|
|
| . |
| ::
|
| Rabu, 28-02-2007 | Bersepeda Bersama Losari Cycling Community :: Ni Nyoman Anna Marthanti ::
| Berkumpul di Pantai Losari, tepat di depan rumah jabatan walikota Makassar. Foto: Ni Nyoman Anna Marthanti.
Citizen reporter Ni Nyoman Anna Marthanti menjajal kemampuannya bersepeda dengan jarak tempuh 30 kilometer, bersama dengan Losari Cycling Community, sebuah komunitas penggemar sepeda di Makassar, yang secara rutin menggelar acara bersepeda bersama. Berikut pengalaman yang dituliskannya. (p!) | Hari itu, 18 Februari 2007, cuaca agak mendung, suhu masih terasa cukup dingin dan gerimis sesekali jatuh. Saya bersama dua kawan dari Kanada, Julie dan Sofie, baru saja tiba di depan rumah jabatan walikota Makassar. Tempat ini menjadi lokasi berkumpulnya anggota komunitas sepeda gunung yang akan menemani kami berkeliling sambil melihat-lihat aktivitas pagi hari di Pantai Losari. Komunitas ini bersiap mengukuhkan diri dengan nama, Losari Cycling Community (LCC). Mereka mempunyai dua titik pertemuan: di depan rumah jabatan walikota dan depan gedung DPRD Makassar di Jalan Hertasning. Para anggota LCC berkumpul di salah satu tempat ini, tergantung rute mana yang akan ditempuh.
Hari sebelumnya kami telah bertemu dengan salah seorang penggiat komunitas sepeda ini, A. Mappaware Nuhung. Ia mengajak kami ikut dalam rute pendek dan bersedia meminjamkan sepedanya untuk kami gunakan. Namun karena hanya ada dua sepeda tersedia, maka Sofie memilih berjalan-jalan mengitari pantai dan berjanji bertemu beberapa jam kemudian di tempat semula.
Sambil menunggu anggota lain yang akan bergabung, saya, Julie dan Pak Mappaware melakukan pemanasan sambil mencoba sepeda. Aroma makanan yang tercium di sepanjang trotoar Jalan Penghibur membuat perut keroncongan. Kami lalu memilih salah satu meja kosong dan memesan masing-masing semangkuk bubur ayam. Perut yang sudah terisi dan udara segar membuat kami bersemangat segera memulai perjalanan bersepeda. Rute yang akan ditempuh adalah yang paling mudah dan singkat, karena saya dan Julie memang belum berpengalaman mengendarai sepeda dengan jarak cukup jauh.
Dimulai dengan menyusuri Jalan Metro Tanjung Bunga, saya mengayuh sepeda dengan nafas sedikit tersengal-sengal. Julie dan rombongan lain cukup jauh mendahului. Saya mencoba mengejar salah seorang kawan dalam rombongan, bernama Pak Ahmad, pemilik toko sepeda yang terletak di Jalan Veteran. Sudah setahun lebih ia bergabung dengan komunitas ini, namun akrab dengan sepeda sudah cukup lama, sejak masih tinggal di Jakarta.
Menurut Pak Ahmad, tak perlu mendaftarkan diri atau memakai atribut lengkap untuk bergabung. Anggota LCC bisa mengayuh sepeda gunung, sepeda balap atau bahkan sepeda kumbang pun. LCC berkembang dengan cara alamiah, terkadang melalui perjumpaan di jalan dengan sesama pengendara sepeda yang lalu diajak bergabung mengitari rute yang akan dilalui, sambil berbincang-bincang dan bertukar nomor telepon. Seperti yang dialami hari itu, di tengah perjalanan, di depan Rusunawa (Rumah Susun Sederhana Sewa) GTC, kami bertemu dengan seorang pengendara sepeda yang sedang menuju ke arah sama. Oleh Pak Ahmad, ia diajak bergabung. Namanya Pak Rasyid, bekerja di salah satu bank swasta.
