|
|
| . |
| ::
|
| Kamis, 28-12-2006 | Karena Kata Sebiji, Rusak Spanduk Sebentangan :: Anwar Jimpe Rachman ::
| Bisa terpahami pesannya? Foto: Muhammad Nur Abdurrahman.
Citizen reporter Anwar Jimpe Rachman kembali mengajak kita bertamasya bahasa. Kali ini melalui sejumlah spanduk yang diamatinya di kota Makassar. Kata orang, pesan layanan masyarakat yang baik adalah yang singkat, padat dan mudah dimengerti. Bagaimana dengan sejumlah spanduk yang ditampilkan kali ini? (p!) | Benar juga kata para pakar bahasa, orang-orang pemerintah yang seharusnya menjaga aset-aset bangsa, termasuk bahasa, malah merekalah yang justru disebut-sebut sebagai salah satu kelompok pengguna bahasa Indonesia yang paling buruk di negeri ini. Tidak percaya? Saya akan mengajak anda melihat sejumlah spanduk di depan kantor pemerintah di Makassar.
Di Kantor Gabungan Dinas di persimpangan Jalan Mesjid Raya dan Jalan Urip Sumohardjo terbentang spanduk berbunyi “Stop AIDS saatnya melayani”. Maksudnya apa ya? Kalimat imbauan ini sangat membingungkan. Saya mencoba mengutak-atiknya, misalnya dengan memberi tanda koma di tengah kalimat, tapi tetap saja sulit menangkap maknanya. Masyarakat diajak menghentikan penyebaran AIDS, adalah pesan yang bisa saya cerna dengan mudah, tapi dua kata di belakangnya “saatnya melayani” ini yang sama sekali sulit dicerna. Melayani siapa dan melayani dalam bentuk apa?
Kebingungan yang hampir serupa juga saya rasakan ketika membaca spanduk “Stop AIDS Taati Janji” yang dibentang di depan Kantor Dinas Perhubungan, tepat berhadapan dengan bekas kawasan Terminal Panaikang. Lagi-lagi, imbauan menghentikan penyebaran AIDS bisa saya pahami, tapi dua kata berikutnya, “Taati Janji”, ini juga membuat saya memutar otak memikirkannya. Janji pada siapa dan apa isi janjinya?
Siapa yang sejahtera? Foto: Muhammad Nur Abdurrahman.
Ketika kebingungan belum berhenti, satu lagi spanduk lainnya yang juga diikat di tempat itu makin membuat saya bingung. Bunyinya: “Dengan reformasi birokrasi kita wujudkan aparatur pemerintah yang bersih dan sejahtera”. Saya membacanya berulang-ulang, dan setelah memahami pesannya, saya rasanya ingin mengajukan protes. Spanduk ini jelas-jelas hanya memuat kepentingan aparatur pemerintah saja yang ingin di-‘sejahtera’-kan atau dimakmurkan. Maksudnya reformasi birokrasi yang berlangsung diharapkan membuat aparatur bertambah sejahtera alias kaya? Eits, jadi bagaimana dengan rakyat? Bukannya reformasi birokrasi seharusnya membuahkan pelayanan publik yang lebih efisien bagi masyarakat, dan rasanya harapan seperti ini yang lebih mengena dipasang di sebuah spanduk.
Nah, lain lagi di salah satu instansi keuangan di Jalan Slamet Riyadi, tak jauh dari Balaikota Makassar. Secarik spanduk dibentang dengan gagah. Spanduk narkotika dan obat-obat terlarang itu dipasang di pagar instansi itu. “Hindari Diri Anda dari Narkoba. Jangan coba-coba”, begitu yang tertulis di spanduk itu. Sepintas membacanya memang tak ada yang aneh, tapi cobalah lihat betapa tidak efektifnya penggunaan kata di spanduk itu. Kalimat “Hindari Diri Anda” adalah kalimat yang mubasir dan hanya bisa mengundang tawa. Mana ada orang yang bisa berkelit dari dirinya sendiri? Seharusnya cukup dengan “Hindari Narkoba”. Ya, tapi mau apa lagi.
