|
|
| . |
| ::
|
| Jumat, 28-09-2007 | Analisa M'Tos, Si Centil di Kawasan Pendidikan :: Winarni ::
| Pengunjung memadati M`tos di hari pertama soft-opening. Foto: Syaifullah.
Citizen reporter Winarni, mahasiswa Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar yang menekuni bidang perencana wilayah kota menuliskan analisanya menyambut pembukaan Makassar Town Square atau M`Tos. Alih-alih merasa bangga, ia justru mengaku sedih dan malu. (p!) | Ada rasa malu luar biasa yang berkelebat di hati saya, di kala sebuah mal baru begitu riang membuka diri. Makassar Town Square yang lebih keren di sebut M’Tos telah dibuka untuk umum sejak tanggal 26 September. Bagi saya, seorang mahasiswa yang mendalami perencana wilayah kota, pembukaan mal baru ini merupakan pukulan yang amat dahsyat.
Wacana mengenai mal ini terus menggema di sudut kota, bukan hanya karena kemegahan bangunan dan lokasinya, tetapi juga implikasi yang ditimbulkannya. Macet sepanjang hari adalah salah satu di antaranya.
Pembangunan mal ini memang sangat fenomenal. Dilihat dari sudut pembagian wilayah dan fungsi kota, tentu mal ini telah menyalahi aturan. Lokasi Tamalanrea dalam pembagian tersebut diperuntukkan sebagai wilayah pendidikan (perguruan tinggi) dan pemukiman. Pangsa pasar yang ingin didekati mal ini tentu jelas, mahasiswa dan civitas perguruan tinggi.
Godaan bagi mahasiswa
Bagi mahasiswa di Tamalanrea, sekarang mereka sudah bisa berkata: “Ada mal di dekat kampus..”. M`Tos memang menggiurkan dengan kehadiran Ramayana, Studi0 21, Cafe Black Canyon, Dunkin Donuts, KFC, dan beberapa gerai lain yang sangat menggoda konsumen kalangan muda. Saya tiba-tiba teringat, bagaimanakah warung internet dan taman baca berbasis komunitas yang cukup banyak tersebar di Tamalanrea akan bersaing dengan M`tos. Apakah mahasiswa lebih banyak tersedot ke mal, yang jaraknya hanya sepelemparan batu dari kampus? Pola hidup hedonis dan konsumtif akan makin gencar menyerang saraf otak mahasiswa. Ajakan antar mahasiswa, “Yuk, ketemuan di M`tos saja!” akan semakin sering terdengar.
Dilihat dari sudut pandang ekonomi, lokasi mal ini memang sangat strategis. Pembangunannya di Jalan Perintis Kemerdekaan menargetkan konsumen yang berada di timur kota Makassar. Apalagi sebagian besar daerah timur adalah pemukiman, maka jumlah penduduk yang akan digaet tentu sangat banyak.
Pada soft opening hari pertama, ratusan orang berjejal luar biasa. Sejak pagi hingga malam, ribuan orang memenuhi mal tersebut. Memang begitulah, tempat baru selalu mengundang rasa penasaran.
Beberapa masalah
Dari analisa transportasi, M’tos sebenarnya menimbulkan masalah. Letaknya yang berdekatan dengan Alfa Toko Gudang Rabat dan Harapan Baru Departement Store, menciptakan titik kemacetan di Jalan Perintis Kemerdekaan, yang menjadi poros utama akses ke dalam dan ke luar kota. Pengguna jalan akan memperlambat laju kendaraan dan volume kendaraan di titik tersebut akan meningkat. Hal ini diperparah dengan adanya pengalihan fungsi jalan di depan mal menjadi lahan parkir yang dapat memperkecil lebar jalan. Ironisnya, jalur pedestrian tak ditemukan di depan mal ini. Kalau begini keadaannya, ke mana gerangan pertimbangan kemanusiaan pembangunan mal terkeren yang tak berpihak pada pejalan?
Untuk masalah lingkungan, mal ini terletak di sempadan sungai yang seharusnya menjadi daerah resapan air. Bukan rahasia lagi, daerah Tamalanrea kerap menjadi langganan banjir di musim hujan. Hal ini di sebabkan menjamurnya rumah toko (ruko) di sempadan sungai yang seharusnya menjadi daerah resapan. Akibatnya, air hujan tidak lagi terserap ke dalam tanah tetapi mengalir ke sungai sehingga menyebabkan naiknya volume air sungai.
Kita sama-sama menyaksikan, kesalahan pembangunan di Kota Makassar yang tidak memperhatikan aspek lingkungan, terulang lagi.
