|
|
| . |
| ::
|
| Rabu, 14-02-2007 | Bahasa Inggeris Makin Nyaring Bunyinya :: Lily Yulianti Farid ::
| Toko Buy The Way di Seoul Foto: Lily Yulianti Farid.
Bahasa Inggeris memang makin nyaring bunyinya. Coba perhatikan gejala berbahasa, baik yang disajikan dalam media massa maupun dalam pergaulan sehari-hari. Gaya berbahasa yang mencampur-adukkan bahasa Indonesia dan bahasa Inggeris, tampaknya tidak disebabkan semata-mata oleh kebutuhan pengungkapan makna. Penyelipan satu-dua kata bahasa Inggeris ke dalam kalimat bahasa Indonesia tidak lagi semata-mata untuk memperjelas maksud. Akibatnya, meski terdengar keren, bisa-bisa maksud yang hendak disampaikan malah jadi kabur, seperti yang diamati citizen reporter Lily Yulianti Farid . (p!) | “Kita perlu melakukan mesyur-mesyur yang efektif untuk mengimplementasikan rencana dan planning…” Demikian bunyi kutipan menggelitik di harian Kompas beberapa waktu lalu, yang menyoroti makin seringnya pejabat di Indonesia menggunakan bahasa asing, khususnya bahasa Inggeris dalam pidatonya. Tapi sayang, penggunaannya sering keliru.
“Mesyur” dalam kutipan ini diambil dari kata measure, dan menurut aturan tata bahasa Inggeris, seandainya terdapat lebih dari satu, maka cukup ditambah “s” di belakangnya untuk menunjukkan sifat pluralnya. Tapi ya, itu tadi, di lidah sang pejabat, justru lebih nyaman disebut “mesyur-mesyur”.
Lain lagi kisah artis Dominique Diyose, pemeran Ming dalam film “Berbagi Suami”. Saat tampil di Festival Film Internasional Tokyo tahun lalu, dengan percaya diri ia menyatakan memang sudah terbiasa berbicara 50 persen bahasa Inggeris dan 50 persen bahasa Indonesia dalam dua tahun terakhir. Katanya, “Di Jakarta, teman-teman saya juga banyak yang begitu. Well, you know we must practice our English, kan? So, we try to use English karena kan ada yang tidak bisa diekspresikan dalam bahasa Indonesia…”
Sayangnya, kebiasaan berbahasa Dominique yang fifty-fifty ini justru membuat bingung peserta diskusi film yang datang dari berbagai negara, saat ia tampil menjadi nara sumber tunggal. Kebiasaannya itu juga membuat penerjemah yang mendampingi Dominique menjadi kebingungan.
Kisah pejabat yang dikutip harian Kompas dan pengakuan Dominique hanyalah contoh betapa bahasa Inggeris memang terserap secara cepat dan dahsyat dalam percakapan sehari-hari. Soal salah tulis atau salah interpretasi, meski para pakar bahasa mengkhawatirkannya, tapi sebagian pihak menganggapnya wajar saja. Toh, bukankah bahasa asing diserap dan disesuaikan dengan kebutuhan setempat?
Nah, karena itulah bagi pembaca dengan pengetahuan berbahasa Inggeris yang baik, judul harian lokal di Makassar yang berbunyi: “Ada Hidden Agenda yang tidak diungkapkan” atau “Hati-hati menghadapi Miss Call” tentu bisa mengundang senyum.
Lanch bisa dipahami? Foto: Istimewa.
Tapi mungkin ada baiknya mengingat, kecelakaan berbahasa seperti itu terjadi di mana-mana, termasuk di negara-negara yang menggunakan bahasa Inggeris sebagai bahasa utama. Situs web Your Dictionary dengan setia memperbarui daftar kata yang paling sering salah eja atau pengertiannya salah kaprah. Layanan kamus online lainnya pun memiliki menu serupa. Penutur asli pun kerap tak luput dari soal salah eja.
Di Jepang, saya juga mengamati kesulitan orang Jepang beradaptasi dengan sejumlah istilah Inggeris. Sebagai contoh, tidak sedikit rumah makan yang sulit menuliskan “Lunch” dengan baik dan benar. Karenanya di kota besar seperti Tokyo dan Osaka, saya sering kali menemukan iklan restoran berbunyi: “LANCH”. Atau bahkan ada yang lebih ekstrim dengan menyebutnya sebagai “RANCH” (catatan: bahasa Jepang sulit membedakan bunyi “L” dan “R”)
Musim dingin kali ini, sebuah toko di Shibuya, di pusat Tokyo yang menjual pakaian hangat, dengan percaya diri memajang iklan “WORM CLOTHES, 25 % Discount”. Bagi yang tak peka, tentu bergidik membayangkan “pakaian cacing” dijual dengan harga diskon pula.
