Untitled Document
 


Untitled Document
.KITAKITA
:: Jika Anda di Panyingkul ::
 
 KABAR KITA
 
 BERANDAKITA
Kegilaan, Dari Cinta Mati di Pulau Rajuni Hingga Riwayat Kadang
:: Ivan Firdaus ::
Baba Guru, Mengenang Film Rhoma Irama di Klenteng Galesong
:: Kamaruddin Azis ::
Mengagumi Tenun Troso, Mengenang Tenun Sengkang
:: Suryadin Laoddang ::
Perempuan Besi di Gunung Perak (2-selesai)
:: M. Aan Mansyur ::
Perempuan Besi di Gunung Perak (1)
:: M. Aan Mansyur ::
 
 RISETKITA
Rasa Takut : Yang Dicitrakan, Yang Dipelihara
:: Aria W. Yudhistira ::
Risetkita: Pramoedya versus Sejarah Resmi
:: Nurhady Sirimorok ::
Hikayat Rumpon Nelayan Mandar
:: Muhammad Ridwan Alimuddin ::
Di Makassar Pernah Ada “Negeri Wajo”
:: Nurhady Sirimorok ::
Surat Itu Ditulis Upas kepada September
:: Nurhady Sirimorok ::
 
 BUKUKITA
 
 KATAKOTAKITA
Kenapa si Gondrong yang Maju?
:: Ivan Firdaus dan Mustamin al-Mandary ::
Karena ‘Rewa’ Badan Binasa
:: Sudirman Nasir ::
Yang Okkot, yang Salah Sambung
:: Nursamsu danTusiana Noor Alfisyahr ::
Kandala`ka`, Kusta Bila Dusta
:: Panyingkul ::
Ayo, Si(ng)kat Terussss..!
:: Panyingkul! ::

 
 TAHUKAHKITA
 

.
 ::
Rabu, 28-02-2007 
Bersepeda Bersama Losari Cycling Community
:: Ni Nyoman Anna Marthanti ::


Berkumpul di Pantai Losari, tepat di depan rumah jabatan walikota Makassar.
Foto: Ni Nyoman Anna Marthanti.


Citizen reporter Ni Nyoman Anna Marthanti menjajal kemampuannya bersepeda dengan jarak tempuh 30 kilometer, bersama dengan Losari Cycling Community, sebuah komunitas penggemar sepeda di Makassar, yang secara rutin menggelar acara bersepeda bersama. Berikut pengalaman yang dituliskannya. (p!)
 

Hari itu, 18 Februari 2007, cuaca agak mendung, suhu masih terasa cukup dingin dan gerimis sesekali jatuh. Saya bersama dua kawan dari Kanada, Julie dan Sofie, baru saja tiba di depan rumah jabatan walikota Makassar. Tempat ini menjadi lokasi berkumpulnya anggota komunitas sepeda gunung yang akan menemani kami berkeliling sambil melihat-lihat aktivitas pagi hari di Pantai Losari. Komunitas ini bersiap mengukuhkan diri dengan nama, Losari Cycling Community (LCC). Mereka mempunyai dua titik pertemuan: di depan rumah jabatan walikota dan depan gedung DPRD Makassar di Jalan Hertasning. Para anggota LCC berkumpul di salah satu tempat ini, tergantung rute mana yang akan ditempuh.

Hari sebelumnya kami telah bertemu dengan salah seorang penggiat komunitas sepeda ini, A. Mappaware Nuhung. Ia mengajak kami ikut dalam rute pendek dan bersedia meminjamkan sepedanya untuk kami gunakan. Namun karena hanya ada dua sepeda tersedia, maka Sofie memilih berjalan-jalan mengitari pantai dan berjanji bertemu beberapa jam kemudian di tempat semula.

Sambil menunggu anggota lain yang akan bergabung, saya, Julie dan Pak Mappaware melakukan pemanasan sambil mencoba sepeda. Aroma makanan yang tercium di sepanjang trotoar Jalan Penghibur membuat perut keroncongan. Kami lalu memilih salah satu meja kosong dan memesan masing-masing semangkuk bubur ayam. Perut yang sudah terisi dan udara segar membuat kami bersemangat segera memulai perjalanan bersepeda. Rute yang akan ditempuh adalah yang paling mudah dan singkat, karena saya dan Julie memang belum berpengalaman mengendarai sepeda dengan jarak cukup jauh.

