|
|
| . |
| ::
|
| Jumat, 16-10-2009 | Opini Penyembuhan Trauma Anak di Lokasi Gempa :: Dwi Lestary ST ::
| Gempa yang mengguncang sebagian wilayah Indonesia belakangan ini, sungguh menyisakan duka dan trauma mendalam bagi para korban. Orang dewasa maupun anak-anak mengalami syok berat akibat guncangan dahsyat.
| Saat gempa terjadi, orang-orang panik, berusaha menyelamatkan diri sendiri. Bagi anak-anak, kepanikan yang dialami sungguh tidak terbayangkan. Di saat itu mereka melihat orang berteriak, berlarian menyelamatkan diri, bangunan roboh, orang meninggal, bahkan ada orangtua yang karena panic, sebagian lupa dengan anak-anak. Segala kepanikan itu dapat mempengaruhi kejiwaan anak pasca bencana.
Kebutuhan anak-anak korban bencana harus diperhatikan dengan seksama, dengan mempedulikan kondisi psikis mereka. Di samping aktivitas tanggap darurat, pemberian bantuan berupa makanan, obat-obatan, uang dan kebutuhan materil lainnya, maka hal yang perlu dipikirkan adalah penanganan resiko psikologis ini.
Kita, misalnya, menyaksikan tayangan televisi saat gempa melanda Sumatra Barat pada Kamis 30 September 2009. Di dalam dekapan ibu, anak-anak tampak sangat ketakutan dan menangis. Kondisi tersebut dapat dikategorikan sebagai gangguan kecemasan pascatrauma (PTSD) yang merujuk pada gangguan psikologis dan luka emosional yang dialami oleh individu yang mengalami suatu peristiwa tragis dan luar biasa (Schiraldi, 2000).
Gangguan kecemasan pascatrauma bagi anak yang mengalami bencana gempa dapat dikategorikan sebagai suatu gangguan kecemasan dengan indikator dan ciri-ciri diagnostik tertentu yang berbeda dengan kecemasan biasa.
Gangguan kecemasan pascatrauma pada anak-anak jika tidak ditangani dengan baik akan menimbulkan gangguan, baik aspek fisik, emosi, mental, perilaku dan spiritual. Misalnya aspek fisik yang mengakibatkan suhu badan meninggi (tension), menggigil (trembling), badan terasa lesu (fatigue), mual-mual (tingling), pening (nausea), masalah saluran pencernaan (digestive track problem), sesak napas (rapid breathing), panik (event panic attack).
Aspek emosi, antara lain: hilangnya gairah hidup (moodiness), ketakutan (fear), emosi berlebihan (exaggerated emotions), dan merasa rendah diri (loss of confidence).
Sedangkan aspek mental antara lain: kebingungan (confussion), tidak dapat berkonsentrasi (inability to concentrate), tidak mampu mengingat dengan baik (remember), tidak dapat menyelesaikan masalah (lack of decision making).
Aspek perilaku antara lain menjadi sulit tidur, kehilangan selera makan, makan berlebihan, banyak merokok, minum alkohol, sering menangis, tidak mampu berbicara, tidak bergerak, gelisah, terlalu banyak gerak, mudah marah, ingin bunuh diri, menggerakkan anggota tubuh secara berulang-ulang, rasa malu berlebihan, mengurung diri, menyalahkan orang lain. Aspek spiritual antara lain putus asa (discouragement), hilang harapan (hopeless), menyalahkan Tuhan, berhenti ibadah, tidak berdaya (despair), meragukan keyakinan, dan tidak tulus.
Penyembuhan Trauma
Penyembuhan trauma bagi anak-anak mutlak segera dilakukan di daerah bencana agar mereka dapat segera melupakan pengalaman traumatik dan tidak mengalami gangguan psikologis di masa mendatang. Salah satu aktivitas yang dapat dilakukan yaitu melakukan kegiatan bermain bersama yang dapat mengurangi kecemasan dan trauma.