Jangan takut ke Barbar Shop Foto: Istimewa.
Sementara di negara-negara Arab, salah satu kesalahan berbahasa Inggeris yang paling menyolok, misalnya ditemui pada papan tukang cukur. Karena dalam bahasa Arab tidak dikenal bunyi “E”, maka bahasa Inggeris, “BARBER SHOP” ditulis menjadi “BARBAR SHOP”. Mulai dari tukang cukur di Oman hingga di Mekkah, papan bertuliskan “BARBAR SHOP” mudah ditemukan. Apakah di Barbar Shop pelayanannya lebih “barbaric”, saya belum pernah mencobanya.
Lain cerita di Seoul, sebuah toko kelontong mengadopsi istilah bahasa Inggeris “by the way” menjadi nama toko dengan mengubahnya menjadi “BUY THE WAY”. Saat saya iseng menanyakan kepada pemilik toko, kenapa memilih nama toko seperti itu, jawabnya: “Ya, saya harap orang yang sedang jalan-jalan bisa mampir belanja di sini…”
Banyak contoh tentang bagaimana orang mencapuradukkan penggunaan bahasa Inggeris dan bahasanya sendiri. Juga banyak contoh bagaimana bahasa Inggeris sudah dipermak sedemikian rupa sesuai dengan kebutuhan. Mungkin anda pun pernah menemukan, atau justru pernah melakukannya. Ayo, share-sharelah sedikit! (p!)
*Citizen reporter Lily Yulianti Farid dapat dihubungi melalui email editors@lilyandfarid.com
|
| | Jumlah
Komentar (50) |
|
| Komentar :
28-01-2009 Dari : Arya Seta | ilprincipe_bianco@yahoo.fr Ya, pengamatan anda
itu dapat
digolongkan gejala
xenoglosofilia atau
rasa bangga saat
dapat menyisipkan
kosakata asing ke
dalam bahasa yang
sedang dituturkan.
Memang kuatnya
pengaruh bahasa
Inggris rasanya
seperti tidak
tertahankan. Namun
bila kita
bertanya-tanya
mengapa di Indonesia
gejala ini tumbuh
subur, jawabannya
ada pada faktor
genetis orang
Indonesia. Sejak
dulu orang-orang
nusantara dikenal
sebagai penduduk
yang mampu menerima
berbagai macam
pengaruh asing
termasuk bahasa. Tak
mengherankan bila
kosakata bahasa
Indonesia didaftar
maka statistik akan
menunjukkan 9 dari
10 kata dlm bhs
Indonesia merupakan
kata asing (Alif
Danya Munsyi). Saya
rasa ada dua pilihan
yang dapat diambil
dalam menghadapi
derasnya pengaruh
bahasa Inggris yaitu
menyerap/meminjam
mentah-mentah kata
tersebut atau
mencoba untuk
mencari padanannya
dalam bahasa
Indonesia. Saya
pribadi memilih
pilihan yang
terakhir karena saya
merasa padanan
tersebut lebih cocok
dengan repertoar
tata bahasa ibu
saya. Coba renungkan
kata-kata berikut:
mengunduh x
download,
mengunggahkan x
upload, disimpan x
disave, mouse x
tetikus, pelantam x
speaker. 13-10-2008 Dari : Dewi | Dewimu22@gmail.com jeli,, saya suka
tulisan-ta'. terima
kasih untuk
mengingatkan tentang
hal-hal yang dekat
namun sering
terabaikan oleh kita 10-10-2008 Dari : ramz | masssenrempulu_ramz@yahoo.com hebat..analisis yang
tajam. 05-09-2008 Dari : NUnu | rahmi.temmarunu@gmail.com Hm, tiba-tiba
langsung ingat sama
diri sendiri, bahasa
indonesia saja masih
nda karuan, masih
dicampur bahasa
inggris pula,
brantakan abis deh.
mau ngga mau bela
bos, karena kerja di
perusahaan asing dan
kebetulan atasannya
juga tidak bisa
berbahasa indonesia,
jadinya suasana
kantor kadang-kadang
masih kebawa dalam
obrolan sehari2.
bukan ji juga mo
membela diri, cuman
fenomena-nya juga
sekarang kaya
begitumi. 11-07-2008 Dari : maxhavelaar | Ini bukan masalah
sok2an, tapi lebih
dari itu, bahasa
Inggris sekarang sdh
jadi kebutuhan.
