Untitled Document
 


Untitled Document
.KITAKITA
:: Jika Anda di Panyingkul ::
 
 KABAR KITA
 
 BERANDAKITA
Kegilaan, Dari Cinta Mati di Pulau Rajuni Hingga Riwayat Kadang
:: Ivan Firdaus ::
Baba Guru, Mengenang Film Rhoma Irama di Klenteng Galesong
:: Kamaruddin Azis ::
Mengagumi Tenun Troso, Mengenang Tenun Sengkang
:: Suryadin Laoddang ::
Perempuan Besi di Gunung Perak (2-selesai)
:: M. Aan Mansyur ::
Perempuan Besi di Gunung Perak (1)
:: M. Aan Mansyur ::
 
 RISETKITA
Rasa Takut : Yang Dicitrakan, Yang Dipelihara
:: Aria W. Yudhistira ::
Risetkita: Pramoedya versus Sejarah Resmi
:: Nurhady Sirimorok ::
Hikayat Rumpon Nelayan Mandar
:: Muhammad Ridwan Alimuddin ::
Di Makassar Pernah Ada “Negeri Wajo”
:: Nurhady Sirimorok ::
Surat Itu Ditulis Upas kepada September
:: Nurhady Sirimorok ::
 
 BUKUKITA
 
 KATAKOTAKITA
Kenapa si Gondrong yang Maju?
:: Ivan Firdaus dan Mustamin al-Mandary ::
Karena ‘Rewa’ Badan Binasa
:: Sudirman Nasir ::
Yang Okkot, yang Salah Sambung
:: Nursamsu danTusiana Noor Alfisyahr ::
Kandala`ka`, Kusta Bila Dusta
:: Panyingkul ::
Ayo, Si(ng)kat Terussss..!
:: Panyingkul! ::

 
 TAHUKAHKITA
 

.
 ::
Senin, 14-05-2007 
Kuliah Primata Agar Lebih Peduli
:: Panyingkul! ::

Pernahkah Anda mendengar kegiatan bernama Kuliah Primata? Ini bukan salah satu mata kuliah wajib mahasiswa Fakultas Kehutanan, tapi sebuah kegiatan yang bisa diikuti siapa saja, untuk meningkatkan kesadaran akan pelestarian berbagai jenis orangutan dan jenis primata lainnya, serta mengetahui kondisi terkini satwa ini. Panyingkul! ambil bagian dalam menyebarkan kegiatan Kuliah Primata, Obrolan Konservasi dan jaringan kerjanya untuk menyadarkan publik akan pentingnya mencintai alam dan margasatwa. (p!)
 


Taman Margasatwa Ragunan, Jakarta pada akhir bulan April lalu ramai dipenuhi mahasiswa dan pelajar. Hari itu, 28 April 2007 mereka datang secara khusus ke Pusat Pendidikan Primata Schmutzer di kawasan margasatwa itu untuk mengikuti Kuliah Primata. Yang menjadi dosen untuk kuliah hari itu adalah Yossa Istiadi dari Universitas Negeri Jakarta yang membawakan tema sejarah evolusi oranguta dan distribusinya hingga terbentuk spesies orangutan Sumatera (Pongo abelli) dan orangutan Borneo (Pongo pygmaeus).

Penjelasan Yossi memberikan perspektif baru kepada para peserta kuliah bahwa mengenal lebih dekat orangutan membawa kita melihat permasalahan yang sangat kompleks, yang terkait perundang-undangan dan juga kuatnya sindikat perdagangan orangutan baik untuk tingkat lokal, nasional hingga nasional. Para peserta kuliah mendapatkan pemaparan yang gamblang mengenai kondisi hutan tropis Sumatera yang mencatat laju hilang tertinggi di Indonesia, yakni mencapai 2 juta hektar per tahun pada tahun 2000. Dari laju kehilangan hutan ini, dengan mudah ditebak bahwa makin berkurangnya hutan berarti makin berkurangnya juga populasi orangutan.

Rusaknya kondisi hutan bukan satu-satunya penyebab anjloknya populasi. Perdagangan orangutan pun menjadi ancaman yang tak kalah seriusnya. Satu per satu permasalahan yang diungkapkan dengan bahasa yang mudah dicerna dan pemaparan hasil pemantauan di lapangan, membuat Kuliah Primata ini menjadi ajang belajar yang menyenangkan. Sebelum penyelenggaraan kuliah bulan April lalu, Pusat Pendidikan Primata Schmutzer telah mengadakan tiga kuliah umum sejak Oktober 2006. Pada situs resmi www.primata.or.id dijelaskan bahwa kegiatan Kuliah Primata dimaksudkan sebagai kegiatan interaktif yang melibatkan publik secara luas, dan diharapkan masyarakat lebih peduli pada alam dan margasatwa dengan mengetahui berbagai permasalahan yang dihadapi dalam konservasi primata di tanah air.

