Untitled Document
 


Untitled Document
.KITAKITA
:: Jika Anda di Panyingkul ::
 
 KABAR KITA
 
 BERANDAKITA
Kegilaan, Dari Cinta Mati di Pulau Rajuni Hingga Riwayat Kadang
:: Ivan Firdaus ::
Baba Guru, Mengenang Film Rhoma Irama di Klenteng Galesong
:: Kamaruddin Azis ::
Mengagumi Tenun Troso, Mengenang Tenun Sengkang
:: Suryadin Laoddang ::
Perempuan Besi di Gunung Perak (2-selesai)
:: M. Aan Mansyur ::
Perempuan Besi di Gunung Perak (1)
:: M. Aan Mansyur ::
 
 RISETKITA
Rasa Takut : Yang Dicitrakan, Yang Dipelihara
:: Aria W. Yudhistira ::
Risetkita: Pramoedya versus Sejarah Resmi
:: Nurhady Sirimorok ::
Hikayat Rumpon Nelayan Mandar
:: Muhammad Ridwan Alimuddin ::
Di Makassar Pernah Ada “Negeri Wajo”
:: Nurhady Sirimorok ::
Surat Itu Ditulis Upas kepada September
:: Nurhady Sirimorok ::
 
 BUKUKITA
 
 KATAKOTAKITA
Kenapa si Gondrong yang Maju?
:: Ivan Firdaus dan Mustamin al-Mandary ::
Karena ‘Rewa’ Badan Binasa
:: Sudirman Nasir ::
Yang Okkot, yang Salah Sambung
:: Nursamsu danTusiana Noor Alfisyahr ::
Kandala`ka`, Kusta Bila Dusta
:: Panyingkul ::
Ayo, Si(ng)kat Terussss..!
:: Panyingkul! ::

 
 TAHUKAHKITA
 

.
 ::
Jumat, 15-12-2006 
Suatu Hari di Dusun Angin-angin
:: Winarni ::


Naik truk ke Dusun Angin-angin.
Foto: Winarni.


Ketika melakukan pendakian Gunung Latimojong, citizen reporter Winarni sempat mengunjungi Dusun Angin-angin. Di salah satu kampung penghasil kopi di Kabupaten Enrekang ini, ia mengunjungi satu-satunya sekolah dasar di dusun itu dan membagi kesan-kesannya.(p!)
 
Suara azan subuh menggema merdu dari satu-satunya mesjid di dusun ini. Suasana religius terasa kental, ketika masyarakat berbondong-bondong menunaikan salat berjamaah di mesjid. Perlahan sang fajar mengintip di balik gugusan pegunungan, menciptakan lukisan cakrawala yang sungguh mempesona. Dusun itu bernama Angin-angin, Desa Latimojong, Kecamatan Baraka, Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan.

Untuk tiba di Dusun Angin-angin, perjalanan ditempuh dari Kota Makassar sejauh 200 km menuju ibu kota Enrekang. Dari sini, perjalanan dilanjutkan sejauh 30 km menuju ibukota Kecamatan Baraka. Perjalanan selanjutnya dapat ditempuh dengan menumpang sejenis mikrolet hingga Desa Buntu Dea lalu berjalan kaki selama kurang lebih dua jam menuju Angin-angin. Alternatif lain, kendaraan truk juga dapat digunakan dan akan mengantarkan kita dari ibukota kecamatan langsung ke dusun itu. Namun kedua angkutan ini hanya ada pada hari pasar, Senin dan Kamis. Angkutan lain adalah ojek, tentu dengan ongkos yang jauh lebih mahal.


Gedung sekolah dasar Dusun Angin-angin.
Foto: Winarni.


Dusun dengan jumlah penduduk 110 kepala keluarga ini berada di ketinggian 1.500 meter dari permukaan laut dengan pola permukiman menyebar. Hubungan sesama warga sangat akrab karena saling mengenal. Mata pencaharian bersifat homogen yaitu berkebun kopi dan bertani bawang. Ini ditunjang oleh tingkat curah hujan rata-rata 94,6 milimeter per tahun.