Dimulai dengan menyusuri Jalan Metro Tanjung Bunga, saya mengayuh sepeda dengan nafas sedikit tersengal-sengal. Julie dan rombongan lain cukup jauh mendahului. Saya mencoba mengejar salah seorang kawan dalam rombongan, bernama Pak Ahmad, pemilik toko sepeda yang terletak di Jalan Veteran. Sudah setahun lebih ia bergabung dengan komunitas ini, namun akrab dengan sepeda sudah cukup lama, sejak masih tinggal di Jakarta.

Menurut Pak Ahmad, tak perlu mendaftarkan diri atau memakai atribut lengkap untuk bergabung. Anggota LCC bisa mengayuh sepeda gunung, sepeda balap atau bahkan sepeda kumbang pun. LCC berkembang dengan cara alamiah, terkadang melalui perjumpaan di jalan dengan sesama pengendara sepeda yang lalu diajak bergabung mengitari rute yang akan dilalui, sambil berbincang-bincang dan bertukar nomor telepon. Seperti yang dialami hari itu, di tengah perjalanan, di depan Rusunawa (Rumah Susun Sederhana Sewa) GTC, kami bertemu dengan seorang pengendara sepeda yang sedang menuju ke arah sama. Oleh Pak Ahmad, ia diajak bergabung. Namanya Pak Rasyid, bekerja di salah satu bank swasta.

Sembari mengayuh sepeda dengan kecepatan sedang, kami melanjutkan perbincangan bertiga. Menurut Pak Ahmad, anggota komunitas sepeda ini terdiri dari berbagai latar belakang. Ada mahasiswa, dokter, pegawai bank, wiraswasta, dan arsitek. Ada yang masih bujang, ada juga yang sudah berkeluarga. Beberapa anggotanya juga tergabung dalam klub sepeda balap yang setiap hari, mulai pukul 5 pagi sampai pukul 6, balapan di Jalan Metro Tanjung Bunga. Bahkan salah seorang anggotanya yang juga seorang dokter di RS Wahidin Sudirohusodo, setiap bertugas jaga selalu menggunakan sepeda dari rumahnya di Jalan Sunu sampai ke rumah sakit. Rupanya anak muda ini juga anggota dari komunitas Bike to Work yang ada di Jakarta.

Tidak ada pengurus resmi komunitas ini dan siapa pencetusnya pun tak jelas. Yang pasti semua anggotanya pecinta olahraga sepeda. Rencananya komunitas ini akan segera diresmikan dengan beberapa program seperti wisata-olahraga, seperti yang kami lakukan hari itu, juga kampanye bike to work. Saya tentu sangat tertarik. Sayangnya, semua anggota yang terdaftar saat ini semuanya laki-laki.


Beristirahat di kawasan Benteng Somba Opu.
Foto: Ni Nyoman Anna Marthanti.


Tak terasa kami telah melewati Jalan Metro Tanjung Bunga dan berbelok melewati SMU Dian Harapan menuju pematang kecil yang menghubungkan dengan perkampungan di sekitar Benteng Somba Opu. Pemandangan indah dan menyegarkan menyambut kami. Deretan sawah menghijau terhampar. Perkampungan terasa hidup dengan suara kanak-kanak bermain dan ibu-ibu yang tengah menawar sayuran yang dijual pagandeng. Sesekali kami mesti melewati genangan air dan lumpur becek. Tadinya saya tak mengira kalau sepeda pun memiliki gear depan dan belakang untuk mengatur laju. Walhasil beberapa kali saya mesti mengayuh dengan susah payah terutama saat berada di tanjakan. Untungnya tak lama kemudian Pak Mappaware menjelaskan fungsi gear dan akhirnya saya bisa dengan mudah melewati jalanan yang tak beraspal dan bergunduk.

Sesampai di Benteng Somba Opu kami beristirahat sejenak, menikmati deretan rumah-rumah adat, dan berfoto. Kami menjelaskan secara singkat arti bangunan rumah adat kepada Julie yang begitu tertarik. Di sekitar kawasan benteng, ada sungai kecil tempat anggota baru komunitas sepeda ini “dilantik”.

Selanjutnya kami mengitari Benteng Somba Opu dan keluar dari tembok belakang yang juga berbatasan dengan perkampungan sekitar Kanal Patompo. Jalur yang kecil dan sempit membuat saya dan Julie sesekali terpaksa menuntun sepeda. Tetapi teman-teman lain yang sudah terbiasa dengan mudah melewatinya. Saya, Julie dan Pak Rasyid cukup kewalahan melalui jalan berlumpur di samping kanal aliran Sungai Jeneberang. Saya takut terjatuh ke dalam sungai. Teman-teman memandu kami mencari jalan yang mudah dan tak tergenang.


