Untitled Document
 


Untitled Document
.KITAKITA
:: Jika Anda di Panyingkul ::
 
 KABAR KITA
 
 BERANDAKITA
Kegilaan, Dari Cinta Mati di Pulau Rajuni Hingga Riwayat Kadang
:: Ivan Firdaus ::
Baba Guru, Mengenang Film Rhoma Irama di Klenteng Galesong
:: Kamaruddin Azis ::
Mengagumi Tenun Troso, Mengenang Tenun Sengkang
:: Suryadin Laoddang ::
Perempuan Besi di Gunung Perak (2-selesai)
:: M. Aan Mansyur ::
Perempuan Besi di Gunung Perak (1)
:: M. Aan Mansyur ::
 
 RISETKITA
Rasa Takut : Yang Dicitrakan, Yang Dipelihara
:: Aria W. Yudhistira ::
Risetkita: Pramoedya versus Sejarah Resmi
:: Nurhady Sirimorok ::
Hikayat Rumpon Nelayan Mandar
:: Muhammad Ridwan Alimuddin ::
Di Makassar Pernah Ada “Negeri Wajo”
:: Nurhady Sirimorok ::
Surat Itu Ditulis Upas kepada September
:: Nurhady Sirimorok ::
 
 BUKUKITA
 
 KATAKOTAKITA
Kenapa si Gondrong yang Maju?
:: Ivan Firdaus dan Mustamin al-Mandary ::
Karena ‘Rewa’ Badan Binasa
:: Sudirman Nasir ::
Yang Okkot, yang Salah Sambung
:: Nursamsu danTusiana Noor Alfisyahr ::
Kandala`ka`, Kusta Bila Dusta
:: Panyingkul ::
Ayo, Si(ng)kat Terussss..!
:: Panyingkul! ::

 
 TAHUKAHKITA
 

.
 ::
Kamis, 28-12-2006 
Karena Kata Sebiji, Rusak Spanduk Sebentangan
:: Anwar Jimpe Rachman ::


Bisa terpahami pesannya?
Foto: Muhammad Nur Abdurrahman.


Citizen reporter Anwar Jimpe Rachman kembali mengajak kita bertamasya bahasa. Kali ini melalui sejumlah spanduk yang diamatinya di kota Makassar. Kata orang, pesan layanan masyarakat yang baik adalah yang singkat, padat dan mudah dimengerti. Bagaimana dengan sejumlah spanduk yang ditampilkan kali ini? (p!)
 
Benar juga kata para pakar bahasa, orang-orang pemerintah yang seharusnya menjaga aset-aset bangsa, termasuk bahasa, malah merekalah yang justru disebut-sebut sebagai salah satu kelompok pengguna bahasa Indonesia yang paling buruk di negeri ini. Tidak percaya? Saya akan mengajak anda melihat sejumlah spanduk di depan kantor pemerintah di Makassar.

Di Kantor Gabungan Dinas di persimpangan Jalan Mesjid Raya dan Jalan Urip Sumohardjo terbentang spanduk berbunyi “Stop AIDS saatnya melayani”. Maksudnya apa ya? Kalimat imbauan ini sangat membingungkan. Saya mencoba mengutak-atiknya, misalnya dengan memberi tanda koma di tengah kalimat, tapi tetap saja sulit menangkap maknanya. Masyarakat diajak menghentikan penyebaran AIDS, adalah pesan yang bisa saya cerna dengan mudah, tapi dua kata di belakangnya “saatnya melayani” ini yang sama sekali sulit dicerna. Melayani siapa dan melayani dalam bentuk apa?

Kebingungan yang hampir serupa juga saya rasakan ketika membaca spanduk “Stop AIDS Taati Janji” yang dibentang di depan Kantor Dinas Perhubungan, tepat berhadapan dengan bekas kawasan Terminal Panaikang. Lagi-lagi, imbauan menghentikan penyebaran AIDS bisa saya pahami, tapi dua kata berikutnya, “Taati Janji”, ini juga membuat saya memutar otak memikirkannya. Janji pada siapa dan apa isi janjinya?



Siapa yang sejahtera?
Foto: Muhammad Nur Abdurrahman.


