|
|
| . |
| ::
|
| Selasa, 23-01-2007 | Kenalan dan Beriklan dengan Uang Kertas :: Anwar Jimpe Rachman ::
| Coretan di atas uang kertas dengan berbagai ekspresi. Foto: Harianto Sirajuddin.
Citizen reporter Anwar Jimpe Rachman melakukan petualangan berburu uang kertas bertulisan, dalam empat bulan terakhir. Katanya, selain graffitty, coret-coretan di tempat umum yang sering kita jumpai, coret-coretan pada alat tukar resmi itu juga menjadi bentuk komunikasi unik bagi sebagian orang. Ia membagi hasil perburuannya dalam tulisan berikut ini. (p!) | Di akhir bulan puasa tahun lalu, saya mendapat uang kembalian dua lembar pecahan seribu lusuh dari kasir sebuah gudang rabat di Tamalanrea, setelah belanja barang kebutuhan lebaran. Setelah iseng memerhatikan, ternyata dua lembar uang kertas itu memiliki coretan. Wah, sudah lama saya tak menemukan uang bertulisan. Dua lembaran lusuh itu saya kantongi bersama janji untuk berburu uang kertas sejenis.
Tapi saya sulit menambah koleksi, meski hari terus berganti. Saya harus bergerilya, bahkan kerap mesti berani bertanya ke penjual (dengan sok akrab), apakah ada uang kertas yang bertulisan di tangan mereka. Setelah tanya sana-sini, walhasil, empat bulan kemudian, saya berhasil mengumpulkan sebelas lembaran pecahan seribu rupiah dengan berbagai tulisan tangan.
Mengapa saya berburu uang kertas yang bertulisan? Apakah iseng belaka? Kurang kerjaan? Saya menganggap tulisan di uang kertas ini sebagai bentuk komunikasi yang unik. Meski lembaran uang yang dijadikan medium ekspresi ini sebenarnya bukan hal yang aneh bagi saya. Sejak dulu, entah sengaja atau tidak, saya selalu menemukan uang kertas seperti itu. Mau tak mau saya membaca tulisan-tulisan itu, bahkan menyimpannya di dompet karena kalau dibuang, ya rugilah! Namanya juga uang, selalu dicari, tidak mungkin dibuang.
Perburuan ini saya lakukan dengan asumsi bahwa tak sedikit orang yang senang menuliskan sesuatu di atas lembaran uang kertas, sebagai bentuk ekspresi. Meski kita tahu bahwa tindakan ini membuat pihak Bank Indonesia pusing tujuh keliling. Sekadar informasi, mencoreti uang kertas sebenarnya termasuk tindakan yang melawan hukum dan sang pelaku harus siap-siap dijatuhi hukuman bila terbukti.
Di media massa saya memang pernah menyimak imbauan dari pihak Bank Indonesia agar tidak menulisi uang kertas. Katanya, mencoret atau menulisi hanya akan membuat uang kertas cepat rusak. Padahal biaya cetak uang kertas sangat mahal, kata Deputi Gubernur BI Bidang Sistem Pembayaran dan Pengedaran Uang, Maulana R Ibrahim. Bahkan sebuah harian di Jawa Timur mengungkapkan, sekitar Rp5 miliar uang dimusnahkan Bank Indonesia Cabang Kediri karena rusak, termasuk karena penuh coretan.
Sebuah coretan berisi pengakuan. Foto: Harianto Sirajuddin.
Beragam Pesan
Beragam cara dan pola berbahasa yang biasanya diungkapkan warga kota di uang kertas. Ada yang menegaskan ancaman seperti “siapa yang ambil uang ini akan (di)potong-potong tangannya” atau ada juga yang bersifat tawaran seperti, “Mau? Ambilmi”. Kalimat-kalimat pendek itu seperti ingin menegaskan kalau uang memang adalah benda berharga
Ada pula yang menulis nama, mungkin nama depan, seperti “Mirna”, “Ade”, “Rahman”; atau “Pak Muzakkar, pahlawan” yang barangkali nama yang dimaksudkan itu adalah Kahar Mudzakkar, panglima tentara Darul Islam yang terkenal. Tidak ketinggalan penulisan nama itu dengan lengkap seperti “Pardi A”, nama panggilan “Anca”, sampai ada juga hanya menulis inisial seperti “MZ”, yang kemudian mengingatkan saya pada inisial di belakang nama pendakwah kondang, Zainuddin MZ, yang sekarang sibuk berpolitik.
Selain menulisinya dengan nama-nama, modus warga menulis di atas uang kertas juga hanya sekadar menjelaskan asal muasal selembar uang kertas itu — yang kerap mengundang senyum kecil setelah menyimaknya. Contoh yang bisa menjelaskan mengenai itu adalah kalimat “Uang ini aku dapat dari tas belanja ibu gue waktu belanja di pasar”.
