Untitled Document
 


Untitled Document
.KITAKITA
:: Jika Anda di Panyingkul ::
 
 KABAR KITA
 
 BERANDAKITA
Kegilaan, Dari Cinta Mati di Pulau Rajuni Hingga Riwayat Kadang
:: Ivan Firdaus ::
Baba Guru, Mengenang Film Rhoma Irama di Klenteng Galesong
:: Kamaruddin Azis ::
Mengagumi Tenun Troso, Mengenang Tenun Sengkang
:: Suryadin Laoddang ::
Perempuan Besi di Gunung Perak (2-selesai)
:: M. Aan Mansyur ::
Perempuan Besi di Gunung Perak (1)
:: M. Aan Mansyur ::
 
 RISETKITA
Rasa Takut : Yang Dicitrakan, Yang Dipelihara
:: Aria W. Yudhistira ::
Risetkita: Pramoedya versus Sejarah Resmi
:: Nurhady Sirimorok ::
Hikayat Rumpon Nelayan Mandar
:: Muhammad Ridwan Alimuddin ::
Di Makassar Pernah Ada “Negeri Wajo”
:: Nurhady Sirimorok ::
Surat Itu Ditulis Upas kepada September
:: Nurhady Sirimorok ::
 
 BUKUKITA
 
 KATAKOTAKITA
Kenapa si Gondrong yang Maju?
:: Ivan Firdaus dan Mustamin al-Mandary ::
Karena ‘Rewa’ Badan Binasa
:: Sudirman Nasir ::
Yang Okkot, yang Salah Sambung
:: Nursamsu danTusiana Noor Alfisyahr ::
Kandala`ka`, Kusta Bila Dusta
:: Panyingkul ::
Ayo, Si(ng)kat Terussss..!
:: Panyingkul! ::

 
 TAHUKAHKITA
 

.
 ::
Rabu, 14-02-2007 
Bahasa Inggeris Makin Nyaring Bunyinya
:: Lily Yulianti Farid ::


Toko Buy The Way di Seoul
Foto: Lily Yulianti Farid.


Bahasa Inggeris memang makin nyaring bunyinya. Coba perhatikan gejala berbahasa, baik yang disajikan dalam media massa maupun dalam pergaulan sehari-hari. Gaya berbahasa yang mencampur-adukkan bahasa Indonesia dan bahasa Inggeris, tampaknya tidak disebabkan semata-mata oleh kebutuhan pengungkapan makna. Penyelipan satu-dua kata bahasa Inggeris ke dalam kalimat bahasa Indonesia tidak lagi semata-mata untuk memperjelas maksud. Akibatnya, meski terdengar keren, bisa-bisa maksud yang hendak disampaikan malah jadi kabur, seperti yang diamati citizen reporter Lily Yulianti Farid . (p!)
 
“Kita perlu melakukan mesyur-mesyur yang efektif untuk mengimplementasikan rencana dan planning…” Demikian bunyi kutipan menggelitik di harian Kompas beberapa waktu lalu, yang menyoroti makin seringnya pejabat di Indonesia menggunakan bahasa asing, khususnya bahasa Inggeris dalam pidatonya. Tapi sayang, penggunaannya sering keliru.

“Mesyur” dalam kutipan ini diambil dari kata measure, dan menurut aturan tata bahasa Inggeris, seandainya terdapat lebih dari satu, maka cukup ditambah “s” di belakangnya untuk menunjukkan sifat pluralnya. Tapi ya, itu tadi, di lidah sang pejabat, justru lebih nyaman disebut “mesyur-mesyur”.

Lain lagi kisah artis Dominique Diyose, pemeran Ming dalam film “Berbagi Suami”. Saat tampil di Festival Film Internasional Tokyo tahun lalu, dengan percaya diri ia menyatakan memang sudah terbiasa berbicara 50 persen bahasa Inggeris dan 50 persen bahasa Indonesia dalam dua tahun terakhir. Katanya, “Di Jakarta, teman-teman saya juga banyak yang begitu. Well, you know we must practice our English, kan? So, we try to use English karena kan ada yang tidak bisa diekspresikan dalam bahasa Indonesia…”

Sayangnya, kebiasaan berbahasa Dominique yang fifty-fifty ini justru membuat bingung peserta diskusi film yang datang dari berbagai negara, saat ia tampil menjadi nara sumber tunggal. Kebiasaannya itu juga membuat penerjemah yang mendampingi Dominique menjadi kebingungan.

