Untitled Document
 


Untitled Document
.KITAKITA
:: Jika Anda di Panyingkul ::
 
 KABAR KITA
 
 BERANDAKITA
Kegilaan, Dari Cinta Mati di Pulau Rajuni Hingga Riwayat Kadang
:: Ivan Firdaus ::
Baba Guru, Mengenang Film Rhoma Irama di Klenteng Galesong
:: Kamaruddin Azis ::
Mengagumi Tenun Troso, Mengenang Tenun Sengkang
:: Suryadin Laoddang ::
Perempuan Besi di Gunung Perak (2-selesai)
:: M. Aan Mansyur ::
Perempuan Besi di Gunung Perak (1)
:: M. Aan Mansyur ::
 
 RISETKITA
Rasa Takut : Yang Dicitrakan, Yang Dipelihara
:: Aria W. Yudhistira ::
Risetkita: Pramoedya versus Sejarah Resmi
:: Nurhady Sirimorok ::
Hikayat Rumpon Nelayan Mandar
:: Muhammad Ridwan Alimuddin ::
Di Makassar Pernah Ada “Negeri Wajo”
:: Nurhady Sirimorok ::
Surat Itu Ditulis Upas kepada September
:: Nurhady Sirimorok ::
 
 BUKUKITA
 
 KATAKOTAKITA
Kenapa si Gondrong yang Maju?
:: Ivan Firdaus dan Mustamin al-Mandary ::
Karena ‘Rewa’ Badan Binasa
:: Sudirman Nasir ::
Yang Okkot, yang Salah Sambung
:: Nursamsu danTusiana Noor Alfisyahr ::
Kandala`ka`, Kusta Bila Dusta
:: Panyingkul ::
Ayo, Si(ng)kat Terussss..!
:: Panyingkul! ::

 
 TAHUKAHKITA
 

.
 ::
Minggu, 27-12-2009 
Penelusuran Gua Saripa
:: gurit_8580@yahoo.com ::

Di musim libur seperti ini, Ta’deang. Maros, menjadi tempat bagi para penggiat alam terbuka untuk menghabiskan waktu. Panorama karts, rimbunan pohon, dan keberadaan gua alam mejadi daya tarik tersendiri. Ada yang datang sekedar berkemah, adapula yang mencoba menelusuri gua-gua alam. Gua Saripa salah satunya.
Saripa. Lorong-lorong gelap.Sunyi. Terselubung pada perut bumi, siapa sangka di dalamnya ada kehidupan yang langka, ini cerita kami berempat, saya, ardi, bakri dan ipul

Terlihat tak jauh dari persinggahan kami, beberapa orang sedang asik mandi di sungai membersihkan lumpur dari badan mereka, nampaknya mereka baru saja keluar dari lorong gelap, berlumpur gua SARIPA. Sama seperti yang akan kami lakukan.

Menuju SARIPA tidak begitu sulit. Dari jalan paros maros-camba, Tidak jauh dari jembatan Ta’deang, bertanyalah; dimana warung bu Haji? Nah, tepat di belakang warung itulah terdapat jalan setapak yang menuju ke mulut gua. Jaraknya Cuma sekitar 500 meter.Cukup mudah dijangkau.

Bakri yang memanggul tas ransel mulai terlihat letih. Wajar, sebab tas ransel itu berukuran raksasa, memuat pebekalan kami berempat untuk 2 hari. Sementara, kami hanya membawa ransel biasa saja. Karena itu, meski jalan belum begitu terjal, dengan ransel seberat itu, wajah bakri segera dipenuhi bulir keringat. Dia kelahan. Segera Ipul menggantikannya.

Setelah menerabas semak, kami menyusuri kebun cokelat. Tidak lama kemudian. Jalan menanjak sudah terlihat. Semakin dekat semakin terjal. Dapat ditebak, sesampainya di mulut gua Saripa, baju lembab oleh keringat.

