Untitled Document
 


Untitled Document
.KITAKITA
:: Jika Anda di Panyingkul ::
 
 KABAR KITA
 
 BERANDAKITA
Kegilaan, Dari Cinta Mati di Pulau Rajuni Hingga Riwayat Kadang
:: Ivan Firdaus ::
Baba Guru, Mengenang Film Rhoma Irama di Klenteng Galesong
:: Kamaruddin Azis ::
Mengagumi Tenun Troso, Mengenang Tenun Sengkang
:: Suryadin Laoddang ::
Perempuan Besi di Gunung Perak (2-selesai)
:: M. Aan Mansyur ::
Perempuan Besi di Gunung Perak (1)
:: M. Aan Mansyur ::
 
 RISETKITA
Rasa Takut : Yang Dicitrakan, Yang Dipelihara
:: Aria W. Yudhistira ::
Risetkita: Pramoedya versus Sejarah Resmi
:: Nurhady Sirimorok ::
Hikayat Rumpon Nelayan Mandar
:: Muhammad Ridwan Alimuddin ::
Di Makassar Pernah Ada “Negeri Wajo”
:: Nurhady Sirimorok ::
Surat Itu Ditulis Upas kepada September
:: Nurhady Sirimorok ::
 
 BUKUKITA
 
 KATAKOTAKITA
Kenapa si Gondrong yang Maju?
:: Ivan Firdaus dan Mustamin al-Mandary ::
Karena ‘Rewa’ Badan Binasa
:: Sudirman Nasir ::
Yang Okkot, yang Salah Sambung
:: Nursamsu danTusiana Noor Alfisyahr ::
Kandala`ka`, Kusta Bila Dusta
:: Panyingkul ::
Ayo, Si(ng)kat Terussss..!
:: Panyingkul! ::

 
 TAHUKAHKITA
 

.
 ::
Senin, 09-04-2007 
Berguru Bahasa Inggris dari Somba Opu ke Lamaddukelleng
:: A. Hafied A. Gany ::


Lukisan karya sendiri, The Bigben and the Owl sebagai ungkapan terima kasih.
Foto: Repro koleksi pribadi.


Dalam biografi warga kali ini, citizen reporter A. Hafied A. Gany mengisahkan kenangannya berguru bahasa Inggris di Makassar tahun 1960-an. Ia berobsesi menguasai bahasa ini sejak kelas tiga Sekolah Rakyat (SR), namun sampai tamat SMP di Watan Soppeng (1960) nilai Bahasa Inggrisnya di buku rapor selalu merah. Tapi keberuntungan nasib membawanya ke lembaga kursus yang hingga kini masih terkenang.(p!)

 
Menjelang ujian akhir SMP, kepala sekolah memberikan kesempatan kepada siswa kelas tiga untuk praktek di rumahnya mendengarkan rekaman pelajaran Bahasa Inggeris koleksi pribadinya, yang katanya diperoleh sebagai kenang-kenangan dari adiknya yang belajar di Negeri Belanda. Masih jelas dalam ingatan saya bentuk mesin perekam suara tersebut berupa kotak hitam, ukuran sebesar koper pakaian dengan pita tipis selebar kuku jari tangan yang tergulung pada “roll” gulungan dengan diameter sebesar piring makan, dan berat sekitar 20kg, karena saya yang berumur sembilan tahun waktu itu tidak mampu mengangkatnya.

Meskipun kami hanya diberi kesempatan praktek dengan mesin perekam suara sekali itu saja, kami semua terpesona mendengar untuk pertama kalinya pelajaran Bahasa Inggris yang dituturkan oleh orang Inggris asli. Pada saat itu, satu-satunya buku bahasa Inggris yang kami kenal adalah buku pelajaran wajib yang dikarang oleh “Van Delden” (itu pun hanya warisan temurun dari paman dan kakak saya). Tidak heran kalau pengalaman pertama mendengarkan bahasa Inggris tersebut sangat berkesan, dan tidak akan pernah terlupakan.