Contoh sederhana,
bagi kita yg sering
ngenet, tanpa
mengerti bahasa
tersebut, informasi
yg kita peroleh
sangat terbatas. Yg
jadi masalah jika
kita melupakan
identitas, dengan
mengabaikan bahasa
ibu. Yg paling bijak
adalah, bahasa ibu
yg utama, bahasa
Inggris (bhs asing
lainnya) sebagai
penunjangnya. 09-07-2008 Dari : Sirun Muyassirun | seeroon@gmail.com Bahasa merupakan
alat komunikasi dan
juga sebagai bentuk
aktualisasi dan
eksistensi sebuah
komunitas. Ciri
hasna kelompok
tertentu tawwa. Jadi
menurut saya bahasa
bisatonji dijadikan
alat ukur akan
kemajuan bangsa.
Contona tawwa bahasa
Inggeris. Itu jadi
bahasa dunia karena
majuki tawwa
negaranya. Cobami
liakki bahasa
Jepang,
China/mandarin,
Jerman, banyka tong
kita pelajari karena
majuki negaranya dan
kita mau belajar
dari mereka makanya
kita pelajari
bahasanya.
Makanya kalo mau
tongki maju
bahasata, bantuki
pemerintah kasi maju
desata, kotata, dan
negarata.
Lalu,dengan
sendirinya mata
dunia akan tertuju
pada kita dan pada
akhirnya mau
napelajari bahasata
puangg..
Marikidiiii... 27-06-2008 Dari : Meta | meta_mks@yahoo.com Di Jepang ada
namanya Jinglish, di
Singapore ada
namanya Singlish,
kalau di Indonesia
ada Linggish.
Hehehehe...
Yang jelas,
sebenarnya sok
Inggris itu nggak
hanya dimiliki oleh
orang Indonesia.
Banyak negara lain.
Kadang yang menarik
adalah di negara
Asia Timur seperti
Korea, Jepang,
Taiwan atau China.
Karena dari sisi
tata bahasanya
terbalik-balik. Yang
jelas: Pengamatan
harus jeli. Di
bandara di Jogya
saya temui: Please
cheek in....Ya
monggo, masuk pipi. 23-05-2008 Dari : Retty | mmargret67@yahoo.com http://khazanahpikir
.blogspot.com/2008/0
5/languages.html 06-05-2008 Dari : maryn | maryn_ukhti@yahoo.com enak dibaca! padahal
mata sudah
lelah...tapi
tulisannya bikin mau
baca terus....til
end.. 05-05-2008 Dari : rafiuddin | rafy_dcc@yahoo.com ada jg pernah sa
liat d depan ruang
kerjax penjahit, dia
tulis kayak ini..
penjahit "TAYLOR"
nda pa2 ji to, maaf
nah.. 03-05-2008 Dari : uti | utiena@gmail.com tulisan yang
bagus...menghibur..m
enyentil..tetapi
mendidik..
apa karena bahasa
inggris yang terlalu
susah atau kita yang
malas memahami atau
memang kita yang
terlalu bodoh?Hingga
inggris "fity-fity"
lah yang menjadi
pilihan kita...T-T
16-04-2008 Dari : H.Bakri Supu | mpe.cv@telkom.net Mengetik saja sudah
keliru apa lagi
bahasa ingrisnya ,
pokok jangan takut
kalau malu salah
kapan bisanya ,yang
penting bisa yes,no
, salah tujuh gasa
manenggi , karena
orang asing juga
banyak yang seoerti
kita kok , kecuali
orang Amerika
england dan
australia , malah
kalau perlu sekolah
sekolah di sulawesi
selatan bagusnya
berani mentrapkan
satu hari pakai
bahasa Ingris
,supaya lancar
bakri supu 16-04-2008 Dari : h |
16-04-2008 Dari : H.Bakri Supu | m
11-04-2008 Dari : Rezky Nila | eki_arki_kirby@yahoo.com saya tidak setuju
dengan
kamal_mappawata,
soalnya bahasa juga
penting. Orang
Jepang pun disetiap
produknya ada
tulisan bahasa
inggris, yang benar
adalah orang Jepang
tidak meninggalkan
bahasanya tapi terus
membudayakan
bahasanya. Menurut
saya, yang tidak
benar dari orang
Indonesia khususnya
orang makassar
adalah cenderung
kita tidak
membudayakan bahasa
sehari - hari kita
yaitu logat
makassar. seperti
yang diungkapkan
oleh Juniar(
Samalona ) 18-03-2008 Dari : ani | v3n_cilent@yahoo.com Yuhuu...