Sebagai seorang mahasiswa perencana kota yang menekuni begitu banyak teori tata kota yang manusiawi dan ramah lingkungan, saya justru bersedih di hari pembukaan M`tos. Mengapa begitu banyak pengambil kebijakan dan pemilik modal yang seakan buta dan bisu melihat fenomena kerancuan tata ruang kota ini? Seakan ini adalah hal yang wajar dan pantas di terima. Hati saya menangis. Di hari pembukaan M`tos, saya adalah mahasiswa perencanaan kota yang telah kehilangan taring. Tak berdaya. (p!)
*Citizen reporter Winarni dapat dihubungi melalui email winarni@panyingkul.com
|
| | Jumlah
Komentar (22) |
|
| Komentar :
21-12-2007 Dari : cora-arsitektur UH_01 | egilarchie_01@yahoo.com kase' cepat selesai
kuliahmu semua...
baru gusur smua itu
mall.. ok! 05-12-2007 Dari : fitorydesu | uduh turyt prihatin
deh kota
makassar..kota
makassar khan
kecil..jadi tak muat
untuk mall yang
banyak,,sekarang nih
kita bingung
dimanasih sebenarnya
kawasan perdagangan,
kawasan pendidikan,
kawasan wisata
sauanya campur
aduk..capek deh di
tambah lagi polusi
yang merajalela 13-11-2007 Dari : cakepalam | cakepalam@gmail.com jangan meki protes
terus tentang
m`tos,, bayangkanmi
saja berapa banyak
tenaga kerja di
pakai artinya itukan
mengurangi lagi
jumlah pengangguran,
yang lain mungkin
enak2 saja protes
karena banyak
uangjie tp kaya2
saya kodonG ?
darimanaka ngocci
doe' ? jadi kita
harus mendukung
pembangunan yang
pentingkhan tidak
nagusurjie rumahnu
....wkwkwkwkwwkwkwkw
k 06-11-2007 Dari : athar | athar_mks@yahoo.com sekarang mall itu
telah berdiri dan
tidak bisa dibongkar
lagi. karena
terletak di wilayah
untuk pendidikan
alangkah baiknya
dalam mall tersebut
dilengkapi fasilitas
yang ada hubungannya
dngan pendidikan,
misalnya cafe baca
yang dilengkapi
dengan buku2 yang
lebih lengkap dari
tempat2 baca yang
sudah ada di wilayah
tamalan rea. atau
fasilitas lainnya
yang ada hubungannya
dengan fungsi
tataruang wilayah
tamalanrea 01-10-2007 Dari : wal_blue | awal_mbojo@yahoo.com Kalau Lombok digelar
dengan kota seribu
mesjid, kemudian
Aceh dengan Serambi
Mekkah, lantas apa
yang pantas kita
sandingkan dengan
Kota Makassar yang
kita cintai ini???
pastinya hampir
semua comment yang
saya baca untuk
tulisan ini bernada
"sinis" Artinya
jawaban atas
pertanyaan saya
sudah bisa
ditebak,...!!! Entah
dimana,..saya pernah
mendengar bahwa
Makassar dijuluki
sebagai "Kota Mall"
nah kalo dilihat dr
pembangunan mall
hari ini, mungkin
sangat wajar kalo
kita memberi gelar
seperti itu,..kala
saya tidak salah
hitung, ada 8
(delapan) Mall yang
sudah tersebar di
kota
makassar,..lantas
bagaimana penyikapan
kita lebih
lanjut???...
30-09-2007 Dari : Daeng Gajang | syamsusalewangan@yahoo.com Kekuatan kapitalisme
memang telah menjadi
monster yang nyata -
nyata meruntuhkan
sebuah idealisme.
Bayangkan Yogya saja
yang nota bene kota
pendidikan dan
budaya tidak berdaya
menghalau arus
kapital yang masuk
dalam bentuk mall
apalagi Kota
Makassar yang memang
penguasanya adalah
para saudagar dari
negeri penyamun. 30-09-2007 Dari : takha | duhhh..turut
prihatin juga dengan
pembangunan makassar
yang makin gak
jelas, seperti gak
ada master
plan-nya.
dulu pun waktu awal
pembangunan Ramayana
Pettarani, sempat
juga terkaget2
karena setahu saya
kawasan ini
peruntukannya untuk
perkantoran, tapi
kemudian disusul
dengan pembangunan
kawasan ruko yang
terkesan jor2an
karena sampai hari
ini belum tentu
semuanya laku, belum
lagi pembangunan
hotel di ujung
pettarani yang
akhirnya kemudian
berdampak para
pengguna pete2
(apalagi 07) yang
terpaksa harus
berjalan lebih jauh
lagi untuk cari
tumpangan.