Ketika kebingungan belum berhenti, satu lagi spanduk lainnya yang juga diikat di tempat itu makin membuat saya bingung. Bunyinya: “Dengan reformasi birokrasi kita wujudkan aparatur pemerintah yang bersih dan sejahtera”. Saya membacanya berulang-ulang, dan setelah memahami pesannya, saya rasanya ingin mengajukan protes. Spanduk ini jelas-jelas hanya memuat kepentingan aparatur pemerintah saja yang ingin di-‘sejahtera’-kan atau dimakmurkan. Maksudnya reformasi birokrasi yang berlangsung diharapkan membuat aparatur bertambah sejahtera alias kaya? Eits, jadi bagaimana dengan rakyat? Bukannya reformasi birokrasi seharusnya membuahkan pelayanan publik yang lebih efisien bagi masyarakat, dan rasanya harapan seperti ini yang lebih mengena dipasang di sebuah spanduk.

Nah, lain lagi di salah satu instansi keuangan di Jalan Slamet Riyadi, tak jauh dari Balaikota Makassar. Secarik spanduk dibentang dengan gagah. Spanduk narkotika dan obat-obat terlarang itu dipasang di pagar instansi itu. “Hindari Diri Anda dari Narkoba. Jangan coba-coba”, begitu yang tertulis di spanduk itu. Sepintas membacanya memang tak ada yang aneh, tapi cobalah lihat betapa tidak efektifnya penggunaan kata di spanduk itu. Kalimat “Hindari Diri Anda” adalah kalimat yang mubasir dan hanya bisa mengundang tawa. Mana ada orang yang bisa berkelit dari dirinya sendiri? Seharusnya cukup dengan “Hindari Narkoba”. Ya, tapi mau apa lagi.

Tak cuma sampai di situ. Ada lagi kalimat dengan huruf yang lebih besar ditulis di bawahnya, “Jangan Coba-Coba”. Lucu juga spanduk itu. Mudah-mudahan tidak ada pembaca yang iseng menerjemahkan pesannya bahwa ‘masyarakat jangan coba-coba menghindar dari narkoba’.

Soal istilah “coba-coba” ini mengingatkan juga pada selembar stiker yang tertempel di sebuah pintu di Balaikota Parepare. Tulisannya, adalah “Korupsi, jangan coba-coba”. Ketika itu, saya sedang bercakap dengan salah seorang pegawai di sana. Tulisan stiker itu kemudian menjadi perbincangan kami. “Pantas korupsi merajalela”, kata lelaki berkumis itu. “Orang malah disuruh jangan dicoba-coba. Itu sama artinya kalau kita mengatakan korupsi itu mesti diseriusi,” kata dia seraya tergelak. Nah, ini salah membaca pesan atau keisengan belaka memaknai peringatan dilarang korupsi?

Jadi begitulah, gara-gara kata sebiji, rusak spanduk sebentangan, rancu pesan yang disampaikan. Menutup tulisan ini, saya ingin memberi bonus dari spanduk berwarna biru gelap di sebuah ruang pamer mobil di tengah kota, yang bertulis “Pekan Promosi Service Week”. Nah, kalau yang ini bagaimana? (p!)

*Citizen reporter Anwar Jimpe Rachman dapat dihubungi melalui email saintjimpe@gmail.com

| Beri Komentar| Jumlah Komentar (33) |

Komentar :

16-12-2008
Dari : ardadi | diwanua@gmail.com
sekarang tambah banyak yang begituan... liatmiki...

10-12-2007
Dari : alim | limgagak@yahoo.com
Stop Aids Saatnya Melayani Tabe, Spanduk tersebut terletak di kantor gabungan dinas-dinas yang di dalamnya berisi unit kerja yang tugasnya melayani masyarakat. Misalnya dinas tata bangunan yang bertugas melayani masyarakat yang ingin membangun, dinas kebersihan dan keindahan yang bertugas melayani masyarakat yang bermasalah dengan sampah, dispenda yang melayani masyarakat yang ingin mendapatkan izin reklame misalnya. Karena ini bulan Desember, bulannya Aids, mereka mengajak aparat yang bekerja di gabungan dinas-dinas ikut memberantas Aids tapi tetap memaksimalkan pelayanan. Maka jadilah Stop Aids Saatnya Melayani. Maafkan kalau saya salah.