Kisah pejabat yang dikutip harian Kompas dan pengakuan Dominique hanyalah contoh betapa bahasa Inggeris memang terserap secara cepat dan dahsyat dalam percakapan sehari-hari. Soal salah tulis atau salah interpretasi, meski para pakar bahasa mengkhawatirkannya, tapi sebagian pihak menganggapnya wajar saja. Toh, bukankah bahasa asing diserap dan disesuaikan dengan kebutuhan setempat?

Nah, karena itulah bagi pembaca dengan pengetahuan berbahasa Inggeris yang baik, judul harian lokal di Makassar yang berbunyi: “Ada Hidden Agenda yang tidak diungkapkan” atau “Hati-hati menghadapi Miss Call” tentu bisa mengundang senyum.


Lanch bisa dipahami?
Foto: Istimewa.


Tapi mungkin ada baiknya mengingat, kecelakaan berbahasa seperti itu terjadi di mana-mana, termasuk di negara-negara yang menggunakan bahasa Inggeris sebagai bahasa utama. Situs web Your Dictionary dengan setia memperbarui daftar kata yang paling sering salah eja atau pengertiannya salah kaprah. Layanan kamus online lainnya pun memiliki menu serupa. Penutur asli pun kerap tak luput dari soal salah eja.

Di Jepang, saya juga mengamati kesulitan orang Jepang beradaptasi dengan sejumlah istilah Inggeris. Sebagai contoh, tidak sedikit rumah makan yang sulit menuliskan “Lunch” dengan baik dan benar. Karenanya di kota besar seperti Tokyo dan Osaka, saya sering kali menemukan iklan restoran berbunyi: “LANCH”. Atau bahkan ada yang lebih ekstrim dengan menyebutnya sebagai “RANCH” (catatan: bahasa Jepang sulit membedakan bunyi “L” dan “R”)

Musim dingin kali ini, sebuah toko di Shibuya, di pusat Tokyo yang menjual pakaian hangat, dengan percaya diri memajang iklan “WORM CLOTHES, 25 % Discount”. Bagi yang tak peka, tentu bergidik membayangkan “pakaian cacing” dijual dengan harga diskon pula.



Jangan takut ke Barbar Shop
Foto: Istimewa.



Sementara di negara-negara Arab, salah satu kesalahan berbahasa Inggeris yang paling menyolok, misalnya ditemui pada papan tukang cukur. Karena dalam bahasa Arab tidak dikenal bunyi “E”, maka bahasa Inggeris, “BARBER SHOP” ditulis menjadi “BARBAR SHOP”. Mulai dari tukang cukur di Oman hingga di Mekkah, papan bertuliskan “BARBAR SHOP” mudah ditemukan. Apakah di Barbar Shop pelayanannya lebih “barbaric”, saya belum pernah mencobanya.

Lain cerita di Seoul, sebuah toko kelontong mengadopsi istilah bahasa Inggeris “by the way” menjadi nama toko dengan mengubahnya menjadi “BUY THE WAY”. Saat saya iseng menanyakan kepada pemilik toko, kenapa memilih nama toko seperti itu, jawabnya: “Ya, saya harap orang yang sedang jalan-jalan bisa mampir belanja di sini…”

Banyak contoh tentang bagaimana orang mencapuradukkan penggunaan bahasa Inggeris dan bahasanya sendiri. Juga banyak contoh bagaimana bahasa Inggeris sudah dipermak sedemikian rupa sesuai dengan kebutuhan. Mungkin anda pun pernah menemukan, atau justru pernah melakukannya. Ayo, share-sharelah sedikit! (p!)

*Citizen reporter Lily Yulianti Farid dapat dihubungi melalui email editors@lilyandfarid.com

| Beri Komentar| Jumlah Komentar (50) |

Komentar :

28-01-2009
Dari : Arya Seta | ilprincipe_bianco@yahoo.fr
Ya, pengamatan anda itu dapat digolongkan gejala xenoglosofilia atau rasa bangga saat dapat menyisipkan kosakata asing ke dalam bahasa yang sedang dituturkan. Memang kuatnya pengaruh bahasa Inggris rasanya seperti tidak tertahankan. Namun bila kita bertanya-tanya mengapa di Indonesia gejala ini tumbuh subur, jawabannya ada pada faktor genetis orang Indonesia. Sejak dulu orang-orang nusantara dikenal sebagai penduduk yang mampu menerima berbagai macam pengaruh asing termasuk bahasa. Tak mengherankan bila kosakata bahasa Indonesia didaftar maka statistik akan menunjukkan 9 dari 10 kata dlm bhs Indonesia merupakan kata asing (Alif Danya Munsyi). Saya rasa ada dua pilihan yang dapat diambil dalam menghadapi derasnya pengaruh bahasa Inggris yaitu menyerap/meminjam mentah-mentah kata tersebut atau mencoba untuk mencari padanannya dalam bahasa Indonesia. Saya pribadi memilih pilihan yang terakhir karena saya merasa padanan tersebut lebih cocok dengan repertoar tata bahasa ibu saya. Coba renungkan kata-kata berikut: mengunduh x download, mengunggahkan x upload, disimpan x disave, mouse x tetikus, pelantam x speaker.