Dari Dinasti Han
Awalnya, lembaran uang kertas yang kita kenal sekarang merupakan hasil evolusi yang berlangsung kurang lebih 1.300 tahun. Penggunaan lembaran yang digunakan pertama kali oleh bangsa Tionghoa itu awalnya bukan dalam bentuk kertas, tapi kulit rusa. Lembaran yang diperkenalkan di zaman Dinasti Han, di masa pemerintahan Wu Han di abad ke-2 SM, mewakili nilai logam mulia yang diwakilinya.
Lembaran itu sebenarnya adalah lembaran kredit. Ini bisa dimaklumi karena tentu saja sangat susah untuk mengangkut logam-logam mulia karena terlalu besar dan berat. Barulah pada abad ke-11 M, uang kertas benar-benar dibuat dari kertas, meski beredar di tempat terbatas. Dengan menukarkan uang kertas yang bernama jiazoi itu, orang-orang di masa itu dapat mengambil keping perunggu, perak dan emas di gudang kas pemerintah atau badan-badan swasta.
Fungsi-fungsi uang sebagai lembaran kredit dan alat tukar seperti cerita di masa Dinasti Han itu juga bisa beralih fungsi sebagai tempat beriklan gratis. Tengok misalnya tulisan “Hany Elekton, 3651-323, Jl Gunung Latimojong Lr95/11A”. Begitu detail dan lengkap alamat yang ditulis di uang bergambar sosok Pattimura, pahlawan dari Maluku yang menghunus parang itu.
Beriklan di uang kertas itu sangatlah efektif, kata kawan saya, Ali. Cukup dengan menukar uang seratus ribu dengan uang Pattimura, jelas Ali, maka kita akan mendapat 100 lembar tempat beriklan. “Efektif mana, beriklan di koran atau menulisnya saja di uang kertas? Jelas saya pilih menulisi uang saja seperti Hany Elekton. Uang tidak akan dibuang. Bandingkan kalau koran yang cuma satu hari orang sudah bisa buang dan campakkan,” ujarnya, panjang lebar.
Saya mengangguk tanda sepaham. Terbayang wajah mantan putri Indonesia yang bernyanyi dalam pariwara Bank Indonesia yang mengampanyekan 3D: Dilihat, Diraba, Diterawang. Ini iklan layanan masyarakat untuk waspada terhadap uang kertas palsu. Rasa-rasanya untuk kasus uang kertas bertulisan ini, iklan yang tepat adalah: Dilihat, Ditulisi, Dibelanjakan!
Untuk iklan juga. Foto: Harianto Sirajuddin.
Pecahan Seribu
Dalam usaha pengumpulan uang kertas penuh coretan yang saya lakukan, saya belum mendapati uang kertas pecahan lebih besar dari seribu rupiah. Sebelas lembar uang seribu berwarna biru saya dapatkan dari uang kembalian ketika membayar pete-pete, ketika belanja di warung kecil pinggir jalan dan penjual rokok ketengan, dari penjual koran eceran, pasar tradisional, dan di sebuah gudang rabat menjelang Idul Fitri tahun lalu. Saya tidak tahu mengapa orang-orang lebih tertarik menulis lembaran seribu rupiah. Apakah karena warnanya yang lebih terang, karena ruang kosong untuk menulis lebih lapang, atau karena mereka merasa sayang menulisi pecahan lebih besar?
Namun, tampaknya coret-coret di uang kertas bukan sebuah aksi protes dan si pelakunya mungkin tidak tahu bila perbuatannya melanggar hukum. Tendensi mereka tampaknya hanya sekadar tampil, seakan hendak berekspresi. Ada yang menulis sapaan seperti “Hei cantik, kenalan gak namaku Rahman. Umurku 17 tahun, I love you” kemudian di baliknya ada tulisan “Eka cinta (ditandai dengan gambar hati) Rahman”. Ada pula yang tanpa sungkan menulis nama dan nomor penselnya di selembar uang seribuan seperti Edhal 08525566XXX. Beberapa hari menginap di dompet, deret digit nomor ponsel itu diam-diam menggoda. Saya coba menekannya. Terdengar bunyi kring di seberang sana. Begitu diangkat, segera saya matikan. Wah, bukan bohongan! Setidaknya, saya sudah pastikan nomor telepon itu tidak fiktif. Ada yang menjawabnya.
Karena penasaran, saya lanjutkan dengan mengirim pesan singkat (SMS). Kami sempat beberapa kali saling balas pesan. Dia begitu antusias. Malah kadang kurang sabar. “N uDAH kLS brP? Kmu tlnG jwB ya pLEase bnGT,” begitu tulisnya. Saya segera tulis nama dan alamat palsu sebagai balasannya.
