|
|
| . |
| ::
|
| Jumat, 15-12-2006 | Suatu Hari di Dusun Angin-angin :: Winarni ::
| Naik truk ke Dusun Angin-angin. Foto: Winarni.
Ketika melakukan pendakian Gunung Latimojong, citizen reporter Winarni sempat mengunjungi Dusun Angin-angin. Di salah satu kampung penghasil kopi di Kabupaten Enrekang ini, ia mengunjungi satu-satunya sekolah dasar di dusun itu dan membagi kesan-kesannya.(p!) | Suara azan subuh menggema merdu dari satu-satunya mesjid di dusun ini. Suasana religius terasa kental, ketika masyarakat berbondong-bondong menunaikan salat berjamaah di mesjid. Perlahan sang fajar mengintip di balik gugusan pegunungan, menciptakan lukisan cakrawala yang sungguh mempesona. Dusun itu bernama Angin-angin, Desa Latimojong, Kecamatan Baraka, Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan.
Untuk tiba di Dusun Angin-angin, perjalanan ditempuh dari Kota Makassar sejauh 200 km menuju ibu kota Enrekang. Dari sini, perjalanan dilanjutkan sejauh 30 km menuju ibukota Kecamatan Baraka. Perjalanan selanjutnya dapat ditempuh dengan menumpang sejenis mikrolet hingga Desa Buntu Dea lalu berjalan kaki selama kurang lebih dua jam menuju Angin-angin. Alternatif lain, kendaraan truk juga dapat digunakan dan akan mengantarkan kita dari ibukota kecamatan langsung ke dusun itu. Namun kedua angkutan ini hanya ada pada hari pasar, Senin dan Kamis. Angkutan lain adalah ojek, tentu dengan ongkos yang jauh lebih mahal.
Gedung sekolah dasar Dusun Angin-angin. Foto: Winarni.
Dusun dengan jumlah penduduk 110 kepala keluarga ini berada di ketinggian 1.500 meter dari permukaan laut dengan pola permukiman menyebar. Hubungan sesama warga sangat akrab karena saling mengenal. Mata pencaharian bersifat homogen yaitu berkebun kopi dan bertani bawang. Ini ditunjang oleh tingkat curah hujan rata-rata 94,6 milimeter per tahun.
***
Beberapa bocah yang berlarian menuju sebuah sekolah seolah memanggil saya untuk turut “bersekolah” pagi itu. Dari rumah salah seorang penduduk bernama Ambe Suhaeni, yang terletak di bukit, memang jelas terlihat gedung sekolah itu di bawah sana. Dengan penuh semangat saya pun meninggalkan rumah.
Dekat di mata, jauh di kaki -- mungkin itu yang bisa saya gambarkan dari perjalanan menuju sekolah pagi ini. Namun hiruk pikuk beberapa murid mampu menepis sedikit demi sedikit rasa lelah tersebut. Beberapa di antaranya berdiri kaku menatap saya, sedangkan kerumunan yang lain asyik dengan kegiatannya masing-masing.
Mungkin ini adalah pesantren, demikian dugaan saya. Seluruh siswa perempuan menggunakan kerudung. Beberapa saat kemudian seorang guru, Ibu Ijah, menjelaskan bahwa semenjak kecil anak perempuan di daerah ini memang sudah dibiasakan untuk menggunakan kerudung. Suasana religius tersebut ditanamkan semenjak dini.
Murid-murid SD di depan sekolahnya. Foto: Winarni.
Sekolah dengan murid 125 orang ini memiliki dua bangunan dan sebuah lapangan olahraga. Bangunan pertama dengan kondisi yang cukup baik, berlantai semen, beratap seng, berdinding kayu dengan cat putih dan biru, terdiri atas tiga kelas. Ruang kelas pertama untuk siswa kelas 1 dan 2, ruang kelas kedua untuk kelas 5 dan ruang kelas ketiga untuk kelas 6.
Bangunan kedua kondisinya cukup menyedihkan. Beratap seng dan masih beralaskan tanah. Gedung yang terbangun dari hasil swadaya masyarakat ini, sebenarnya belum layak dijadikan ruang kelas. Seluruh dinding belum tertutup papan. Bila hujan turun beberapa sudut masih terkena percikan air.
Tiga meter dari gedung sekolah terdapat sebuah rumah kayu yang mungil, rumah Ibu Ijah. Selain sebagai tempat tinggal, rumah ini juga berfungsi sebagai ruang guru dan kantor kepala sekolah.
Dengan ramah, Kepala Sekolah Hasrul Sani menyambut saya. Ia pun berkisah bahwa dirinya adalah kelahiran Rantelemo, dusun yang juga merupakan bagian dari desa Latimojong. SD Angin-angin memiliki satu kepala sekolah dan tujuh guru, tiga di antaranya guru honorer. “Hari ini dua guru lagi tidak hadir,” ucap Hasrul Sani sambil menggeleng kecil memberi isyarat kekecewaan.
