Untitled Document
 


Untitled Document
.KITAKITA
:: Jika Anda di Panyingkul ::
 
 KABAR KITA
 
 BERANDAKITA
Kegilaan, Dari Cinta Mati di Pulau Rajuni Hingga Riwayat Kadang
:: Ivan Firdaus ::
Baba Guru, Mengenang Film Rhoma Irama di Klenteng Galesong
:: Kamaruddin Azis ::
Mengagumi Tenun Troso, Mengenang Tenun Sengkang
:: Suryadin Laoddang ::
Perempuan Besi di Gunung Perak (2-selesai)
:: M. Aan Mansyur ::
Perempuan Besi di Gunung Perak (1)
:: M. Aan Mansyur ::
 
 RISETKITA
Rasa Takut : Yang Dicitrakan, Yang Dipelihara
:: Aria W. Yudhistira ::
Risetkita: Pramoedya versus Sejarah Resmi
:: Nurhady Sirimorok ::
Hikayat Rumpon Nelayan Mandar
:: Muhammad Ridwan Alimuddin ::
Di Makassar Pernah Ada “Negeri Wajo”
:: Nurhady Sirimorok ::
Surat Itu Ditulis Upas kepada September
:: Nurhady Sirimorok ::
 
 BUKUKITA
 
 KATAKOTAKITA
Kenapa si Gondrong yang Maju?
:: Ivan Firdaus dan Mustamin al-Mandary ::
Karena ‘Rewa’ Badan Binasa
:: Sudirman Nasir ::
Yang Okkot, yang Salah Sambung
:: Nursamsu danTusiana Noor Alfisyahr ::
Kandala`ka`, Kusta Bila Dusta
:: Panyingkul ::
Ayo, Si(ng)kat Terussss..!
:: Panyingkul! ::

 
 TAHUKAHKITA
 

.
 ::
Selasa, 06-03-2007 
Dewi Kwan Im Pun Mampir di Makassar
:: Ilham Halimsyah ::


Seorang warga memerankan Dewi Kwan Im, jelmaan dari Cetiya Avalokitesvara.
Foto: Ilham Halimsyah.


Kota Makassar mendapatkan kembali kemeriahan perayaan prosesi Cap Go Meh yang jadi bagian perayaan imlek. Di hari Minggu (4/3) itu, beribu warga kota tumpah-ruah ke jalan-jalan untuk menyaksikan kegembiraan saudaranya yang keturunan Tionghoa merayakan tahun baru mereka. Kebersamaan itu kian terasa dengan tampilnya karnaval budaya nusantara. Citizen reporter Ilham Halimsyah ikut larut dalam kemeriahan ini, dan membagi ceritanya. (p!)

 
Hampir semua klenteng yang ada di Sulawesi Selatan ikut ambil bagian dengan mengarak beragam arca dewa yang dimilikinya. Selain itu ditampilkan pula beragam tarian, pertunjukan, atraksi, dan arak-arakan kendaraan hias. Berbagai utusan dari daerah dan kelompok budaya turut memeriahkan Cap Go Meh.

Ada Cetiya Avalokitesvara yang menampilkan seorang gadis, didandani menyerupai Dewi Kwan Im. Sang dewi ini tampil sebagai 'aktris' utama dalam parade, lengkap dengan pengawal dan murid-muridnya. Para pengunjung pun dibikin takjub oleh penampilan perempuan cantik yang mengendarai 'dua naga' ini, karena legenda kecantikan Dewi Kwan Im benar-benar tergambar dalam sosok gadis tersebut.

Lainnya, ditampilkan pula Tan Chi yang biasa disebut duta dewa dan dewi Maco atau Dewi Bahari yang diusung Vihara Dewi Agung Bahari. Dewi Maco diyakini masyarakat Tionghoa sebagai dewi penguasa laut. Tan Chi merupakan duta dewa yang membawa pesan kemakmuran, agama dan kebudayaan yang disampaikan kepada masyarakat saat perayaan Cap Go Meh.

