Untitled Document
 


Untitled Document
.KITAKITA
:: Jika Anda di Panyingkul ::
 
 KABAR KITA
 
 BERANDAKITA
Kegilaan, Dari Cinta Mati di Pulau Rajuni Hingga Riwayat Kadang
:: Ivan Firdaus ::
Baba Guru, Mengenang Film Rhoma Irama di Klenteng Galesong
:: Kamaruddin Azis ::
Mengagumi Tenun Troso, Mengenang Tenun Sengkang
:: Suryadin Laoddang ::
Perempuan Besi di Gunung Perak (2-selesai)
:: M. Aan Mansyur ::
Perempuan Besi di Gunung Perak (1)
:: M. Aan Mansyur ::
 
 RISETKITA
Rasa Takut : Yang Dicitrakan, Yang Dipelihara
:: Aria W. Yudhistira ::
Risetkita: Pramoedya versus Sejarah Resmi
:: Nurhady Sirimorok ::
Hikayat Rumpon Nelayan Mandar
:: Muhammad Ridwan Alimuddin ::
Di Makassar Pernah Ada “Negeri Wajo”
:: Nurhady Sirimorok ::
Surat Itu Ditulis Upas kepada September
:: Nurhady Sirimorok ::
 
 BUKUKITA
 
 KATAKOTAKITA
Kenapa si Gondrong yang Maju?
:: Ivan Firdaus dan Mustamin al-Mandary ::
Karena ‘Rewa’ Badan Binasa
:: Sudirman Nasir ::
Yang Okkot, yang Salah Sambung
:: Nursamsu danTusiana Noor Alfisyahr ::
Kandala`ka`, Kusta Bila Dusta
:: Panyingkul ::
Ayo, Si(ng)kat Terussss..!
:: Panyingkul! ::

 
 TAHUKAHKITA
 

.
 ::
Selasa, 23-01-2007 
Kenalan dan Beriklan dengan Uang Kertas
:: Anwar Jimpe Rachman ::


Coretan di atas uang kertas dengan berbagai ekspresi.
Foto: Harianto Sirajuddin.



Citizen reporter Anwar Jimpe Rachman melakukan petualangan berburu uang kertas bertulisan, dalam empat bulan terakhir. Katanya, selain graffitty, coret-coretan di tempat umum yang sering kita jumpai, coret-coretan pada alat tukar resmi itu juga menjadi bentuk komunikasi unik bagi sebagian orang. Ia membagi hasil perburuannya dalam tulisan berikut ini. (p!)
 
Di akhir bulan puasa tahun lalu, saya mendapat uang kembalian dua lembar pecahan seribu lusuh dari kasir sebuah gudang rabat di Tamalanrea, setelah belanja barang kebutuhan lebaran. Setelah iseng memerhatikan, ternyata dua lembar uang kertas itu memiliki coretan. Wah, sudah lama saya tak menemukan uang bertulisan. Dua lembaran lusuh itu saya kantongi bersama janji untuk berburu uang kertas sejenis.

Tapi saya sulit menambah koleksi, meski hari terus berganti. Saya harus bergerilya, bahkan kerap mesti berani bertanya ke penjual (dengan sok akrab), apakah ada uang kertas yang bertulisan di tangan mereka. Setelah tanya sana-sini, walhasil, empat bulan kemudian, saya berhasil mengumpulkan sebelas lembaran pecahan seribu rupiah dengan berbagai tulisan tangan.

Mengapa saya berburu uang kertas yang bertulisan? Apakah iseng belaka? Kurang kerjaan? Saya menganggap tulisan di uang kertas ini sebagai bentuk komunikasi yang unik. Meski lembaran uang yang dijadikan medium ekspresi ini sebenarnya bukan hal yang aneh bagi saya. Sejak dulu, entah sengaja atau tidak, saya selalu menemukan uang kertas seperti itu. Mau tak mau saya membaca tulisan-tulisan itu, bahkan menyimpannya di dompet karena kalau dibuang, ya rugilah! Namanya juga uang, selalu dicari, tidak mungkin dibuang.