Lebih aneh lagi kalo
kemudian kawasan
Perintis juga
(ikut2an) dibanguni
mal. Dulu belum ada
mal saja, baru ada
alfa, kita seakan
sudah akrab dengan
kemacetan, padahal
jalur alternatif
kita cuma lewat tol
kalo perintis
macet.
sepertinya warga
makassar akan makin
akrab dengan
kemacetan, kalo pun
ada sisi baik, itu
hanya dirasakan
segelintir orang,
hanya mahasiswa
hedonis yang akan
diuntungkan karena
tempat kongkow
sembari bolos kuliah
kini hanya perlu 10
menit sudah sampe.
akhhh...makassar
memang kini telah
(dan akan makin)
berubah. 30-09-2007 Dari : avif-seattle | avifx1@yahoo.com Sebenarnya konsultan
tata kotanya
makassar, anak unhas
asli (biar lebih
jelas) namanya
Ramadhan Pomanto
alias Dani Pomanto,
anak arsitek
angk.83(kalo gak
salah) jadi teman2
alumni unhas dan
adik2 yg masih
kuliah di
Tamalanrea,yang
merusak makassar itu
anak unhasji juga,
mulai dari walikota
sampai staf2 nya dan
DPRD nya.....
sama2ji farakang
doi...semuanya mata
duitan...
kasianna
de...kotaku.... 30-09-2007 Dari : avif-seattle |
29-09-2007 Dari : Nia | Saya juga nda bangga
ji dibangun apa
namanya, saya
menyingkatnya dengan
MTS (biasa ikut
dengan mall yag
lain). Makanya waktu
hari pembukaan itu,
lewatja' saja tp
untung nda dapat
macet. Jadi gmn kalo
pengunjung
Panyingkul tidak
usah injak MTS. Saya
hanya bisa berharap
semoga muncul
calon-calon
perencana kota &
pengambil kebijakan
yang manusiawi &
tetap manusiawi
kalau sudah terjun
di lapangan. 28-09-2007 Dari : Anak Tamalanrea | Walikota memang
hebat. Beberapa wkt
lalu saat bicara
soal tata ruang,
panjang lebar dia
katakan bahwa
tamalanrea akan jadi
pusat pendidikan
(tapi ada m'tos yg
tak tentu masuk
bagian mana dari
pendidikan),
pettarani jadi pusat
perkantoran (tapi
ada satu hotel
berdiri tanpa jelas
maksdunya), sudirman
jadi pusat bisnis
sampe sekolah mau
digusur, dll. Semua
alasan kemacetan
dibantahnya dan
selalu punya kilah.
Soal Amdal, itu
bagian perguruan
tinggi yg biasa kasi
laporan independen.
Nah, soal M'tos ini,
kayaknya ada
perguruan tinggi yg
selau percaya mitos
dan akhirnya lebih
memilih menyetujui
pembangunan mall di
tamalanrea daripada
perbaikan saluran
air dan pelebaran
daerah resapan air.
Atau masyarakat kita
yang suka mitos jadi
sebab terbangunnya
m'tos? Pak walikota
seharusnya bisa
menjelaskan mitos
ini. 28-09-2007 Dari : Andy | Kasian juga liat
Makassar jadi
semrawut, apalagi
dengan adanya M'Tos.
Melihat lokasi M'Tos
dekat dengan pusat
pendidikan,
memperlihatkan bahwa
pengambil keputusan
dan wakil rakyat
kota ini tidak
pernah memperhatikan
masalah pendidikan.
Beginilah kalo yang
diutamakan cari duit
melulu, AMDAL jadi
degradasi terus.
Kalo mau jujur, Kota
Malang atau
Balikpapan yg hampir
sama gedenya dengan
Makassar masih jauh
lebih rapi. Wakil
Presiden kita yang
dari SULSEL, apakah
Mks akan penuh
dengan Mall? Apakah
tempat belajar juga
nantinya harus
digusur kalo tanah
buat bangun Mall
abis? 28-09-2007 Dari : Ipul | Ipulji@yahoo.com untuk kapiti-piti
yang tidak
piti2..hehehe,
konsultan tata
kotanya Makassar
alias org yg paling
dipercaya p'Aco dlm
urusan tata kota
sayangnya bukan ahli
tata kota
betulan....tanyak
maki...banyakji itu
org yg tauki... 28-09-2007 Dari : Kapitipiti | kapitipitie@yahoo.co.jp Untuk penulis: tidak
adakah seniorta yg
kita kenal kerja di
kotamadya ? Atau
siapa yg kerja
menjadi perencana
kota ? Bagus disebut
namanya,
setidak-tidaknya
jadi teguran moral
untuk tidak
mengulangi kesalahan
yg sama. Saya yakin
orang-orang tersebut
tentu masih punya
hati , tidak mau
menjadikan Makassar
menjadi hutan mal
dan membuat
masyarakat menjadi
masyarakat konsumtif
. 28-09-2007 Dari : fikri | deeeh...apanya
kweren ni
mall???jelle'nyaji!!