***

Beberapa bocah yang berlarian menuju sebuah sekolah seolah memanggil saya untuk turut “bersekolah” pagi itu. Dari rumah salah seorang penduduk bernama Ambe Suhaeni, yang terletak di bukit, memang jelas terlihat gedung sekolah itu di bawah sana. Dengan penuh semangat saya pun meninggalkan rumah.

Dekat di mata, jauh di kaki -- mungkin itu yang bisa saya gambarkan dari perjalanan menuju sekolah pagi ini. Namun hiruk pikuk beberapa murid mampu menepis sedikit demi sedikit rasa lelah tersebut. Beberapa di antaranya berdiri kaku menatap saya, sedangkan kerumunan yang lain asyik dengan kegiatannya masing-masing.

Mungkin ini adalah pesantren, demikian dugaan saya. Seluruh siswa perempuan menggunakan kerudung. Beberapa saat kemudian seorang guru, Ibu Ijah, menjelaskan bahwa semenjak kecil anak perempuan di daerah ini memang sudah dibiasakan untuk menggunakan kerudung. Suasana religius tersebut ditanamkan semenjak dini.


Murid-murid SD di depan sekolahnya.
Foto: Winarni.


Sekolah dengan murid 125 orang ini memiliki dua bangunan dan sebuah lapangan olahraga. Bangunan pertama dengan kondisi yang cukup baik, berlantai semen, beratap seng, berdinding kayu dengan cat putih dan biru, terdiri atas tiga kelas. Ruang kelas pertama untuk siswa kelas 1 dan 2, ruang kelas kedua untuk kelas 5 dan ruang kelas ketiga untuk kelas 6.

Bangunan kedua kondisinya cukup menyedihkan. Beratap seng dan masih beralaskan tanah. Gedung yang terbangun dari hasil swadaya masyarakat ini, sebenarnya belum layak dijadikan ruang kelas. Seluruh dinding belum tertutup papan. Bila hujan turun beberapa sudut masih terkena percikan air.

Tiga meter dari gedung sekolah terdapat sebuah rumah kayu yang mungil, rumah Ibu Ijah. Selain sebagai tempat tinggal, rumah ini juga berfungsi sebagai ruang guru dan kantor kepala sekolah.

Dengan ramah, Kepala Sekolah Hasrul Sani menyambut saya. Ia pun berkisah bahwa dirinya adalah kelahiran Rantelemo, dusun yang juga merupakan bagian dari desa Latimojong. SD Angin-angin memiliki satu kepala sekolah dan tujuh guru, tiga di antaranya guru honorer. “Hari ini dua guru lagi tidak hadir,” ucap Hasrul Sani sambil menggeleng kecil memberi isyarat kekecewaan.

Di antara delapan tenaga pengajar, hanya dua yang tinggal di dusun sekitar dan yang lainnya tinggal di desa lain sehingga harus menempuh perjalanan selama satu hingga dua jam menggunakan sepeda motor dengan medan yang tak mudah. “Kalau musim hujan mereka jarang datang karena jalanan becek dan rusak,” Hasrul Sani menambahkan. Kisah guru desa seperti ini memang sudah banyak diberitakan, namun baru kali ini saya melihatnya dengan nyata.

Tapi haruskah alasan ini yang membuat pendidikan bocah di Dusun Angin-angin terhambat? Dengan mimik serius, Ibu Ijah turut bercerita, bukan hanya tantangan alam yang berat yang harus dihadapi bersama rekan-rekannya tetapi pola pikir masyarakat sekitar juga menjadi tantangan yang berarti. Sebagian orangtua murid masih buta huruf.

SD ini menjadi satu-satunya sekolah di dusun itu, sehingga untuk melanjutkan sekolah ke jenjang lebih tinggi, mereka harus merantau ke ibukota kecamatan. Beberapa orangtua tidak membiarkan anaknya melanjutkan sekolah dan lebih memilih mengajaknya untuk berkebun atau dinikahkan.



Dusun Angin-angin, salah satu penghasil kopi dan bawang di Enrekang.
Foto: Winarni.