Perburuan ini saya lakukan dengan asumsi bahwa tak sedikit orang yang senang menuliskan sesuatu di atas lembaran uang kertas, sebagai bentuk ekspresi. Meski kita tahu bahwa tindakan ini membuat pihak Bank Indonesia pusing tujuh keliling. Sekadar informasi, mencoreti uang kertas sebenarnya termasuk tindakan yang melawan hukum dan sang pelaku harus siap-siap dijatuhi hukuman bila terbukti.

Di media massa saya memang pernah menyimak imbauan dari pihak Bank Indonesia agar tidak menulisi uang kertas. Katanya, mencoret atau menulisi hanya akan membuat uang kertas cepat rusak. Padahal biaya cetak uang kertas sangat mahal, kata Deputi Gubernur BI Bidang Sistem Pembayaran dan Pengedaran Uang, Maulana R Ibrahim. Bahkan sebuah harian di Jawa Timur mengungkapkan, sekitar Rp5 miliar uang dimusnahkan Bank Indonesia Cabang Kediri karena rusak, termasuk karena penuh coretan.


Sebuah coretan berisi pengakuan.
Foto: Harianto Sirajuddin.



Beragam Pesan
Beragam cara dan pola berbahasa yang biasanya diungkapkan warga kota di uang kertas. Ada yang menegaskan ancaman seperti “siapa yang ambil uang ini akan (di)potong-potong tangannya” atau ada juga yang bersifat tawaran seperti, “Mau? Ambilmi”. Kalimat-kalimat pendek itu seperti ingin menegaskan kalau uang memang adalah benda berharga

Ada pula yang menulis nama, mungkin nama depan, seperti “Mirna”, “Ade”, “Rahman”; atau “Pak Muzakkar, pahlawan” yang barangkali nama yang dimaksudkan itu adalah Kahar Mudzakkar, panglima tentara Darul Islam yang terkenal. Tidak ketinggalan penulisan nama itu dengan lengkap seperti “Pardi A”, nama panggilan “Anca”, sampai ada juga hanya menulis inisial seperti “MZ”, yang kemudian mengingatkan saya pada inisial di belakang nama pendakwah kondang, Zainuddin MZ, yang sekarang sibuk berpolitik.

Selain menulisinya dengan nama-nama, modus warga menulis di atas uang kertas juga hanya sekadar menjelaskan asal muasal selembar uang kertas itu — yang kerap mengundang senyum kecil setelah menyimaknya. Contoh yang bisa menjelaskan mengenai itu adalah kalimat “Uang ini aku dapat dari tas belanja ibu gue waktu belanja di pasar”.

Dari Dinasti Han
Awalnya, lembaran uang kertas yang kita kenal sekarang merupakan hasil evolusi yang berlangsung kurang lebih 1.300 tahun. Penggunaan lembaran yang digunakan pertama kali oleh bangsa Tionghoa itu awalnya bukan dalam bentuk kertas, tapi kulit rusa. Lembaran yang diperkenalkan di zaman Dinasti Han, di masa pemerintahan Wu Han di abad ke-2 SM, mewakili nilai logam mulia yang diwakilinya.

Lembaran itu sebenarnya adalah lembaran kredit. Ini bisa dimaklumi karena tentu saja sangat susah untuk mengangkut logam-logam mulia karena terlalu besar dan berat. Barulah pada abad ke-11 M, uang kertas benar-benar dibuat dari kertas, meski beredar di tempat terbatas. Dengan menukarkan uang kertas yang bernama jiazoi itu, orang-orang di masa itu dapat mengambil keping perunggu, perak dan emas di gudang kas pemerintah atau badan-badan swasta.

Fungsi-fungsi uang sebagai lembaran kredit dan alat tukar seperti cerita di masa Dinasti Han itu juga bisa beralih fungsi sebagai tempat beriklan gratis. Tengok misalnya tulisan “Hany Elekton, 3651-323, Jl Gunung Latimojong Lr95/11A”. Begitu detail dan lengkap alamat yang ditulis di uang bergambar sosok Pattimura, pahlawan dari Maluku yang menghunus parang itu.