Para Tan Chi ini memiliki kekuatan gaib. Mereka menggelar aksi menusukkan sebilah pisau sepanjang sekitar 20 cm, yang tembus dari pipi kiri ke kanan. Aksi ini dilakukan sambil berjalan dengan tangan kanan menggenggam pisau dan tangan kiri memegang bendera.

Sesekali pisau itu ditusuk-tusukkan ke badan, leher dan bagian tubuh lainnya. Tak ada goresan sedikitpun, darah, juga luka. Sekilas para Tan Chi ini terlihat mirip dengan Maggiri yang ditampilkan komunitas Bissu asal Pangkep. Mereka menusuk badan dengan badik sambil menari.

Karnaval ini melibatkan 14 provinsi, 10 kabupaten di Sulawesi Selatan, enam perguruan tinggi di Makassar, 13 klenteng dan vihara, kelompok kebudayaan, tokoh masyarakat, dan beragam etnis di Indonesia.

Usai parade, digelar pasar malam dan pesta kembang api di sepanjang Jalan Sulawesi.(p!)


Dewi Kwan Im di atas dua naga.
Foto: Ilham Halimsyah.



Di atas becak hias.
Foto: Ilham Halimsyah.



Bissu yang kebal, menusuk lehernya dengan badik.
Foto: Ilham Halimsyah.



Tan Chi yang sakti, menembuskan pisau dari pipi kiri ke pipi kanan.
Foto: Ilham Halimsyah.



Remaja pun tampil dengan dandanan yang elok.
Foto: Ilham Halimsyah.



Pasar malam yang dimeriahkan kembang api.
Foto: Ilham Halimsyah.



*Citizen reporter Ilham Halimsyah dapat dihubungi melalui email ihsyah@telkom.net



| Beri Komentar| Jumlah Komentar (7) |

Komentar :

18-05-2009
Dari : jimmi | julius_tan82@yahoo.com
semoga makasar kota yang indah jgn di medan jorok sekali

21-03-2009
Dari : Andri tanjung | Semoga perayaanya lebih meriah lagi sem

21-03-2009
Dari : Andri tanjung | Semoga perayaanya lebih meriah lagi sem

27-05-2008
Dari : Nyk | annyak_karbit@yahoo.com
kebudayaan jangan di eksploitasi boss.

09-03-2007
Dari : irma |
orang macam Kiki ini yang bikin Indonesia tidak bisa maju-maju, katak dalam tempurung, tidak mengerti kata toleransi sepertinya. Ada baiknya anda membaca soal Malaysia ces..

06-03-2007
Dari : Kiki |
Cap Go meh berakhirnya winter di! Winter di mana di Sulawesi, dalam gedung yg ber AC? Ada2 saja meriah2nya...yachh siapa yang punya duit dialah yang menampilkan budayanya, menampilkan, mempopulerkan, ukhhh...