Di antara delapan tenaga pengajar, hanya dua yang tinggal di dusun sekitar dan yang lainnya tinggal di desa lain sehingga harus menempuh perjalanan selama satu hingga dua jam menggunakan sepeda motor dengan medan yang tak mudah. “Kalau musim hujan mereka jarang datang karena jalanan becek dan rusak,” Hasrul Sani menambahkan. Kisah guru desa seperti ini memang sudah banyak diberitakan, namun baru kali ini saya melihatnya dengan nyata.
Tapi haruskah alasan ini yang membuat pendidikan bocah di Dusun Angin-angin terhambat? Dengan mimik serius, Ibu Ijah turut bercerita, bukan hanya tantangan alam yang berat yang harus dihadapi bersama rekan-rekannya tetapi pola pikir masyarakat sekitar juga menjadi tantangan yang berarti. Sebagian orangtua murid masih buta huruf.
SD ini menjadi satu-satunya sekolah di dusun itu, sehingga untuk melanjutkan sekolah ke jenjang lebih tinggi, mereka harus merantau ke ibukota kecamatan. Beberapa orangtua tidak membiarkan anaknya melanjutkan sekolah dan lebih memilih mengajaknya untuk berkebun atau dinikahkan.
Dusun Angin-angin, salah satu penghasil kopi dan bawang di Enrekang. Foto: Winarni.
Pada dasarnya masyarakat dusun ini tidaklah berkekurangan. Setiap panen kopi, dusun ini bisa menghasilkan 3.000 sampai 5.000 ton kopi. Namun sayang, pengetahuan masyarakat yang masih kurang membuat perekonomian mereka tergantung pada pedagang pengumpul dan pengelola kopi. Sehingga Kopi Enrekang yang terkenal mempunyai kualitas yang baik, dihargai tidaklah seberapa.
Di tengah riuh rendahnya suara anak-anak sekolah itu, saya berandai-andai, alangkah baiknya jika anak-anak di Dusun Angin-angin secara berkesinambungan menerima pelajaran. Alangkah senangnya jika mereka dapat belajar dengan nyaman, dan jika masyarakat setempat kian menyadari pentingnya pendidikan. Suatu hari kelak dengan bangga mereka sendiri yang akan memperbaiki jalan menuju kampungnya. Mereka sendiri yang akan membangun gedung sekolah yang baik. Suatu hari nanti mereka sendiri yang akan mengelola dan memasarkan hasil kebun kopi dan bawang kampung mereka secara lebih baik. (p!)
*Citizen reporter Winarni dapat dihubungi melalui email winarni@panyingkul.com
|
| | Jumlah
Komentar (16) |
|
| Komentar :
03-12-2008 Dari : hussin | carding.hussin@yahoo.com saya trgt hlman kg
saya semasa saya d
phl
dulu.........ctik
sugguh keindan alam
semulajadi
ini........semoga
semuanya ok
saja...tq... 09-05-2008 Dari : rikman | rehan_makassar ass. trima kasih
atas beritanya
karena udah
menampilkan
keindahan kota
enrekang.walaupun
aku tinggal di
daerah lain saya
tidak akan perna
melupakan enrekang
tanah
kelahirangku.smoga
enrekang menjadi
kota agropolitan.aku
tinggal di sidrap
dan sekolah di smk
negeri 1 sidenreng
jurusan tkj(tehnik
komputer dan
jaringan.makasih 25-04-2008 Dari : anto PJ | pnxjnx@yahoo.co.id desa angin-angin..
waktu pertama
pendakian ke
latimojong saya
nyasar disitu..
maunya lewat
rantelemo
medannya... bah..
(coz kita gak pake
kendaraan alias
jalan kaki dari
baraka ke karangan
dan hari itu juga
bukan hari pasar)
jalan belum diaspal,
pengerasan hanya
sampai beberapa
kilo. jalan kaki
dari pukul 06.00
pagi sampai 18.00
sore, seingatku
waktu mau ke angin
angin itu yang
paling berkesan.. di
tengah terik panas
matahari cuma ada
satu pohon. jalanan
berdebu dan berbatu,
mendaki lagi..
padahal belum kaki
gunung.. kami cuma
berdua. dan paling
gak enak waktu tahu
bahwa kami baru
mencapai angin
angin, bukan
karangan 14-04-2008 Dari : Al-Dulang | Trima kasih
beritanya, salam
kenal buat semuanya, 07-01-2008 Dari : f_man | f_unm@yahoo.co.id Ass. Keindahan alam
yang diberikan sang
pencipta, merupakan
bukti kecintaan
Allah kepada
mahluknya yang
jarang bahkan tidak
perna mensyukuri
ni'mat
tersebut.Enrekang is
my village 12-05-2007 Dari : makkutana bahar | makkutana@yahoo.com Melihat dan membaca
esai ini, sy
teringat kampung
halaman sy yang
sama2 terpencil.
