|
|
| . |
| ::
|
| Selasa, 14-07-2009 | Kegilaan, Dari Cinta Mati di Pulau Rajuni Hingga Riwayat Kadang :: Ivan Firdaus ::
| Si Gila yang selalu mengetuk pintu di Jalan Rappocini. Foto : Ivan Firdaus.
Citizen reporter Ivan Firdaus mengajak kita memperhatikan orang-orang gila yang berkeliaran di jalan. Ia memulai dari riwayat seorang lakilaki yang gila karena patah hati di Pulau Rajuni hingga pria gila misterius di kampus Unhas di era 90an, yang senantiasa dikenangnya. (p!) |
Nun jauh di Pulau Rajuni, Kepulauan Taka Bonerate-Selayar, ada seorang lelaki paruh baya yang telah lupa akan namanya sendiri. Orang-orang sekampung hanya memanggilnya Hayati. Anak-anak muda sekampung menyapa lelaki itu dengan panggilan Hayati … Hayati !, sambil tersenyum menggoda. Dan lelaki yang dipanggil Hayati hanya tersenyum lalu menundukkan kepala menatap pasir-pasir putih tempatnya berpijak dan melangkah sambil menggumam … Hayati … Hayati.
Sebenarnya lelaki yang disebut Hayati itu cukup gagah, dengan kulit putih pucat, semampai dengan tatapan lembut dan tulus. Pakaiannya nampak bersih dengan kemeja putih diserta kain sarung yang bersih. Walau nampak rambutnya tak pernah disisir setiap habis mandi. Hanya orang-orang tua yang masih mengingat nama lelaki itu sebenarnya, yakni Mashuri. Namun karena dari mulut lelaki itu senantiasa menyebut nama Hayati, maka ia lebih sering dipanggil Hayati saja. Bahkan jika dipanggil Mashuri pun ia takkan pernah menoleh lagi.
Tak jauh dari gubuk lelaki itu, seorang ibu dengan tiga orang anak yang masih kanak-kanak, saban hari menyapu halaman, membantu suami sepulang melaut dan mencuci pakaian di sumur umum tak jauh dari rumah kayu tempat tinggalnya. Seperti layaknya para istri nelayan, ibu tiga anak itu bersibuk sepanjang hari sambil ngerumpi dengan para ibu tetangga rumahnya. Jika para ibu tetangga lain tertawa saat Mashuri yang dipanggil Hayati melangkah sambil tertunduk di depan rumahnya, ia pun ikut tersenyum, menatap Mashuri, lalu tertunduk seakan tak terganggu oleh langkah Mashuri yang telah lupa akan dirinya, yang sebenarnya bernama Hayati.
Konon menurut cerita orang sekampung, Mashuri dulunya amat mencintai Hayati, yang kini bersuamikan orang lain dan telah dikaruniai tiga orang anak. Beberapa kali Mashuri melamar Hayati, namun orang tua Hayati menolak dengan berbagai alasan. Hingga akhirnya Hayati dinikahkan dengan lelaki lain dari keluarganya sendiri. Mashuri tentunya sangat kecewa dan patah hati. Hayati tak mampu berbuat apa-apa untuk membalas cinta Mashuri karena takut kepada kedua orang tuanya. Dan Mashuri pun bukan tipe lelaki nekat yang berani membawa lari Hayati untuk menikah di kampung lain. Mashuri hanya memendam cinta dan rasa sakitnya hingga ia lupa akan dirinya sendiri. Kesadaran Mashuri kini berganti oleh nama Hayati yang selalu terucap dari bibirnya yang kering mengiring langkahnya yang tak tentu arah lagi sepanjang hidupnya. Kini sekitar duapuluh tahun telah berlalu, anak-anak Hayati telah tumbuh dewasa, dan Mashuri masih menyebut-nyebut nama Hayati di tengah kesendiriannya.
***
Yang selalu tersenyum di bawah matahari. Foto : Ivan Firdaus.