Tak cuma sampai di situ. Ada lagi kalimat dengan huruf yang lebih besar ditulis di bawahnya, “Jangan Coba-Coba”. Lucu juga spanduk itu. Mudah-mudahan tidak ada pembaca yang iseng menerjemahkan pesannya bahwa ‘masyarakat jangan coba-coba menghindar dari narkoba’.
Soal istilah “coba-coba” ini mengingatkan juga pada selembar stiker yang tertempel di sebuah pintu di Balaikota Parepare. Tulisannya, adalah “Korupsi, jangan coba-coba”. Ketika itu, saya sedang bercakap dengan salah seorang pegawai di sana. Tulisan stiker itu kemudian menjadi perbincangan kami. “Pantas korupsi merajalela”, kata lelaki berkumis itu. “Orang malah disuruh jangan dicoba-coba. Itu sama artinya kalau kita mengatakan korupsi itu mesti diseriusi,” kata dia seraya tergelak. Nah, ini salah membaca pesan atau keisengan belaka memaknai peringatan dilarang korupsi?
Jadi begitulah, gara-gara kata sebiji, rusak spanduk sebentangan, rancu pesan yang disampaikan. Menutup tulisan ini, saya ingin memberi bonus dari spanduk berwarna biru gelap di sebuah ruang pamer mobil di tengah kota, yang bertulis “Pekan Promosi Service Week”. Nah, kalau yang ini bagaimana? (p!)
*Citizen reporter Anwar Jimpe Rachman dapat dihubungi melalui email saintjimpe@gmail.com
|
| | Jumlah
Komentar (33) |
|
| Komentar :
16-12-2008 Dari : ardadi | diwanua@gmail.com sekarang tambah
banyak yang
begituan...
liatmiki... 10-12-2007 Dari : alim | limgagak@yahoo.com Stop Aids Saatnya
Melayani
Tabe,
Spanduk tersebut
terletak di kantor
gabungan dinas-dinas
yang di dalamnya
berisi unit kerja
yang tugasnya
melayani masyarakat.
Misalnya dinas tata
bangunan yang
bertugas melayani
masyarakat yang
ingin membangun,
dinas kebersihan dan
keindahan yang
bertugas melayani
masyarakat yang
bermasalah dengan
sampah, dispenda
yang melayani
masyarakat yang
ingin mendapatkan
izin reklame
misalnya.
Karena ini bulan
Desember, bulannya
Aids, mereka
mengajak aparat yang
bekerja di gabungan
dinas-dinas ikut
memberantas Aids
tapi tetap
memaksimalkan
pelayanan. Maka
jadilah Stop Aids
Saatnya Melayani.
Maafkan kalau saya
salah. 04-11-2007 Dari : Asdhar | alldie.rumahdesain@gmail.com Susah Bosss. Emang
seperti itu adanya
bahasa kita.
Kita orang indonesia
selalu di himbau
oleh pemerintah kita
untuk selalu
menggunakan bahasa
Indonesia yang baik
dan benar. Tetapi
bagaimana mungkin
itu terwujud kalau
slogan negara kita
saja menggunakan
bahasa non
Indonesia.
PANCASILA, kenapa
tidak lima sila
saja? Trus ada lagi,
BHINEKA TUNGGAL
IKA...... samapi
sekarang saya selalu
bertanya kalimat ini
artinya apa ya? n
satu lagi yang
sering kita dapat di
bangku sekolah, TUT
WURI HANDAYANI
???????? Hidup
Indonesiaku.........
.... (Gak perlu
ditanya 'apanya yang
hidup?) 02-11-2007 Dari : andi sastriadi/adhi | la_bogel_nebo@yahoo.co.id saya cuma mau bilang
bahwa, aparat
pemerintah
seharusnya pergi
belajar bahasa
Indonesia pada anak
SD atau TK, apa'
maccamui sedding
anureku maruki
Indonesia yang baku
daripada iyyaro
pamarentata'. 10-09-2007 Dari : doto | doto_dg.bella@hotmail.com Terkadang banyak
juga Mahasiswa yang
membuat slogan salah
seperti itu, malahan
di cetak menjadi
sticker (panace').
Saya sering
dapati/beli sticker
dari Mahasiswa
(bukan cuma di
UNHAS)nulisnya
"Let's join Us!".
