Untitled Document
 


Untitled Document
.KITAKITA
:: Jika Anda di Panyingkul ::
 
 KABAR KITA
 
 BERANDAKITA
Kegilaan, Dari Cinta Mati di Pulau Rajuni Hingga Riwayat Kadang
:: Ivan Firdaus ::
Baba Guru, Mengenang Film Rhoma Irama di Klenteng Galesong
:: Kamaruddin Azis ::
Mengagumi Tenun Troso, Mengenang Tenun Sengkang
:: Suryadin Laoddang ::
Perempuan Besi di Gunung Perak (2-selesai)
:: M. Aan Mansyur ::
Perempuan Besi di Gunung Perak (1)
:: M. Aan Mansyur ::
 
 RISETKITA
Rasa Takut : Yang Dicitrakan, Yang Dipelihara
:: Aria W. Yudhistira ::
Risetkita: Pramoedya versus Sejarah Resmi
:: Nurhady Sirimorok ::
Hikayat Rumpon Nelayan Mandar
:: Muhammad Ridwan Alimuddin ::
Di Makassar Pernah Ada “Negeri Wajo”
:: Nurhady Sirimorok ::
Surat Itu Ditulis Upas kepada September
:: Nurhady Sirimorok ::
 
 BUKUKITA
 
 KATAKOTAKITA
Kenapa si Gondrong yang Maju?
:: Ivan Firdaus dan Mustamin al-Mandary ::
Karena ‘Rewa’ Badan Binasa
:: Sudirman Nasir ::
Yang Okkot, yang Salah Sambung
:: Nursamsu danTusiana Noor Alfisyahr ::
Kandala`ka`, Kusta Bila Dusta
:: Panyingkul ::
Ayo, Si(ng)kat Terussss..!
:: Panyingkul! ::

 
 TAHUKAHKITA
 

.
 ::
Senin, 20-08-2007 
Merayakan Kemerdekaan di Puncak Bawakaraeng
:: Winarni ::


Mengibarkan merah putih di puncak Bawakaraeng.
Foto: Winarni.


Citizen Reporter Winarni memilih merayakan HUT Proklamasi RI ke-62 di puncak gunung Bawakaraeng. Hal yang sama juga dilakukan ratusan pendaki yang tergabung dalam berbagai kelompok pencinta alam. Rasa persaudaraan dan semangat menaklukkan jalan terjal menuju puncak adalah cara untuk menghayati makna perjuangan mencapai kemerdekaan. Berikut catatan perjalanannya. (p!)
 
Tiap komunitas memiliki cara sendiri memperingati hari kemerdekaan RI. Bagi para kelompok pecinta alam, mendaki gunung adalah pilihan yang laing tepat. Mereka memiliki cara tersendiri untuk memperingati tanggal 17 Agustus setiap tahunnya, yakni dengan mengibarkan bendera di puncak gunung. Lokasi paling favorit untuk melaksanakan upacara bendera bagi pendaki di Makassar dna sekitarnya adalah Gunung Bawakaraeng.

Secara administrasi Gunung Bawakaraeng terletak di Kabupaten Gowa dan secara geografis terletak di antara 119o 56’ 40” BT dan 05o19’01” LS. Untuk mencapai puncak Gunung Bawakaraeng dapat di tempuh dengan tiga jalur. Jalur pertama dari Lembanna, Kecamatan Tinggimoncong, Kabupaten Gowa. Jalur kedua dari Tassoso, Kecamatan Manipi, Kabupaten Sinjai. Jalur Ketiga dari Lembah Karisma. Untuk jalur terakhir ini biasanya dilalui oleh para pendaki yang sebelumnya telah mencapai puncak Gunung Lompobattang dan meneruskan perjalanannya menuju Gunung Bawakaraeng. Puncak Bawakaraeng yang datar dan luas menjadikan lokasi ini tempat favorit para pecinta alam untuk melaksanakan upacara bendera.

Sejak Kamis pagi (16/8), satu per satu tenda mulai terpancang di pos 10. Tenda dengan berbagai ukuran dan kondisi, milik para pendaki terus memenuhi tempat dengan ketinggian 2.836 meter tersebut. Kabut yang terus menebal tidak menghalangi niat mereka. Hingga malam mengganti hari, kelompok pecinta alam masih terus berdatangan.


Tenda-tenda mulai ramai sejak Kamis (16/8) pagi.
Foto: Winarni.



Suasana riuh kerap terdengar. Orang-orang saling menyapa dan berkunjung ke tenda satu sama lainnya. Mereka bertukar makanan dan berbagi cerita. Bahkan, meskipun tak begitu mengenal, senyum tetap saja tersungging antara satu pendaki dan pendaki lainnya. Memang demikianlah suasana di atas gunung, akrab dan bersahabat. Ini bukan kota yang kental dengan sikap individualis masyarakat. Inilah kehidupan di atas gunung, di mana setiap orang merasa bersaudara satu dan lainnya.

Ratusan orang dari berbagai kelompok pecinta alam siap melaksanakan upacara bendera pada keesokan paginya. Peringatan detik-detik proklamasi berlangsung di bawah kabut tebal. Embun pagi pun mulai turun membasahi, tetapi semua pendaki bertahan untuk mengikuti upacara, menanti sang merah putih berkibar.


Berkumpul di “lapangan upacara” ditemani kabut tebal.
Foto: Winarni.




Persiapan pasukan pengibar bendera.
Foto: Winarni.