Upaya penyembuhan trauma misalnya dapat dilihat pada gempa Yogyakarta tahun 2006 di mana BPKB Provinsi DIY membuat program yang salah satu fokus utamanya adalah layanan pendidikan anak usia dini. Yaitu dengan mengajak sumber daya lokal untuk melakukan aktivitas bermain bagi anak-anak korban gempa bumi. Di samping itu dilakukan layanan PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) keliling ke lokasi yang belum terjangkau, dengan membawa serta pendongeng dan badut.
Barangkali bentuk layanan permainan ini sangat sederhana, namun memberikan manfaat yang luar biasa karena anak akan bergembira kembali, ceria kembali sehingga mampu melupakan pengalaman traumatiknya. Kegiatan ini pun dapat terus dilakukan pasca tanggap darurat atau pada saat masa pemulihan dan rekonstruksi, karena pada masa itu para orang tua akan sibuk melakukan pembangunan kembali, sehingga anak-anak perlu mendapat perhatian.
Dibutuhkan lebih dari sekedar bantuan materil dan non materil untuk memulihkan keadaan anak-anak di daerah bencana. Mereka membutuhkan bantuan dari para ahli jiwa (psikolog) untuk menyembuhkan keadaan psikologis mereka. Jika anak-anak mengalami trauma yang berkepanjangan, hal ini akan terbawa terus sampai mereka dewasa dan akan mengganggu pertumbuhan.
Pendidikan di Lokasi Bencana
Pelaksanaan pendidikan pasca bencana harus dilakukan secara tepat. Relawan pendidikan atau pembimbing hendaklah memiliki kreativitas dan kepekaan dalam kegiatan belajar mengajar. Di samping itu inisiatif dan inovasi diperlukan dalam pelaksanaan pendidikan di lokasi bencana. Termasuk hal-hal kecil bagaimana dapat membuat peserta didik kita tertawa atau sekedar tersenyum sejenak melupakan tragedi atau peristiwa yang mengakibatkannya trauma. Setiap guru atau pembimbing pada masa ini harus mengerti dan bisa menjadi tumpuan bagi anak didik untuk mencurahkan keluh kesah yang dirasakan.
Penyelenggaraan pendidikan di lokasi bencana akan dapat efektif jika terjalin kerjasama dari berbagai elemen masyarakat. Sumbangsih pemerintah menjadi landasan utama terhadap penyelenggaraan pendidikan. Pendidikan harus dapat pulih atau paling tidak kembali berjalan dalam waktu yang secepatnya. Tidak tepatnya strategi pendidikan dapat mengakibatkan hilangnya satu generasi penerus. Karenanya, pembangunan gedung-gedung dan fasilitas fisik di lokasi pasca bencana hendaklah diimbangi dengan pembangunan mental dan jiwa para korban. (p!)
* Penulis adalah peneliti pada Institute for Social Empowerment Yogyakarta, aktif sebagai mahasiswa Ushuluddin, Aqidah dan Filsafat UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
|
| | Jumlah
Komentar (1) |
|
| Komentar :
04-02-2010 Dari : Mohammad Takdir Ilahi | tkdr_ilahi@yahoo.co.id tulisannya cukup
menggugah.. |
|
|
|
|
| ::
CITIZEN REPORTER |
 | (Kamis, 12-07-2007) |  | (Minggu, 29-04-2007) |  | (Selasa, 31-10-2006) |  | (Rabu, 11-10-2006) |  | (Rabu, 16-08-2006) | |
|
Untitled Document
| ::
DUNIA SEGIEMPAT KAREBOSI |
|
Untitled Document
| ::
KONTAK TIM PANYINGKUL! |
Email Redaksi :
redaksi@panyingkul.com
Tim:
yus@panyingkul.com
+62 813 226 80844
Moch. Hasymi
+62 811 955 954
|
|
|