Sepenggal kisah di atas hanya sekelumit cerita nyata penyebab orang bisa lupa ingatan, stres berkepanjangan hingga berakibat gila atau sinting. Semua orang berpotensi menjadi stres dan sinting, bahkan seorang dokter ahli jiwa pun kini sudah ada yang ikut-ikutan sinting. Tentunya penyebab kegilaan orang bermacam-macam tergantung daya tahan mental dan beratnya beban masalah yang mereka hadapi. Ada banyak literatur yang membahas seputar penyakit-penyakit kejiwaan, mulai yang ringan hingga yang sangat berat hingga menyebabkan shock dan kematian penderita secara tiba-tiba. Namun pembaca baiknya cari sendirilah literaturnya. Karena saya hanya mengantar ke beberapa orang sinting yang sempat bertemu saja di sepanjang jalan.
Jika Anda sempat berada di kampus Universitas Hasanuddin sekitar tahun 90an, Anda tentu ingat tentang seorang lelaki muda yang berpakaian kotor, bergigi-geligi berkarat dan selalu membawa gulungan kertas. Lelaki itu nyaris tak pernah berbahasa Indonesia, tetapi hanya menjawab dengan bahasa Toraja jika ada yang berani atau bercanda menanyakan sesuatu padanya. Lelaki muda itu dikenal dengan nama Kadang. Kadang memang kadang-kadang muncul terkadang menghilang entah ke mana. Jika ia muncul di kampus Unhas, ia akan berkeliling dari kantin ke kantin meminta rokok, memakan makanan sisa, bahkan mengganggu mahasiswi yang sedang duduk atau berjalan. Para aktivis kampus bahkan pernah curiga bahwa kemungkinan Kadang adalah seorang mata-mata (intel) yang mengamat-amati gerakan mahasiswa, hingga Kadang pernah digebuki beramai-ramai oleh gerombolan mahasiswa saat beberapa keributan dan demonstrasi marak dilakukan dari kampus-kampus. “ Siapa yang tidak curiga, ka Kadang selalu muncul kalau kita lagi ada pertemuan-pertemuan bikin rencana demo … “ kata seorang mahasiswa kala itu. Namun Kadang yang di “borongi” (di pukul ramai-ramai)” hanya berteriak-teriak dengan bahasa dan logat Toraja yang bahkan kawan yang mengerti bahasa Toraja pun tak mengerti apa yang ia katakan.
***
Kisah Kadang dan Hayati telah lama terlupakan, entah bagaimana keadaan mereka kini. Seperti kisah beberapa orang gila di kota Makassar ini, pun cerita orang-orang gila di kota-kota lainnya. Mereka ada hanya saat kita sempat melihat mereka di jalan-jalan, di sekitar tempat sampah, atau di emper-emper toko. Setelah itu entah mereka di mana siapa yang ambil pusing. Syukur-syukur jika mereka diamankan oleh petugas yang berwenang dan ditempatkan di rumah sakit jiwa. Semoga Walikota mau juga memasukkan orang gila dalam program pelayanan masyarakat ; “ melayani gratis dari lahir sampai mati, “ seperti kata pasangan Iasmo yang terpilih itu.
Jika Anda mau menghitung-hitung jumlah orang gila yang masih berkeliaran di kota Makassar ini, pasti akan terhitung puluhan orang gila dengan berbagai kondisi dan umur, dari usia muda hingga tua, lelaki dan perempuan. Mulai dari yang tak berpakaian hingga yang penuh dengan pernak-pernik plastik dan kain rombengan. Di malam hari mereka tertidur di mana saja. Di pinggiran jalan, di taman-taman kota, di emper-emper toko, hingga di samping tempat sampah. Di siang hari mereka rata-rata berjalan menyusuri jalan-jalan kota ini, memakan sisa-sisa makanan di tempat sampah, berebut dengan kucing, anjing dan lalat-lalat yang berkerumun. Ada beberapa orang gila yang pernah terlihat di jalan-jalan, kini tak nampak lagi, berganti dengan wajah-wajah baru yang beberapa di antaranya terlihat tergolong baru gila (mungkin karena rambutnya belum sepanjang beberapa orang gila yang telah berkeliaran lama di kota ini ). Entah mereka lenyap karena diamankan di panti rehabilitasi atau mereka mati di sudut-sudut jalan kota ini.