13-10-2008
Dari : Dewi | Dewimu22@gmail.com
jeli,, saya suka tulisan-ta'. terima kasih untuk mengingatkan tentang hal-hal yang dekat namun sering terabaikan oleh kita

10-10-2008
Dari : ramz | masssenrempulu_ramz@yahoo.com
hebat..analisis yang tajam.

05-09-2008
Dari : NUnu | rahmi.temmarunu@gmail.com
Hm, tiba-tiba langsung ingat sama diri sendiri, bahasa indonesia saja masih nda karuan, masih dicampur bahasa inggris pula, brantakan abis deh. mau ngga mau bela bos, karena kerja di perusahaan asing dan kebetulan atasannya juga tidak bisa berbahasa indonesia, jadinya suasana kantor kadang-kadang masih kebawa dalam obrolan sehari2. bukan ji juga mo membela diri, cuman fenomena-nya juga sekarang kaya begitumi.

11-07-2008
Dari : maxhavelaar |
Ini bukan masalah sok2an, tapi lebih dari itu, bahasa Inggris sekarang sdh jadi kebutuhan. Contoh sederhana, bagi kita yg sering ngenet, tanpa mengerti bahasa tersebut, informasi yg kita peroleh sangat terbatas. Yg jadi masalah jika kita melupakan identitas, dengan mengabaikan bahasa ibu. Yg paling bijak adalah, bahasa ibu yg utama, bahasa Inggris (bhs asing lainnya) sebagai penunjangnya.

09-07-2008
Dari : Sirun Muyassirun | seeroon@gmail.com
Bahasa merupakan alat komunikasi dan juga sebagai bentuk aktualisasi dan eksistensi sebuah komunitas. Ciri hasna kelompok tertentu tawwa. Jadi menurut saya bahasa bisatonji dijadikan alat ukur akan kemajuan bangsa. Contona tawwa bahasa Inggeris. Itu jadi bahasa dunia karena majuki tawwa negaranya. Cobami liakki bahasa Jepang, China/mandarin, Jerman, banyka tong kita pelajari karena majuki negaranya dan kita mau belajar dari mereka makanya kita pelajari bahasanya. Makanya kalo mau tongki maju bahasata, bantuki pemerintah kasi maju desata, kotata, dan negarata. Lalu,dengan sendirinya mata dunia akan tertuju pada kita dan pada akhirnya mau napelajari bahasata puangg.. Marikidiiii...

27-06-2008
Dari : Meta | meta_mks@yahoo.com
Di Jepang ada namanya Jinglish, di Singapore ada namanya Singlish, kalau di Indonesia ada Linggish. Hehehehe... Yang jelas, sebenarnya sok Inggris itu nggak hanya dimiliki oleh orang Indonesia. Banyak negara lain. Kadang yang menarik adalah di negara Asia Timur seperti Korea, Jepang, Taiwan atau China. Karena dari sisi tata bahasanya terbalik-balik. Yang jelas: Pengamatan harus jeli. Di bandara di Jogya saya temui: Please cheek in....Ya monggo, masuk pipi.

23-05-2008
Dari : Retty | mmargret67@yahoo.com
http://khazanahpikir .blogspot.com/2008/0 5/languages.html

06-05-2008
Dari : maryn | maryn_ukhti@yahoo.com
enak dibaca! padahal mata sudah lelah...tapi tulisannya bikin mau baca terus....til end..

05-05-2008
Dari : rafiuddin | rafy_dcc@yahoo.com
ada jg pernah sa liat d depan ruang kerjax penjahit, dia tulis kayak ini.. penjahit "TAYLOR" nda pa2 ji to, maaf nah..

