|
|
| . |
| ::
|
| Selasa, 06-03-2007 | Dewi Kwan Im Pun Mampir di Makassar :: Ilham Halimsyah ::
| Seorang warga memerankan Dewi Kwan Im, jelmaan dari Cetiya Avalokitesvara. Foto: Ilham Halimsyah.
Kota Makassar mendapatkan kembali kemeriahan perayaan prosesi Cap Go Meh yang jadi bagian perayaan imlek. Di hari Minggu (4/3) itu, beribu warga kota tumpah-ruah ke jalan-jalan untuk menyaksikan kegembiraan saudaranya yang keturunan Tionghoa merayakan tahun baru mereka. Kebersamaan itu kian terasa dengan tampilnya karnaval budaya nusantara. Citizen reporter Ilham Halimsyah ikut larut dalam kemeriahan ini, dan membagi ceritanya. (p!)
| Hampir semua klenteng yang ada di Sulawesi Selatan ikut ambil bagian dengan mengarak beragam arca dewa yang dimilikinya. Selain itu ditampilkan pula beragam tarian, pertunjukan, atraksi, dan arak-arakan kendaraan hias. Berbagai utusan dari daerah dan kelompok budaya turut memeriahkan Cap Go Meh.
Ada Cetiya Avalokitesvara yang menampilkan seorang gadis, didandani menyerupai Dewi Kwan Im. Sang dewi ini tampil sebagai 'aktris' utama dalam parade, lengkap dengan pengawal dan murid-muridnya. Para pengunjung pun dibikin takjub oleh penampilan perempuan cantik yang mengendarai 'dua naga' ini, karena legenda kecantikan Dewi Kwan Im benar-benar tergambar dalam sosok gadis tersebut.
Lainnya, ditampilkan pula Tan Chi yang biasa disebut duta dewa dan dewi Maco atau Dewi Bahari yang diusung Vihara Dewi Agung Bahari. Dewi Maco diyakini masyarakat Tionghoa sebagai dewi penguasa laut. Tan Chi merupakan duta dewa yang membawa pesan kemakmuran, agama dan kebudayaan yang disampaikan kepada masyarakat saat perayaan Cap Go Meh.
Para Tan Chi ini memiliki kekuatan gaib. Mereka menggelar aksi menusukkan sebilah pisau sepanjang sekitar 20 cm, yang tembus dari pipi kiri ke kanan. Aksi ini dilakukan sambil berjalan dengan tangan kanan menggenggam pisau dan tangan kiri memegang bendera.
Sesekali pisau itu ditusuk-tusukkan ke badan, leher dan bagian tubuh lainnya. Tak ada goresan sedikitpun, darah, juga luka. Sekilas para Tan Chi ini terlihat mirip dengan Maggiri yang ditampilkan komunitas Bissu asal Pangkep. Mereka menusuk badan dengan badik sambil menari.
Karnaval ini melibatkan 14 provinsi, 10 kabupaten di Sulawesi Selatan, enam perguruan tinggi di Makassar, 13 klenteng dan vihara, kelompok kebudayaan, tokoh masyarakat, dan beragam etnis di Indonesia.
Usai parade, digelar pasar malam dan pesta kembang api di sepanjang Jalan Sulawesi.(p!)
Dewi Kwan Im di atas dua naga. Foto: Ilham Halimsyah.
Di atas becak hias. Foto: Ilham Halimsyah.
Bissu yang kebal, menusuk lehernya dengan badik. Foto: Ilham Halimsyah.
Tan Chi yang sakti, menembuskan pisau dari pipi kiri ke pipi kanan. Foto: Ilham Halimsyah.
Remaja pun tampil dengan dandanan yang elok. Foto: Ilham Halimsyah.
Pasar malam yang dimeriahkan kembang api. Foto: Ilham Halimsyah.
*Citizen reporter Ilham Halimsyah dapat dihubungi melalui email ihsyah@telkom.net
|
| | Jumlah
Komentar (7) |
|
| Komentar :
18-05-2009 Dari : jimmi | julius_tan82@yahoo.com semoga makasar kota
yang indah jgn di
medan jorok sekali 21-03-2009 Dari : Andri tanjung | Semoga perayaanya lebih meriah lagi sem
21-03-2009 Dari : Andri tanjung | Semoga perayaanya lebih meriah lagi sem
27-05-2008 Dari : Nyk | annyak_karbit@yahoo.com kebudayaan jangan di
eksploitasi boss. 09-03-2007 Dari : irma | orang macam Kiki ini
yang bikin Indonesia
tidak bisa
maju-maju, katak
dalam tempurung,
tidak mengerti kata
toleransi
sepertinya. Ada
baiknya anda membaca
soal Malaysia ces.. 06-03-2007 Dari : Kiki | Cap Go meh
berakhirnya winter
di! Winter di mana
di Sulawesi, dalam
gedung yg ber AC?