Mulut gua Saripa. Rimbunan pohon serta pila-pilar berukuran besar dari batuan gamping membuat cahaya matahari yang terlihat menyengat tak dapat menembus higga ke seluruh bidang ruang mulut gua. Masih seperti bulan sebelumnya Sampah terlihat berserakan. botol minuman, sisa makanan, dan sampah-sampah lain sisa aktivitas para penelusur.

Tak jauh dari tanah lapang yang kami gunakan sebagai camp, terdapat lorong. Gelap lembab. Satu dari sekian lorong gua Saripa yang akan kami selusuri.

Setelah beristirahat sejenak, Segera kami berbenah, peralatan mulai disiapkan, lilin, senter, karbit cadangan, pelampung serta pakaian penelusuran gua. Helm, baju cover all (baju sambung terbuat dari bahan yang mudah kering) dan sepatu boat.

Penelusuran dimulai. Gelap menyambut. Bau lembab mulai terasa bercamur bau karbit dari boom yang menjadi penerang. Perlahan suara kendaraan yang melintas di jalan poros perlahan mulai sayup. Sunyi. Semakin kedalam semakin gelap. Cahaya matahari dari arah mulut gua tak terlihat lagi.

“Sssssssssss…”karbit bercampur air beraksi dari boom. Lampu menyala

Sepenuhnya saya sadar, sebenarnya penggunaaan lampu karbit untuk penelusuran gua masih kontroversial, ada yang setuju dengan alasan efesiensi dan ada pula yang tidak, karena dapat mengganggu ekosistem gua akibat asap dan bau yang ditinggalkannya. Namun sebagi cadangan, kami tetap membawa senter dan lilin.

Bau kelelawar tiba-tiba menyengat, di atap gua terlihat kelelawar yang sedang asik bergelantungan. Sesekali terdengar ringkikan kelelawar beterbangan, saat kami melintas tepat di bawah mereka. tak bermaksud mangganggu tidur siang mereka, kami mempercepat langkah meski terseok. Sebab ukuran lorong hanya cukup dilewati dengan merangkak. Tak lama kemudian kami tiba di lorong yang berukuran cukup besar. Mungkin seukuran lapangan bulutangkis; atau chamber biasa disebut oleh para penelusur untuk bentuk lorong seperti itu.

Perjalanan dilanjutkan, Lorong yang dilalui sangat beragam, kadang berbatu, kadang liat bahkan berlumpur, sesekali harus memanjat, merayap hingga puluhan meter melewati celah sempit sambil meringis kesakitan karena lantai gua yang berlapis batu tajam. Di ujung “penderitaan” itu, akhirnya kami tiba di lorong gua berair. Beristirahat sejenak di tepi sungai yang tenang-jernih. Bahkan pantulan lampu karbit dapat membus dasar sungai yang cukup dalam itu. Bau karbit semakin menyengat.

Sebenarnya sungai dalam gua itu berbahaya bagi penelusur. Sebab jika hujan, air hujan dari permukaan batuan karst dapat menerobos batuan yang berpori hingga sampai ke ruang gua. Memang sebagian akan mengendap, mengapur. Sebagian lagi mengalir membentuk terobosan air di dalam gua. Menjadi sungai. Air yang kerap muncul ke permukaan menjadi banjir. Persambungan air dalam lorong-lorong gua itulah yang dapat menjadi potensi bahaya. Kita dapat terjebak dalam lorong sempit dengan air sungai yang meluap.

Namun dibalik bahaya yang disimpannya. Aliran sungai dalam gua Saripa menyimpan pembelajaran berharga tentang mahluk yang rela “mencacatkan” dirinya. Di sini ada cerita udang yang matanya buta akibat proses adaptasi almiah dengan lingkungan gua yang gelap. Dan kemudian lebih mengembangkan sungutnya lebih panjang dari sungut udang di luar lingkungan gua. Namun udang seperti itu sudah sangat jarang ditemukan.