03-05-2008
Dari : uti | utiena@gmail.com
tulisan yang bagus...menghibur..m enyentil..tetapi mendidik.. apa karena bahasa inggris yang terlalu susah atau kita yang malas memahami atau memang kita yang terlalu bodoh?Hingga inggris "fity-fity" lah yang menjadi pilihan kita...T-T

16-04-2008
Dari : H.Bakri Supu | mpe.cv@telkom.net
Mengetik saja sudah keliru apa lagi bahasa ingrisnya , pokok jangan takut kalau malu salah kapan bisanya ,yang penting bisa yes,no , salah tujuh gasa manenggi , karena orang asing juga banyak yang seoerti kita kok , kecuali orang Amerika england dan australia , malah kalau perlu sekolah sekolah di sulawesi selatan bagusnya berani mentrapkan satu hari pakai bahasa Ingris ,supaya lancar bakri supu

16-04-2008
Dari : h |

16-04-2008
Dari : H.Bakri Supu | m

11-04-2008
Dari : Rezky Nila | eki_arki_kirby@yahoo.com
saya tidak setuju dengan kamal_mappawata, soalnya bahasa juga penting. Orang Jepang pun disetiap produknya ada tulisan bahasa inggris, yang benar adalah orang Jepang tidak meninggalkan bahasanya tapi terus membudayakan bahasanya. Menurut saya, yang tidak benar dari orang Indonesia khususnya orang makassar adalah cenderung kita tidak membudayakan bahasa sehari - hari kita yaitu logat makassar. seperti yang diungkapkan oleh Juniar( Samalona )

18-03-2008
Dari : ani | v3n_cilent@yahoo.com
Yuhuu... English is asik hehehehe

17-03-2008
Dari : dinal | roll_phonic@yahoo.co.id
tulisannya oke nih... bagus.. aku jadi tertarik....

06-03-2008
Dari : kamal_mappawata | kamal_mappawata@yahoo.co.id
itumi kapang dibilang katuru2kang, semuanya serba english, nda mantap bede kalo tidak naselipkanki english, lebih pede, lebih ilmiah dll. sampe2 lowongan kerja semua nasyaratkanmi hrs bs english, manna nanti tdk butuh tonji. bgtumi kita, sok majuki. padahl banyak tonji negara maju napertahankan tonji bahasanya sendiri, tulisanna sendiri contona cina, jepang korsel. jadi sebenarnya untuk maju kapang bukanji masalah bahasa tapi resofa temmangingi, kerja keras cappo, mandiripi tidak banyak utangna. kapang????

14-02-2008
Dari : NinnonK |
Tabe, sebelumx sy ninnonk kuliah diplp kasian jurusan bhs inggris. nda bisaki jg salahkan org okkotz dalm bhs ingris kasian appa nda sama memang tong panjang rendah lidah ta sama org bule jadi harp maklum maki saja k.lo ada okkotz2 sedikki, itu artinya kt pux semangat juang okkotz yang tinggi dlm bhs inggris. Btulllll

14-02-2008
Dari : |

13-02-2008
Dari : dedetz | jeng_daya@yahoo.com
english is fun, don't worry be happy

06-02-2008
Dari : Ronald | ronald_picardy@hotmail.com
Tabek di..... menurut saya selagi penggunaan nya benar dan sesuai dengan apa yang di maksud,saya rasa tena ji ngapa".... tapi perlu di ingat juga yah... tidak semua BHs inggris kita bisa terjemahkan secara langsung ke Bhs.Inggris. Contoh na kalau d artikan asal2an: polisi tidur(sleep police), otak2( brain-brain),datang bulan (coming moon),dll. Nah, jangan sampai jadi bahan tertawa'an... Terima kasih perhatiannya... marikidi'.... Salam dari Melbourne, Australia

05-02-2008
Dari : ichal | raditya0072@yahoo.com
bhs indo 50 inggris 50,atau sesekali kita nyentil dengan inggris,mungkin sebuah proses pencerminan tingkat pergaulan yang lebih baik,paling tidak yang mengunakan akan lebih banyak lagi belajar bagaimana berbahasa inggris yang baik...saya pikir wajar...daripada kadang kita "memperkosa" bahasa lokal kita sendiri.

02-01-2008
Dari : venom |
Mungkin maksud dari Pejabat2 itu dengan mengatakan "mesyur-mesyur" adalah "main syur" dengan artis hehehehe

18-12-2007
Dari : fahrie haris | fahrie@dokter-unhas.org
sekedar intermezzo sauatu waktu saya pernah melihat spanduk besar di kantor kelurahan dengan tulisan dalam bahasa Inggris: Save the Country Hang TNI .... Save the people hang POLRI! Saya pikir... wah berani juga Pak Lurah memasang spanduk seperti ini, apa ndak takut kalo TNI dan POLRI marah??????? Ternyata setelah saya cari tahu rupanya Pak Lurah lagi demen berbahasa Inggris ria dan yang dimaksud dengan spanduk tersebut adalah : Keamanan Negara Bergantung (pada) TNI ... dan Keamanan Masyarakat Bergantung (pada) POLRI :p