Sembari mengayuh sepeda dengan kecepatan sedang, kami melanjutkan perbincangan bertiga. Menurut Pak Ahmad, anggota komunitas sepeda ini terdiri dari berbagai latar belakang. Ada mahasiswa, dokter, pegawai bank, wiraswasta, dan arsitek. Ada yang masih bujang, ada juga yang sudah berkeluarga. Beberapa anggotanya juga tergabung dalam klub sepeda balap yang setiap hari, mulai pukul 5 pagi sampai pukul 6, balapan di Jalan Metro Tanjung Bunga. Bahkan salah seorang anggotanya yang juga seorang dokter di RS Wahidin Sudirohusodo, setiap bertugas jaga selalu menggunakan sepeda dari rumahnya di Jalan Sunu sampai ke rumah sakit. Rupanya anak muda ini juga anggota dari komunitas Bike to Work yang ada di Jakarta.
Tidak ada pengurus resmi komunitas ini dan siapa pencetusnya pun tak jelas. Yang pasti semua anggotanya pecinta olahraga sepeda. Rencananya komunitas ini akan segera diresmikan dengan beberapa program seperti wisata-olahraga, seperti yang kami lakukan hari itu, juga kampanye bike to work. Saya tentu sangat tertarik. Sayangnya, semua anggota yang terdaftar saat ini semuanya laki-laki.
Beristirahat di kawasan Benteng Somba Opu. Foto: Ni Nyoman Anna Marthanti.
Tak terasa kami telah melewati Jalan Metro Tanjung Bunga dan berbelok melewati SMU Dian Harapan menuju pematang kecil yang menghubungkan dengan perkampungan di sekitar Benteng Somba Opu. Pemandangan indah dan menyegarkan menyambut kami. Deretan sawah menghijau terhampar. Perkampungan terasa hidup dengan suara kanak-kanak bermain dan ibu-ibu yang tengah menawar sayuran yang dijual pagandeng. Sesekali kami mesti melewati genangan air dan lumpur becek. Tadinya saya tak mengira kalau sepeda pun memiliki gear depan dan belakang untuk mengatur laju. Walhasil beberapa kali saya mesti mengayuh dengan susah payah terutama saat berada di tanjakan. Untungnya tak lama kemudian Pak Mappaware menjelaskan fungsi gear dan akhirnya saya bisa dengan mudah melewati jalanan yang tak beraspal dan bergunduk.
Sesampai di Benteng Somba Opu kami beristirahat sejenak, menikmati deretan rumah-rumah adat, dan berfoto. Kami menjelaskan secara singkat arti bangunan rumah adat kepada Julie yang begitu tertarik. Di sekitar kawasan benteng, ada sungai kecil tempat anggota baru komunitas sepeda ini “dilantik”.
Selanjutnya kami mengitari Benteng Somba Opu dan keluar dari tembok belakang yang juga berbatasan dengan perkampungan sekitar Kanal Patompo. Jalur yang kecil dan sempit membuat saya dan Julie sesekali terpaksa menuntun sepeda. Tetapi teman-teman lain yang sudah terbiasa dengan mudah melewatinya. Saya, Julie dan Pak Rasyid cukup kewalahan melalui jalan berlumpur di samping kanal aliran Sungai Jeneberang. Saya takut terjatuh ke dalam sungai. Teman-teman memandu kami mencari jalan yang mudah dan tak tergenang.
Menyaksikan pemandangan alam dan segarnya pagi. Foto: Ni Nyoman Anna Marthanti.
Pak Ahmad menceritakan, rute favorit mereka adalah dari Jalan Hertasning menuju BTP, lewat belakang perumahan tembus ke Antang dan akhirnya berakhir di Danau Mawang. Rute off road yang berat dan cukup sulit dilalui. Jika mereka mulai jalan pukul 6 pagi, biasanya berakhir pukul 11 atau 12 siang. Namun kali ini kami hanya menempuh jarak kurang lebih 30 kilometer dan kembali ke lokasi awal tepat pukul 9 pagi. Saya dan Julie tak menyangka bisa menyelesaikan rute ini dan menempuh jarak di luar perkiraan. Meskipun saya sampai mandi keringat dan merasa perjalanan itu tak berakhir, akhirnya begitu melihat gerbang Tanjung Bunga lagi , saya kembali bersemangat dan memacu sepeda.