04-11-2007
Dari : Asdhar | alldie.rumahdesain@gmail.com
Susah Bosss. Emang seperti itu adanya bahasa kita. Kita orang indonesia selalu di himbau oleh pemerintah kita untuk selalu menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Tetapi bagaimana mungkin itu terwujud kalau slogan negara kita saja menggunakan bahasa non Indonesia. PANCASILA, kenapa tidak lima sila saja? Trus ada lagi, BHINEKA TUNGGAL IKA...... samapi sekarang saya selalu bertanya kalimat ini artinya apa ya? n satu lagi yang sering kita dapat di bangku sekolah, TUT WURI HANDAYANI ???????? Hidup Indonesiaku......... .... (Gak perlu ditanya 'apanya yang hidup?)

02-11-2007
Dari : andi sastriadi/adhi | la_bogel_nebo@yahoo.co.id
saya cuma mau bilang bahwa, aparat pemerintah seharusnya pergi belajar bahasa Indonesia pada anak SD atau TK, apa' maccamui sedding anureku maruki Indonesia yang baku daripada iyyaro pamarentata'.

10-09-2007
Dari : doto | doto_dg.bella@hotmail.com
Terkadang banyak juga Mahasiswa yang membuat slogan salah seperti itu, malahan di cetak menjadi sticker (panace'). Saya sering dapati/beli sticker dari Mahasiswa (bukan cuma di UNHAS)nulisnya "Let's join Us!". Kelihatannya keren tetapi artinya : "Mari kita gabung sama kita". Pusing kan!! (maksud mereka mungkin "Let join us" atau "Let's join")makanya kalo belum mahir buat slogan bahasa sendiri, jangan membuat dalam bahasa asing.

06-09-2007
Dari : Muhammad Iqbal | iqbal_m70@yahoo.com
Pak Jimp, mendingan spanduknya ditulis menggunakan BAHASA LONTARA supaya bisa menjadi pembelajaran bagi anak2 sekolah.

16-08-2007
Dari : bustang | bustang_m@yahoo.com
Terima kasih pak Jimp. saya teringat ketika masih Menjadi mahasiswa, di salah satu perguruan tinggi negeri di Makassar. ada dua hal yan sangat lucu yaitu acara lomba lagu perjuangan. Panitia naik kepanggung dan setelah panjang lebar berpidato, terakhir beliau mengucapkan "mari kita sukseskan lomba perjuangan lagu-lagu" yang seharusnya mari kita sukseskan lomba lagu-lagu perjuangan. Demikian pula pada acara penutupan suatu kegiatan renungan, pada awal renungan panitia mengajak sambil berkata "tutup rapat mata-mata" yang seharusnya tutup mata rapat-rapat.

13-08-2007
Dari : ahmad | erio_nhrx@yahoo.co.id
nai ntu...apa massunu rahing ?

24-07-2007
Dari : cikke'uLu | ikok_mute@yahoo.co.id
yoi, btuL skali tidak ngerti. Hanya satu kata "apa massu'Na?"

01-07-2007
Dari : AnakdarakallolonaParepare | magaretta@cukkaoeloe.com
de' upaja macawa bacai laporangmu selessureng,makanya kalo ada musrenbang tingkat propinsi atau tingkat kota! lebi maggunai akko jokkaki usulkangngi perda tentang penggunaan bahasa indonesia yang baik dan benar atau kalo perlu ada perda yang mengatur ttg spanduk berbahasa daerah pada titik2 tertentu,ok!!kallolo cappa loka Parepare

21-06-2007
Dari : emha | emh@tonji.kodong
Santai moko.. itu spanduk memang dibuat seperti itu untuk cari perhatian boss, klu bos lihat kan disuruh buat ulang, dapatmaki lagi racci'2na.. he he

12-06-2007
Dari : M.ZAINIL BAHRI | besar-tinggi@yahoo.com
BAHASA MENENTUKAN CITRA BANGSA perlu di tatar ulang tuh pejabat yang buat spanduk!