Beberapa bulan sekitar awal tahun pertama di STM Negeri Makassar, saya berkali-kali dihinggapi rasa frustrasi, ingin melupakan saja pelajaran bahasa Inggris. Pasalnya, dengan bekal nilai lima dari SMP di Soppeng, saya harus mengikuti pelajaran Technical English yang terus terang sangat jauh dari kemampuan saya. Setiap akhir minggu, saya hanya mampu menyelesaikan sekitar 30% dari pekerjaan rumah Bahasa Inggris, itupun sesekali mengintip “PR” teman.

Tanpa saya sadari, di balik bayangan putus asa, rupanya saya masih terus dibayang-bayangi pertolongan oleh Sang Khalik, karena setiap rasa frustrasi datang menghantui, setiap kali pula timbul dialog positif silih berganti dengan dialog negatif dalam sanubari, seolah-olah saya sedang menjadi moderator dua pihak yang berseberangan, dan pada gilirannya dialog positif-lah yang menjadi pemenang.

Sampai kuartal kedua di STM Negeri Makassar, aktivitas dan prestasi belajar Bahasa Inggris saya berjalan datar-datar saja, dan selalu dibayangi rasa risau bahwa tanpa upaya-upaya tambahan, saya tidak akan pernah mampu mewujudkan obsesi menguasai Bahasa Inggris. Sementara itu, alih-alih mengikuti kursus (yang pada saat itu merupakan hal yang sangat mewah), dana rutin kiriman orang tua, salah-salah bisa tekor.

Di sekitar pertengahan tahun 1960, pagi-pagi selagi saya sedang memompa ban sepeda, dan berkemas-kemas berangkat ke sekolah, tante saya memberitahukan bahwa malam sebelumnya, paman dari saudara misan bapak memesankan agar sepulang dari sekolah saya mampir ke rumahnya di Jalan Elang –katanya, ada “kejutan” berkaitan dengan kursus Bahasa Inggris.

Pada hari itu, saya benar-benar tidak tenang belajar, pikiran saya penuh teka-teki. Rasanya saya ingin bolos kelas dan secepatnya ke rumah paman, kalau sekiranya saya tidak mengetahui bahwa beliau baru pulang dari kantor di sore hari menjelang Magrib. Paman saya itu bekerja sebagai pemegang buku pada suatu perusahaan swasta (P.T. Abung, samaran) yang berkantor di gedung sisi kanan pintu masuk Pelabuhan Soekarno-Hatta.

Untuk memudahkan pegawainya berkomunikasi dengan klien perusahaan yang bergerak di bidang ekpor-impor, P.T. Abung memfasilitasi paman saya (yang jebolan SMP swasta di Soppeng) belajar Bahasa Inggris di lembaga kursus Gaga Purana (samaran), yang kebetulan letaknya di ujung utara Jalan Somba Opu sebelah barat jalan, satu atau dua kapling dari pojok ke arah Pelabuhan Soekarno-Hatta.

Rupanya setelah dua bulan mengikuti kursus, paman saya merasa frustrasi. Sebagaimana dituturkan, pengetahuan Bahasa Inggris beliau bukannya bertambah, malahan menjadi kacau. Beliau sempat memplesetkan nama lembaga kursus Bahasa Inggris tersebut dalam bahasa Bugis sebagai “Kursus Degaga Purana” (mirip-mirip ucapan dari nama kursus Bahasa Inggeris tersebut – Gaga Purana), yang artinya kursus yang tidak ada habis-habisnya. Setiap hari ada saja peserta kursus yang masuk dan keluar, sehingga pelajaran terpaksa diulangi terus. Akhirnya paman saya memutuskan berhenti di tengah jalan.

Baru sekitar pukul tujuh malam itu saya tiba di rumah paman, yang kebetulan sedang santap malam. Bunyi “keletak” waktu saya merantai sepeda tua di pintu pagar menyadarkan paman atas kedatangan saya, dan langsung saja diajak bergabung santap malam bersama. Saya dalam hati membatin, mudah-mudahan ini adalah pertanda baik.