04-12-2007
Dari : fahrie haris | beautifulmind@gmail.com
sepakat dengan tulisan lily, pergunakanlah bahasa daripada bangsa daripada negara daripada kita yaitu republik daripada Indonesia dengan baik dan benar :) maksudnya adalah ketika kita berbahasa Indonesia, gunakanlah bahasa Indonesia seutuhnya tanpa perlu dicampur dengan bahasa asing (asing lho.... bukan hanya bahasa Inggris, termasuk bahasa Arab juga dong) Tapi ini jangan lantas membuat kita jadi anti terhadap bahasa asing.... kita mesti jujur mengakui bahwa untuk dunia pendidikan, sebagian besar literatur yang ada masih dalam bahasa asing/Inggris. Bahkan kalau kita membaca buku terjemahan, berapa banyak yang gagal menangkap maksud sebenarnya dari penulis dan kemudian menerjemahkan secara asal-asalan? Bahasa asing penting.... karena tanpa bahasa ... saya percaya ... sebagian fungsi komunikasi kita lumpuh, padahal sebagai mahluk sosial kita perlu berkomunikasi. Apalagi di era globalisasi dimana dunia menjadi 'borderless' (nah ini juga bahasa Inggris hehehe)

30-11-2007
Dari : husni pampang | doublepunk83@hotmail.com
satu lagi contohku gang.. saya terheran ketika sebuah bus lewat dijalan raya dengan iklan bertulisakan "the best spot singaporean way-way" lama kalimat itu coba saya terjemahkan dan baru saya merasa geli ketika tahu kalo maksudnya adalah tempat jalan-jalan paling bagus bagi orang-orang singapura.. setelah saya telusuri ternyata memang sudah menjadi bahasa gaul mereka yang mereka panggil "singlish";singkatan dari singapore-english.di mana dalam tata bahasanya, english-grammar di gabungkan dengan tata-bahasa malay sehingga mudah dimengerti oleh penduduk disana.contohnya kata tidak perlu diterjemahkan menjadi no need lah...dan kata hanya melihat-lihat menjadi just looking-looking....

29-11-2007
Dari : becce nippong | ummi_seeka89@yahoo.co.id
wah keren ini baru berita

22-11-2007
Dari : Armand | armandp.blogspot.com
Sangat menarik. Bahasa mencerminkan pengaruh peradaban masyarakat. Semakin banyaknya penyerapan bahasa asing, khususnya bahasa Inggris menunjukkan bahwa budaya asing telah banyak mendominasi kebiasaan-kebiasaan dalam masyarakat kita. Hal ini tidak bisa dihindari, dan bagaimana dengan nasib bahasa Indonesia di masa mendatang?

09-10-2007
Dari : Dioba Uku Curup | onal_curup@yahoo.co.id.
Gak masalah ko'. Itulah namanya ide yang dimunculkan dengan kreasi-kreasi. munkin itu menjadi lebih menarik. Berbicara dalam bahasa inggris masih terbata-terbata, itulah namanya proses pembelajaran. Pokoknya saya dukung apapun yang dilakukan demi untuk pengembangan diri termasuk belajar bahasa inggris,ok!

07-09-2007
Dari : joko | cemara_hijau@yahoo.com
lucu juga ya...tapi tak ada salahnya bahasa inggris fifty-fifty. minimal ada dikit PeDe la bicara bahasa bule ini. orang malaysia mungkin beruntung karena mereka lebih familiar menggunakan bahasa ini karena mereka bekas koloni inggris. tidak sama dengan kita, dan beberapa negeri teangga lainnya seperti thailand, myanmar, kamboja,bahkan korea. tapi tetap saja mereka susah untuk tidak campur-campur. separuh melayu separuh inggris. dialek melayunya kental sekali. sampai-sampai di koran bahasa inggris "star", malaysia aksen dikatakan salah satu yang unik di dunia dalam pengucapan bahasa inggris. terlepas dari itu untuk konteks indonesia penguasaan bahasa ini merupakan kemutlakan kalau ingin bersaing ditingkatan global. ndak usah pikir yang canggih-canggih dulu. mengerti dulu bahasanya. kalau tidak, kita akan selamanya terhambat mengakses informasi dan pengetahuan yang sayangnya kebanyakan dalam bahasa ini. so......

06-09-2007
Dari : Muhammad Iqbal | iqbal_m70@yahoo.com
Bicara tentang English, kadang-kadang orang "bule" sendiri salah dalam penulisan bahasanya, padahal mereka dari Australia dan UK. ini pengalaman saya selama bekerja dan berkumpul sama mereka.