29-05-2007
Dari : | hattaboer@yahoo.com
salamulekum. kagumka'.. kemarin tentang tulisan di uang kertas, skarang tentang makna kata di spanduk2.. kagumka' baca isi tulisanta' yang temanya unik2.. tentang yang satu ini toh, sa sampe bingung, mau menilai apa isi dan makna tulisandi spanduk2 tersebut. apa mau dicallai, ato merasa bangga dengan kekayaan dan keunikan tata bahasa kita dan cara memaknainya.. Well.. Salut anyway buat jimpe.. Ditunggu tulisan2 berikutnya nah.. Salama' ki'.. ^_^

22-04-2007
Dari : supir truk yang bahagia | vampireofthesea@yahoo.com
memabaca tulisan bung Jimpe membuat saya teringat pada masa2 ketika mahasiswa dulu. untuk teman2 yang pernah menjadi penggiat di lembaga kampus, mungkin pernah satu atau dua kali kebagian tugas mengantar proposal ke instansi pemerintah, dan mendapat kesempatan beraudiensi (mudah-mudahan itu istilah yang tepat) dengan petinggi birokrat. pada kesempatan itu sering kali saya menahan tawa, atau sekedar mengulum senyum saat menyimak bahasa mereka. istilah2 asing bin tinggi fasih mereka gunakan, yang saya yakin tidak sepenuhnya mereka pahami. kira2 bagaimana ya pemerintah di daerah lain berbahasa Indonesia. saya sepertinya hampir percaya bahwa penggunaan bahasa indonesia yang rancu kompak terjadi disetiap propinsi. ya selain pengaruh bahasa daerah masing2, Pak Harto berjasa besar memberi ciri khas bahasa birokrat.

16-04-2007
Dari : opik | kurobuta_wombat@yahoo.com
pasti ada sambungannya kak jimp .. stop aids saatnya melayani ... mm sambungannya kak jimp mi pikirin. mmm anu .. kakyaknya persoalan malas ji, istilah Tarakan-nya "kupikirkankah?"_ Istilah Nunukan_nya "buang ke laut saja?" alias acuh.

13-04-2007
Dari : daniel furqon | furqon_industri@yahoo.co.id
Ehm... saudara jimpe, saya akui anda kreatif dan peka. sudah seharusnya memang, penggunaan kata-kata itu diperbaiki. tidak boleh seenaknya, karena akan menimbulkan makna ganda. Kalau dulu di bangku sma disebutnya "kata ambigu". Saya setuju dengan adanya spanduk itu, walaupun ada kekurangan sedikit dikata-katanya. AIDS memang harus diberantas-tas-tas.. ..

05-04-2007
Dari : kirzha |
hahaha...Saudara jimpe, anda ini seperti seorang detektif saja! tepatnya detektif "kata-kata"! bahkan orang yang setiap hari melihat spanduk itu, sama sekali tidak memikirkan klu pesan dr spanduk tsb tidak jelas maknanya! anda memang orang yg hebat!

27-03-2007
Dari : asfriyanto | asfriyanto@yahoo.com
Bukan hanya daerah lho yang punya slogan-slogan unik, tahun 2004 ketika saya ke Kolaka, pas didepan kantor tentara, disana sedang dipasang sepanduk yang bertulis : MKRI harga mati!. Wah apa tuh maksudnya, Mungkin maksudnya (Megara Kesatuan Republik Indonesia . Ada juga yang Unik, di kampus Unhas salah satu pamflet bazar salah satu fakultas menuliskan menu makanannya dengan ketikan yang rapi bertuliskan tersedia “makanang dan minumang” itu barangkali memang disengaja, pikir saya. Tapi pada baris dibawahnya tertulis “pisan goreng”, Nah ini fenomen kesalahan pada alat ucap dan logika berpikir atau memang ciri kebudayaan. ??????????!!!!!!!!!! !!!!!!!!!

26-03-2007
Dari : thahirtalas@anakpangkep.zzn.com | thahirtalas@anakpangkep.zzn.com
Salam, bagaimana caranya bergabung di Pannyingkul? Kusuka'na Thanks Hormatku, Thahir Talas Unismuh Makassar

20-03-2007
Dari : agungk | agungk@telkom.net
"STOP AIDS SAATNYA MELAYANI". Mungkin maksudnya: "STOP AIDS SAAT MELAYANI". Berarti spanduk itu ditujukan untuk kelompok tertentu, yakni yang kemungkinan besar tertular virus pembawa AIDS ketika "melayani". :)

16-03-2007
Dari : Nana | -
ha...ha..ha...lucu sekali! SAATNYA MELAYANI :-))

13-03-2007
Dari : Sapril Akhmady | sapril.akhmady@gmail.com
Bung Jimpe, sepertinya harus ada workshop penggunaan bahasa yang baik, benar dan indah buat semua warga :)

05-03-2007
Dari : Irsal | a.irsal@yahoo.co.id
Saya teringat sebuat spanduk yang di pasang di jalan propinsi di kabupaten Pangkep yang kakau tidak salah bunyinya kira-kira seperti ini "Tidak ada tempat bagi koruptor di negeri kita ini". Jadi pantas saja koruptor lari ke luar negeri.