06-03-2007
Dari : halim hd. | halimhade@yahoo.com
sangat menarik laporan ilham, khususnya fotografi yang dibuatnya. fotografi bisa menjadi data sosiologis, antropologis dan historis bagi suatu masyarakat dalam suatu jaman. satu catatan yang ingin saya berikan disini, sayang sekali ilham tidak banyak mengabadikan iklan yang lumayan dominan dalam upacara cap go meh (perayaan hari kelimabelas setelah imlek) itu. lihatlah misalnya lampion yang begantungan disepanjang jalan sulawesi yang buruk, jelek sekali kualitasnya yang disponsori oleh perusahaan rokok raksasa. juga iklan-iklan yang menempel pada kaos t-shirt panitia dan pemain barongsai dan liong. iklan membuktikan suatu jaman ketika perdagangan mengubah bentuk ekspresi kebudayaan memiliki masukan unsur komersialisasi. hal ini sejak lama disinyalir misalnya oleh sejrawan kuntowijoyo (alm) sejam tahun 1980-an. sesungguhnya sebuah upacara dalam bentuk festival sudah sejak lama memiliki gandengan dengan perdagangan.sekaten di solo dan yogya (demikian juga di ceribon) kalau kita lihat melalui data fotografi yang dikoleksi oleh pura mangkunegaran (solo) kita bisa menyaksikan pula iklan perusahaan belanda dan inggris serta perusahaan lokal. disitu pula kaum pedagang solo dan cina bergandengan tangan dan memeriahkan upacara itu selama sebulan.namun jika kita lihat sekarang di solo-yogya, perdagangan demikian dominan. artinya, komersialisasi ruang sosial telah memasuki berbagai wilayah. dalam hal ini wilayah ritual kebudayaan. dalam konteks sekaten yang merupakan suatu politik dan strategi kebudayaan mataram yang menggabungkan antara jawa-hindu-islam sebagai salah satu puncak upacara publik dalam bidang kebudayaan, yang sekaligus memiliki kandungan legitimasi politik kekuasaan. disini pengelola kekuasaan memberikan "santunan" kebudayaan melalui ebrbagai upacara misalnya nasi tumpeng dan sejumlah benda kebudayaan lainnya, dan sekaligus sebagai pengiatan posisi kekuasaan kebudayaan itu sendiri. kembali kepada soal pawai cap go meh itu, sepanjang ingatan saya, satu hal lagi yang kini dominan yakni munculnya peran event organizer dalam pengertian pengelola yang memang ditunjuk. dahulu, ëvent organizer" itu adalah siapa saja yang ingin bepartisipasi, khususnya dalam soal cap go meh, setiap orang bisa berpartisipasi, terlibat. kini,harus ada secara khusus manajer acara. sementara itu, upacara imlek untuk publikpun mesti di hotel. ini juga suatu bukti dari komersialisasi dan elitisasi upacara itu. padajaman sukarno, cap go meh senantiasa berada di ruang-ruang terbuka, ruang publik, dan masyarakat kampung satu dengan lainnya saling berkunjung, apapun agamanya. dalam sejarahnya cap go meh pada waktu dahulu selalu berada di ruang terbuka yang direntang sejak hari kedua imlek dan setiap rumah terbuka untuk/kepada siapa saja. disitu, pemilik rumah memiliki kemestian untuk menerima siapapun dan menyajikan santapan. tentu posisi sosial ikut menentukan kualitas dan kuantitas santapan yang disajikannya. hal lain yang juga bisa kita saksikan cap go meh kini tidak lagi memiliki kualitas jenis dan bentuk akrobat atau permainan barongsai dan liong. hal itu mungkin lantaran selama 30-an tahun lebih jenis kegiatan itu dilarang oleh rejim suharto. dari situasi seperti itu, maka keahlian, keterampilan permainan makin berkurang. walaupun tentu kita juga bergembira bahwa ada kaum remaja dan pemuda yang kini kembali mempelajarinya. mungkin kita harus menunggu barang 5-10 tahun ke depan jika kita ingin menyaksikan suatu keterampilan yang handal di makassar. tapi, hal itu berbeda dengan semarang, bogor, tangerang dan surabaya.saya tidak tahu, apakah hal itu berhubungan dengan kondisi kaum tionghoa di makassar yang hanya memainkan barongsai dan liong ketika menjelang suatu pawai, festival saja?



 :: CITIZEN REPORTER
Makassar di Panyingkul!: Sebuah Persembahan
(Kamis, 12-07-2007)
Ayo Bergabung di Panyingkul!
(Minggu, 29-04-2007)
Catatan Sederhana Para Citizen Reporter
(Selasa, 31-10-2006)
Tentang Citizen Reporter dan Rubrik di Panyingkul!
(Rabu, 11-10-2006)
Riuh Rendah di Panyingkul!
(Rabu, 16-08-2006)

Untitled Document
 :: DUNIA SEGIEMPAT KAREBOSI






 :: PILKADA




 :: ALBUM PUASA 2008




Untitled Document
 :: KONTAK TIM PANYINGKUL!

Email Redaksi :

redaksi@panyingkul.com

Tim:
yus@panyingkul.com
+62 813 226 80844

Moch. Hasymi
+62 811 955 954


© Juni 2006 - Panyingkul.com All Rights Reserved
Desain Web : Nesia Andriana -- Supported by: Yuhardin