gowa(makassar)/Tallo
(makassar bugis)
Sedangkan Luwwu di
gantikan oleh
Persekutuan
Bone,Soppeng dan
Wajo( Tellu
botccoe).Sebagaimana
Antara Kerajaan
Siang dan Luwu Yang
sering memperebutkan
perluawasan
kekuasaan,Hal yang
sama juga di alami
oleh Kerajaan
Gowa/Tallo dengan
Bone,Soppeng dan
wajo.Tetapi ketika
Latobala arung
Tanete menjadi raja
di Bone,saat itulah
arung matoa Wajo
mulai berkoalisi
dengan
makassar.perkoalisia
n ini sampai pada
pertalian darah dan
perkawinan.Mulai
saat itulah orang
wajo di beri tempat
khusus oleh raja
makassar hingga
perlawanan Latatta
Andi patunru ( arung
ri palakka ).Pesan
yang hendak saya
sampaikan pada
tulisan ini adalah:
1.Sebagai orang
bugis/makassar kita
semua pernah
memiliki
sejarah,nenek moyang
yang hebat dan
memang pantas untuk
di banggakan.hanya
saja kejayaan suatu
kaum itu memang
saling berganti
sehingga kebanggaan
yang kita miliki
jangan sampai pada
tingkat melecehkan
sesama saudara
maupun orang lain.
2.Pada saat ini kita
semua orang
bugis/makassar
mengalami masa surut
yang
berkepanjangan.meman
g banyak orang
bugis/makassar yang
sukses sebagai
pengusaha,tetapi
lebih banyak lagi
orang/bugis makassar
yang sudah hilang
kehormatan dan harga
dirinya demi sesuap
nasi.Yang jago
menerkam yang
lemah-yang pintar
membodohi yang
memang sudah
bodoh-yang kaya
malah menghisap yang
miskin.Kalau mau
berubah hentikan
itu!"cari rejeki
halal yang berkah
dengan
tangan,kaki,ilmu dan
iman.Insya Allah
akan berkah dan
nikmat.( naiaya
ritellae burane
tongeng-tongeng,tani
a abbatireng,tania
mana',tania to
passigajang.naiya
burane
tongeng-tongengnge
iyanaritu
paccolliengngi aju
matewe).yang di
katakan lelaki
(satria) bukanlah
turunan,bukan pula
warisan dan bukan
pula jago baku
tikam,akan tetapi
yang di katakan
lelaki (satria)
adalah yang mampu
kembangkan pucuk
pohon kayu
mati.Selleng
Uddanikku ri tanah
ogi,salama'ki to
pada salama ri
allabuangetta
aamiin. 07-10-2008 Dari : joe | joepwk_uh@yahoo.co.id sy br tau klo orang
wajo dulu pernah
berjaya di
makassar..
skrng bagaimana
mi????
jangankan berjaya di
negeri orang, di
tanah sendiri tak
berdaya...
maradeka towajoe
ade'na na popuang. 21-08-2008 Dari : Cullang | betul itu Nhie.
sudah goblok pede
lagi 21-08-2008 Dari : Anhie | hm, para matoa yang
hidupnya di
abad-abad XVII itu
rupanya jauh lebih
punya ethos modernis
ketimbang
pemimpin-pemimpin
kita sekarang.
mereka merawat
kontinuitas,
sementara
pemimpin-pemimpin
kita sekarang?
mereka membangun
sesukanya. sudah
itu, main gusur
lagi. mereka kira
banyak mall, jalan
raya lebar, atau
banyak gedung,
berarti sudah
modern. modern
apanya, goblok?
perilaku mereka
lebih mirip kelakuan
juragan-juragan
pribumi jaman
kolonial: matanya
selalu
berbinar-binar klo
meliat barang-barang
baru didatangkan
dari Eropa.
kampungan betul.
hidup golput! tidak
satupun di antara
mereka itu yang
pantas dipilih. 16-07-2008 Dari : Budi | crd_art@yahoo.com Melo Mopa Bacai na
Cappuni.
Tamba-tambaipi
carita sejarata
tentang wajo. Supaya
irissengngi budayata
idi to wajoe. Aja
napada makkakkue,
padai naseng Pak
DAhlan Maulana,
Ibarat Paggolo'.
