Untitled Document
 


Untitled Document
.KITAKITA
:: Jika Anda di Panyingkul ::
 
 KABAR KITA
 
 BERANDAKITA
Kegilaan, Dari Cinta Mati di Pulau Rajuni Hingga Riwayat Kadang
:: Ivan Firdaus ::
Baba Guru, Mengenang Film Rhoma Irama di Klenteng Galesong
:: Kamaruddin Azis ::
Mengagumi Tenun Troso, Mengenang Tenun Sengkang
:: Suryadin Laoddang ::
Perempuan Besi di Gunung Perak (2-selesai)
:: M. Aan Mansyur ::
Perempuan Besi di Gunung Perak (1)
:: M. Aan Mansyur ::
 
 RISETKITA
Rasa Takut : Yang Dicitrakan, Yang Dipelihara
:: Aria W. Yudhistira ::
Risetkita: Pramoedya versus Sejarah Resmi
:: Nurhady Sirimorok ::
Hikayat Rumpon Nelayan Mandar
:: Muhammad Ridwan Alimuddin ::
Di Makassar Pernah Ada “Negeri Wajo”
:: Nurhady Sirimorok ::
Surat Itu Ditulis Upas kepada September
:: Nurhady Sirimorok ::
 
 BUKUKITA
 
 KATAKOTAKITA
Kenapa si Gondrong yang Maju?
:: Ivan Firdaus dan Mustamin al-Mandary ::
Karena ‘Rewa’ Badan Binasa
:: Sudirman Nasir ::
Yang Okkot, yang Salah Sambung
:: Nursamsu danTusiana Noor Alfisyahr ::
Kandala`ka`, Kusta Bila Dusta
:: Panyingkul ::
Ayo, Si(ng)kat Terussss..!
:: Panyingkul! ::

 
 TAHUKAHKITA
 

.
 ::
Rabu, 20-01-2010 
Rammang-Rammang, Hutan Batu dan Air Asin
:: Erni Aladjai ::



Mencari air, melintasi sawah tandus.
Foto : Maman Sukirman.



Dusun Rammang-Rammang menyajikan potret yang ironis: di saat bersiap dijadikan salah-satu daerah wisata Kabupaten Maros dan dikukuhkan sebagai daerah penghasil marmer di Sulawesi Selatan, warga masih berkutat pada persoalan air bersih, tingkat pendidikan yang rendah dan minimnya pendapatan. Citizen reporter Erni Aladjai didampingi fotografer Maman Sukirman membagi kabar hasil kunjungan di musim kemarau beberapa waktu lalu. (p!))
 



Dusun Rammang-Rammang – Desa Salenrang di musim kering menciptakan potret lanskap yang menarik. Kesan dramatis hamparan sawah kering berwarna kentang, dengan langit biru yang
menungkupi hutan batu atau karst yang menjulang seperti menara dengan warna gelap membalutnya. Itulah pemandangan awal yang saya saksikan ketika memasuki dusun ini. Warna kontras terlihat dimana-mana.

Di penghujung Oktober, di tengah panas menyengat tepat pukul satu siang, saya dan Maman Sukirman – fotografer salah satu harian nasinal melakukan perjalanan ke dusun ini. Dusun ini berjarak 10 km dari Kota Maros. Sepanjang jalan, debu tak henti-henti mengepul. Debu dari dari deru ban truk-truk pengangkut batu marmer di Rammang-Rammang.

Memasuki dusun ini serasa membawa saya ke dunia lain. Bukan di Sulawesi Selatan. Hutan batu atau karst yang berwarna hitam dengan berupa-rupa bentuk itu, mengingatkan saya pada jejeran pura-pura batu di Bali. Batu-batu karst itu ada yang menjulang seperti mercusuar, menara, ada pula yang menyerupai sebuah meja bundar, batu-batu gelap itu seperti tersentuh tangan ahli pahat, berderet-deret membingkai Rammang-Rammang.