Namun sekali lagi, siapa yang mau ambil pusing. Mungkin banyak yang berpikir, memikirkan orang sinting bisa-bisa kita juga ikut sinting di buatnya. Selain RS Jiwa dan mungkin Departemen Sosial yang memiliki program khusus bagi mereka, rasanya belum ada lembaga yang mendedikasikan diri pada masalah ini. Mending mari kita pikirkan orang-orang waras yang hampir sinting saja, untuk kita selamatkan sebelum mereka ikut sinting. Atau mari kita pikirkan nasib orang-orang sinting yang sudah mendekati waras saja ntuk kita sadarkan sama-sama. Namun di manakah orang-orang yang dimaksud itu ? kalau dapat, mau “ … tak gendong… ke mana-mana … ! “ (p!)
*Citizen reporter Ivan Firdaus dapat dihubungi melalui email ivanfirdaus@hotmail.com
|
| | Jumlah
Komentar (28) |
|
| Komentar :
30-08-2010 Dari : marco dg tombong | marcodgtombong@gmail.com tulisan sdr Ivan
mengingatkan sy
masa2 kuliah dulu,
Kadang, sosok
misterius yg suka
bawa gulungan
kertas. sy biasa
memberi dia rokok,
gulungan kertas
bekas tugas kuliah
yg tidak terpakai
lagi...
point sy..
mana peran negara
terhadap komunitas
saudara kita yg
jiwanya kurang waras
ini. apa jadinya
kalau mereka sudah
memiliki kesadaran
memperjuangkan
hak-hak
komunitasnya...
sayangnya mereka
belum sadar dan
bahkan cenderung
hidup sendiri dan
cuek dgn
lingkungannya.
berpapasan dengan
sesamanya pun mereka
saling acuh ....
tuk sdr Ivan..sukses
selalu
skali2 kumpul2 di
Esensi.. 20-08-2010 Dari : Wahyu saja lah | wahyu.ekps@gmail.com apakah orang gila
itu tak berhati??
hayati masih berhati 20-08-2010 Dari : Wahyu saja lah | wahyu.ekps@gmail.com apakah orang gila
itu tak ingat
apa-apa?. apakah
orang gila itu tak
berhati?
Hayati, masih
memiliki hati 29-07-2010 Dari : daengROMPA | hit4mpek4t@gmail.com rindu sama kadang..
kadang sadar, kadang
gila, kadang ada,
kadang hilang. Tapi,
ada juga yang bilang
sebenarnya, dalam
persepsi orang gila,
merekalah yang waras
dan orang waras yang
gila.. jadi, siapa
sebenarnya yang
gila?? 29-06-2010 Dari : sergio | sergio@yahoo.co.id location.href="http:
//detik.com"; 13-06-2010 Dari : latenrilawa | puanglatenrilawa@yahoo.com Saya jadi ingat
masa2 kul s1 di IAIN
makassar era 90-an.
Di kampus itu ada
seorang gila namanya
Agus. Agus gila,
seingat saya sering
masuk perpustakaan,
membaca dan mencatat
buku yg dibacanya.
Agus juga mahir
orasi ilmiah di
koridor kampus
dengan materi
politik dan
filsafat. Kabarnya,
sebelum menjadi
gila, Agus sempat
kuliah di jurusan
filsafat UIN
Makassar. Agus
adalah fenomena
kegilaan yg jamak
meskipun unik.Jamak
kerana latar
belakang gila
umumnya kerana
histori sosial yg
menekan; ada yg
dicipta [sistemik],
ada yg karena virus.
Unik karana dia gila
tapi sering masuk
perpustakaan dan
kala itu kabarnya
dia juga sering
bolak-balik
Up-Jkr.yg saya ingat
dia juga sering
menyebut nama
seseorang; Anas
Urbaningrum... 08-10-2009 Dari : A. Tri Abdiawan | triabdee@gmail.com bedakan antara orang
yg punya masalah
mental akibat
kehidupan dengan
yang keterbelakangan
mental bawaan
lahir..