Macca maneng towajoe
tapi pada melo
manengngi mappattama
golo. Mammagi-magi
towajoe nasseddi
paimeng mancaji
conto. 12-07-2008 Dari : R. Zainuddin | rzain@yahoo.com Apa tidak ada
hubungan antara
orang Wajo yang
memihak Gowa,
sehingga ketika
Hasanuddin kalah
penduduk kampung
Wajo meninggalkan
kampungnya untuk
menghindari balas
dendam orang Bone
dan sekutunya. 28-06-2008 Dari : Muh. Nur Taqwim Yunus | taqwim@yahoo.co.id Apapun alasannya,
kita perlu kembali
menghidupkan dan
kalau bisa
menginternalisasikan
nilai2 luhur (nilai2
kemasyarakatan dan
nilai2
kemanusiaan)yg
dititipkan pendahulu
kita di dalam jiwa
raga ini. Jujur
saja, bahwa petuah
yang dibuat leluhur
kita itu merupakan
hasil kontemplasi yg
mendalam dan sudah
sulit untuk kita
ciptakan. Saran
saya adalah, tulisan
tersebut
menginspirasikan
agar kita mau
mengajarkan nilai
luhur tsb minimal
kepada generasi
kita. 19-05-2008 Dari : idho | mursid_aida@yahoo.co yang menggugah saya
ialah, dimanakah
saat ini jejak
sejarah itu. apakah
hilang bersama
kemasabodohan kita? 04-04-2008 Dari : Ikranagara | ikra_twin@yahoo.com Saya k,ahir di Desa
Loloan di Kabupaten
Jemberana, Bali, di
wilayah
selatan-Barat. Desa
itu merupakan
desanya orang bugis
dari Wajo sekian
abad yang lalu.
Mereka datang dengan
kapal yang
dilengkapi dengan
meriam dan peralatan
perang. Mereka
adalah bagian dari
para perpmpak Bugis
di zaman perlawanan
menentang VOC,
karena itulah mereka
dikenal sebagai
momok yang
menakutkan, dan
orang Bewlanda
menyebut mereka ini
adalah the
Boegyman.
Pemimpin mereka
dikenal dengan nama
legendaris Daeng
Nakhoda yang
beragama islam, dan
berdamai dengan Raja
Kerajaan Jemberana
yang beragama Hindu.
Mereka bahu membahu
dalam menangkis
serangan dari
kerajaan lainnya,
misalnya dari
Kerajaan Buleleng
yang wilayahnya di
sebelah utara.
Dan menurut catatan
sejarawan I Wayan
Reken, masyarakat
Bugis itu berasal
dari Wajo.
18-02-2008 Dari : Nuntung | daeng.nuntung@gmail.com Uq, apakah itu
berarti tidak ada
lagi kerjaan GOWA?
apakah mereka
kehilangan pengaruh?
Saya kira tidak ! 22-01-2008 Dari : uq | uqhymks@yahoo.com sedikit komenntar
atas komentar daeng
gajang. sepertinya
ada sedikit
kesalahpahaman. masa
amanna gappa
sebagaimana dalam
tulisan ini adalah
masa setelah
keemasan gowa-tallo.
masa amanna gappa
adalah masa Belanda
berusaha menguasai
seluruh wilayah
sulawesi. dalam masa
ini kekuasaan di
makassar ada di
tangan koalisi bone
dan belanda. dimana
Belanda tidaklah
secara penuh
menguasai makassar.
makanya
komunitas-komunitas
etnik yg ada di
makassar
mengembangkan pola
aturannya sendiri
dengan koordinasi
dari penguasa bone
dan belanda. Belanda
tidaklah berkuasa
penuh atas seluruh
Makassar. Belanda
berkuasa penuh nanti
pada tahun 1905
setelah Belanda
benar-benar
menguasai Bone.
persitiwa ini
dikenal dengan
peristiwa Rumpa'na
Bone. jadi masa
antara 1669
(jatuhnya benteng
somba opu) hingga
1905 saya kira bukan
masa penjajahan
apalagi masa
gowa-tallo.
Masa 1905 dst adalah
masa penjajahan
Belanda Kemudian
Jepang dst. sy kira
kita baru benar2
bebas setelah 1998. 13-12-2007 Dari : Daeng Gajang | syamsusalewangan@yahoo.com Tulisan ini
membuktikan bahwa
betapa damainya
kehidupan di
Makassar ketika
Kerajaan Gowa Tallo
masih mengontrol
jalannya
pemerintahan. Setiap
suku bangsa yang
datang ke Makassar
diberi kesempatan
yang sama tanpa ada
diskriminasi.