Benar saja, kegembiraan spontan meluap tatkala beberapa saat setelah selesai santap malam, paman saya langsung menawarkan kalau-kalau mau menggantikannya mengikuti kursus, meneruskan paket beberapa bulan yang sudah terlanjur dibayar perusahaan. Mendengar tawaran itu, perasaan saya jadi berbunga-bunga, kalau bisa malam itu juga saya ingin langsung mengikuti kursus, namun paman menjanjikan untuk mengantar dan memperkenalkan saya dengan guru dan staf administrasi lembaga kursus tersebut keesokan harinya.

Saya benar-benar mendapatkan “kejutan” dengan kesempatan gratis belajar Bahasa Inggris, meskipun harus bertekun setiap malam dari pukul 19:00 sampai dengan pukul 21:30. Untuk praktisnya, saya mengatur waktu, sepulang dari sekolah pukul lima sore, saya langsung menuju tempat kursus di Jalan Somba Opu tanpa pulang dulu ke rumah pondokan di Jalan Parang Layang. Jadi setiap hari saya berangkat dari rumah pukul enam pagi, dan baru tiba kembali paling cepat pukul sepuluh malam. Kalau ada sisa uang jajan, saya sempatkan mengganjal perut dengan ubi goreng di warung sekolah, yang dilayani oleh anak gadis penjaga sekolah (Siti Zahara), dengan senyumannya membuat pelanggan (sambalu’) anak-anak STM betah duduk berlama-lama, kendatipun makanan sudah “ludes” semua.

Kalau kecepatan sampai ke tempat kursus, terkadang juga saya mampir duduk-duduk di pinggir Pantai Losari, memandangi matahari terbenam, sambil menikmati kelezatan aroma pisang epek, atau bau semerbak bakaran sate, yang tidak terjangkau dengan kantong yang biasanya hanya berisikan uang pete’-pete’ yang pas-pasan, untuk persediaan tambal ban sepeda.

Kalau masih menjelang senja, terkadang juga mangkal di dekat pintu pelabuhan berburu “kelasi bule” untuk diajak praktek berbahasa Inggeris ala “tarzan bersepeda”. Terkadang juga kami kecele, karena waktu itu kami beranggapan bahwa semua orang bule, pasti bisa berbahasa Inggeris, tau-taunya orang yang disapa adalah orang Rusia, atau orang Cheko yang banyak berkunjung ke Makassar pada waktu itu. Kebiasaan ini akhirnya menjadi “acara wajib”, sampai saat-saat terakhir saya meninggalkan Makassar.

Sampai sekarang saya sering senyum-senyum kecut, mengenang pengalaman bersama teman-teman membuat kesal awak Kapal HOPE (Health Opportunity for People Everywhere), rumah sakit terapung milik pemerintah Amerika Serikat, yang bersandar di Pelabuhan Soekarno-Hatta mengemban misi kemanusian di Makassar, tahun 1962. Pasalnya, saking bersemangatnya ingin pamer, begitu ketemu orang Amerika di kapal, tanpa “ba-bi-bu” lagi, kami hampir serentak menyapa bertubi-tubi dengan Bahasa Inggris “tarzan” – logat Bugis kental: “Hello Mister”; “What is your name”; “Where do you come from”; “How long are you going to stay in Makassar”; How many time have you visited Makassar?”; “Are you married”; “How many children do you have?”; Photo me, Sir! Sesaat berselang, masih jelas dalam ingatan, bagaimana orang Amerika tersebut memandang kami dengan sorotan mata tajam, penuh rasa kesal. Entah apa yang diucapkannya menggumam pergi, meninggalkan kami yang hanya bisa melongo berpandangan satu sama lain.