Beriklan di uang kertas itu sangatlah efektif, kata kawan saya, Ali. Cukup dengan menukar uang seratus ribu dengan uang Pattimura, jelas Ali, maka kita akan mendapat 100 lembar tempat beriklan. “Efektif mana, beriklan di koran atau menulisnya saja di uang kertas? Jelas saya pilih menulisi uang saja seperti Hany Elekton. Uang tidak akan dibuang. Bandingkan kalau koran yang cuma satu hari orang sudah bisa buang dan campakkan,” ujarnya, panjang lebar.

Saya mengangguk tanda sepaham. Terbayang wajah mantan putri Indonesia yang bernyanyi dalam pariwara Bank Indonesia yang mengampanyekan 3D: Dilihat, Diraba, Diterawang. Ini iklan layanan masyarakat untuk waspada terhadap uang kertas palsu. Rasa-rasanya untuk kasus uang kertas bertulisan ini, iklan yang tepat adalah: Dilihat, Ditulisi, Dibelanjakan!



Untuk iklan juga.
Foto: Harianto Sirajuddin.



Pecahan Seribu
Dalam usaha pengumpulan uang kertas penuh coretan yang saya lakukan, saya belum mendapati uang kertas pecahan lebih besar dari seribu rupiah. Sebelas lembar uang seribu berwarna biru saya dapatkan dari uang kembalian ketika membayar pete-pete, ketika belanja di warung kecil pinggir jalan dan penjual rokok ketengan, dari penjual koran eceran, pasar tradisional, dan di sebuah gudang rabat menjelang Idul Fitri tahun lalu. Saya tidak tahu mengapa orang-orang lebih tertarik menulis lembaran seribu rupiah. Apakah karena warnanya yang lebih terang, karena ruang kosong untuk menulis lebih lapang, atau karena mereka merasa sayang menulisi pecahan lebih besar?

Namun, tampaknya coret-coret di uang kertas bukan sebuah aksi protes dan si pelakunya mungkin tidak tahu bila perbuatannya melanggar hukum. Tendensi mereka tampaknya hanya sekadar tampil, seakan hendak berekspresi. Ada yang menulis sapaan seperti “Hei cantik, kenalan gak namaku Rahman. Umurku 17 tahun, I love you” kemudian di baliknya ada tulisan “Eka cinta (ditandai dengan gambar hati) Rahman”. Ada pula yang tanpa sungkan menulis nama dan nomor penselnya di selembar uang seribuan seperti Edhal 08525566XXX. Beberapa hari menginap di dompet, deret digit nomor ponsel itu diam-diam menggoda. Saya coba menekannya. Terdengar bunyi kring di seberang sana. Begitu diangkat, segera saya matikan. Wah, bukan bohongan! Setidaknya, saya sudah pastikan nomor telepon itu tidak fiktif. Ada yang menjawabnya.

Karena penasaran, saya lanjutkan dengan mengirim pesan singkat (SMS). Kami sempat beberapa kali saling balas pesan. Dia begitu antusias. Malah kadang kurang sabar. “N uDAH kLS brP? Kmu tlnG jwB ya pLEase bnGT,” begitu tulisnya. Saya segera tulis nama dan alamat palsu sebagai balasannya.

Tak cukup semenit, balasan darinya sudah sampai. Mungkin karena saya mengaku sebagai perempuan — dengan meminjam nama seorang ponakan yang sekarang kuliah di Fakultas Sastra Unhas. Terakhir, Edhal yang masih duduk di bangku SMA kelas II dan tinggal di Sudiang itu mengaku kalau nomor teleponnya itu tertera di uang seribuan itu karena “kerjAanX tmn waktU gi iSEng” (maksudnya: kerjaan teman waktu lagi iseng). Model tulisan seperti ini adalah cara menulis pesan khas remaja.

Wah, si pemiliki ponsel ini ternyata serius berpromosi lewat uang kertas. Sesekali kalau kebetulan anda menemukan uang kertas bertuliskan nomor telepon, cobalah untuk menghubungi deretan nomor itu. Siapa tahu sang penulisnya memang berusaha mencari kawan melalui jasa alat tukar itu, seperti anak sekolah yang mencari sahabat pena untuk korespondensi! (p!)