04-03-2007
Dari : ibank | ibank_element@yahoo.co.id
klo sy jd guru bhs indonesiana yg pesan spanduk itu sy kasih dpt 2 diijasahnya.

11-02-2007
Dari : ani |
hehehe, lucu juga tuh . Seharusnya sebelum membuat spanduk, harus ada yang mengoreksi kata-kata yang akan dipajang. Tar masyarakat akan menganggap pemerintah tak tau berbahasa yang benar dan baik :D

01-02-2007
Dari : swanvri | swanvri@yahoo.com
:)), lucu ya. saya jadi ingat dg teori alam bawah sadar Freud dan Lacan.

28-01-2007
Dari : asam | nasi.gereng.nggak.pake.nasi.aj@docomo.ne
Terima kasih karena bisa memperhatikan hal sekecil namun mempunyai manfaat yang sangat besar yang ada di Makassar,kalau bisa tolong sampaikan langsung ke lembaga pemerintah tersebut,mungkin bisa menjadi kritik yang membangun buat pemerintah kota Makassar,dan masyarakat Makassar.

28-01-2007
Dari : andry |

17-01-2007
Dari : syakri | qirayzimha@gmail.com
Bikin kalimat bijaksana saja masih salah...bagaimana mau berbuat bijaksana

16-01-2007
Dari : tohir | gadingtirta2005@yahoo.com
sebenernya banyak kasus kayak gitu di kotaku (banten)tapi aku baru sadar kalo kasus2 sprt itu "bermasalah" meski hanya bahasanya dari tulisan ini. mata saya jadi terbuka untuk lebih merenung ttg semua yang da di sekitar. maksaih

11-01-2007
Dari : Sopir angkot | sopirangkot@yahoo.com
Membaca tulisan ini, saya teringat kembali ketika membaca tulisan dipanyingkul; Kendaraan dan kata2nya, yang apakah okkot atau memang disengaja. Jadi kelihatannya sama saja antara kata2 di spanduk dengan di kendaraan.

31-12-2006
Dari : daeng ammang | daeng.ammang@gmail.com
sepertinya, di penghujung tahun ini, kantor-kantor dinas di Makassar ramai-ramai menghabiskan sisa anggaran buat bikin spanduk,... liat saja di tukang-tukang bikin spanduk atau di pagar-pagar kantor dinas. kata-katanya ngaco! tidak eye-catching lagi!!! bikin jorok-jorok kantor saja! :{

29-12-2006
Dari : irwan | brutus_stikom@yahoo.co.id
selain pemerintah yang sering membingunhkan dengan bahasa di spanduknya. juga polisi. lihat saja beberapa rambu-rambu yang kadang paradoks. contohnya tanda larang yang ada didepan racing center. disitu ada tanda larang berlingkaran merah dengan palang putih ditengah lalu dibawa nya tertulis kecuali angkutan kota. polisi yang sering berjaga disitu pernah bilang maksudnya angkutan kota dilrang lewat situ. tapi yang saya tangkap malah sbealiknya. semua dilarang masuk kecuali angkutan kota. juga ada ciri khas spanduk birokrat. yaitu panjang kata-katanya panjang, dan muluk-muluk!



 :: CITIZEN REPORTER
Makassar di Panyingkul!: Sebuah Persembahan
(Kamis, 12-07-2007)
Ayo Bergabung di Panyingkul!
(Minggu, 29-04-2007)
Catatan Sederhana Para Citizen Reporter
(Selasa, 31-10-2006)
Tentang Citizen Reporter dan Rubrik di Panyingkul!
(Rabu, 11-10-2006)
Riuh Rendah di Panyingkul!
(Rabu, 16-08-2006)

Untitled Document
 :: DUNIA SEGIEMPAT KAREBOSI






 :: PILKADA




 :: ALBUM PUASA 2008




Untitled Document
 :: KONTAK TIM PANYINGKUL!

Email Redaksi :

redaksi@panyingkul.com

Tim:
yus@panyingkul.com
+62 813 226 80844

Moch. Hasymi
+62 811 955 954


© Juni 2006 - Panyingkul.com All Rights Reserved
Desain Web : Nesia Andriana -- Supported by: Yuhardin