Hutan batu ini adalah salah satu bagian dari kekayaan kawasan karst Maros-Pangkep yang terbentuk dari proses pelarutan batu gamping atau disebut juga “residual karst”. Hutan batu ini sangat mudah ditemukan di sekitar persawahan di Kabupaten Maros dan Pangkep. Tapi kawasan hutan batu yang mudah dicapai dari Makassar adalah Dusun Rammang-Rammang ini.

“Konon, dari cerita orang-orang tua dulu, mulanya Dusun Rammang-Rammang ini adalah lautan luas.” ungkap Daeng Kanang. Ibu berumur 47 tahun itu hanya mengatakan rangkaian kalimat itu ketika saya menanyakan sejarah kawasan ini.

Rammang-Ramang dihuni oleh suku Makassar. Meski begitu mereka juga mahir berbahasa Bugis. Perjalanan ke sini, mengingatkan saya akan perjalanan ke Moncongloe – salah-satu kecamatan di Kabupaten Maros. Sama persis.

Di musim hujan, Moncongloe menjadi langganan banjir, begitu juga dengan Rammang-Ramang. Banjir selalu setia datang di dusun ini setiap tahun. Airnya bisa mencapai satu meter. Menurut Pak Umar ((35), Rammang-Rammang di waktu musim penghujan layaknya sebuah lautan.

Orang-orang akan berperahu untuk melakukan aktivitas. Sebaliknya di musim kemarau, persawahan yang menghampar di belakang, depan, dan samping rumah-rumah di dusun ini sama sekali tak bisa digarap. Lahan persawahan itu menjadi kering dan tandus. Tak ada pekerjaan lain di Rammang-Rammang, warga hanya bergantung pada sawah. Ada memang beberapa orang lelaki yang bekerja sebagai pemecah batu, dengan upah satu truk batu dihargai Rp. 80 ribu.


Keluar dari hutan batu, mencari air..
Foto : Maman Sukirman.


Air Asin
Beristirahat sejenak dari terik matahari, dengan berbaring di gardu ronda yang berada di tikungan jalan Rammang-Rammang, dua botol air tahu kami sudah ludeskan untuk melepas dahaga.Di saat mata kami nyaris terpejam, dua orang anak laki-laki, masing-masing memanggul dua ember melintasi hamparan sawah tandus di depan kami. Mereka memasuki lorong hutan batu.

Saya pun meminta izin ikut bersama mereka. Dua anak laki-laki itu bernama Asri (12 tahun) dan Asrul (15 tahun).
Hutan batu ini menyediakan sumber mata air bagi masyarakat di sekitarnya terutama di musim kemarau seperti sekarang.

Masyarakat sekitar sangat bergantung dengan sumber air yang letaknya di tengah-tengah hutan batu dengan menyusuri lorong-lorong sempit dan berkelok-kelok. Meskipun rasa airnya payau karena berdekatan dengan pantai, namun masyarakat biasa mempergunakan untuk mandi, cuci dan bahkan untuk keperluan minum dan memasak.

Di dalam hutan batu Rammang-Rammang terdapat sedikitnya lima sumber air yang tak kering meski di musim kemarau. Genangan-genangan air itu, oleh warga dinamakan sumur, secara fisik kelihatannya tak seperti sumur, melainkan hanya berupa lubang berukuran lima jengkal dengan airnya setinggi 30 cm. Di situlah, Asril dan Hasrul menciduk air itu dengan menggunakan gayung. Airnya keruh, berwarna kehitam-hitaman, dan rasanya asin. “Di musim kemarau begini, kami kesulitan air bersih. Disinilah kami mengambil air, meski rasa airnya asin, kami tetap ambil juga. Di dusun ini warga kesulitan air tawar” terang Daeng Santuwo (57 tahun) pada saya.


Menuju sumur.
Foto : Maman Sukirman.


Menimba air dari sumur non permanen.
Foto : Maman Sukirman.