Makanya ada Kampung
Wajo, Paccinang,
Kampung Malayu,
Sambung Jawa, Butung
(Buton), Kampung
Arab, dll. Alangkah
sempurnanya tulisan
ini jika ditelusuri
lagi tahun - tahun
penting sebelum
Amanagappa diangkat
menjadi kepala
pedagang ketika
beliau masih
menuntut ilmu di
lingkungan kaum
intelektual Kerajaan
Gowa. 11-12-2007 Dari : Ipul | ipul.ji@gmail.com saya setuju sama pak
Kapiti-piti yang
sama sekali tidak
kapiti-piti...
bung Dandy mungkin
bisa merangkum
berbagai catatan
sejarah yang sudah
dia bikin kedalam
satu buku...
(ato suda mi kah..?) 11-12-2007 Dari : kapitipiti | kapitipitie@yahoo.co.jp Pak Dandy, saya
yakin banyak yg
tunggu penerbitan
buku terjemahan
naskah-naskah
sejarahta'. Enak
dibaca dan sangat
perlu dalam
mengetahui akar
budaya kita. 10-12-2007 Dari : | Yang saya maknai
dari tulisan ini
adalah pentingnya
"INDEPENDENSI" pak
Dandi menyentak
ruang bawah sadar
kita bahwa; "SEBAGAI
BANGSA-KITA pernah
mempunyai SIKAP".
"Karakter Wajo"
adalah sebuah sistem
nilai, sebagai
sistem sosial (bukan
geography)yang bisa
dikembangkan untuk
melengkapi sisi
kebangsaan kita yg
compang. Perlu kita
menjalarkan prinsip,
sikap, rasa percaya
diri dengan niat
sebuah sistem sosial
yang
bermartabat......Aih
, menurut saya,
disitumi
sesungguhnya sisi
manusiawita. Sebuah
apresiasi layak
diberikan ke penulis
yang menyentil
pentingnya
kebersamaan sebagai
bangsa (nation)!
Bravo!
10-12-2007 Dari : arifuddin patunru | patunru_240647@yahoo.co.id Yang dimaksud
"negeri wajo" di
makassar, apakah
yang sekarang ini
kita kenal dengan
"Kampung Wajo" atau
Kecamatan Wajo, yang
perbatasannya
setelah perempatan
Jl.Seram dan
Jl.Irian, ke utara
hingga Jl.Tarakan?
Jabatan "matoa"
apakah setingkat
dengan camat ataukah
bupati? Di paragraf
11 sampai habis,
dapat diartikan
bahwa pada zaman itu
sistem perekonomian
masih di bawah
kontrol pemerintah
atau belum
diserahkan pada
mekanisme pasar.
Yang menarik adalah
loncatan jauh
pemikiran Amanna
Gappa yang sudah
menerapkan konsep C
& F (cost and
freight) FOB (free
on board), loko
pelabuhan etc. dalam
lalu-lintas arus
barang dan jasa. 10-12-2007 Dari : Sultan Habnoer | sultan@yps-srk.sch.id Betul nabilang
ustadz Mus, macca
metto Dandy. Rasanya
mengalir bak air ini
tulisan.
Tetapi, tidak
tercantum ki alamat
emailnya alena
beliau, sepertinya
terputus ki sedikit
naskah ini. 10-12-2007 Dari : Mustamin Al-Mandary | Haruski' mengaku,
macca mentong Dandy
meracik tulisan2
sejarah. Saya butuh
orang yang seperti
Dandy ini. Ini bukan
pujian. Sebagai
penikmat buku2
sejarah, saya sangat
menyukai cara Dandy
merangkai dan
membentuk alur
cerita sehingga
membaca sejarah yang
ditulisnya laiknya
membaca cerita
fiksi, padahal itu
kisah sejarah.
Tojenga'. |
|
|
|
|
| ::
CITIZEN REPORTER |
 | (Kamis, 12-07-2007) |  | (Minggu, 29-04-2007) |  | (Selasa, 31-10-2006) |  | (Rabu, 11-10-2006) |  | (Rabu, 16-08-2006) | |
|
Untitled Document
| ::
DUNIA SEGIEMPAT KAREBOSI |
|
Untitled Document
| ::
KONTAK TIM PANYINGKUL! |
Email Redaksi :
redaksi@panyingkul.com
Tim:
yus@panyingkul.com
+62 813 226 80844
Moch. Hasymi
+62 811 955 954
|
|
|