English is asik
hehehehe 17-03-2008 Dari : dinal | roll_phonic@yahoo.co.id tulisannya oke
nih... bagus.. aku
jadi tertarik.... 06-03-2008 Dari : kamal_mappawata | kamal_mappawata@yahoo.co.id itumi kapang
dibilang
katuru2kang,
semuanya serba
english, nda mantap
bede kalo tidak
naselipkanki
english, lebih pede,
lebih ilmiah dll.
sampe2 lowongan
kerja semua
nasyaratkanmi hrs bs
english, manna nanti
tdk butuh tonji.
bgtumi kita, sok
majuki. padahl
banyak tonji negara
maju napertahankan
tonji bahasanya
sendiri, tulisanna
sendiri contona
cina, jepang korsel.
jadi sebenarnya
untuk maju kapang
bukanji masalah
bahasa tapi resofa
temmangingi, kerja
keras cappo,
mandiripi tidak
banyak utangna.
kapang???? 14-02-2008 Dari : NinnonK | Tabe, sebelumx sy
ninnonk kuliah diplp
kasian jurusan bhs
inggris. nda bisaki
jg salahkan org
okkotz dalm bhs
ingris kasian appa
nda sama memang tong
panjang rendah lidah
ta sama org bule
jadi harp maklum
maki saja k.lo ada
okkotz2 sedikki, itu
artinya kt pux
semangat juang
okkotz yang tinggi
dlm bhs inggris.
Btulllll 14-02-2008 Dari : |
13-02-2008 Dari : dedetz | jeng_daya@yahoo.com english is fun,
don't worry be happy 06-02-2008 Dari : Ronald | ronald_picardy@hotmail.com Tabek di.....
menurut saya selagi
penggunaan nya benar
dan sesuai dengan
apa yang di
maksud,saya rasa
tena ji ngapa"....
tapi perlu di ingat
juga yah...
tidak semua BHs
inggris kita bisa
terjemahkan secara
langsung ke
Bhs.Inggris.
Contoh na kalau d
artikan asal2an:
polisi tidur(sleep
police), otak2(
brain-brain),datang
bulan (coming
moon),dll. Nah,
jangan sampai jadi
bahan tertawa'an...
Terima kasih
perhatiannya...
marikidi'....
Salam dari
Melbourne, Australia 05-02-2008 Dari : ichal | raditya0072@yahoo.com bhs indo 50 inggris
50,atau sesekali
kita nyentil dengan
inggris,mungkin
sebuah proses
pencerminan tingkat
pergaulan yang lebih
baik,paling tidak
yang mengunakan akan
lebih banyak lagi
belajar bagaimana
berbahasa inggris
yang baik...saya
pikir
wajar...daripada
kadang kita
"memperkosa" bahasa
lokal kita sendiri. 02-01-2008 Dari : venom | Mungkin maksud dari
Pejabat2 itu dengan
mengatakan
"mesyur-mesyur"
adalah "main syur"
dengan artis
hehehehe 18-12-2007 Dari : fahrie haris | fahrie@dokter-unhas.org sekedar intermezzo
sauatu waktu saya
pernah melihat
spanduk besar di
kantor kelurahan
dengan tulisan dalam
bahasa Inggris: Save
the Country Hang TNI
.... Save the people
hang POLRI! Saya
pikir... wah berani
juga Pak Lurah
memasang spanduk
seperti ini, apa
ndak takut kalo TNI
dan POLRI
marah???????
Ternyata setelah
saya cari tahu
rupanya Pak Lurah
lagi demen berbahasa
Inggris ria dan yang
dimaksud dengan
spanduk tersebut
adalah : Keamanan
Negara Bergantung
(pada) TNI ... dan
Keamanan Masyarakat
Bergantung (pada)
POLRI :p 04-12-2007 Dari : fahrie haris | beautifulmind@gmail.com sepakat dengan
tulisan lily,
pergunakanlah bahasa
daripada bangsa
daripada negara
daripada kita yaitu
republik daripada
Indonesia dengan
baik dan benar :)
maksudnya adalah
ketika kita
berbahasa Indonesia,
gunakanlah bahasa
Indonesia seutuhnya
tanpa perlu dicampur
dengan bahasa asing
(asing lho.... bukan
hanya bahasa
Inggris, termasuk
bahasa Arab juga
dong)
Tapi ini jangan
lantas membuat kita
jadi anti terhadap
bahasa asing....
kita mesti jujur
mengakui bahwa untuk
dunia pendidikan,
sebagian besar
literatur yang ada
masih dalam bahasa
asing/Inggris.
Bahkan kalau kita
membaca buku
terjemahan, berapa
banyak yang gagal
menangkap maksud
sebenarnya dari
penulis dan kemudian
menerjemahkan secara
asal-asalan? Bahasa
asing penting....
karena tanpa bahasa
... saya percaya ...
sebagian fungsi
komunikasi kita
lumpuh, padahal
sebagai mahluk
sosial kita perlu
berkomunikasi.