Kelihatannya keren
tetapi artinya :
"Mari kita gabung
sama kita". Pusing
kan!! (maksud mereka
mungkin "Let join
us" atau "Let's
join")makanya kalo
belum mahir buat
slogan bahasa
sendiri, jangan
membuat dalam
bahasa asing. 06-09-2007 Dari : Muhammad Iqbal | iqbal_m70@yahoo.com Pak Jimp, mendingan
spanduknya ditulis
menggunakan BAHASA
LONTARA supaya bisa
menjadi pembelajaran
bagi anak2 sekolah. 16-08-2007 Dari : bustang | bustang_m@yahoo.com Terima kasih pak
Jimp. saya teringat
ketika masih Menjadi
mahasiswa, di salah
satu perguruan
tinggi negeri di
Makassar. ada dua
hal yan sangat lucu
yaitu acara lomba
lagu perjuangan.
Panitia naik
kepanggung dan
setelah panjang
lebar berpidato,
terakhir beliau
mengucapkan "mari
kita sukseskan lomba
perjuangan
lagu-lagu" yang
seharusnya mari kita
sukseskan lomba
lagu-lagu
perjuangan. Demikian
pula pada acara
penutupan suatu
kegiatan renungan,
pada awal renungan
panitia mengajak
sambil berkata
"tutup rapat
mata-mata" yang
seharusnya tutup
mata rapat-rapat. 13-08-2007 Dari : ahmad | erio_nhrx@yahoo.co.id nai ntu...apa
massunu rahing ? 24-07-2007 Dari : cikke'uLu | ikok_mute@yahoo.co.id yoi, btuL skali
tidak ngerti. Hanya
satu kata "apa
massu'Na?" 01-07-2007 Dari : AnakdarakallolonaParepare | magaretta@cukkaoeloe.com de' upaja macawa
bacai laporangmu
selessureng,makanya
kalo ada musrenbang
tingkat propinsi
atau tingkat kota!
lebi maggunai akko
jokkaki usulkangngi
perda tentang
penggunaan bahasa
indonesia yang baik
dan benar atau kalo
perlu ada perda yang
mengatur ttg spanduk
berbahasa daerah
pada titik2
tertentu,ok!!kallolo
cappa loka Parepare 21-06-2007 Dari : emha | emh@tonji.kodong Santai moko.. itu
spanduk memang
dibuat seperti itu
untuk cari perhatian
boss, klu bos lihat
kan disuruh buat
ulang, dapatmaki
lagi racci'2na.. he
he 12-06-2007 Dari : M.ZAINIL BAHRI | besar-tinggi@yahoo.com BAHASA MENENTUKAN
CITRA BANGSA
perlu di tatar ulang
tuh pejabat yang
buat spanduk!
29-05-2007 Dari : | hattaboer@yahoo.com salamulekum.
kagumka'.. kemarin
tentang tulisan di
uang kertas, skarang
tentang makna kata
di spanduk2..
kagumka' baca isi
tulisanta' yang
temanya unik2..
tentang yang satu
ini toh, sa sampe
bingung, mau menilai
apa isi dan makna
tulisandi spanduk2
tersebut.
apa mau dicallai,
ato merasa bangga
dengan kekayaan dan
keunikan tata bahasa
kita dan cara
memaknainya..
Well.. Salut anyway
buat jimpe..
Ditunggu tulisan2
berikutnya nah..
Salama' ki'..
^_^ 22-04-2007 Dari : supir truk yang bahagia | vampireofthesea@yahoo.com memabaca tulisan
bung Jimpe membuat
saya teringat pada
masa2 ketika
mahasiswa dulu.
untuk teman2 yang
pernah menjadi
penggiat di lembaga
kampus, mungkin
pernah satu atau dua
kali kebagian tugas
mengantar proposal
ke instansi
pemerintah, dan
mendapat kesempatan
beraudiensi
(mudah-mudahan itu
istilah yang tepat)
dengan petinggi
birokrat. pada
kesempatan itu
sering kali saya
menahan tawa, atau
sekedar mengulum
senyum saat menyimak
bahasa mereka.
istilah2 asing bin
tinggi fasih mereka
gunakan, yang saya
yakin tidak
sepenuhnya mereka
pahami.
kira2 bagaimana ya
pemerintah di daerah
lain berbahasa
Indonesia. saya
sepertinya hampir
percaya bahwa
penggunaan bahasa
indonesia yang rancu
kompak terjadi
disetiap propinsi.
ya selain pengaruh
bahasa daerah
masing2, Pak Harto
berjasa besar
memberi ciri khas
bahasa
birokrat.