***

Pada bulan-bulan selanjutnya, ternyata saya mendapati diri mulai kambuh kembali dari sindroma “kebosanan”. Pasalnya, penyelenggaraan kursus mengalami kondisi berulang, seperti yang membuat paman saya angkat kaki. Merasa sayang dengan biaya kursus yang sudah lunas dibayar, saya masih melanjutkan dengan setengah hati, sambil mulai mencari alternatif lain untuk berpindah kursus. Saat itu, di Makassar setahu saya hanya ada dua kursus yang representatif yakni Institut Bahasa Inggris yang berlokasi di Jalan Lombok (?), dan yang satunya Kusus Bahasa Inggris yang berlokasi di SMA Suzter, Jalan La Maddukkelleng.

Tiga bulan kemudian, tanpa mendapatkan sertifikat, saya memutuskan berhenti kursus di Jalan Somba Opu dan hijrah ke tempat kursus baru di Jalan La Maddukkelleng (memulai dari tingkat dasar – elementary), dengan berbagai pertimbangan memenuhi tuntutan atmosfir belajar bahasa Inggris sebagai anak muda menanjak remaja. Melihat tekadku yang bulat, pamanku saat itu bersedia menanggung biaya kursus saya sampai tamat.

Begitu menyenangkannya belajar bahasa Inggris di Lembaga kursus yang berlogo burung hantu latar belakang biru malam, di Jalan La Maddukkeleng tersebut, tidak terasa saya melewati tingkat dasar, intermediate dan menduduki tingkat advanced di tahun ketiga (1963). Saya menikmati masa-masa belajar di tengah-tengah kelas yang pesertanya 50-an orang dengan mayoritas siswa-siswa remaja putri dari SMA Suzter. Dapat dibayangkan, bagaimana saya yang berakar dari sekolah desa di Soppeng, gagap pergaulan (kuper), “tembak langsung” bersekolah di STM Negeri Makassar yang semua siswanya laki-laki, tiba-tiba menemukan suasana belajar yang sarat dengan suasana pergaulan muda-mudi yang nostalgianya terlalu sayang untuk dilupakan, walaupun hanya sejenak.

Kalau saya diminta berkata jujur – dan itu harus – bahwa faktor dominan yang mendongkrak prestasi bahasa ini adalah karena berada pada suasana belajar yang sarat dengan suasana pergaulan muda-mudi (yang akrab dan santun), dan termotivasi ingin berkompetisi (positif). Sepanjang mengikuti kursus, saya benar-benar merasakan tertelan suasana gembira, tidak pernah melewatkan waktu tanpa makna. Saya tidak pernah sekalipun absen atau terlambat masuk kelas, bahkan tidak berlebihan kalau dikatakan bahwa sekolah saya di STM saat itu, seolah-olah menjadi prioritas nomor dua.

Banyak sekali nostalgia indah membekas di lubuk hati. Tidak kurang kenangan indah kesunyian malam Kota Makassar, saat pulang kursus, mengayuh sepeda tua dengan santai menyusuri Jalan Kajaolalliddo, Jalan La Maddukkelleng, Jalan Sultan Hasanuddin, Jalan Balaikota, menyeberang ke Jalan Lombok, berbelok-belok sampai ke Jalan Sangir, Jalan Kalimantan, memotong Jalan Andalas, ke pemondokan saya di ujung timur Jalan Parang Layang (waktu itu dijuluki sebagai Makassar Pinggiran).

Sampai-sampai hembusan angin malam bercampur aroma laut, sesekali diikuti dengan alunan lembut musik Tionghoa pengantar ke peraduan tatkala melewati pemukiman remang di sekitar Jalan Sangir. Semua terekam tajam di sanubari. Saya sampai hafal sudut-sudut lokasi sepanjang rute jalan yang saya lalui setiap malam, di mana alunan lagu-lagu lembut silih berganti terdengar sayup-sayup. Sampai saat ini, saya masih mengenang bagaimana lagu Anging Mamiri, Anakkukang, Sulawesi Pa’rasanganta, sesekali berganti dengan lagu Kisah Cinta, berkumandang mengendap di lubuk hati tatkala melewati lokasi-lokasi tertentu. Saya, yang jebolan pesantren, banyak juga tersentuh dengan lagu-lagu barat nostalgia waktu itu, misalnya La Paloma, Love Story, Besame Mucho, dan musik-musik abadi ciptaan Mozart, Johan Strauss, Sebastian Bach, Tchaikosvky (nama-nama lagu dan komposer yang baru saya tahu belasan tahun kemudian) tatkala melewati kawasan Jalan Botolempangan, Sultan Hasanuddin dan sekitarnya.