Daeng Kanang, Daeng Hamsiah (56 tahun) adalah dua ibu yang mengatakan hal yang sama soal sulitnya air bersih di dusun ini. “Untuk memasak kami biasa membelinya dari Pabrik Semen Bosowa, biasanya ada yang datang menjual ke sini. Satu jerigen kecil dijual Rp1.000, sedangkan 1 drum kecil Rp10.000, tetapi kami hanya membeli untuk memasak. Dua kali memasak kami menghabiskan 3 jerigen air. Itu sangat berat, harga air tawar sangat mahal buat kami. Itulah sebabnya kami hanya membeli air tawar untuk dipakai masak, jika untuk mandi dan mencuci kami mengambil di dalam gua!”

Tetapi ada juga warga yang tak mampu membeli air bersih, seperti Daeng Inomba (56 tahun). Untuk kebutuhan memasak hingga mencuci, Daeng Inomba mengandalkan air yang ada di dalam gua hutan batu. Salah seorang cucunya, yang sering mengambilkan air untuknya di sana.

Selain mengandalkan air yang ada di dalam gua Rammang-Rammanng, sebagian warga membuat sumur non permanen di lahan persawahan mereka yang tandus. Sumur itu sedalam dua meter dengan ukuran permukaan hanya tiga jengkal. Airnya pun sama dengan air yang ada dalam gua: keruh, kecoklatan, asin dan tercium bau lumpur. Kadang-kadang sumur non permanen yang dibuat warga terdapat bangkai tikus. Jika sudah begitu, air sumur itu mereka tak lagi pakai untuk mencuci dan mandi melainkan hanya dipakai untuk minum ternak.

Anehnya meski begitu, daya tahan tubuh anak-anak di dusun ini tetap stabil. Tak ada anak yang diare dan gatal-gatal lantaran memakai air sumur itu. Saya rasa kondisi alam menempa daya tahan tubuh anak-anak di dusun itu menjadi baik.

Tak Ada Jamban
Sulitnya warga mendapatkan air, menjadikan 100 persen rumah di dusun itu, tak memiliki jamban. Rata-rata warga memilih buang air besar di sawah dan di lorong-lorong sempit hutan batu.

“Di dusun ini yang menjadi masalah adalah soal sanitasi. Sebetulnya warga sudah sadar akan sanitasi tetapi karena memang kami di sini kesulitan air,” ungkap Pak Amir ketika saya mengajaknya berbincang di dalam hutan batu. Pak Amir berharap Pemerintah Daerah Maros memerhatikan kondisi Dusun Rammang-Rammang.

“Kami di sini rata-rata orang susah, pekerjaan yang kami andalkan hanya bersawah, itupun kalau hasil panen bagus. Kami berharap pemerintah bisa membangunkan kami saluran air, karena kalau banjir datang kami betul-betul kesusahan dan kalau musim kemarau begini, kami juga lebih kesusahan, susah memperoleh air tawar” tambahnya lagi.

Rendahnya penghasilan warga di dusun ini berimbas pula pada taraf pendidikan warganya. Rata-rata warga di dusun ini hanya mengenyam pendidikan hingga SMP. “Satu-satu saja anak di dusun ini yang menginjak bangku SMA. Itu lantaran kebanyakan warga di sini tak mampu membiayai pendidikan anak-anaknya” ujar Pak Amir.


Belajar mengaji setiap sore.
Foto : Maman Sukirman.


Di tengah kondisi para orang tua di dusun itu kesulitan untuk mengantarkan anaknya hingga ke bangku sekolah yang lebih tinggi, pendidikan agama menjadi sesuatu yang amat berharga.

Di dusun ini setiap jam tiga sore, sekumpulan anak-anak mendatangi rumah Daeng Sunggu (55). Di sana mereka belajar membaca Al-Quran di beranda rumah Daeng Sungguh. Daeng Sungguh adalah satu-satunya guru mengaji di dusun itu.

Ia seorang janda yang hidup bersama bibinya yang telah renta.
Meski tak punya penghasilan, Daeng Sunggu tak meminta bayaran untuk mengajar 30 anak mengaji. Pekerjaan sebagai guru mengaji ia lakoni untuk bekal akhirat, katanya Sudah lima tahun ia mengajar anak-anak di dusun itu membaca Al-Qur-an. Dulunya ia masih kuat mengerjakan sawah, tetapi tidak sekarang ini.