16-04-2007 Dari : opik | kurobuta_wombat@yahoo.com pasti ada
sambungannya kak
jimp .. stop aids
saatnya melayani ...
mm sambungannya kak
jimp mi pikirin. mmm
anu .. kakyaknya
persoalan malas ji,
istilah Tarakan-nya
"kupikirkankah?"_
Istilah Nunukan_nya
"buang ke laut
saja?" alias acuh. 13-04-2007 Dari : daniel furqon | furqon_industri@yahoo.co.id Ehm...
saudara jimpe, saya
akui anda kreatif
dan peka. sudah
seharusnya memang,
penggunaan kata-kata
itu diperbaiki.
tidak boleh
seenaknya, karena
akan menimbulkan
makna ganda. Kalau
dulu di bangku sma
disebutnya "kata
ambigu".
Saya setuju dengan
adanya spanduk itu,
walaupun ada
kekurangan sedikit
dikata-katanya. AIDS
memang harus
diberantas-tas-tas..
.. 05-04-2007 Dari : kirzha | hahaha...Saudara
jimpe, anda ini
seperti seorang
detektif saja!
tepatnya detektif
"kata-kata"! bahkan
orang yang setiap
hari melihat spanduk
itu, sama sekali
tidak memikirkan klu
pesan dr spanduk tsb
tidak jelas
maknanya! anda
memang orang yg
hebat! 27-03-2007 Dari : asfriyanto | asfriyanto@yahoo.com Bukan hanya daerah
lho yang punya
slogan-slogan unik,
tahun 2004 ketika
saya ke Kolaka, pas
didepan kantor
tentara, disana
sedang dipasang
sepanduk yang
bertulis : MKRI
harga mati!. Wah
apa tuh maksudnya,
Mungkin maksudnya
(Megara Kesatuan
Republik Indonesia .
Ada juga yang Unik,
di kampus Unhas
salah satu pamflet
bazar salah satu
fakultas menuliskan
menu makanannya
dengan ketikan yang
rapi bertuliskan
tersedia “makanang
dan minumang” itu
barangkali memang
disengaja, pikir
saya. Tapi pada
baris dibawahnya
tertulis “pisan
goreng”, Nah ini
fenomen kesalahan
pada alat ucap dan
logika berpikir atau
memang ciri
kebudayaan.
??????????!!!!!!!!!!
!!!!!!!!! 26-03-2007 Dari : thahirtalas@anakpangkep.zzn.com | thahirtalas@anakpangkep.zzn.com Salam,
bagaimana caranya
bergabung di
Pannyingkul?
Kusuka'na
Thanks
Hormatku,
Thahir Talas
Unismuh Makassar 20-03-2007 Dari : agungk | agungk@telkom.net "STOP AIDS SAATNYA
MELAYANI".
Mungkin maksudnya:
"STOP AIDS SAAT
MELAYANI".
Berarti spanduk itu
ditujukan untuk
kelompok tertentu,
yakni yang
kemungkinan besar
tertular virus
pembawa AIDS ketika
"melayani".
:) 16-03-2007 Dari : Nana | - ha...ha..ha...lucu
sekali! SAATNYA
MELAYANI :-)) 13-03-2007 Dari : Sapril Akhmady | sapril.akhmady@gmail.com Bung Jimpe,
sepertinya harus ada
workshop penggunaan
bahasa yang baik,
benar dan indah buat
semua warga :) 05-03-2007 Dari : Irsal | a.irsal@yahoo.co.id Saya teringat sebuat
spanduk yang di
pasang di jalan
propinsi di
kabupaten Pangkep
yang kakau tidak
salah bunyinya
kira-kira seperti
ini "Tidak ada
tempat bagi koruptor
di negeri kita ini".