Menyaksikan pemandangan alam dan segarnya pagi.
Foto: Ni Nyoman Anna Marthanti.


Pak Ahmad menceritakan, rute favorit mereka adalah dari Jalan Hertasning menuju BTP, lewat belakang perumahan tembus ke Antang dan akhirnya berakhir di Danau Mawang. Rute off road yang berat dan cukup sulit dilalui. Jika mereka mulai jalan pukul 6 pagi, biasanya berakhir pukul 11 atau 12 siang. Namun kali ini kami hanya menempuh jarak kurang lebih 30 kilometer dan kembali ke lokasi awal tepat pukul 9 pagi. Saya dan Julie tak menyangka bisa menyelesaikan rute ini dan menempuh jarak di luar perkiraan. Meskipun saya sampai mandi keringat dan merasa perjalanan itu tak berakhir, akhirnya begitu melihat gerbang Tanjung Bunga lagi , saya kembali bersemangat dan memacu sepeda.

Bersama-sama kami lalu menuju salah satu kafe yang terletak di sudut Jalan Bontolempangan. Sofie pun bergabung bersama kami sambil memperlihatkan foto-foto bidikannya sewaktu berjalan-jalan. Rencananya minggu depan, komunitas sepeda ini akan menuju ke Bendungan Bili-bili, sekaligus bertamasya di sana.

Seru juga mengisi akhir pekan dengan bersepeda, sekaligus berwisata, melihat tempat-tempat baru dan pemandangan alami. Mungkin pemerintah bisa melirik potensi kegiatan bersepeda ini sebagai salah satu paket wisata kota sekaligus mengkampanyekan hidup sehat dan hemat energi. Nah, jika suatu saat anda bersepeda dan bertemu serombongan orang dengan bermacam jenis sepeda dan atributnya serta mengajak bergabung, jangan sungkan mengikuti mereka, para penggemar sepeda di Losari Cycling Community. (p!)

*Citizen reporter Ni Nyoman Anna Marthanti dapat dihubungi melalui email yazidnyom@yahoo.com

| Beri Komentar| Jumlah Komentar (13) |

Komentar :

05-09-2007
Dari : ahmad | rasman@amanah.com
Lara, silahkan ke toko Ahmad Bike jl. veteran selatan No. 368 Makassar, telp. 0411-833140, selain bisa beli sepeda, part dan aksesoris, anda bisa juga sekaligus gabung ngobrol-ngobrol dengan cyclist mania di sana

24-03-2007
Dari : lara | trilara@mahesanet.com
Saya dari luar pulau kebetulan segera akan tugas di Makassar. Ada yang bisa bantu saya mengenai persewaan sepeda atau toko sepeda yang harganya miring di Makassar

03-03-2007
Dari : agusdaeng | agusdaeng@yahoo.com
yang pasti bersepeda itu menyehatkan. sekitar thn 1980an, kebetulan rumah saya di jl. veteran...setiap pagi/subuh menyaksikan segerombolan pagandeng (pasukan sepeda yg membawa sayuran dan buah2an). mereka setiap hari mengayu sepeda dari limbung/pakkatto ke pasar terong PP, hmm jarak yg lumayan jauh. kebanyakan mereka berusia diatas 50 thn, bahkan ada yg diatas 60 thn. kecepatan bersepeda mereka cukup tinggi, apalagi kalo lagi balapan sesama pagandeng..wah seru banget melihatnya. karena mereka berasal dari daerah atas (rate)spt sungguminasa, limbung, pakkatto dll sehingga di sebut "Pagandeng Battu Ratea"

02-03-2007
Dari : weda | weda_r@hotmail.com
lamaku mi gang cari-cari teman buat bersepeda ria, akhirnya tahu juga kalo di makassar ada komunitas pencinta sepedanya.. wah..bagus tuh.. pasti nanti asik kalo lebih banyak lagi orang yang tertarik pake sepeda, apalagi kalo tambah banyak teman yang pake sepeda ke kampus. cuma bela, ituji takut di serempet kendaraan lain di jalan.

02-03-2007
Dari : Andi.M.N | worowane@yahoo.com
Thank's Anna,telah mempublikasikan kegiatan kami. Saya harap akan semakin banyak teman2 untuk mau meluangkan waktunya ikut menggunakan sepeda. Makassar dan sekitarnya cukup punya banyak route alamiah yang belum terjamah,yang justru semakin menantang untuk dilewati bagi penggemar MTB off road.Fell free to call me if you like to joint with us.Salam dari Komunitas Sepeda Makassar.