*Citizen reporter Anwar Jimpe Rachman dapat dihubungi melalui email saintjimpe@gmail.com

| Beri Komentar| Jumlah Komentar (21) |

Komentar :

10-04-2010
Dari : hlceiephpbg | lflbpz@pcyjkt.com
T5JgFd otpruzloolft, [url=http://ddziskne jtrf.com/]ddzisknejt rf[/url], [link=http://cbylicz nxqyp.com/]cbylicznx qyp[/link], http://ykomiiyejrnd. com/

17-10-2008
Dari : ditya | djendraltesta@gmail.com
kalo membaca tulisan ini, aku teringat masa kecil dulu, menuliskan kata² cinta untuk orang yang aku puja di lembaran uang, sambil berdoa [bahagia sekali bila suatu saat dia membaca pesan di uang ini]. huehuehue...

22-09-2008
Dari : firsty r renata | http://firstyrenata.blogspot.com/
Ha ha h. Sebenernya gak sengaja ketemu blog ini, gara-gara sedang cari gambar uang untuk blogspot saya... "Pinjam, ya... gambarnya....

21-05-2008
Dari : abangx junkeast | nurchaerul@yahoo.com
fenomena menarik... bisa untuk bahan tesis.. Hue...he... bravo k Jimpe

21-05-2008
Dari : abangx junkiss... |

08-05-2008
Dari : Cindy | cindyy_cyber@yahoo.com
hahaha.. yang paling lucu yang uang dari pasar itu loh. ahuahhahaahaha.. tapi sayang ya, kok uang dicoret-coret.. kan bikinnya susah.. :']

22-11-2007
Dari : Armand | http://armandp.blogspot.com
Ha..ha..ha, menarik, kreatif, tapi sayang, duit koq buat dicoret2in.

02-11-2007
Dari : ItHa |
keren tauwa tulisannya, terutama untuk pengambilan idenya. saluuuut.... paling jujurmi ini tulisan "Uang ini aku dapat dari tas belanja ibu goe waktu belanja di pasar." untung tidak tertulis disitu "uang ini,bukan anakmu yang ambil".. he..he..he..

30-09-2007
Dari : takha |
ada tulisan sejenis tentang perilaku unik ini di blogombal.. http://blogombal.org /2007/09/05/mencoret i-uang/ saluut untuk usaha nya berburu uang bertulis..mantaapp

01-06-2007
Dari : Abdillah | dillopribumi@yahoo.com
biasanya pedagang tionghoa menaruh uang kertas lama (kuno) dibawah kaca meja kasirnya. mungkin sdr jimpe sudah melakukan hal yang sama dengan model yang berbeda(yang banyak tulisannya). salam

08-05-2007
Dari : hamran sunu |
Kak Jimpe, saya kenal dengan yang namanya Edhal. Bahkan nama lengkapnya, sekolah dan jabatannya di salah satu SMA di Sudiang. Dalam suatu liputan dia pernah jadi narasumberku. Setelah dicocokkan nomor ponsel-nya, ternyata Edhal yang kita maksud sama!

20-04-2007
Dari : Mattiero | www.ilorappe_diringemu@yahoo.com
Luar biasa memang masyarakat kita, kebiasaan coret-mencoret sudah tidak mengenal batas dan tempat lagi. Bayangkan Uang sebagai alat tukar sudah menjadi sarana bentuk aktualisasi keresahan diri..

19-04-2007
Dari : aco | hasanuddin_aco@yahoo.com
fenomena biasa yang dikemas jadi luar biasa

09-04-2007
Dari : Ahmad Sujadi |
Luar Biasa. cerita anda bs jd inspirasi tuk nulis novel terlaris di indonesia n malayasia

05-04-2007
Dari : kirzha |
hahaha... kenapa setiap saya membaca tulisan Anda ini, mata yang tadinya lelah di depan komputer selama berjam-jam akhirnya lega juga! iya juga y! saya sering kali mendapatkan uang kembalian dari supir 'pete-pete' atau tukang becak, uang kertas seribuan yang di selebarannya terdapat sebuah tulisan tangan. kenapa semua orang memakai buku kalau ada uang kertas sebagai tempat menulis? saya paling suka dengan kata-kata pada selembar uang seribuan yaitu "Uang ini aku dapat dari tas belanja ibu goe waktu belanja di pasar." hahaha... memang sebuah pengakuan yang luar biasa!