Sampai hampir seperempat abad kemudian, saya tidak pernah menyadari bagaimana nostalgia indah ini berkembang dalam pembentukan diri saya menjadi pencinta musik-musik abadi, musik klasik dan musik nostalgia semacamnya. Saya mendapati diri menjalang usia senja menemukan kebiasaan (hobby) baru merekam nostalgia indah yang pernah saya alami ke dalam lukisan cat minyak di kanvas, sambil mendengarkan alunan musik nostalgia indah sepanjang masa-masa berguru Bahasa Inggris dari Somba Opu ke La Maddukkelleng di Kota Makassar tercinta.

Sering saya merenung di usia senja ini, memutar ulang rekaman kenangan indah semasa berguru Bahasa Inggris di Makassar. Setiap kali, saya selalu bersyukur bahwa pada gilirannya saya berhasil menemukan lembaga kursus yang bisa memotivasi saya, yang sebelumnya berkali-kali frustrasi. Ternyata motto lembaga kursus yang sering saya dengar dari Direktur Perguruan tersebut memegang peranan besar: “The meaning of mastering English is to understand and to be understood, no matter your grammar is” yang dipadukan dengan pengayaan perbendaharaan kata (vocabulary enrichment). Berbagai kelengkapan tambahan praktek seni bermain peran, berdialog, berwisata alam, bermusik, berdrama, yang saya alami selama kursus, sangat memicu motivasi, yang lama kelamaan diperdalam dengan mudah untuk berkomunikasi formal dalam bidang sosial politik maupun ilmu pengetahuan eksakta lainnya.

Menjelang akhir tahun 1962, pada kesempatan penamatan kelas advanced, saya bersama rekan-rekan sekelas diminta untuk memerankan drama pendek yang dicuplik dari kumpulan drama Inggris klasik. Setelah membaca teks dan skenarionya, kami membagi peran dengan masing-masing berusaha mengenal dan mendalami watak dan karakter tokoh yang diperankan, menghafal teks kemudian mulai latihan peran.

Kami memerlukan waktu sekitar enam minggu, berlatih berpindah dari rumah-ke-rumah teman di sekitar Jalan Lamaddukkelleng. Sedemikian akrabnya, sehingga kami semua merasa seperti dalam satu keluarga besar tanpa batas ras, suku, agama, maupun almamater. Kami memanggil nama satu sama lain dengan nama tokoh dalam skenario.

Pementasan drama akhirnya meraih kesuksesan yang tidak kurang diakui oleh kumpulan orang-orang asing yang berdomisili di Makassar, yang khusus diundang ke aula Hotel Negara di Jalan Sungai Saddang untuk menyaksikan drama produk La Maddukkeleng tersebut. Kritikan kecil kebanyakan hanya berkisar pada pakaian dan dekorasi, katanya tidak mewakili mode di era berlangsungnya cerita. Paling tidak, saya merasa tidak berkecil hati, karena topi dan jas yang saya pakai, adalah pinjaman dari bapak teman saya yang terpaksa diganjal kepalanya, dan dengan lengan yang dilipat sepertiga ke dalam dengan jahitan tangan sementara, untuk bisa sesuai dengan badan saya yang kecil.