Tak cukup semenit, balasan darinya sudah sampai. Mungkin karena saya mengaku sebagai perempuan — dengan meminjam nama seorang ponakan yang sekarang kuliah di Fakultas Sastra Unhas. Terakhir, Edhal yang masih duduk di bangku SMA kelas II dan tinggal di Sudiang itu mengaku kalau nomor teleponnya itu tertera di uang seribuan itu karena “kerjAanX tmn waktU gi iSEng” (maksudnya: kerjaan teman waktu lagi iseng). Model tulisan seperti ini adalah cara menulis pesan khas remaja.
Wah, si pemiliki ponsel ini ternyata serius berpromosi lewat uang kertas. Sesekali kalau kebetulan anda menemukan uang kertas bertuliskan nomor telepon, cobalah untuk menghubungi deretan nomor itu. Siapa tahu sang penulisnya memang berusaha mencari kawan melalui jasa alat tukar itu, seperti anak sekolah yang mencari sahabat pena untuk korespondensi! (p!)
*Citizen reporter Anwar Jimpe Rachman dapat dihubungi melalui email saintjimpe@gmail.com
|
| | Jumlah
Komentar (21) |
|
| Komentar :
10-04-2010 Dari : hlceiephpbg | lflbpz@pcyjkt.com T5JgFd
otpruzloolft,
[url=http://ddziskne
jtrf.com/]ddzisknejt
rf[/url],
[link=http://cbylicz
nxqyp.com/]cbylicznx
qyp[/link],
http://ykomiiyejrnd.
com/ 17-10-2008 Dari : ditya | djendraltesta@gmail.com kalo membaca tulisan
ini, aku teringat
masa kecil dulu,
menuliskan kata²
cinta untuk orang
yang aku puja di
lembaran uang,
sambil berdoa
[bahagia sekali bila
suatu saat dia
membaca pesan di
uang ini].
huehuehue... 22-09-2008 Dari : firsty r renata | http://firstyrenata.blogspot.com/ Ha ha h. Sebenernya
gak sengaja ketemu
blog ini, gara-gara
sedang cari gambar
uang untuk blogspot
saya... "Pinjam,
ya... gambarnya.... 21-05-2008 Dari : abangx junkeast | nurchaerul@yahoo.com fenomena menarik...
bisa untuk bahan
tesis.. Hue...he...
bravo k Jimpe 21-05-2008 Dari : abangx junkiss... |
08-05-2008 Dari : Cindy | cindyy_cyber@yahoo.com hahaha.. yang paling
lucu yang uang dari
pasar itu loh.
ahuahhahaahaha..
tapi sayang ya, kok
uang dicoret-coret..
kan bikinnya susah..
:'] 22-11-2007 Dari : Armand | http://armandp.blogspot.com Ha..ha..ha, menarik,
kreatif, tapi
sayang, duit koq
buat dicoret2in. 02-11-2007 Dari : ItHa | keren tauwa
tulisannya, terutama
untuk pengambilan
idenya.
saluuuut....
paling jujurmi ini
tulisan "Uang ini
aku dapat dari tas
belanja ibu goe
waktu belanja di
pasar." untung tidak
tertulis disitu
"uang ini,bukan
anakmu yang ambil"..
he..he..he..
30-09-2007 Dari : takha | ada tulisan sejenis
tentang perilaku
unik ini di
blogombal..
http://blogombal.org
/2007/09/05/mencoret
i-uang/
saluut untuk usaha
nya berburu uang
bertulis..mantaapp 01-06-2007 Dari : Abdillah | dillopribumi@yahoo.com biasanya pedagang
tionghoa menaruh
uang kertas lama
(kuno) dibawah kaca
meja kasirnya.
mungkin sdr jimpe
sudah melakukan hal
yang sama dengan
model yang
berbeda(yang banyak
tulisannya).
salam 08-05-2007 Dari : hamran sunu | Kak Jimpe, saya
kenal dengan yang
namanya Edhal.
Bahkan nama
lengkapnya, sekolah
dan jabatannya di
salah satu SMA di
Sudiang. Dalam suatu
liputan dia pernah
jadi narasumberku.
Setelah dicocokkan
nomor ponsel-nya,
ternyata Edhal yang
kita maksud sama! 20-04-2007 Dari : Mattiero | www.ilorappe_diringemu@yahoo.com Luar biasa memang
masyarakat kita,
kebiasaan
coret-mencoret sudah
tidak mengenal batas
dan tempat lagi.