Tiga pengibar bendera siap mengibarkan bendera pada satu-satunya tiang yang sengaja didirikan sejak tahun lalu. Salah seorang pendaki yang ditunjuk menjadi pemimpin upacara memberi komando untuk melaksanakan penghormatan dan secara bersama-sama lagu Indonesia Raya dikumandangkan. Meski tidak dengan tempo yang sama, lagu kebangsaan Indonesia itu terdengar penuh semangat dan tentu saja menggetarkan, menelusup masuk ke sanubari dan menggema ke lereng gunung dan hutan. Saat sang merah putih itu mencapai ujung tiang, kata “Merdeka” pun terdengar bergema berulang-ulang diiringi kepalan tangan yang diangkat ke udara.

Upacara dilanjutkan dengan pembacaan pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, Pancasila, Teks Proklamasi dan Kode Etik Pecinta Alam yang kadang di sambut dengan ocehan-ocehan lucu dari peserta upacara. Lagu Hening Cipta kembali dinyanyikan bersama-sama, masih dengan tempo yang kacau. Dan akhirnya dilakukan pembacaan doa untuk menutup rangkaian upacara ini.

Butuh perjuangan untuk mencapai kemerdekaan, butuh perjuangan untuk mengibarkan sang merah putih di ujung tiang tertinggi. Lupakan rasa lelah, punahkan rasa takut. Meski pelaksanaan upacara di puncak Gunung Bawakaraeng tidak seresmi upacara seperti biasanya, namun bagi para pendaki, upacara ini sangat berkesan dan menumbuhkan semangat perjuangan. Ya, para pendaki belajar tentang makna perjuangan dan semangat untuk bisa mencapai puncak, demi menyaksikan sang merah putih berkibar di tiang tertinggi. Merdeka! (p!)

*Citizen reporter Winarni dapat dihubungi melalui email winarni@panyingkul.com

| Beri Komentar| Jumlah Komentar (10) |

Komentar :

29-07-2008
Dari : JOMPO | WWW.D_JOMPS@YAHOO.CO.ID
WEEE...Kren tawwa!!! TAhun Ini KIta KIbarkan Lagi MErah Putih Di bawakaraeng

03-06-2008
Dari : eKha anak wpLh-wosil | ekax_ryri@yahoo.com
boleh minta foto-2x ngak waktu di gunung bawakaraeng waktu kibar merah putih 2007. kirim ke email Q : ekax_ryri@yahoo.com

21-05-2008
Dari : Gojin | Tendakubandung@yahoo.com
Salam kenal, untuk rental tenda/ tenda dome * alat-alat camping/ berkemah, klik aja www.tendaku.net (022) 2035640 atau www.mrcamp.net (0251) 279 5249. thx

04-11-2007
Dari : andri ramli | andry_m09@yahoo.com
tahun depan boleh ga aku di ajak ngibarin bendera merah putih di puncak....salut ama pencinta alam nasionalismenya masih tinggi....

21-08-2007
Dari : m.rais | r415_09@yahoo.co.id
dri 62 thun yg lalu mrah putih slalu berkibar, tp knapa yaaaaaa rakyatnya msih bgini2 trus, n ssah nnkar uang rupiah d negerinya orang, tak ada sma skli,

20-08-2007
Dari : PEMBOEAT KOPI | LAKIPADADA@JAHOO.TJO.ID
KALAOE TIDAK BISA BERKIBAR DI DOENIA....NANTIPI DI AKHIRAT KITA KIBARKAN BENDERA INDONESIA....

20-08-2007
Dari : halim hd. | halimhade@yahoo.com
boleh, boleh, dahsyaat! fotografi anda! dan kemderkaan itu, betapa penuh makna dan betapa tafsir terhadapnya begitu indah oleh kaum muda. tengkyu, win!

20-08-2007
Dari : Mustamin al-Mandary | mustamin.almandary@gmail.com
Winarni....I love you and your writings...

20-08-2007
Dari : ipul | ipulji@yahoo.com
sama seperti kapiti-piti, saya juga sangat berharap suatu hari nanti bisa melihat bendera merah putih lebih sering berkibar di puncak, melebihi bendera-bendera negara lainnya...bukan cuma di olahraga, tapi juga di bidang-bidang lain..semoga..

20-08-2007
Dari : Kapitipiti | kapitipiti@yahoo.com
Hebat, bisa menyaksikan pengibaran bendera merah putih tertinggi di Sulawesi. Mungkin tdk ada hubungannya tapi mudah-mudahan juga kita akan bisa makin sering menyaksikan bendera merah putih akan berkibar tertinggi dibanding bendera negara-negara lain pada even-even pertandingan olah raga internasional.



 :: CITIZEN REPORTER
Makassar di Panyingkul!: Sebuah Persembahan
(Kamis, 12-07-2007)
Ayo Bergabung di Panyingkul!
(Minggu, 29-04-2007)
Catatan Sederhana Para Citizen Reporter
(Selasa, 31-10-2006)
Tentang Citizen Reporter dan Rubrik di Panyingkul!
(Rabu, 11-10-2006)
Riuh Rendah di Panyingkul!
(Rabu, 16-08-2006)

Untitled Document
 :: DUNIA SEGIEMPAT KAREBOSI






 :: PILKADA




 :: ALBUM PUASA 2008




Untitled Document
 :: KONTAK TIM PANYINGKUL!

Email Redaksi :

redaksi@panyingkul.com

Tim:
yus@panyingkul.com
+62 813 226 80844

Moch. Hasymi
+62 811 955 954


© Juni 2006 - Panyingkul.com All Rights Reserved
Desain Web : Nesia Andriana -- Supported by: Yuhardin