***

Dalam perjalanan pulang ke Makassar menjelang senja, saya berpikir lain waktu saya akan mengunjungi Dusun Rammang-Rammang ketika langit remang, dengan begitu panasnya tak sampai membuat wajah saya memerah dan gosong. (p!)

* Citizen reporter Erni Aladjai dapat dihubungi melalui email erni_aladjai@yahoo.com

| Beri Komentar| Jumlah Komentar (10) |

Komentar :

12-07-2010
Dari : maman sukirman | maman_foto@yahoo.com
bgi yg hobi poto2..daerah sna salah satu alternatif untuk berburu poto menariik...buat erni aladjai mkasiih sdh menerbiitkaaan karyakuu...:D

14-02-2010
Dari : halim hd. | halimhade@yahoo.com
semoga saja tamsil linrung bisa memecahkan soal warga di sana. siapapun yang menjual air, aneh bin ajaib, kenapa masalah bertahun-tahun, yang tentunya mereka tahu, pihak manajemen, membiarkannya. "oknum" tak akan berjualan air jika manajemen tak membutakan dirinya. mungkin ada sejenis TST = tahu sama tahu.

06-02-2010
Dari : Bundafayyadh | Bundafayyadh@yahoo.co.id
sebenarnya bukan semen bosowa yg jual air ke warga, tp ulah beberapa oknum yg mengambil air di kawasan pabrik semen bosowa, terus mereka menjualnya ke warga Rammang-Rammang....

30-01-2010
Dari : asfriyanto | asfriyanto@yahoo.co.id
mantap cesss

29-01-2010
Dari : Daeng Lalo | muslimin.beta@pewarta-indonesia.com
Berita ini saya forward ke Kak Tamsil Linrung (anggota DPR dari daerah pemilihan Pangkep dan sekitarnya) supaya bisa memecahkan masalah air di kampung Rammang-Rammang.

25-01-2010
Dari : halim hd. | halimhade@yahoo.com
foto-fotonya ngomong. kerenG, euy. yang aneh bin ajaib, pabrik semen bosowa jual air kepada penduduk!! yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin. (ingat rhoma irama).

25-01-2010
Dari : aco | bwithm@gmail.com
itumi ka aparat wilayah setempat tidak tau apa yg dia bikin pergiji saja kantor, dan terima gaji tiap bulan. Padahal berapa tonji itu harganya selanga klo dipikir!!!

24-01-2010
Dari : Komunitas Rumah Puisi |
Reportase perjalanan sepasang kekasih rupanya menghasilkan tulisan dan foto yang kerennnnnnnnnnnnnnn.

24-01-2010
Dari : iv@nFirdaus |
mantap fotona ..., tulisanna tak diragukan lagi. bangun P!

23-01-2010
Dari : opi |
keren nih!



 :: CITIZEN REPORTER
Makassar di Panyingkul!: Sebuah Persembahan
(Kamis, 12-07-2007)
Ayo Bergabung di Panyingkul!
(Minggu, 29-04-2007)
Catatan Sederhana Para Citizen Reporter
(Selasa, 31-10-2006)
Tentang Citizen Reporter dan Rubrik di Panyingkul!
(Rabu, 11-10-2006)
Riuh Rendah di Panyingkul!
(Rabu, 16-08-2006)

Untitled Document
 :: DUNIA SEGIEMPAT KAREBOSI






 :: PILKADA




 :: ALBUM PUASA 2008




Untitled Document
 :: KONTAK TIM PANYINGKUL!

Email Redaksi :

redaksi@panyingkul.com

Tim:
yus@panyingkul.com
+62 813 226 80844

Moch. Hasymi
+62 811 955 954


© Juni 2006 - Panyingkul.com All Rights Reserved
Desain Web : Nesia Andriana -- Supported by: Yuhardin