Namanya desa Letta,
Pinrang Utara, dkt
PLTA Bakaru. Tpi
masih pakai lampu
'pajannangan'
(petromax).
Sy dukung tulisan
ini, jk bisa
menjangkau wilayah2
yg sejenis. Yg tdk
bs diakses.
Salut buat
penulisnya....
Lanjutkan sammane'. 24-12-2006 Dari : venom | Wah saya jadi ingat
waktu Kampus saya
bikin Baksos Sunatan
Massal di Masambi
Enrekang taun 98,
cuacanya dingin tapi
menyenangkan
walaupun kaki harus
pegal potong2
"anunya" adek2 SD
sampai menjelang
sore. Pulangnya
dikasi Salak
buaanyak sekaleee.
Jadi ingat Gunung
Bambapuang sama
Gunung Nona hehehehe 23-12-2006 Dari : katijah | cikdeja@gmail.com saya asal dari kta
kinabalu sabah,
Malaysia.terlebih
dahulu saya
mengucapkan terima
kasih kerana
memaparkan foto-foto
menarik mengenai
Enrekang.Sebelum ini
saya terlalu sukar
untuk mencari foto
sebegini di
internet.mungkin
kerna Enrekang
kurang mendapat
perhatian
umum.tambahan pula
kawasannya yang jauh
di pedalaman
berbanding kota yang
lain.Tapi bagi
rakyat Malaysia yang
asal keturunan bugis
Enrekang pastinya
dapat mengubat
kerinduan terhadap
kampung halaman
melalui foto
ini.terima
kasih......syabas 17-12-2006 Dari : nilam indahsari | nilam_indahsari@yahoo.com foto terakhirnya
cantik..hmmm 16-12-2006 Dari : ady_mks | ady_mks007@yahoo.co.id Tulisan ini adalah
sebuah contoh bahwa
pendidikan saat ini
masih pilih kasih!
Salah satu yang
membuat pendidikan
di negeri kita tdk
maju2 adalah kurang
meratanya pendidikan
di negeri ini.Kisah
guru yg jarang
hadir,gedung yg tdk
layak mjd penghambat
kemajuan desa
mereka. Tapi
haruskah alasan ini
yang membuat
pendidikan bocah di
Dusun Angin-angin
terhambat?-> saya
suka kalimat ini.
Kpn2 kita sama
kesana mbw buku
pelajaran atau
apalah..Thx
Winarni..! 16-12-2006 Dari : erwin saputra | erwinsaputraunm@yahoo.com Saya juga sering
mendengar cerita
dari teman2 asal
Enrekang.Ada gunung
Nona,Jembatan
Merah.Tapi kapan ya
bisa kesana melihat
langsung dengan mata
kepala sendiri
panorama
keindahannya?? 15-12-2006 Dari : Darma STIE Patria Artha | darma_veve@yahoo.co.id wah bangga juga
masih ada orang yg
mau memperhatikan
daerah terpencil
seperti ini tapi jgn
salah karena justru
dg itu,menjadikannya
banyak dikagumi sama
orang banyak.Tapi
menurut saya itu
hanyalah sebagian
kecil dari panorama
indah enrekang,masih
banyak yg lebih
indah & menakjubkan
tapi yang pasti
tidak kalah dingin
lhooo.Itu gue
buktiin coz aku
orang
Enrekang.Jangan
bosen-bosen
ya..Thanks for miss
Winarni 15-12-2006 Dari : Darma STIEPA | da
15-12-2006 Dari : Daeng Djarre | daengdjarre@yahoo.com Bajiki tawwa
laporannya Bu
Winarni. Kapan2 kalo
koki lagi kesana
ajakka kodong biar
saya bisa liat
langsung
pemandangannya. 15-12-2006 Dari : Irdan | salewangang@yahoo.com Trims bu winarni,
mengingatkan saya
masa kegiatan
praktek lapang mata
kuliah perlindungan
tanaman. Di desa itu
selain perkebunan
juga dominan
hortikulturanya ya ? 15-12-2006 Dari : rusle' | muhruslee@yahoo.com wah, fotonya
mantap...
sa dengar enrekang
masih lebih 'indah'
daripada
toraja....apalagi di
kebun kopi and
bawangnya..
thanks Hj (bwk)
Winarni...:p |
|
|
|
|
| ::
CITIZEN REPORTER |
 | (Kamis, 12-07-2007) |  | (Minggu, 29-04-2007) |  | (Selasa, 31-10-2006) |  | (Rabu, 11-10-2006) |  | (Rabu, 16-08-2006) | |
|
Untitled Document
| ::
DUNIA SEGIEMPAT KAREBOSI |
|
Untitled Document
| ::
KONTAK TIM PANYINGKUL! |
Email Redaksi :
redaksi@panyingkul.com
Tim:
yus@panyingkul.com
+62 813 226 80844
Moch. Hasymi
+62 811 955 954
|
|
|