Ada2 saja
meriah2nya...yachh
siapa yang punya
duit dialah yang
menampilkan
budayanya,
menampilkan,
mempopulerkan,
ukhhh... 06-03-2007 Dari : halim hd. | halimhade@yahoo.com sangat menarik
laporan ilham,
khususnya fotografi
yang dibuatnya.
fotografi bisa
menjadi data
sosiologis,
antropologis dan
historis bagi suatu
masyarakat dalam
suatu jaman. satu
catatan yang ingin
saya berikan disini,
sayang sekali ilham
tidak banyak
mengabadikan iklan
yang lumayan dominan
dalam upacara cap go
meh (perayaan hari
kelimabelas setelah
imlek) itu. lihatlah
misalnya lampion
yang begantungan
disepanjang jalan
sulawesi yang buruk,
jelek sekali
kualitasnya yang
disponsori oleh
perusahaan rokok
raksasa. juga
iklan-iklan yang
menempel pada kaos
t-shirt panitia dan
pemain barongsai dan
liong. iklan
membuktikan suatu
jaman ketika
perdagangan mengubah
bentuk ekspresi
kebudayaan memiliki
masukan unsur
komersialisasi. hal
ini sejak lama
disinyalir misalnya
oleh sejrawan
kuntowijoyo (alm)
sejam tahun 1980-an.
sesungguhnya sebuah
upacara dalam bentuk
festival sudah sejak
lama memiliki
gandengan dengan
perdagangan.sekaten
di solo dan yogya
(demikian juga di
ceribon) kalau kita
lihat melalui data
fotografi yang
dikoleksi oleh pura
mangkunegaran (solo)
kita bisa
menyaksikan pula
iklan perusahaan
belanda dan inggris
serta perusahaan
lokal. disitu pula
kaum pedagang solo
dan cina
bergandengan tangan
dan memeriahkan
upacara itu selama
sebulan.namun jika
kita lihat sekarang
di solo-yogya,
perdagangan demikian
dominan. artinya,
komersialisasi ruang
sosial telah
memasuki berbagai
wilayah. dalam hal
ini wilayah ritual
kebudayaan. dalam
konteks sekaten yang
merupakan suatu
politik dan strategi
kebudayaan mataram
yang menggabungkan
antara
jawa-hindu-islam
sebagai salah satu
puncak upacara
publik dalam bidang
kebudayaan, yang
sekaligus memiliki
kandungan legitimasi
politik kekuasaan.
disini pengelola
kekuasaan memberikan
"santunan"
kebudayaan melalui
ebrbagai upacara
misalnya nasi
tumpeng dan sejumlah
benda kebudayaan
lainnya, dan
sekaligus sebagai
pengiatan posisi
kekuasaan kebudayaan
itu sendiri.
kembali kepada soal
pawai cap go meh
itu, sepanjang
ingatan saya, satu
hal lagi yang kini
dominan yakni
munculnya peran
event organizer
dalam pengertian
pengelola yang
memang ditunjuk.
dahulu, ëvent
organizer" itu
adalah siapa saja
yang ingin
bepartisipasi,
khususnya dalam soal
cap go meh, setiap
orang bisa
berpartisipasi,
terlibat. kini,harus
ada secara khusus
manajer acara.
sementara itu,
upacara imlek untuk
publikpun mesti di
hotel. ini juga
suatu bukti dari
komersialisasi dan
elitisasi upacara
itu. padajaman
sukarno, cap go meh
senantiasa berada di
ruang-ruang terbuka,
ruang publik, dan
masyarakat kampung
satu dengan lainnya
saling berkunjung,
apapun agamanya.
dalam sejarahnya cap
go meh pada waktu
dahulu selalu berada
di ruang terbuka
yang direntang sejak
hari kedua imlek dan
setiap rumah terbuka
untuk/kepada siapa
saja. disitu,
pemilik rumah
memiliki kemestian
untuk menerima
siapapun dan
menyajikan santapan.
tentu posisi sosial
ikut menentukan
kualitas dan
kuantitas santapan
yang disajikannya.
hal lain yang juga
bisa kita saksikan
cap go meh kini
tidak lagi memiliki
kualitas jenis dan
bentuk akrobat atau
permainan barongsai
dan liong. hal itu
mungkin lantaran
selama 30-an tahun
lebih jenis kegiatan
itu dilarang oleh
rejim suharto. dari
situasi seperti itu,
maka keahlian,
keterampilan
permainan makin
berkurang. walaupun
tentu kita juga
bergembira bahwa ada
kaum remaja dan
pemuda yang kini
kembali
mempelajarinya.
mungkin kita harus
menunggu barang 5-10
tahun ke depan jika
kita ingin
menyaksikan suatu
keterampilan yang
handal di makassar.
tapi, hal itu
berbeda dengan
semarang, bogor,
tangerang dan
surabaya.saya tidak
tahu, apakah hal itu
berhubungan dengan
kondisi kaum
tionghoa di makassar
yang hanya memainkan
barongsai dan liong
ketika menjelang
suatu pawai,
festival saja? |
|
|
|
|
| ::
CITIZEN REPORTER |
 | (Kamis, 12-07-2007) |  | (Minggu, 29-04-2007) |  | (Selasa, 31-10-2006) |  | (Rabu, 11-10-2006) |  | (Rabu, 16-08-2006) | |
|
Untitled Document
| ::
DUNIA SEGIEMPAT KAREBOSI |
|
Untitled Document
| ::
KONTAK TIM PANYINGKUL! |
Email Redaksi :
redaksi@panyingkul.com
Tim:
yus@panyingkul.com
+62 813 226 80844
Moch. Hasymi
+62 811 955 954
|
|
|