Bayangkan Uang
sebagai alat tukar
sudah menjadi sarana
bentuk aktualisasi
keresahan diri.. 19-04-2007 Dari : aco | hasanuddin_aco@yahoo.com fenomena biasa yang
dikemas jadi luar
biasa
09-04-2007 Dari : Ahmad Sujadi | Luar Biasa. cerita
anda bs jd inspirasi
tuk nulis novel
terlaris di
indonesia n
malayasia 05-04-2007 Dari : kirzha | hahaha... kenapa
setiap saya membaca
tulisan Anda ini,
mata yang tadinya
lelah di depan
komputer selama
berjam-jam akhirnya
lega juga! iya juga
y! saya sering kali
mendapatkan uang
kembalian dari supir
'pete-pete' atau
tukang becak, uang
kertas seribuan yang
di selebarannya
terdapat sebuah
tulisan tangan.
kenapa semua orang
memakai buku kalau
ada uang kertas
sebagai tempat
menulis? saya paling
suka dengan
kata-kata pada
selembar uang
seribuan yaitu "Uang
ini aku dapat dari
tas belanja ibu goe
waktu belanja di
pasar." hahaha...
memang sebuah
pengakuan yang luar
biasa! 23-03-2007 Dari : nel elhallaj | nel_fuck@yahoo.com ekspresi semacam ini
perlu dikembangkan
sebagai bentuk
protes atas
hilangnya ruang
ekspresi di negeri
ini, kalau negera
bangkrut, biarkan
saja. sekaligus
istana negara juga
dicoretin. Tukang
coret
bersatulah..........
...
15-03-2007 Dari : nida | miksmaks19@yahoo.co.id he..he..saya paling
suka baca tulisannya
kak Jimpe
ini...tamasya
kata..kesannya..ring
an-enak-nyaman.
tapi, uang kertas
seribuan itu
tempatku mencatat
rumus matematika
kalau ulangan dulu
di SMA..pokoknya
penuh sekali...saya
jadi
ingat..he..he..he.., 13-02-2007 Dari : halim hd. | halimhade@yahoo.com buat aan mansyur:
saya teringat dengan
seorang tetangga
kampung, anaknya
ahli gigi kondang di
serang, banten, tan
sen auw, kalau
mengirim surat
kepada isterinya di
atas uang kertas.
hal itu juga
dilakukannya kalau
dia mengirim pesan
kepada paman saya. 09-02-2007 Dari : ahmad | pasarcidu@gmail.com well, senang sekali
membacanya. rasanya
seperti dejavu. saya
sering menemukan
uang seperti itu
waktu kecil, dengan
tulisan yang
disertai alamat, dan
motto-prinsip atau
apalah..
cuma sekarang sudah
sulit rasanya
menemukannya.
mungkin saja karena
waktu itu
ruang-ruang ekspresi
lebih sulit
dibanding sekarang
ya? salut buat SaINT
dE jIMpE:) 24-01-2007 Dari : ayoe | rindriasari@gmail.com Bagus juga
tulisannya
tawwa,,tapi mungkin
juga ada org yg tdk
sengaja menulisi
uang kertasnya, spt
nomor tlp, alamt
rumah, dll, karena
dia tdk punya kertas
catatan utk menulis
kdong...seperti
temanku biasa itu
klo mau catat
sesuatu, dicatat di
telapak tangannya
ato di uang
kertasnya
hehehhe...
Buat aan, klo di
aussie kyknya susah
menulis di atas uang
krn materialnya dri
plastik smua, di
thailand juga sy tdk
pernah dpt uang yang
dicoreti, mungkin
krn kultur org sana
yg tdk suka mencoret
sembarangan yaa. 23-01-2007 Dari : aan mansyur | aanmansyur@gmail.com Saya pernah
membayangkan
berkenalan dengan
seorang perempuan
paling manis di
sebuah pete-pete.
Sesaat sebelum dia
meminta sopir
menghentikan
pete-pete, saya
berkata: "Kalau kita
memang jodoh, kau
pasti akan menemukan
nomor telepon saya
di uang kertas ini."
Saat tiba di tujuan,
saya menggunakan
uang itu membayar
pete-pete.
Buat de Saint
Djimpe, tulisannya
menarik!
Saya penasaran,
apakah kegemaran
menulis di uang
kertas ini, hanya
ada di Makassar atau
di Indonesia saja? |
|
|
|
|
| ::
CITIZEN REPORTER |
 | (Kamis, 12-07-2007) |  | (Minggu, 29-04-2007) |  | (Selasa, 31-10-2006) |  | (Rabu, 11-10-2006) |  | (Rabu, 16-08-2006) | |
|
Untitled Document
| ::
DUNIA SEGIEMPAT KAREBOSI |
|
Untitled Document
| ::
KONTAK TIM PANYINGKUL! |
Email Redaksi :
redaksi@panyingkul.com
Tim:
yus@panyingkul.com
+62 813 226 80844
Moch. Hasymi
+62 811 955 954
|
|
|