Apalagi di era
globalisasi dimana
dunia menjadi
'borderless' (nah
ini juga bahasa
Inggris hehehe) 30-11-2007 Dari : husni pampang | doublepunk83@hotmail.com satu lagi contohku
gang..
saya terheran ketika
sebuah bus lewat
dijalan raya dengan
iklan bertulisakan
"the best spot
singaporean
way-way"
lama kalimat itu
coba saya
terjemahkan dan baru
saya merasa geli
ketika tahu kalo
maksudnya adalah
tempat jalan-jalan
paling bagus bagi
orang-orang
singapura..
setelah saya
telusuri ternyata
memang sudah menjadi
bahasa gaul mereka
yang mereka panggil
"singlish";singkatan
dari
singapore-english.di
mana dalam tata
bahasanya,
english-grammar di
gabungkan dengan
tata-bahasa malay
sehingga mudah
dimengerti oleh
penduduk
disana.contohnya
kata tidak perlu
diterjemahkan
menjadi no need
lah...dan kata hanya
melihat-lihat
menjadi just
looking-looking....
29-11-2007 Dari : becce nippong | ummi_seeka89@yahoo.co.id wah keren
ini baru berita 22-11-2007 Dari : Armand | armandp.blogspot.com Sangat menarik.
Bahasa mencerminkan
pengaruh peradaban
masyarakat. Semakin
banyaknya penyerapan
bahasa asing,
khususnya bahasa
Inggris menunjukkan
bahwa budaya asing
telah banyak
mendominasi
kebiasaan-kebiasaan
dalam masyarakat
kita.
Hal ini tidak bisa
dihindari, dan
bagaimana dengan
nasib bahasa
Indonesia di masa
mendatang? 09-10-2007 Dari : Dioba Uku Curup | onal_curup@yahoo.co.id. Gak masalah ko'.
Itulah namanya ide
yang dimunculkan
dengan
kreasi-kreasi.
munkin itu menjadi
lebih menarik.
Berbicara dalam
bahasa inggris masih
terbata-terbata,
itulah namanya
proses pembelajaran.
Pokoknya saya dukung
apapun yang
dilakukan demi untuk
pengembangan diri
termasuk belajar
bahasa inggris,ok! 07-09-2007 Dari : joko | cemara_hijau@yahoo.com lucu juga ya...tapi
tak ada salahnya
bahasa inggris
fifty-fifty. minimal
ada dikit PeDe la
bicara bahasa bule
ini. orang malaysia
mungkin beruntung
karena mereka lebih
familiar menggunakan
bahasa ini karena
mereka bekas koloni
inggris. tidak sama
dengan kita, dan
beberapa negeri
teangga lainnya
seperti thailand,
myanmar,
kamboja,bahkan
korea. tapi tetap
saja mereka susah
untuk tidak
campur-campur.
separuh melayu
separuh inggris.
dialek melayunya
kental sekali.
sampai-sampai di
koran bahasa inggris
"star", malaysia
aksen dikatakan
salah satu yang unik
di dunia dalam
pengucapan bahasa
inggris. terlepas
dari itu untuk
konteks indonesia
penguasaan bahasa
ini merupakan
kemutlakan kalau
ingin bersaing
ditingkatan global.
ndak usah pikir yang
canggih-canggih
dulu. mengerti dulu
bahasanya. kalau
tidak, kita akan
selamanya terhambat
mengakses informasi
dan pengetahuan yang
sayangnya kebanyakan
dalam bahasa ini.
so...... 06-09-2007 Dari : Muhammad Iqbal | iqbal_m70@yahoo.com Bicara tentang
English,
kadang-kadang orang
"bule" sendiri salah
dalam penulisan
bahasanya, padahal
mereka dari
Australia dan UK.
ini pengalaman saya
selama bekerja dan
berkumpul sama
mereka. 29-08-2007 Dari : haerul sohib | herulsohib@yahoo.co.id Inilah salah satu
keunggulan manusia
yang Tuhan
berikan,mampu
berkomunikasi dengan
berbagai cara, salah
satunya dengan
bahasa atau istilah
bakunya (menurut
saya) memakai mulut
dengan mengeluarkan
bunyi khas,sehingga
dengan kemampuan
tersebut terdapat
banyak bahasa mulai
yang terdengar kasar
sampai yang
jernih,seperti
bahasa makassar yang
kedengarannya(bunyin
ya) agak kasar,
bahasa jepang
juga,namun yang
halus yang pernah
saya dengar yaitu
bahasa yang beradar
di kendari entah apa
namanya, teman saya
berkata seperti
bahasa
burung-burung(mungki
n bagi mereka yang
tidak mengerti),jadi
orang yang sering
mengucapkan bahasa
inggris belum tentu
intelek, di inggris
sana saja tidak
semuanya intelek
bahkan ada yang
idiot, padahal
mereka menggunakan
bahasa inggris.