Bersama-sama kami lalu menuju salah satu kafe yang terletak di sudut Jalan Bontolempangan. Sofie pun bergabung bersama kami sambil memperlihatkan foto-foto bidikannya sewaktu berjalan-jalan. Rencananya minggu depan, komunitas sepeda ini akan menuju ke Bendungan Bili-bili, sekaligus bertamasya di sana.
Seru juga mengisi akhir pekan dengan bersepeda, sekaligus berwisata, melihat tempat-tempat baru dan pemandangan alami. Mungkin pemerintah bisa melirik potensi kegiatan bersepeda ini sebagai salah satu paket wisata kota sekaligus mengkampanyekan hidup sehat dan hemat energi. Nah, jika suatu saat anda bersepeda dan bertemu serombongan orang dengan bermacam jenis sepeda dan atributnya serta mengajak bergabung, jangan sungkan mengikuti mereka, para penggemar sepeda di Losari Cycling Community. (p!)
*Citizen reporter Ni Nyoman Anna Marthanti dapat dihubungi melalui email yazidnyom@yahoo.com
|
| | Jumlah
Komentar (13) |
|
| Komentar :
05-09-2007 Dari : ahmad | rasman@amanah.com Lara, silahkan ke
toko Ahmad Bike jl.
veteran selatan No.
368 Makassar, telp.
0411-833140, selain
bisa beli sepeda,
part dan aksesoris,
anda bisa juga
sekaligus gabung
ngobrol-ngobrol
dengan cyclist mania
di sana 24-03-2007 Dari : lara | trilara@mahesanet.com Saya dari luar pulau
kebetulan segera
akan tugas di
Makassar. Ada yang
bisa bantu saya
mengenai persewaan
sepeda atau toko
sepeda yang harganya
miring di Makassar 03-03-2007 Dari : agusdaeng | agusdaeng@yahoo.com yang pasti bersepeda
itu menyehatkan.
sekitar thn 1980an,
kebetulan rumah saya
di jl.
veteran...setiap
pagi/subuh
menyaksikan
segerombolan
pagandeng (pasukan
sepeda yg membawa
sayuran dan
buah2an). mereka
setiap hari mengayu
sepeda dari
limbung/pakkatto ke
pasar terong PP, hmm
jarak yg lumayan
jauh. kebanyakan
mereka berusia
diatas 50 thn,
bahkan ada yg diatas
60 thn. kecepatan
bersepeda mereka
cukup tinggi,
apalagi kalo lagi
balapan sesama
pagandeng..wah seru
banget melihatnya.
karena mereka
berasal dari daerah
atas (rate)spt
sungguminasa,
limbung, pakkatto
dll sehingga di
sebut "Pagandeng
Battu Ratea" 02-03-2007 Dari : weda | weda_r@hotmail.com lamaku mi gang
cari-cari teman buat
bersepeda ria,
akhirnya tahu juga
kalo di makassar ada
komunitas pencinta
sepedanya..
wah..bagus tuh..
pasti nanti asik
kalo lebih banyak
lagi orang yang
tertarik pake
sepeda, apalagi kalo
tambah banyak teman
yang pake sepeda ke
kampus. cuma bela,
ituji takut di
serempet kendaraan
lain di jalan. 02-03-2007 Dari : Andi.M.N | worowane@yahoo.com Thank's Anna,telah
mempublikasikan
kegiatan kami. Saya
harap akan semakin
banyak teman2 untuk
mau meluangkan
waktunya ikut
menggunakan sepeda.
Makassar dan
sekitarnya cukup
punya banyak route
alamiah yang belum
terjamah,yang justru
semakin menantang
untuk dilewati bagi
penggemar MTB off
road.Fell free to
call me if you like
to joint with
us.Salam dari
Komunitas Sepeda
Makassar. 01-03-2007 Dari : pagandeng bulaeng | pagandeng@terongmall.com wah.. kok kita2 gak
diajak gabung?