Pada dasarnya masyarakat dusun ini tidaklah berkekurangan. Setiap panen kopi, dusun ini bisa menghasilkan 3.000 sampai 5.000 ton kopi. Namun sayang, pengetahuan masyarakat yang masih kurang membuat perekonomian mereka tergantung pada pedagang pengumpul dan pengelola kopi. Sehingga Kopi Enrekang yang terkenal mempunyai kualitas yang baik, dihargai tidaklah seberapa.

Di tengah riuh rendahnya suara anak-anak sekolah itu, saya berandai-andai, alangkah baiknya jika anak-anak di Dusun Angin-angin secara berkesinambungan menerima pelajaran. Alangkah senangnya jika mereka dapat belajar dengan nyaman, dan jika masyarakat setempat kian menyadari pentingnya pendidikan. Suatu hari kelak dengan bangga mereka sendiri yang akan memperbaiki jalan menuju kampungnya. Mereka sendiri yang akan membangun gedung sekolah yang baik. Suatu hari nanti mereka sendiri yang akan mengelola dan memasarkan hasil kebun kopi dan bawang kampung mereka secara lebih baik. (p!)

*Citizen reporter Winarni dapat dihubungi melalui email winarni@panyingkul.com

| Beri Komentar| Jumlah Komentar (16) |

Komentar :

03-12-2008
Dari : hussin | carding.hussin@yahoo.com
saya trgt hlman kg saya semasa saya d phl dulu.........ctik sugguh keindan alam semulajadi ini........semoga semuanya ok saja...tq...

09-05-2008
Dari : rikman | rehan_makassar
ass. trima kasih atas beritanya karena udah menampilkan keindahan kota enrekang.walaupun aku tinggal di daerah lain saya tidak akan perna melupakan enrekang tanah kelahirangku.smoga enrekang menjadi kota agropolitan.aku tinggal di sidrap dan sekolah di smk negeri 1 sidenreng jurusan tkj(tehnik komputer dan jaringan.makasih

25-04-2008
Dari : anto PJ | pnxjnx@yahoo.co.id
desa angin-angin.. waktu pertama pendakian ke latimojong saya nyasar disitu.. maunya lewat rantelemo medannya... bah.. (coz kita gak pake kendaraan alias jalan kaki dari baraka ke karangan dan hari itu juga bukan hari pasar) jalan belum diaspal, pengerasan hanya sampai beberapa kilo. jalan kaki dari pukul 06.00 pagi sampai 18.00 sore, seingatku waktu mau ke angin angin itu yang paling berkesan.. di tengah terik panas matahari cuma ada satu pohon. jalanan berdebu dan berbatu, mendaki lagi.. padahal belum kaki gunung.. kami cuma berdua. dan paling gak enak waktu tahu bahwa kami baru mencapai angin angin, bukan karangan

14-04-2008
Dari : Al-Dulang |
Trima kasih beritanya, salam kenal buat semuanya,

07-01-2008
Dari : f_man | f_unm@yahoo.co.id
Ass. Keindahan alam yang diberikan sang pencipta, merupakan bukti kecintaan Allah kepada mahluknya yang jarang bahkan tidak perna mensyukuri ni'mat tersebut.Enrekang is my village

12-05-2007
Dari : makkutana bahar | makkutana@yahoo.com
Melihat dan membaca esai ini, sy teringat kampung halaman sy yang sama2 terpencil. Namanya desa Letta, Pinrang Utara, dkt PLTA Bakaru. Tpi masih pakai lampu 'pajannangan' (petromax). Sy dukung tulisan ini, jk bisa menjangkau wilayah2 yg sejenis. Yg tdk bs diakses. Salut buat penulisnya.... Lanjutkan sammane'.