menurut saya intelek
itu mampu
menempatkan sesuatu
pada tempatnya dan
bijaksana, serta apa
yang keluar dari
mulutnya dapat
dimengerti oleh
orang banyak.maaf
agak panjang
komentarnya, salam
dan terimkasih,
mariki di... 26-08-2007 Dari : yani | www.meet-yani.blogspot.com Mmmm,lucu juga
ya...menurut
saya(kalo boleh
sedikit
berkomentar), bahasa
inggris tuh juga
sebenarnya bahasa
yang rada-rada
aneh. Satu contoh
kecil, kalo
'vegetarian', yang
diambil dari kata
'vegetal'yang
artinya berhubungan
dengan tumbuhan,
lalu di beri suffix
'rian' maka
vegetarian berarti
orang yang lebih
suka makan sayuran
dan tidak makan
daging binatang
karena alasan moral,
agama, atau alasan
kesehatan.
lantas bagaimana
dengan kata
'humanitarian'?
Apakah kemudian
artinya adalah orang
yang lebih suka
makan 'human' dan
tidak makan daging
binatang karena
alasan moral, agama,
atau alasan
kesehatan. Nyatanya
toh
bukan...heheheh... 02-08-2007 Dari : arif | aco_bugis@yahoo.com/aco_paotere@yahoo.co tabe semua di
cikali.
klo sepengetahuan
saya sih yg masih
belajar ini (ciyye
masih mau belajar
nih, hehhehee) dalam
ilmu politik bahasa
dipakai sebagai alat
tuk kekuasaan atau
menguasai, nah
terkait dgn english,
siapa yg berani
membantah klo
negara2 kuat didunia
yg jadi pusat
peradaban bhs
nasional mrk adalah
bhs inggris, contoh
amrik itu (jadi
kiblat bagi negara
lain) yg super power
mrk pke bhs inggris.
so klo sy, kita dan
semua org bugis,
makassar, mandar,
toraja dan kajang
mau bhs kita ada
dimana-mana mari ki
jadikan SUL_SEL ini
jadi propinsi yg
super power juga,
(mimpi kali yee)
amiin. 31-07-2007 Dari : Dey Agusta | deyagusta@yahoo.com bung kipal,
bagaimana kalau
"tagline" kita ganti
saja dengan kata
"semboyan" dan
"branding image"
dengan kata "papan
merek' atau "merek
dagang"? 06-07-2007 Dari : kipal ruganda | kipal_ruganda@yahoo.com Ibukota negara kita
JAKARTA... dengan
bangganya
menggunakan tagline
ENJOY JAKARTA, untuk
tagline
pariwisatanya,lebih
ke timur tepatnya
Makassar menggunakan
GREAT EXPECTATION,
mungkin ini bisa di
fahami mengingat
pasar (segment)
pariwisata Makassar
memang untuk wisman,
yang jadi masalah
jika pasarnya
ternyata untuk
wisnu... buat
Disbudpar Makassar
atau Propinsi kalo
mau buat tag line
atau branding image,
pake saja bahasa
Makassar ato Bugis
tak peduli siapa dan
dimanapun
segmennya..biarkan
"mereka" yang
mencoba memahami
"kekayaan" kita!!!!
dari Orang
indonesia,suku
Mandar,PAREPARE 17-06-2007 Dari : Putri Makassar | qa_sweet02@yahoo.com Asalamu Alaikum..
Perkenalkan saya
salah seorang putri
Makassar yang bego
bahasa inggris.
Terus terang saya
heran, kenapa
kebanyakan orang
merasa bangga kalo
berbicara
menggunakan bahasa
Inggris. Tidak
masalah sebenarnya
kalo ngomongnya
benar, tapi kalo
okkotski.. kan lucu.
Jadi pengen ketawa
tapi kasian juga.
Kenapa sih harus
pake bahasa
inggris??
kenapa tidak pake
bahasa indonesia
saja, lebih jelas
dan pastinya lebih
gampang di mengerti.
Terkadang orang yang
merasa dirinya
intelek selalu
berusaha untuk
berbicara sedikit
banyak dengan bahasa
inggris dalam
menyampaikan
sesuatu. Padahal
menurut saya makin
cerdas seseorang
maka dia harus lebih
mampu memaparkan apa
yang diketahuinya
dan dapat diterima
oleh si penerima
informasi dengan
jelas.