Gila itu akibat ga
bs terima kenyataan,
mnyalahkan dirinya n
menyatakan bahwa tdk
adami yg penting,
tdk adami yg bisa
bantu..
lain lagi autis,
imbibisil, itu
kelainan gen yg
mmbuat otak tak
berfungsi baik.
02-10-2009 Dari : batto | batto09@yahoo.com Kadang, punya
kenangan khusus bagi
kami anak Pozter.
Terkadang ngajak
Kadang ngobrol di
lokasi HL, merampas
tas yg sering di
bawa Kadang dengan
harapan mendapatkan
surat berharga dalam
tas dll. Hingga saat
terakhir akan
berangkat merantau
kami di kejutkan
dengan keberadaan
Kadang di pelabuhan
makassar...dengan
senyum sumringah
Kadang meminta rokok
dari salah satu
teman kami hingga
akhirnya Kadang di
gebukin polisi
pelabuhan karena di
anggap memalak rekan
kami.....mungkin dia
adalah soulmate anak
Pozter yg memang
sebagian sudah agak
gila :). Kami rindu
dengan ocehan
menteri Toraja mu
ha..ha.. 13-08-2009 Dari : syam sdp terrajana | syamsdp@rocketmail.com kalau sekaranga saya
masih suka bertabik:
"senior!," pada
setiap orang yang
mengalami gangguan
jiwa, yang saya
jumpai di jalan.
bagi saya mereka
adalah manusia
sejati, yang
mewakili serba
ketidak sempurnaan
kita. mari hormati
mereka, kasih rokok
dan makanan jika
kebetulan
ada.alapyupul 10-08-2009 Dari : erul | orang2pelastik_09@yahoo.co.id gila, sama saja
sebenarnya. normal,
autis,
keterbelakangan
mental dll. manusia
normal juga
melakukan hal yang
sama dengan kadar
yang lebih parah. 08-08-2009 Dari : MULIYATY ARIEF | guysarief@yahoo.co.id. saya memiliki cerpen
yang berjudul
'jangan gila dong' &
pernah diikutkan
dalam lomba & belum
dipublikasikan
(dalam tulisan
panyingkul ini salah
satunya tentang
fenomena karena
'Materi' Gila Harta 08-08-2009 Dari : Muliyaty Arief | guysarief@yahoo.co.id. Tentang fenomena
gila, dapat terjadi
pula karena Materi
'Gila Harta' & Foto
'Gila Foto'(gifo)&
salah satunya yang
dituliskan di
Panyingkul 'Gila
Cinta (patah hati). 04-08-2009 Dari : udink-dgreen | elo_jie@yahoo.co.id ... innalillahi wa
inna ilaihi rojiun.
Telah digendong ke
akhirat pelantun
lagu "Tak Gendong",
Mbah Surip. Selamat
jalan mbah ... 03-08-2009 Dari : muhammad yunus rm | myunusrm@gmail.com ....tdk org yang mau
menjadi org gila,
jadi gila bukan
pilihan, tetapi
kenapa ada yg
gila?...tulisan sdr
ivan tlh memberikan
kita gambaran
tentang siapa yang
disbut "gila"... 31-07-2009 Dari : app | palattae09 APA Itu gila? 30-07-2009 Dari : rhandi jie coy | zizzodgreen@yahoo.co.id banyak mintong,mie
orang yang gila
sekarang bang.!
dari jalanan sampe
yang di
kantor-kantor...haha
haha bang IVAN..