Penelusuran dilanjutkan kembali, pelampung dipersiapkan. Meski demikian, rasa takut tetap ada terlebih jika memandang jauh ke dapan karena yang terlihat hanya gelap. Terowongan air ini tak jelas berujung dimana. Dingin air sungai gua mensuk tulang. Tak bisa dipungkiri, ini betul-betul dingin.

Butuh 10 menit baru kami sampai di ujungnya. Bagian ini kering. Sehingga kami dapat menghangatkan tubuh sebelum melanjutkan perjalanan menyusuri lorong-lorong lainnya. Saya kembali memimpin rombongan. Dari bagian lorong yang kering ini, kami melanjutkan penelusuran pada satu lorong yang memberikan nuansa lain dari penelusuran kali ini. Jika pada lorong-lorong sebelumnya hanya ada bidang yang polos, pada bagian ini terlihat berbagai jenis bentukan relief pada bidang gua, para ahli menyebutnya ornament/speleothem.

Di beberapa sudut terlihat tetesan air dari ujung stalaktik yang menempel di atap gua, berjatuhan menghujam lantai gua. Tetes-demi tetes air inilah yagn membentuk ornament pada batuan gamping. Ada yang membentuk undakan menyerupai sawah bertingkat. Untaian tirai, serta pilar-pilar. Para ahli memperkirakan, setiap 1 mm mahakarya alam yang terbentuk itu membutuhkan proses yang panjang. Sejak mulai dari tetes air, kemudian mengendap, kemudian membentuk ornament sepanjang 1mm butuh waktu 100 tahun. Nah di lorong ini bahkan ada pilar yang tingginya 3 meter. Namun keindahan ini terusik, di sisi kiri lorong banyak ornament gua yang rusak. Dari kerusakannya, saya dapat memastikan itu bukan patah karena proses alamiah tapi justru karena manusia.

Gua Saripa sebenarnya memiliki banyak lorong yang bercabang-cabang. Beberapa lorong satu terkadang bersambung dengan lorong yang lain. Bersusun membentuk labirin, jika kurang hati-hati, tidak menutup kemungkinan kita bisa kehilangan arah lalu tersesat.

Meski demikian kami tetap mencoba untuk memasukinya. Kali ini, selepas melewati lorong yang berornamen banyak itu, kami memasuki satu lorong yang basah dengan permukaan lantai berbatu. Lorong itu cukup tinggi sehingga kami dapat berjalan dengan dua kaki. Di ujung lorong ini terhampar tanah liat. Di sini kami menemukan beberapa jenis biota gua, laba-laba dan jangkrik.

Ada yang unik dari binatang penghuni gua yang kami temui ini, bentuk antena yang cederung lebih panjang dari binatang sejenis yang ditemui di luar gua, serta warna yang cenderung lebih gelap. Bintang ini pasif. Seperti pertapa-diam, meski diusik tak beranjak sedikit pun dari tempatnya. Ahli bio-speleologi menyebut proses ini sebagai satu upaya untuk mengurangi gerakan agar terjadi penghematan energi. Sebab di dalam keremangan gua tak banyak makanan yang bisa dijadikan sumber energi bagi para binatang gua. Kalaupun ada cuma bakteri, renik-renik yang terbawa arus sungai atau dari kotoran-kotoran kelelawar.

Tak jauh dari tempat kami menemukan binatang gua, lorong kembali menyempit. Buntu. Karena itu diputuskan untuk segera kembali ke mulut gua. Tak terasa jaraknya yang kami tempuh sudah 1500 meter. Letih dan lapar.