Tidak perlu pake
bahasa Inggris.
Eh..memang tidak
bisa orang bule aja
yang belajar bahasa
Indonesia. Masa'
kita terus yang
belajar bahasa
Inggris. Tukaran
dong. Kita kan harus
bisa jadi tuanrumah
di negara sendiri...
benar tidak...??? 15-06-2007 Dari : Juniar (Samalona) | juncheng_ducobu@yahoo.com Dulu saya pengagum
berat Bapak Yus
Badudu dan Bapak
Anton M. Muliono.
Saya juga sempat
kagum pada
kesantunan bertutur
Bapak Fuad Hassan
sewaktu bertugas
sebagai Menteri P
dan K. Saya sendiri
belajar Bahasa
Inggris sejak kecil,
tapi lebih percaya
pada Bahasa
Indonesia sebagai
salah satu identitas
diri.
Kebiasaan berbahasa
saya mulai berubah
sejak bekerja di
bidang perhotelan.
Setidaknya perubahan
itu berlaku di dalam
lingkungan kerja.
Tadinya saya
memandang sinis pada
orang-orang
perhotelan yang
omongannya
belepotan, tapi
kemudian saya
menganggap itu salah
satu cara untuk
membiasakan orang
lain berbahasa
Inggris. Karena,
bukankah lucu kalau
orang kerja di hotel
tapi Bahasa
Inggrisnya okkots?
Di luar lingkungan
hotel, saya mulai
bisa menerima orang
yang suka
code-switching (saya
kira itu istilahnya
dalam ilmu
linguistik) antara
Bahasa Indonesia dan
Bahasa Inggris.
Tentunya, dengan
syarat bahwa ini
juga berlaku untuk
bahasa-bahasa lain.
Bahasa daerah,
maksud saya. Bukan
'sok logat', yang
artinya
kejakarta-jakartaan.
Baru saja saya
pulang kampung ke
Makassar. Mendengar
sebagian besar
stasiun radio FM,
saya jadi ragu:
apakah betul saya
berada di Makassar?
Kenapa hampir semua
penyiarnya terkesan
orang Jakarta?
O ya, tentang Bahasa
Inggris di Jepang,
silakan coba
engrish.com. Maafkan
panjangnya komentar
ini. Silakan diedit.
09-06-2007 Dari : Retty | mmargret67@yahoo.com Menarik sekali.
Membuat kami yang
tinggal di dalam
negeri tidak seperti
katak dalam
tempurung.
Benar kata David
Graddol dalam
bukunya "English
Next" bahwa musuh
bahasa Inggris
adalah bahasa
Inggris itu sendiri.
Saya baru mengerti
kenapa...
Belajar bahasa asing
seharusnya membuat
kita semakin bangga
dengan budaya
(bahasa daerah) dan
kekuatan bahasa
nasional kita.
10-04-2007 Dari : Alfred | akompudu@gmail.com Bagus, kreatif dan
inovatif. Mengangkat
realita yang ada. 07-03-2007 Dari : Zaif Al Kadir | zaif_al_kadir@yahoo.com Setelah aku membaca
artikel ini aku
terbesit ingatan
tentang kebiasaan
saya setiap hari,
selama 3 tahun
dipondok pesantren
IMMIM. saya mau
tanya kak, bagaimana
tanggapan kakak bila
bahasa arab di tulis
dengan kata
indonesia.
contohnya : suqran
kasiran (terima
kasih banyak). 07-03-2007 Dari : Zaif Al Kadir | zaif_al_kadir@yahoo.com Setelah aku membaca
artikel ini aku
terbesit ingatan
tentang kebiasaan
saya setiap hari,
selama 3 tahun
dipondok pesantren
IMMIM. saya mau
tanya kak, bagaimana
tanggapan kakak bila
bahasa arab di tulis
dengan kata
indonesia.
contohnya : suqran
kasiran (terima
kasih banyak). 17-02-2007 Dari : nino | ninogirls@yahoo.com Tulisannya sangat
menarik.
Emang banyak orang
Indonesia yang lebih
sering menggunakan
bahasa Indonesia
yang ke
Inggris-ingrisan
biar kederangaran
keren tawwa.
Dulu di Makassar
saya pernah melihat
tulisan di
pete-pete "92"(Nine
two(nain tu dalam
bahasa Makassar
"siapa itu?) dan
dijawab Inakke ji.