29-08-2007
Dari : haerul sohib | herulsohib@yahoo.co.id
Inilah salah satu keunggulan manusia yang Tuhan berikan,mampu berkomunikasi dengan berbagai cara, salah satunya dengan bahasa atau istilah bakunya (menurut saya) memakai mulut dengan mengeluarkan bunyi khas,sehingga dengan kemampuan tersebut terdapat banyak bahasa mulai yang terdengar kasar sampai yang jernih,seperti bahasa makassar yang kedengarannya(bunyin ya) agak kasar, bahasa jepang juga,namun yang halus yang pernah saya dengar yaitu bahasa yang beradar di kendari entah apa namanya, teman saya berkata seperti bahasa burung-burung(mungki n bagi mereka yang tidak mengerti),jadi orang yang sering mengucapkan bahasa inggris belum tentu intelek, di inggris sana saja tidak semuanya intelek bahkan ada yang idiot, padahal mereka menggunakan bahasa inggris. menurut saya intelek itu mampu menempatkan sesuatu pada tempatnya dan bijaksana, serta apa yang keluar dari mulutnya dapat dimengerti oleh orang banyak.maaf agak panjang komentarnya, salam dan terimkasih, mariki di...

26-08-2007
Dari : yani | www.meet-yani.blogspot.com
Mmmm,lucu juga ya...menurut saya(kalo boleh sedikit berkomentar), bahasa inggris tuh juga sebenarnya bahasa yang rada-rada aneh. Satu contoh kecil, kalo 'vegetarian', yang diambil dari kata 'vegetal'yang artinya berhubungan dengan tumbuhan, lalu di beri suffix 'rian' maka vegetarian berarti orang yang lebih suka makan sayuran dan tidak makan daging binatang karena alasan moral, agama, atau alasan kesehatan. lantas bagaimana dengan kata 'humanitarian'? Apakah kemudian artinya adalah orang yang lebih suka makan 'human' dan tidak makan daging binatang karena alasan moral, agama, atau alasan kesehatan. Nyatanya toh bukan...heheheh...

02-08-2007
Dari : arif | aco_bugis@yahoo.com/aco_paotere@yahoo.co
tabe semua di cikali. klo sepengetahuan saya sih yg masih belajar ini (ciyye masih mau belajar nih, hehhehee) dalam ilmu politik bahasa dipakai sebagai alat tuk kekuasaan atau menguasai, nah terkait dgn english, siapa yg berani membantah klo negara2 kuat didunia yg jadi pusat peradaban bhs nasional mrk adalah bhs inggris, contoh amrik itu (jadi kiblat bagi negara lain) yg super power mrk pke bhs inggris. so klo sy, kita dan semua org bugis, makassar, mandar, toraja dan kajang mau bhs kita ada dimana-mana mari ki jadikan SUL_SEL ini jadi propinsi yg super power juga, (mimpi kali yee) amiin.

31-07-2007
Dari : Dey Agusta | deyagusta@yahoo.com
bung kipal, bagaimana kalau "tagline" kita ganti saja dengan kata "semboyan" dan "branding image" dengan kata "papan merek' atau "merek dagang"?

06-07-2007
Dari : kipal ruganda | kipal_ruganda@yahoo.com
Ibukota negara kita JAKARTA... dengan bangganya menggunakan tagline ENJOY JAKARTA, untuk tagline pariwisatanya,lebih ke timur tepatnya Makassar menggunakan GREAT EXPECTATION, mungkin ini bisa di fahami mengingat pasar (segment) pariwisata Makassar memang untuk wisman, yang jadi masalah jika pasarnya ternyata untuk wisnu... buat Disbudpar Makassar atau Propinsi kalo mau buat tag line atau branding image, pake saja bahasa Makassar ato Bugis tak peduli siapa dan dimanapun segmennya..biarkan "mereka" yang mencoba memahami "kekayaan" kita!!!! dari Orang indonesia,suku Mandar,PAREPARE

17-06-2007
Dari : Putri Makassar | qa_sweet02@yahoo.com
Asalamu Alaikum.. Perkenalkan saya salah seorang putri Makassar yang bego bahasa inggris. Terus terang saya heran, kenapa kebanyakan orang merasa bangga kalo berbicara menggunakan bahasa Inggris. Tidak masalah sebenarnya kalo ngomongnya benar, tapi kalo okkotski.. kan lucu. Jadi pengen ketawa tapi kasian juga. Kenapa sih harus pake bahasa inggris?? kenapa tidak pake bahasa indonesia saja, lebih jelas dan pastinya lebih gampang di mengerti. Terkadang orang yang merasa dirinya intelek selalu berusaha untuk berbicara sedikit banyak dengan bahasa inggris dalam menyampaikan sesuatu. Padahal menurut saya makin cerdas seseorang maka dia harus lebih mampu memaparkan apa yang diketahuinya dan dapat diterima oleh si penerima informasi dengan jelas. Tidak perlu pake bahasa Inggris. Eh..memang tidak bisa orang bule aja yang belajar bahasa Indonesia. Masa' kita terus yang belajar bahasa Inggris. Tukaran dong. Kita kan harus bisa jadi tuanrumah di negara sendiri... benar tidak...???