Meskipun kami tidak pernah ketemu lagi sejak berpisah di akhir tahun 1963 – kecuali satu dua orang – saya masih ingat nama-nama mereka satu persatu. Sebut saja antara lain: Miss Ida, tinggal di Jalan Botolempangan, yang belakangan saya dengar kawin dengan seorang asisten instruktur yang kemudian menjadi salah seorang menteri di akhir era pemerintahan Soeharto; Miss Lilian tinggal di Jalan Cenderawsih, kabarnya pindah sekolah di Semarang; Miss Enny, di Jalan Somba Opu, mengelola sebuah toko kerajinan; Miss Hamdani di ujung selatan Jalan Jenderal Sudirman; Mr. Kho Brown di Jalan Sangir, yang belakangan saya dengar menjadi wirausaha produk pertanian di Jawa Tengah; Mr. Saeno, yang menjadi aktivis sebuah partai ternama; dan Mr. Herman, yang sekarang menjalani masa pensiun perwira tinggi TNI di Jawa Timur. Saya sendiri, waktu itu dipanggil “Mr. Bingley”, yang akhirnya lebih populer dari nama asli saya sendiri.

Sejak tahun 1968, lembaga kursus tersebut hijrah ke Jakarta dan kini berkembang dengan jumlah 70 cabang tersebar di seluruh Indonesia. Saya masih sesekali ketemu Pak Suko Rahardjo (samaran – suhu besar perguruan saya, yang saat ini menjelang umur 80-an tahun, tapi masih sehat dan aktif membina perguruannya) yang sangat senang mendengarkan nostalgia tentang Makassar di tahun 1960-an.

Sebagai ungkapan terimakasih saya pada lembaga yang telah berperan banyak dalam mewarnai kehidupan saya, saya hanya mampu mengungkapkannya dalam kanvas berukuran (60 x 80 cm) sebuah lukisan “amatiran” berupa “burung hantu” bertengger di latar depan dan Menara Jam Bigben (London) di latar belakang berlangit parabola biru, yang saya beri judul “The Bigben and the Owl”. Memaknai bahwa kursus bahasa Inggris yang berlogo burung hantu tersebut, telah mengantarkan saya dari Makassar ke Inggris, kemudian ke seantero benua, di samping tinggalan nostalgia indah yang tak ternilai dan tak terlupakan, “dari Somba Opu ke La Maddukkelleng”.

Sembari menunggu kesempatan baik untuk mempersembahkan lukisan nostalgia tersebut kepada “suhu besar perguruan saya”, saya akan sangat berbahagia seandainya ada seorang atau beberapa orang teman seperguruan saya membaca naskah ini, siapa tahu kita masih bisa bernostalgia bersama pada saat-saat sebelum kembali ke pangkuan Sang Khalik di alam sana. Harapanku: “Never die before we see each other again! Who knows”.(p!)

*Citizen reporter A. Hafied A. Gany dapat dihubungi melalui email gany@hafied.org atau situs web: www.hafied.org

| Beri Komentar| Jumlah Komentar (1) |

Komentar :

10-04-2007
Dari : sm |
Very interesting story :)



 :: CITIZEN REPORTER
Makassar di Panyingkul!: Sebuah Persembahan
(Kamis, 12-07-2007)
Ayo Bergabung di Panyingkul!
(Minggu, 29-04-2007)
Catatan Sederhana Para Citizen Reporter
(Selasa, 31-10-2006)
Tentang Citizen Reporter dan Rubrik di Panyingkul!
(Rabu, 11-10-2006)
Riuh Rendah di Panyingkul!
(Rabu, 16-08-2006)

Untitled Document
 :: DUNIA SEGIEMPAT KAREBOSI






 :: PILKADA




 :: ALBUM PUASA 2008




Untitled Document
 :: KONTAK TIM PANYINGKUL!

Email Redaksi :

redaksi@panyingkul.com

Tim:
yus@panyingkul.com
+62 813 226 80844

Moch. Hasymi
+62 811 955 954


© Juni 2006 - Panyingkul.com All Rights Reserved
Desain Web : Nesia Andriana -- Supported by: Yuhardin