23-03-2007
Dari : nel elhallaj | nel_fuck@yahoo.com
ekspresi semacam ini perlu dikembangkan sebagai bentuk protes atas hilangnya ruang ekspresi di negeri ini, kalau negera bangkrut, biarkan saja. sekaligus istana negara juga dicoretin. Tukang coret bersatulah.......... ...

15-03-2007
Dari : nida | miksmaks19@yahoo.co.id
he..he..saya paling suka baca tulisannya kak Jimpe ini...tamasya kata..kesannya..ring an-enak-nyaman. tapi, uang kertas seribuan itu tempatku mencatat rumus matematika kalau ulangan dulu di SMA..pokoknya penuh sekali...saya jadi ingat..he..he..he..,

13-02-2007
Dari : halim hd. | halimhade@yahoo.com
buat aan mansyur: saya teringat dengan seorang tetangga kampung, anaknya ahli gigi kondang di serang, banten, tan sen auw, kalau mengirim surat kepada isterinya di atas uang kertas. hal itu juga dilakukannya kalau dia mengirim pesan kepada paman saya.

09-02-2007
Dari : ahmad | pasarcidu@gmail.com
well, senang sekali membacanya. rasanya seperti dejavu. saya sering menemukan uang seperti itu waktu kecil, dengan tulisan yang disertai alamat, dan motto-prinsip atau apalah.. cuma sekarang sudah sulit rasanya menemukannya. mungkin saja karena waktu itu ruang-ruang ekspresi lebih sulit dibanding sekarang ya? salut buat SaINT dE jIMpE:)

24-01-2007
Dari : ayoe | rindriasari@gmail.com
Bagus juga tulisannya tawwa,,tapi mungkin juga ada org yg tdk sengaja menulisi uang kertasnya, spt nomor tlp, alamt rumah, dll, karena dia tdk punya kertas catatan utk menulis kdong...seperti temanku biasa itu klo mau catat sesuatu, dicatat di telapak tangannya ato di uang kertasnya hehehhe... Buat aan, klo di aussie kyknya susah menulis di atas uang krn materialnya dri plastik smua, di thailand juga sy tdk pernah dpt uang yang dicoreti, mungkin krn kultur org sana yg tdk suka mencoret sembarangan yaa.

23-01-2007
Dari : aan mansyur | aanmansyur@gmail.com
Saya pernah membayangkan berkenalan dengan seorang perempuan paling manis di sebuah pete-pete. Sesaat sebelum dia meminta sopir menghentikan pete-pete, saya berkata: "Kalau kita memang jodoh, kau pasti akan menemukan nomor telepon saya di uang kertas ini." Saat tiba di tujuan, saya menggunakan uang itu membayar pete-pete. Buat de Saint Djimpe, tulisannya menarik! Saya penasaran, apakah kegemaran menulis di uang kertas ini, hanya ada di Makassar atau di Indonesia saja?



 :: CITIZEN REPORTER
Makassar di Panyingkul!: Sebuah Persembahan
(Kamis, 12-07-2007)
Ayo Bergabung di Panyingkul!
(Minggu, 29-04-2007)
Catatan Sederhana Para Citizen Reporter
(Selasa, 31-10-2006)
Tentang Citizen Reporter dan Rubrik di Panyingkul!
(Rabu, 11-10-2006)
Riuh Rendah di Panyingkul!
(Rabu, 16-08-2006)

Untitled Document
 :: DUNIA SEGIEMPAT KAREBOSI






 :: PILKADA




 :: ALBUM PUASA 2008




Untitled Document
 :: KONTAK TIM PANYINGKUL!

Email Redaksi :

redaksi@panyingkul.com

Tim:
yus@panyingkul.com
+62 813 226 80844

Moch. Hasymi
+62 811 955 954


© Juni 2006 - Panyingkul.com All Rights Reserved
Desain Web : Nesia Andriana -- Supported by: Yuhardin