15-06-2007
Dari : Juniar (Samalona) | juncheng_ducobu@yahoo.com
Dulu saya pengagum berat Bapak Yus Badudu dan Bapak Anton M. Muliono. Saya juga sempat kagum pada kesantunan bertutur Bapak Fuad Hassan sewaktu bertugas sebagai Menteri P dan K. Saya sendiri belajar Bahasa Inggris sejak kecil, tapi lebih percaya pada Bahasa Indonesia sebagai salah satu identitas diri. Kebiasaan berbahasa saya mulai berubah sejak bekerja di bidang perhotelan. Setidaknya perubahan itu berlaku di dalam lingkungan kerja. Tadinya saya memandang sinis pada orang-orang perhotelan yang omongannya belepotan, tapi kemudian saya menganggap itu salah satu cara untuk membiasakan orang lain berbahasa Inggris. Karena, bukankah lucu kalau orang kerja di hotel tapi Bahasa Inggrisnya okkots? Di luar lingkungan hotel, saya mulai bisa menerima orang yang suka code-switching (saya kira itu istilahnya dalam ilmu linguistik) antara Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Tentunya, dengan syarat bahwa ini juga berlaku untuk bahasa-bahasa lain. Bahasa daerah, maksud saya. Bukan 'sok logat', yang artinya kejakarta-jakartaan. Baru saja saya pulang kampung ke Makassar. Mendengar sebagian besar stasiun radio FM, saya jadi ragu: apakah betul saya berada di Makassar? Kenapa hampir semua penyiarnya terkesan orang Jakarta? O ya, tentang Bahasa Inggris di Jepang, silakan coba engrish.com. Maafkan panjangnya komentar ini. Silakan diedit.

09-06-2007
Dari : Retty | mmargret67@yahoo.com
Menarik sekali. Membuat kami yang tinggal di dalam negeri tidak seperti katak dalam tempurung. Benar kata David Graddol dalam bukunya "English Next" bahwa musuh bahasa Inggris adalah bahasa Inggris itu sendiri. Saya baru mengerti kenapa... Belajar bahasa asing seharusnya membuat kita semakin bangga dengan budaya (bahasa daerah) dan kekuatan bahasa nasional kita.

10-04-2007
Dari : Alfred | akompudu@gmail.com
Bagus, kreatif dan inovatif. Mengangkat realita yang ada.

07-03-2007
Dari : Zaif Al Kadir | zaif_al_kadir@yahoo.com
Setelah aku membaca artikel ini aku terbesit ingatan tentang kebiasaan saya setiap hari, selama 3 tahun dipondok pesantren IMMIM. saya mau tanya kak, bagaimana tanggapan kakak bila bahasa arab di tulis dengan kata indonesia. contohnya : suqran kasiran (terima kasih banyak).

07-03-2007
Dari : Zaif Al Kadir | zaif_al_kadir@yahoo.com
Setelah aku membaca artikel ini aku terbesit ingatan tentang kebiasaan saya setiap hari, selama 3 tahun dipondok pesantren IMMIM. saya mau tanya kak, bagaimana tanggapan kakak bila bahasa arab di tulis dengan kata indonesia. contohnya : suqran kasiran (terima kasih banyak).

17-02-2007
Dari : nino | ninogirls@yahoo.com
Tulisannya sangat menarik. Emang banyak orang Indonesia yang lebih sering menggunakan bahasa Indonesia yang ke Inggris-ingrisan biar kederangaran keren tawwa. Dulu di Makassar saya pernah melihat tulisan di pete-pete "92"(Nine two(nain tu dalam bahasa Makassar "siapa itu?) dan dijawab Inakke ji. Dan kalau di Jepang mungkin kata thank you bisa ditulis 39 (bacanya dalam bahasa Jepang "San kyu") yang sering diucapkan orang Jepang saat mengucapkan "thank you"

17-02-2007
Dari : haerul | www.muhammadhaerul.multiply.com
artikel yang sangat menarik. tapi seharusnya ditulis "bahasa inggris", bukan "bahasa inggeris"