Demi mengehemat waktu. Kami memilih jalan pintas. Meski kondisinya cukup terjal namun kami tidak perlu lagi merayap. Karena cukup terjal, kami harus memanjati tangga bambu reot yang cukup tinggi. Sepertinya tangga bambu ini sengaja dipasang oleh para penelusur gua sebelumnya. Cukup sulit. Sampai di atas, lorong yang kami temui ini bertingkat-tingkat, mirip patahan. Dari lorong tersebut hanya butuh 30 menit untuk sampai ke mulut gua.

Bias cahaya matahari mulai terlihat. Memantulkan artisitik pada dinding-dinding gua. Kami berempat terpesona dengan keindahan sore itu. Sayang keindahan itu sedikit ternoda. Pantulan sinar matahari yang masuk memperjelas bagian-bagian dinding gua yang hampir penuh oleh coretan-coretan dari para pengunjung. Isi coretan tersebut kebanyakan adalah nama-nama orang, kelompok yang pernah menelusuri gua Saripa sebelumnya. Namun bagi saya, baiknya “tanda mata” itu tidak harus dengan mencoret dinding gua, tapi menuliskannya di panyingkul.


| Beri Komentar| Jumlah Komentar (4) |

Komentar :

12-02-2010
Dari : fardi al-gurit' | leangcelebes18@gmail.com
mitos tentang nama "saripa": konon, dulu ada perempuan yang menjadikan gua saripa sebagai tempat tinggal (daerah mulut gua), perempuan yang bernama saripa ini, dikisahkan sebagai perempuan yang berasal dari suatu tempat dan merupakan putri raja. suatu ketika sang raja berencana menikahkan saripa dengan lelaki pilihan sang raja. Saripa menolak, jadilah dia melarikan diri. Dalam pelariannya dia menemukan gua (saripa sekarang)yang kemudian dijadikan tempat persembunyian selama pelariannya. mitos lain tentang "saripa" : saripa dikisahkan sebagai perempuan dengan paras yang cantik, akan tetapi memiliki sifat yang buruk. Karena sifat buruknya itu, sang suami lalu membakar muka saripa lalu di asingkan ke gua (gua saripa sekarang)

11-02-2010
Dari : -ihs- | ihsyah@gmail.com
di tahun 1991-1994, saya sering menelusuri gua ini membawa naka-anak pramuka semasa SMA dulu. konon, nama gua saripa diambil dari nama seorang wanita yang dulu pernah diasingkan di dalam gua itu karena dianggap gila.

04-02-2010
Dari : lelakibugis |
saya pernah berbincang dengan salah seorang peserta penelusuran gua saripa ini yang diceritakan oleh tulisan ini. saat itu, ia mengutarakan ketertarikannya menuliskan asal muasal nama gua Saripa.. sampai sekarang saya masih menantikan tulisan itu..

26-01-2010
Dari : Iccank | iccank_arc@yahoo.co.id
wadduh! ndak ada pi commentnya inyol. gimana mi ini? biar mi. sy sj yang comment. Tapi, ini masalah speleologi. ndak terlalu mengerka. Jadi, wassalam...



 :: CITIZEN REPORTER
Makassar di Panyingkul!: Sebuah Persembahan
(Kamis, 12-07-2007)
Ayo Bergabung di Panyingkul!
(Minggu, 29-04-2007)
Catatan Sederhana Para Citizen Reporter
(Selasa, 31-10-2006)
Tentang Citizen Reporter dan Rubrik di Panyingkul!
(Rabu, 11-10-2006)
Riuh Rendah di Panyingkul!
(Rabu, 16-08-2006)

Untitled Document
 :: DUNIA SEGIEMPAT KAREBOSI






 :: PILKADA




 :: ALBUM PUASA 2008




Untitled Document
 :: KONTAK TIM PANYINGKUL!

Email Redaksi :

redaksi@panyingkul.com

Tim:
yus@panyingkul.com
+62 813 226 80844

Moch. Hasymi
+62 811 955 954


© Juni 2006 - Panyingkul.com All Rights Reserved
Desain Web : Nesia Andriana -- Supported by: Yuhardin