Untuk kegiatan Kuliah Primata bulan Mei, Pusat Pendidikan Primata Schmutzer mengangkat topik mengenai Populasi, Ancaman dan Konservasi Orangutan Sumatera pada tanggal 19 Mei mendatang. Beberapa masalah penyelamatan populasi oranguta yang ada saat ini yang sempat disinggung dalam perkuliahan bulan April, akan dibahas dalam kuliah bulan ini. Disebutkan bahwa penyelamatan populasi orangutan yang ada saat ini dapat digolongkan menjadi tiga kegiatan, yaitu tranlokasi (pemindahan lokasi orangutan yang berada habitat awal ke tempat baru yang sumber dayanya mencukupi), relokasi (mengembalikan populasi orangutan ke wilayah habitat yg diindikasikan sebagai daerah yang pernah menjadi habitat sebelumnya), dan rehabilitasi (penyesuaian pola hidup). Namun upaya-upaya ini belum pasti menjamin populasi orangutan Sumatera terhindar dari ancaman. (p!

*Bahan informasi tulisan ini diperoleh dari http://educationschmutzer.multiply.com dan www.primata.or.id, silakan mengunjungi kedua situs web tersebut untuk keterangan lebih jauh.

*Informasi ini ditayangkan Panyingkul! sebagai komitmen jaringan media yang mengkampanyekan gerakan pelestarian alam dan margasatwa.

| Beri Komentar| Jumlah Komentar (6) |

Komentar :

09-05-2009
Dari : YpvhxieBtD | widmxw@tixdhw.com
DfkTV9 uuytgnvbzwed, [url=http://ohscwecw vhvm.com/]ohscwecwvh vm[/url], [link=http://vrbcfhi bqaje.com/]vrbcfhibq aje[/link], http://tahluyoisvux. com/

14-01-2009
Dari : OhZGjJSDD | zufnjv@ywsjzi.com
uGrU83 ujbrglpkmwzu, [url=http://rnywuaqn geaj.com/]rnywuaqnge aj[/url], [link=http://lqrqnhc wwhno.com/]lqrqnhcww hno[/link], http://gfeudbzmhpae. com/

15-09-2007
Dari : halfian |
primata memang harus tauwa dilestarikanmi solanya sudah hampirmi punah. Sayang sekali gen - gen yg unik mesti lenyap dari muka bumi. Pernah sy nonton di tv malah seorang bule dari jerman, rela menghabiskan hidupnya demi konservasi primata ini di Kalteng. tapi betul juga, jangan dilupakan juga manusianya. Tapi tuduhan pada suku2 asli sebagai perusak hutan itu salah alamat. Yang sesungguhnya pelau kejahatannya adalah kalangan industri yang rakus. Mereka (suku-suku)asli ini,punya kode etik sendiri dalam mengambil sesuatu dari alam. Yang di ambil pasti akan diganti. Seperti di papua, kawasan yang termasuk hutan adat, malah terlarang sama sekali untuk dieksploitasi karena disitulah dianggap bersemayam ruh suku mereka. Kepunahan hutan berarti kepunahan mereka.

10-09-2007
Dari : same | sam_81@internux.web.id
setuju dengan pendapatnya asfrianto, bahwa kebanyakan orang2 disekitar kita lebih menyangi binatang daripaa jenisx sendiri" nauzubillahi minzaliq" kasihan ya :-(

22-06-2007
Dari : forester |
yuhuiiii bagus banget kegiatannya. sbg ank conservation ak bangga ma kuliah primata, kasihan kalo primata di indonesia abis gara-gara pembalakan liar o/ para logger. berjuang tuk jaga dan lestarikan primata indonesia. ^_^

15-05-2007
Dari : asfriyanto | asfriyanto@yahoo.co.id
Atas nama kemanusia. Saya sering kali terenyuh melihat, jauh dipedalaman kalimantan,di jantuing Sulwesi di SUmatera, ketika taman nasional dan suaka margasatwa didirikan di zona yang didiami suku asli, selalu terlihat pemerintah, LSM dan NGO lebih menghargai satwa dan pemandangan alam dari pada masyarakat penghuninya. Bukan kabar yang luar biasa ketika saya menemukan masyarakat terpencil yang diklaim dengn gizi buruk, namun ironisnya,"sepupu kita itu yang 99% gennya mirip dengan kita" diberi susu dengan harga yang mahal. ada kesenjangan yang saya pikir tidak manusiawi. Nah ketika mereka mencoba untuk melawan kesenjangan itu, tertuduhlah mereka sebagai perusak-perusak alam.



 :: CITIZEN REPORTER
Makassar di Panyingkul!: Sebuah Persembahan
(Kamis, 12-07-2007)
Ayo Bergabung di Panyingkul!
(Minggu, 29-04-2007)
Catatan Sederhana Para Citizen Reporter
(Selasa, 31-10-2006)
Tentang Citizen Reporter dan Rubrik di Panyingkul!
(Rabu, 11-10-2006)
Riuh Rendah di Panyingkul!
(Rabu, 16-08-2006)

Untitled Document
 :: DUNIA SEGIEMPAT KAREBOSI






 :: PILKADA




 :: ALBUM PUASA 2008




Untitled Document
 :: KONTAK TIM PANYINGKUL!

Email Redaksi :

redaksi@panyingkul.com

Tim:
yus@panyingkul.com
+62 813 226 80844

Moch. Hasymi
+62 811 955 954


© Juni 2006 - Panyingkul.com All Rights Reserved
Desain Web : Nesia Andriana -- Supported by: Yuhardin