Dan kalau di Jepang
mungkin kata thank
you bisa ditulis 39
(bacanya dalam
bahasa Jepang "San
kyu") yang sering
diucapkan orang
Jepang saat
mengucapkan "thank
you"
17-02-2007 Dari : haerul | www.muhammadhaerul.multiply.com artikel yang sangat
menarik. tapi
seharusnya ditulis
"bahasa inggris",
bukan "bahasa
inggeris" 16-02-2007 Dari : Lollong M. Awi | lollong94@yahoo.com membaca tulisan ini
saya teringat sebuah
tulisan tentang
bahasa di majalah
Tempo, yang mengupas
bagaimana masyarakat
malaysia (baca: abg)
yang teracuni dengan
kosa kata Jakarta
yang mengharu biri
pertelevisian kita
terutama sinetron,
seperti, bangeet,
loe, gue, gitchu
lho,dll. ini adalah
simptoma yang biasa
dari sebuah
perubahan pola pikir
tapi dia menjadi
persoalan ketika
kekhasan bahasa
setempat menjadi
baur. tidak
terkecuali orang
makassar yang
memiliki ragam
bahasa yang unik,
dan ini yang mulai
hilang. misalnya
akhiran Mi
(sudami),Ji
(tida'ji),Di'
(kenapa di'?), Ko
(pergimoko, kenapako
kah?)), ada juga
misalnya "gang",
(saya tida'ji gang),
dan seterusnya,
menurut saya
kekhasan seperti ini
adalah kekayaan
budaya, karenanya
harus dikembangkan
dengan menuturkannya
bukan dengan
mengadopsi kata-kata
dari luar atas nama
gaul karena biasa
dibilangi gaulko
de', tekamma?
15-02-2007 Dari : rian | Kalau pemakaian
busway itu awalnya
darimana, ya?
Kayaknya itu udah
dimodifikasi dari
anyway atau by the
way dan tak sekedar
gengsi. "Busway, elo
dari mana ja, bow?" 14-02-2007 Dari : Taqyuddin Kadir | taqlawyer.blogspot.com Tulisannya asyik
banget, ringan dan
memukau habis
(Manayameng ladde
ibaca).
Jika gejala
berbahasa seperti
yang diulas mbak
Lily itu, merupakan
"penyakit", pasti
sudah sangat akut
dan hampir tak dapat
disembuhkan lagi.
Mungkin jalan
keluarnya, bahasa
kita yang harus
lebih
responsif(?)untuk
menyerap kata-kata
bahasa Inggeris itu
kedalam atau menjadi
kosa katanya, agar
"mesyer-mesyer" itu
menjadi absah,
sebagaimana "ideas"
menjadi ide-ide,
keepers menjadi
kiper-kiper dsb.
Saya sering sekali
pula mendengarkan
selipan kata-kata
"even", let's say",
"worse come to
worse", "nothing to
lose", "at the end
of the day" dsb,
dalam percakapan
sehari-hari.
Bagi saya, hal itu
OK-OK (bukan OKs)
saja, asal
konteksnya tepat dan
kata-katanya benar,
yang penting
komunikatif dan
efektif lagi
efisien. Biarlah
orang kita menyebut
MOL untuk MAll tapi
tidak menyebut BOL
untuk BALL. Biarkan
pula lebih memilih
menyebut "peristiwa
Nine One-one (9/11)"
ketimbang
menggunakan kalimat
panjang "peristiwa
pemboman gedung WTC
di Amerika Serikat".
Biarkan pula tetap
menulis "FOTO COPY"
di tokonya daripada
menulis "FOTO KOPI"
sebagaimana banyak
terlihat di
pnghujung tahun 90an
sampai awal 2000an.
Tabek Dii
14-02-2007 Dari : dianika | dianika.wardhani@gmail.com Tulisannya bagus.
Manis. Enjoy saya
membacanya. Nah lho,
kebawa bahasa
Inggris kan ya..
Itulah... Kapan hari
saya nemukan
sesuatu. Servis
maksudnya service.
The drem team
tujuannya the dream
team. De el el, de
el el.
14-02-2007 Dari : trian | http://3an.blogspot.com bagus, hal-hal jeli
yg suka dilewatkan
orang. satu kata
buat tulisannya,
cerdas! |
|
|
|
|
| ::
CITIZEN REPORTER |
 | (Kamis, 12-07-2007) |  | (Minggu, 29-04-2007) |  | (Selasa, 31-10-2006) |  | (Rabu, 11-10-2006) |  | (Rabu, 16-08-2006) | |
|
Untitled Document
| ::
DUNIA SEGIEMPAT KAREBOSI |
|
Untitled Document
| ::
KONTAK TIM PANYINGKUL! |
Email Redaksi :
redaksi@panyingkul.com
Tim:
yus@panyingkul.com
+62 813 226 80844
Moch. Hasymi
+62 811 955 954
|
|
|