24-12-2006
Dari : venom |
Wah saya jadi ingat waktu Kampus saya bikin Baksos Sunatan Massal di Masambi Enrekang taun 98, cuacanya dingin tapi menyenangkan walaupun kaki harus pegal potong2 "anunya" adek2 SD sampai menjelang sore. Pulangnya dikasi Salak buaanyak sekaleee. Jadi ingat Gunung Bambapuang sama Gunung Nona hehehehe

23-12-2006
Dari : katijah | cikdeja@gmail.com
saya asal dari kta kinabalu sabah, Malaysia.terlebih dahulu saya mengucapkan terima kasih kerana memaparkan foto-foto menarik mengenai Enrekang.Sebelum ini saya terlalu sukar untuk mencari foto sebegini di internet.mungkin kerna Enrekang kurang mendapat perhatian umum.tambahan pula kawasannya yang jauh di pedalaman berbanding kota yang lain.Tapi bagi rakyat Malaysia yang asal keturunan bugis Enrekang pastinya dapat mengubat kerinduan terhadap kampung halaman melalui foto ini.terima kasih......syabas

17-12-2006
Dari : nilam indahsari | nilam_indahsari@yahoo.com
foto terakhirnya cantik..hmmm

16-12-2006
Dari : ady_mks | ady_mks007@yahoo.co.id
Tulisan ini adalah sebuah contoh bahwa pendidikan saat ini masih pilih kasih! Salah satu yang membuat pendidikan di negeri kita tdk maju2 adalah kurang meratanya pendidikan di negeri ini.Kisah guru yg jarang hadir,gedung yg tdk layak mjd penghambat kemajuan desa mereka. Tapi haruskah alasan ini yang membuat pendidikan bocah di Dusun Angin-angin terhambat?-> saya suka kalimat ini. Kpn2 kita sama kesana mbw buku pelajaran atau apalah..Thx Winarni..!

16-12-2006
Dari : erwin saputra | erwinsaputraunm@yahoo.com
Saya juga sering mendengar cerita dari teman2 asal Enrekang.Ada gunung Nona,Jembatan Merah.Tapi kapan ya bisa kesana melihat langsung dengan mata kepala sendiri panorama keindahannya??

15-12-2006
Dari : Darma STIE Patria Artha | darma_veve@yahoo.co.id
wah bangga juga masih ada orang yg mau memperhatikan daerah terpencil seperti ini tapi jgn salah karena justru dg itu,menjadikannya banyak dikagumi sama orang banyak.Tapi menurut saya itu hanyalah sebagian kecil dari panorama indah enrekang,masih banyak yg lebih indah & menakjubkan tapi yang pasti tidak kalah dingin lhooo.Itu gue buktiin coz aku orang Enrekang.Jangan bosen-bosen ya..Thanks for miss Winarni

15-12-2006
Dari : Darma STIEPA | da

15-12-2006
Dari : Daeng Djarre | daengdjarre@yahoo.com
Bajiki tawwa laporannya Bu Winarni. Kapan2 kalo koki lagi kesana ajakka kodong biar saya bisa liat langsung pemandangannya.

15-12-2006
Dari : Irdan | salewangang@yahoo.com
Trims bu winarni, mengingatkan saya masa kegiatan praktek lapang mata kuliah perlindungan tanaman. Di desa itu selain perkebunan juga dominan hortikulturanya ya ?

15-12-2006
Dari : rusle' | muhruslee@yahoo.com
wah, fotonya mantap... sa dengar enrekang masih lebih 'indah' daripada toraja....apalagi di kebun kopi and bawangnya.. thanks Hj (bwk) Winarni...:p



 :: CITIZEN REPORTER
Makassar di Panyingkul!: Sebuah Persembahan
(Kamis, 12-07-2007)
Ayo Bergabung di Panyingkul!
(Minggu, 29-04-2007)
Catatan Sederhana Para Citizen Reporter
(Selasa, 31-10-2006)
Tentang Citizen Reporter dan Rubrik di Panyingkul!
(Rabu, 11-10-2006)
Riuh Rendah di Panyingkul!
(Rabu, 16-08-2006)

Untitled Document
 :: DUNIA SEGIEMPAT KAREBOSI






 :: PILKADA




 :: ALBUM PUASA 2008




Untitled Document
 :: KONTAK TIM PANYINGKUL!

Email Redaksi :

redaksi@panyingkul.com

Tim:
yus@panyingkul.com
+62 813 226 80844

Moch. Hasymi
+62 811 955 954


© Juni 2006 - Panyingkul.com All Rights Reserved
Desain Web : Nesia Andriana -- Supported by: Yuhardin