30-07-2009 Dari : erni | erni_aladjai@yahoo.com Andaikan Mashuri
penulis, akan lahir
begitu banyak
tulisan dan sajak
dari patah hati.
bravo kak ivan. 24-07-2009 Dari : Muh Nur Taqwim | taqwimyunus@yahoo.co.id Banyak makna yang
dapat terpetik dari
tulisan ini. Walau
terkesan ringan
tetapi penulisnya
mengungkapkan
hal-hal yang
benar-benar bisa
membuat kita menjadi
was-was ... 23-07-2009 Dari : nina | dindanina@yahoo.com ada juga satu orang,
sering lewat depan
rumahku. namanya
hayyong. dari Sd
sampai sekarang saya
kerja, hayyong masih
sering lewat depan
rumah. 20-07-2009 Dari : vaisjal arifin | vaisjal@gmail.com GILA,satu kata yang
menarik untuk
disimak dan ditelaah
dikarenakan kata ini
masuk dalam semua
aspek kehidupan
manusia... Pembaca
tentu masih ingat
berapa kali kata ini
masuk dalam setiap
ucapan dan aktifitas
hidup soo.... GILA
(Goresan Indah
meLepaskan Anda) 15-07-2009 Dari : odji ismail | mataallo@gmail.com ....lagu "tak
gendong kemana2"
sebenarnya bisa
memberi inspirasi
klo orang2 gila itu
masih
(kadang-kadang) bisa
produktif sperti
"si" penyanyi
itu...... 15-07-2009 Dari : Ucok | akhi_alhariri@yahoo.co.id Tp jgn salah loh..
mreka2 ini tkadang
lbih sadar dr
kita... prnah sy dan
tman mliat orang
gila yg mberikan
makananx kpd anak
kcil yg mnangis
klaparn.. trus teman
sy blang " liat mi
tu orgil eh.. lbih
sadar dr qt toh"
jujur sy mngambil
pljaran dr orang
tsebut... 15-07-2009 Dari : Daeng Lalo | muslimin.beta@pewarta-indonesia.com Pemilu 2009 juga
"berhasil"
melahirkan para
caleg yang stres,
gila dan mati
sia-sia. Mungkin di
Makassar juga ada?
Siapa yang mau
mendata? 15-07-2009 Dari : arminh | artsuru@gmail.com @Eka: Ka itu Munir
anak Sastra ji juga,
anak Pariwisata.
Ceritanya dia gila
karena pas balik ke
Makassar tuk
selesaikan
kuliahnya,
Pariwisata sudah
dibubarkan, padahal
dia sakit lama di
kampungnya. itu yang
saya dengar. kalo
Kadang, pernah sy
dapat di Rantepao,
masih na kenali ka,
langsung na teriaki
ka dan minta rokok. 14-07-2009 Dari : Dirga dg. Erang | " banyak caleg tak
terpilih menghilang
entah kemana,
mungkin banyak tommi
yang gila kapang,
kasian! " 14-07-2009 Dari : eka"besse"wulandari | ekabessewulandari@gmil.com adalagi sekarang yg
selalu berkeliaran
di kampus, lebih
sering di fakultas
sastra, karena anak
sastra tidak pernah
terusik dengan
kehadirannya,
makanya betah di
sana, namanya
Munir...astaga.. 14-07-2009 Dari : syamsoe | syamsoe@angingmammiri.org fotonya bagus..
sbenarx orang sperti
ini musti lebih di
perhatikan dengan
baik.. di beberapa
ruas jalan di mks
sendiri smpe skg msh
sering terlihat
beberapa diantara
mereka yg hidup kian
kemari... hmm, yg
musti di waspadai
itu adalah gila
kekuasaan dan
harta... 14-07-2009 Dari : M Aan Mansyur | m.aan.mansyur@gmail.com di album foto saya
di Facebook ada foto
salah seorang di
antara mereka. yang
mau lihat silakan
klik
http://www.facebook.
com/album.php?aid=24
8648&id=650845499 |
|
|
|
|
| ::
CITIZEN REPORTER |
 | (Kamis, 12-07-2007) |  | (Minggu, 29-04-2007) |  | (Selasa, 31-10-2006) |  | (Rabu, 11-10-2006) |  | (Rabu, 16-08-2006) | |
|
Untitled Document
| ::
DUNIA SEGIEMPAT KAREBOSI |
|
Untitled Document
| ::
KONTAK TIM PANYINGKUL! |
Email Redaksi :
redaksi@panyingkul.com
Tim:
yus@panyingkul.com
+62 813 226 80844
Moch. Hasymi
+62 811 955 954
|
|
|