Untitled Document
 


Untitled Document
.KITAKITA
:: Jika Anda di Panyingkul ::
 
 KABAR KITA
 
 BERANDAKITA
Kegilaan, Dari Cinta Mati di Pulau Rajuni Hingga Riwayat Kadang
:: Ivan Firdaus ::
Baba Guru, Mengenang Film Rhoma Irama di Klenteng Galesong
:: Kamaruddin Azis ::
Mengagumi Tenun Troso, Mengenang Tenun Sengkang
:: Suryadin Laoddang ::
Perempuan Besi di Gunung Perak (2-selesai)
:: M. Aan Mansyur ::
Perempuan Besi di Gunung Perak (1)
:: M. Aan Mansyur ::
 
 RISETKITA
Rasa Takut : Yang Dicitrakan, Yang Dipelihara
:: Aria W. Yudhistira ::
Risetkita: Pramoedya versus Sejarah Resmi
:: Nurhady Sirimorok ::
Hikayat Rumpon Nelayan Mandar
:: Muhammad Ridwan Alimuddin ::
Di Makassar Pernah Ada “Negeri Wajo”
:: Nurhady Sirimorok ::
Surat Itu Ditulis Upas kepada September
:: Nurhady Sirimorok ::
 
 BUKUKITA
 
 KATAKOTAKITA
Kenapa si Gondrong yang Maju?
:: Ivan Firdaus dan Mustamin al-Mandary ::
Karena ‘Rewa’ Badan Binasa
:: Sudirman Nasir ::
Yang Okkot, yang Salah Sambung
:: Nursamsu danTusiana Noor Alfisyahr ::
Kandala`ka`, Kusta Bila Dusta
:: Panyingkul ::
Ayo, Si(ng)kat Terussss..!
:: Panyingkul! ::

 
 TAHUKAHKITA
 

.
 ::
Selasa, 14-07-2009 
Kegilaan, Dari Cinta Mati di Pulau Rajuni Hingga Riwayat Kadang
:: Ivan Firdaus ::


Si Gila yang selalu mengetuk pintu di Jalan Rappocini.
Foto : Ivan Firdaus.




Citizen reporter Ivan Firdaus mengajak kita memperhatikan orang-orang gila yang berkeliaran di jalan. Ia memulai dari riwayat seorang lakilaki yang gila karena patah hati di Pulau Rajuni hingga pria gila misterius di kampus Unhas di era 90an, yang senantiasa dikenangnya. (p!)
 


Nun jauh di Pulau Rajuni, Kepulauan Taka Bonerate-Selayar, ada seorang lelaki paruh baya yang telah lupa akan namanya sendiri. Orang-orang sekampung hanya memanggilnya Hayati. Anak-anak muda sekampung menyapa lelaki itu dengan panggilan Hayati … Hayati !, sambil tersenyum menggoda. Dan lelaki yang dipanggil Hayati hanya tersenyum lalu menundukkan kepala menatap pasir-pasir putih tempatnya berpijak dan melangkah sambil menggumam … Hayati … Hayati.

Sebenarnya lelaki yang disebut Hayati itu cukup gagah, dengan kulit putih pucat, semampai dengan tatapan lembut dan tulus. Pakaiannya nampak bersih dengan kemeja putih diserta kain sarung yang bersih. Walau nampak rambutnya tak pernah disisir setiap habis mandi. Hanya orang-orang tua yang masih mengingat nama lelaki itu sebenarnya, yakni Mashuri. Namun karena dari mulut lelaki itu senantiasa menyebut nama Hayati, maka ia lebih sering dipanggil Hayati saja. Bahkan jika dipanggil Mashuri pun ia takkan pernah menoleh lagi.

Tak jauh dari gubuk lelaki itu, seorang ibu dengan tiga orang anak yang masih kanak-kanak, saban hari menyapu halaman, membantu suami sepulang melaut dan mencuci pakaian di sumur umum tak jauh dari rumah kayu tempat tinggalnya. Seperti layaknya para istri nelayan, ibu tiga anak itu bersibuk sepanjang hari sambil ngerumpi dengan para ibu tetangga rumahnya. Jika para ibu tetangga lain tertawa saat Mashuri yang dipanggil Hayati melangkah sambil tertunduk di depan rumahnya, ia pun ikut tersenyum, menatap Mashuri, lalu tertunduk seakan tak terganggu oleh langkah Mashuri yang telah lupa akan dirinya, yang sebenarnya bernama Hayati.