Padahal kita biasa
berpapasan di
jalan... 01-03-2007 Dari : DJ | drinking_balloon@yahoo.com weee.. kok saya gak
dikasitau An.. saya
juga kan suka
sepeda-sepedaan.
lain kali
bilang-bilang ya...
Dx 01-03-2007 Dari : aco bollo | aco@yahoo.com Sudah bagus mi itu
ada pecinta
bersepede
sayang kota makassar
ga punya jalur
khusus buat sepeda,
kalo mau bersepeda
ke kampus, nanti
diseruduk pete2
bela'...
lebih baik peke
motor
tapi bikin battala
dan malas olahraga
serta biking polusi
coba makassar
seperti adelaide
pasti terautr sekali
sistem
transportasina.. 28-02-2007 Dari : marco | marcolodewijk@hotmail.com O, by the way, i am
the proud brother of
this wonderful
reporter. 28-02-2007 Dari : Marco | marcolodewijk@hotmail.com Nice article and
photos. I couldn't
understand it all,
because of my
language. But my
Indonesian wife
gives explanation
about your article.
So, you all have
visited nice places
by bike. I wish i
was there too. I
have been there, in
Makassar too. I
think it is a very
nice city, but
little bit too
crowded, and less
discipline of the
people. Maybe if the
local authority will
first arrange good
transportation
facilities,give a
chance to cyclers,
and also give more
attention to nature,
you even can enjoy
more the
cyclingtrips around
losari beach and
tanjung bunga and
any other
interesting places
in Makassar and
surrounding. Salam
dari Belanda. 28-02-2007 Dari : Yani | hunsyaukanie@yahoo.com Kakak Anna,saya
beruntung dong bisa
bersepeda tiap hari
selama di Belanda.
Sehat, murah
sekalian buat
olahraga. Ke kampus,
belanja, atau
sekedar melihat
pemandangan indah di
sini. Enaknya
bersepeda di
Belanda, karena ada
jalur khusus buat
pengendara sepeda,
jadi tak perlu
khawatir disenggol
mobil atau bus.
Tidaknya enaknya
kalo naik sepeda pas
hujan deras dan
angin
kencang,sesuatu yang
lumrah terjadi di
Belanda, hikss..
Btw, miss u kakak
anna.. 28-02-2007 Dari : Dian | aurel1975@yahoo.com Wah, bagus juga
kalau udah ada yang
memulai kegiatan
bersepeda ria di
alam terbuka. Selain
menyehatkan, juga
hemat energi dan
ramah lingkungan.
Siapa tahu beberapa
tahun lagi
pemerintah bisa
mencontoh Belanda
yang juga
memprioritaskan
pengguna jalan,
dengan menyediakan
jalur khusus bagi
pengendara sepeda di
jalan raya. Mungkin
butuh waktu, namun
setidaknya sekarang
bisa dimulai dengan
menggalakkan
kegiatan bersepeda
ria seperti yang
dilakukan oleh para
penggemar sepeda
dari LCC.. Bravo! 28-02-2007 Dari : ikhsan | Ada baiknya
pemerintah daerah
memprogramkan hari
bersepeda. Hal ini
selain untuk
membangun budaya
bersepeda, juga
menyiasati
kesemberawutan
jalanan akibat
padatnya kendaraan
bermotor, mengurangi
polusi dan lainnya.
Asalkan dibuat lajur
khusus bersepeda.
Program ini bisa
dilakukan tiap
sabtu, semisal
program jumat
bersih. Dan dimulai
dari jajaran aparat
pemerintrah daerah. |
|
|
|
|
| ::
CITIZEN REPORTER |
 | (Kamis, 12-07-2007) |  | (Minggu, 29-04-2007) |  | (Selasa, 31-10-2006) |  | (Rabu, 11-10-2006) |  | (Rabu, 16-08-2006) | |
|
Untitled Document
| ::
DUNIA SEGIEMPAT KAREBOSI |
|
Untitled Document
| ::
KONTAK TIM PANYINGKUL! |
Email Redaksi :
redaksi@panyingkul.com
Tim:
yus@panyingkul.com
+62 813 226 80844
Moch. Hasymi
+62 811 955 954
|
|
|