!!hari 1 saya ma
tmnQ ke sana skdar
lyat2jie!!!!!sudah
sempit,kecil,
jelle'...pokonya
koddala'ji
dech,....banyaknya
tong ituw kodonk
wong deso yg
datang,n mungkin krn
kecapean tunggui
mall ampe buka
(skalianmi buka
pintu bareng2
satpam,hihihi...)
ada tommi yg sampe
duduk2 di pntu
masuk,di bwh
tangga,n mmmm.....di
mn lg di? pokoke
tersebar ke seluruh
penjuru matos (apa
coba),yaaa...makluml
ah katro'-katro'
dulu di hari
pertama. pokoknya
nyeseLL dech ke sono
noh!!!!! 28-09-2007 Dari : Choel | choel@mallarangeng.com Selintas senang juga
melihat perkembangan
kota makassar, tapi
sebenarnya yg jauh
lebih saya rindukan
adalah kehadiran
"Public Library
Makassar" yg besar
dan megah ditengah
kota dipenuhi dgn
ribuan buku2 kelas
dunia, latest
jurnal, tempat study
anak muda kita agar
bisa duduk sejajar
dgn bangsa manapun
didunia ini..
delivering equal
opportunity to win
the future! and
FREE. What a dream.. 28-09-2007 Dari : I Noentoeng | Mall mall mall,
sanging paka
mall(a), kenapaka
kasiang ndak di
Sungguminasa saja di
bangun? atau di
Marusu? Biar bisa
mnegurangi alur
deras pabalanja dari
segenap penjuru?
Supaya ndak macetmi
Urip na Alauddin?
Supaya mahasiswa
semakin on time kalo
pigi kuliah? supaya
ndak bolosmi pi
kuliah....(mentong
malas
kapang!!!!????? hihi
kiddingji) 28-09-2007 Dari : Ipul | Ipulji@yahoo.com Inart...tulisanmu
bikin sedih cess, sy
membayangkan
bagaimana kacaunya
kota kita di masa
depan. padahal kan
seharusnya Makassar
masih lebih gampang
diatur daripada
kota2 kayak Jakarta
n Surabaya yg lebih
kompleks. tapi ya
itu, sayang sekali
tidak ada antusiasme
dari kaum pemegang
kekuasaan untuk
mengarahkan kota ke
tingkat yang lebih
manusiawi....salam
buat Inart, tetap
berkarya cess... 28-09-2007 Dari : Mus | Winarni,
pertanyaanmu yang
terakhir benar-benar
menusuk. Tapi
pemerintah berdarah
ndak ya? Siapa tahu
tusukannya Winarni
ndak ngaruh karena
pemerintahnya
ka'bala'
kayak bissu? 28-09-2007 Dari : syamsoe | toyotague apa ikon baru yg
ditawarkan dari
m'toz? apa adami
fasilitas
iceskating.. ato
hotspot? kan area
pendidikan yach?..
makassarku kodong,
tambah ramai mi dgn
mall.. 28-09-2007 Dari : rusle' | muhruslee@gmail.com apa rencana
berikutnya pak Wali
ya? sedih juga baca
ulasan inar. 28-09-2007 Dari : idda | isdarmks@yahoo.com Jangan heran tentang
tata kota makassar,
dari aspek
lingkungan dll.
Soalnya Pak wali
sekarang kelihatan
kejar setoran untuk
pilkada tahun depan.
coba lihat di Jl
Ratulangi yang
peruntukan perumahan
malah ada Pom Bensin
akan mau didirikan.
jadi intinya pak
wali dan kelompoknya
pasti kejar setoran
tanpa melihat aspek
lain. Untuk itu mata
kita sudah melihat
lebar-lebar, hati
kita semoga tidak
buta untuk memilih
walikota berikutnya
mari kita pilah yang
lebih baik untuk
makassar nanti, dan
seterusnya. jangan
pilih de.... |
|
|
|
|
| ::
CITIZEN REPORTER |
 | (Kamis, 12-07-2007) |  | (Minggu, 29-04-2007) |  | (Selasa, 31-10-2006) |  | (Rabu, 11-10-2006) |  | (Rabu, 16-08-2006) | |
|
Untitled Document
| ::
DUNIA SEGIEMPAT KAREBOSI |
|
Untitled Document
| ::
KONTAK TIM PANYINGKUL! |
Email:
redaksi@panyingkul.com
Makassar:
Nilam Indahsari +62 81 241 229 089
M. Aan Mansyur +62 411-586459
Jakarta
Moch. Hasymi +62 811 955 954
|
|
|