01-03-2007
Dari : pagandeng bulaeng | pagandeng@terongmall.com
wah.. kok kita2 gak diajak gabung? Padahal kita biasa berpapasan di jalan...

01-03-2007
Dari : DJ | drinking_balloon@yahoo.com
weee.. kok saya gak dikasitau An.. saya juga kan suka sepeda-sepedaan. lain kali bilang-bilang ya... Dx

01-03-2007
Dari : aco bollo | aco@yahoo.com
Sudah bagus mi itu ada pecinta bersepede sayang kota makassar ga punya jalur khusus buat sepeda, kalo mau bersepeda ke kampus, nanti diseruduk pete2 bela'... lebih baik peke motor tapi bikin battala dan malas olahraga serta biking polusi coba makassar seperti adelaide pasti terautr sekali sistem transportasina..

28-02-2007
Dari : marco | marcolodewijk@hotmail.com
O, by the way, i am the proud brother of this wonderful reporter.

28-02-2007
Dari : Marco | marcolodewijk@hotmail.com
Nice article and photos. I couldn't understand it all, because of my language. But my Indonesian wife gives explanation about your article. So, you all have visited nice places by bike. I wish i was there too. I have been there, in Makassar too. I think it is a very nice city, but little bit too crowded, and less discipline of the people. Maybe if the local authority will first arrange good transportation facilities,give a chance to cyclers, and also give more attention to nature, you even can enjoy more the cyclingtrips around losari beach and tanjung bunga and any other interesting places in Makassar and surrounding. Salam dari Belanda.

28-02-2007
Dari : Yani | hunsyaukanie@yahoo.com
Kakak Anna,saya beruntung dong bisa bersepeda tiap hari selama di Belanda. Sehat, murah sekalian buat olahraga. Ke kampus, belanja, atau sekedar melihat pemandangan indah di sini. Enaknya bersepeda di Belanda, karena ada jalur khusus buat pengendara sepeda, jadi tak perlu khawatir disenggol mobil atau bus. Tidaknya enaknya kalo naik sepeda pas hujan deras dan angin kencang,sesuatu yang lumrah terjadi di Belanda, hikss.. Btw, miss u kakak anna..

28-02-2007
Dari : Dian | aurel1975@yahoo.com
Wah, bagus juga kalau udah ada yang memulai kegiatan bersepeda ria di alam terbuka. Selain menyehatkan, juga hemat energi dan ramah lingkungan. Siapa tahu beberapa tahun lagi pemerintah bisa mencontoh Belanda yang juga memprioritaskan pengguna jalan, dengan menyediakan jalur khusus bagi pengendara sepeda di jalan raya. Mungkin butuh waktu, namun setidaknya sekarang bisa dimulai dengan menggalakkan kegiatan bersepeda ria seperti yang dilakukan oleh para penggemar sepeda dari LCC.. Bravo!

28-02-2007
Dari : ikhsan |
Ada baiknya pemerintah daerah memprogramkan hari bersepeda. Hal ini selain untuk membangun budaya bersepeda, juga menyiasati kesemberawutan jalanan akibat padatnya kendaraan bermotor, mengurangi polusi dan lainnya. Asalkan dibuat lajur khusus bersepeda. Program ini bisa dilakukan tiap sabtu, semisal program jumat bersih. Dan dimulai dari jajaran aparat pemerintrah daerah.



 :: CITIZEN REPORTER
Makassar di Panyingkul!: Sebuah Persembahan
(Kamis, 12-07-2007)
Ayo Bergabung di Panyingkul!
(Minggu, 29-04-2007)
Catatan Sederhana Para Citizen Reporter
(Selasa, 31-10-2006)
Tentang Citizen Reporter dan Rubrik di Panyingkul!
(Rabu, 11-10-2006)
Riuh Rendah di Panyingkul!
(Rabu, 16-08-2006)

Untitled Document
 :: DUNIA SEGIEMPAT KAREBOSI






 :: PILKADA




 :: ALBUM PUASA 2008




Untitled Document
 :: KONTAK TIM PANYINGKUL!

Email Redaksi :

redaksi@panyingkul.com

Tim:
yus@panyingkul.com
+62 813 226 80844

Moch. Hasymi
+62 811 955 954


© Juni 2006 - Panyingkul.com All Rights Reserved
Desain Web : Nesia Andriana -- Supported by: Yuhardin