Jadi pantas saja
koruptor lari ke
luar negeri. 04-03-2007 Dari : ibank | ibank_element@yahoo.co.id klo sy jd guru bhs
indonesiana yg pesan
spanduk itu sy kasih
dpt 2 diijasahnya. 11-02-2007 Dari : ani | hehehe, lucu juga
tuh . Seharusnya
sebelum membuat
spanduk, harus ada
yang mengoreksi
kata-kata yang akan
dipajang. Tar
masyarakat akan
menganggap
pemerintah tak tau
berbahasa yang benar
dan baik :D 01-02-2007 Dari : swanvri | swanvri@yahoo.com :)), lucu ya. saya
jadi ingat dg teori
alam bawah sadar
Freud dan Lacan.
28-01-2007 Dari : asam | nasi.gereng.nggak.pake.nasi.aj@docomo.ne Terima kasih karena
bisa memperhatikan
hal sekecil namun
mempunyai manfaat
yang sangat besar
yang ada di
Makassar,kalau bisa
tolong sampaikan
langsung ke lembaga
pemerintah
tersebut,mungkin
bisa menjadi kritik
yang membangun buat
pemerintah kota
Makassar,dan
masyarakat Makassar.
28-01-2007 Dari : andry |
17-01-2007 Dari : syakri | qirayzimha@gmail.com Bikin kalimat
bijaksana saja masih
salah...bagaimana
mau berbuat
bijaksana 16-01-2007 Dari : tohir | gadingtirta2005@yahoo.com sebenernya banyak
kasus kayak gitu di
kotaku (banten)tapi
aku baru sadar kalo
kasus2 sprt itu
"bermasalah" meski
hanya bahasanya dari
tulisan ini. mata
saya jadi terbuka
untuk lebih merenung
ttg semua yang da di
sekitar. maksaih 11-01-2007 Dari : Sopir angkot | sopirangkot@yahoo.com Membaca tulisan ini,
saya teringat
kembali ketika
membaca tulisan
dipanyingkul;
Kendaraan dan
kata2nya, yang
apakah okkot atau
memang disengaja.
Jadi kelihatannya
sama saja antara
kata2 di spanduk
dengan di kendaraan. 31-12-2006 Dari : daeng ammang | daeng.ammang@gmail.com sepertinya, di
penghujung tahun
ini, kantor-kantor
dinas di Makassar
ramai-ramai
menghabiskan sisa
anggaran buat bikin
spanduk,... liat
saja di
tukang-tukang bikin
spanduk atau di
pagar-pagar kantor
dinas. kata-katanya
ngaco! tidak
eye-catching lagi!!!
bikin jorok-jorok
kantor saja!
:{ 29-12-2006 Dari : irwan | brutus_stikom@yahoo.co.id selain pemerintah
yang sering
membingunhkan dengan
bahasa di
spanduknya. juga
polisi. lihat saja
beberapa rambu-rambu
yang kadang
paradoks. contohnya
tanda larang yang
ada didepan racing
center. disitu ada
tanda larang
berlingkaran merah
dengan palang putih
ditengah lalu dibawa
nya tertulis kecuali
angkutan kota.
polisi yang sering
berjaga disitu
pernah bilang
maksudnya angkutan
kota dilrang lewat
situ. tapi yang saya
tangkap malah
sbealiknya. semua
dilarang masuk
kecuali angkutan
kota. juga ada ciri
khas spanduk
birokrat. yaitu
panjang kata-katanya
panjang, dan
muluk-muluk! |
|
|
|
|
| ::
CITIZEN REPORTER |
 | (Kamis, 12-07-2007) |  | (Minggu, 29-04-2007) |  | (Selasa, 31-10-2006) |  | (Rabu, 11-10-2006) |  | (Rabu, 16-08-2006) | |
|
Untitled Document
| ::
DUNIA SEGIEMPAT KAREBOSI |
|
Untitled Document
| ::
KONTAK TIM PANYINGKUL! |
Email Redaksi :
redaksi@panyingkul.com
Tim:
yus@panyingkul.com
+62 813 226 80844
Moch. Hasymi
+62 811 955 954
|
|
|