16-02-2007
Dari : Lollong M. Awi | lollong94@yahoo.com
membaca tulisan ini saya teringat sebuah tulisan tentang bahasa di majalah Tempo, yang mengupas bagaimana masyarakat malaysia (baca: abg) yang teracuni dengan kosa kata Jakarta yang mengharu biri pertelevisian kita terutama sinetron, seperti, bangeet, loe, gue, gitchu lho,dll. ini adalah simptoma yang biasa dari sebuah perubahan pola pikir tapi dia menjadi persoalan ketika kekhasan bahasa setempat menjadi baur. tidak terkecuali orang makassar yang memiliki ragam bahasa yang unik, dan ini yang mulai hilang. misalnya akhiran Mi (sudami),Ji (tida'ji),Di' (kenapa di'?), Ko (pergimoko, kenapako kah?)), ada juga misalnya "gang", (saya tida'ji gang), dan seterusnya, menurut saya kekhasan seperti ini adalah kekayaan budaya, karenanya harus dikembangkan dengan menuturkannya bukan dengan mengadopsi kata-kata dari luar atas nama gaul karena biasa dibilangi gaulko de', tekamma?

15-02-2007
Dari : rian |
Kalau pemakaian busway itu awalnya darimana, ya? Kayaknya itu udah dimodifikasi dari anyway atau by the way dan tak sekedar gengsi. "Busway, elo dari mana ja, bow?"

14-02-2007
Dari : Taqyuddin Kadir | taqlawyer.blogspot.com
Tulisannya asyik banget, ringan dan memukau habis (Manayameng ladde ibaca). Jika gejala berbahasa seperti yang diulas mbak Lily itu, merupakan "penyakit", pasti sudah sangat akut dan hampir tak dapat disembuhkan lagi. Mungkin jalan keluarnya, bahasa kita yang harus lebih responsif(?)untuk menyerap kata-kata bahasa Inggeris itu kedalam atau menjadi kosa katanya, agar "mesyer-mesyer" itu menjadi absah, sebagaimana "ideas" menjadi ide-ide, keepers menjadi kiper-kiper dsb. Saya sering sekali pula mendengarkan selipan kata-kata "even", let's say", "worse come to worse", "nothing to lose", "at the end of the day" dsb, dalam percakapan sehari-hari. Bagi saya, hal itu OK-OK (bukan OKs) saja, asal konteksnya tepat dan kata-katanya benar, yang penting komunikatif dan efektif lagi efisien. Biarlah orang kita menyebut MOL untuk MAll tapi tidak menyebut BOL untuk BALL. Biarkan pula lebih memilih menyebut "peristiwa Nine One-one (9/11)" ketimbang menggunakan kalimat panjang "peristiwa pemboman gedung WTC di Amerika Serikat". Biarkan pula tetap menulis "FOTO COPY" di tokonya daripada menulis "FOTO KOPI" sebagaimana banyak terlihat di pnghujung tahun 90an sampai awal 2000an. Tabek Dii

14-02-2007
Dari : dianika | dianika.wardhani@gmail.com
Tulisannya bagus. Manis. Enjoy saya membacanya. Nah lho, kebawa bahasa Inggris kan ya.. Itulah... Kapan hari saya nemukan sesuatu. Servis maksudnya service. The drem team tujuannya the dream team. De el el, de el el.

14-02-2007
Dari : trian | http://3an.blogspot.com
bagus, hal-hal jeli yg suka dilewatkan orang. satu kata buat tulisannya, cerdas!



 :: CITIZEN REPORTER
Makassar di Panyingkul!: Sebuah Persembahan
(Kamis, 12-07-2007)
Ayo Bergabung di Panyingkul!
(Minggu, 29-04-2007)
Catatan Sederhana Para Citizen Reporter
(Selasa, 31-10-2006)
Tentang Citizen Reporter dan Rubrik di Panyingkul!
(Rabu, 11-10-2006)
Riuh Rendah di Panyingkul!
(Rabu, 16-08-2006)

Untitled Document
 :: DUNIA SEGIEMPAT KAREBOSI






 :: PILKADA




 :: ALBUM PUASA 2008




Untitled Document
 :: KONTAK TIM PANYINGKUL!

Email Redaksi :

redaksi@panyingkul.com

Tim:
yus@panyingkul.com
+62 813 226 80844

Moch. Hasymi
+62 811 955 954


© Juni 2006 - Panyingkul.com All Rights Reserved
Desain Web : Nesia Andriana -- Supported by: Yuhardin