Konon menurut cerita orang sekampung, Mashuri dulunya amat mencintai Hayati, yang kini bersuamikan orang lain dan telah dikaruniai tiga orang anak. Beberapa kali Mashuri melamar Hayati, namun orang tua Hayati menolak dengan berbagai alasan. Hingga akhirnya Hayati dinikahkan dengan lelaki lain dari keluarganya sendiri. Mashuri tentunya sangat kecewa dan patah hati. Hayati tak mampu berbuat apa-apa untuk membalas cinta Mashuri karena takut kepada kedua orang tuanya. Dan Mashuri pun bukan tipe lelaki nekat yang berani membawa lari Hayati untuk menikah di kampung lain. Mashuri hanya memendam cinta dan rasa sakitnya hingga ia lupa akan dirinya sendiri. Kesadaran Mashuri kini berganti oleh nama Hayati yang selalu terucap dari bibirnya yang kering mengiring langkahnya yang tak tentu arah lagi sepanjang hidupnya. Kini sekitar duapuluh tahun telah berlalu, anak-anak Hayati telah tumbuh dewasa, dan Mashuri masih menyebut-nyebut nama Hayati di tengah kesendiriannya.
***

Yang selalu tersenyum di bawah matahari.
Foto : Ivan Firdaus.




Sepenggal kisah di atas hanya sekelumit cerita nyata penyebab orang bisa lupa ingatan, stres berkepanjangan hingga berakibat gila atau sinting. Semua orang berpotensi menjadi stres dan sinting, bahkan seorang dokter ahli jiwa pun kini sudah ada yang ikut-ikutan sinting. Tentunya penyebab kegilaan orang bermacam-macam tergantung daya tahan mental dan beratnya beban masalah yang mereka hadapi. Ada banyak literatur yang membahas seputar penyakit-penyakit kejiwaan, mulai yang ringan hingga yang sangat berat hingga menyebabkan shock dan kematian penderita secara tiba-tiba. Namun pembaca baiknya cari sendirilah literaturnya. Karena saya hanya mengantar ke beberapa orang sinting yang sempat bertemu saja di sepanjang jalan.

Jika Anda sempat berada di kampus Universitas Hasanuddin sekitar tahun 90an, Anda tentu ingat tentang seorang lelaki muda yang berpakaian kotor, bergigi-geligi berkarat dan selalu membawa gulungan kertas. Lelaki itu nyaris tak pernah berbahasa Indonesia, tetapi hanya menjawab dengan bahasa Toraja jika ada yang berani atau bercanda menanyakan sesuatu padanya. Lelaki muda itu dikenal dengan nama Kadang. Kadang memang kadang-kadang muncul terkadang menghilang entah ke mana. Jika ia muncul di kampus Unhas, ia akan berkeliling dari kantin ke kantin meminta rokok, memakan makanan sisa, bahkan mengganggu mahasiswi yang sedang duduk atau berjalan. Para aktivis kampus bahkan pernah curiga bahwa kemungkinan Kadang adalah seorang mata-mata (intel) yang mengamat-amati gerakan mahasiswa, hingga Kadang pernah digebuki beramai-ramai oleh gerombolan mahasiswa saat beberapa keributan dan demonstrasi marak dilakukan dari kampus-kampus. “ Siapa yang tidak curiga, ka Kadang selalu muncul kalau kita lagi ada pertemuan-pertemuan bikin rencana demo … “ kata seorang mahasiswa kala itu. Namun Kadang yang di “borongi” (di pukul ramai-ramai)” hanya berteriak-teriak dengan bahasa dan logat Toraja yang bahkan kawan yang mengerti bahasa Toraja pun tak mengerti apa yang ia katakan.
***

Kisah Kadang dan Hayati telah lama terlupakan, entah bagaimana keadaan mereka kini. Seperti kisah beberapa orang gila di kota Makassar ini, pun cerita orang-orang gila di kota-kota lainnya. Mereka ada hanya saat kita sempat melihat mereka di jalan-jalan, di sekitar tempat sampah, atau di emper-emper toko. Setelah itu entah mereka di mana siapa yang ambil pusing. Syukur-syukur jika mereka diamankan oleh petugas yang berwenang dan ditempatkan di rumah sakit jiwa. Semoga Walikota mau juga memasukkan orang gila dalam program pelayanan masyarakat ; “ melayani gratis dari lahir sampai mati, “ seperti kata pasangan Iasmo yang terpilih itu.

Jika Anda mau menghitung-hitung jumlah orang gila yang masih berkeliaran di kota Makassar ini, pasti akan terhitung puluhan orang gila dengan berbagai kondisi dan umur, dari usia muda hingga tua, lelaki dan perempuan. Mulai dari yang tak berpakaian hingga yang penuh dengan pernak-pernik plastik dan kain rombengan. Di malam hari mereka tertidur di mana saja. Di pinggiran jalan, di taman-taman kota, di emper-emper toko, hingga di samping tempat sampah. Di siang hari mereka rata-rata berjalan menyusuri jalan-jalan kota ini, memakan sisa-sisa makanan di tempat sampah, berebut dengan kucing, anjing dan lalat-lalat yang berkerumun. Ada beberapa orang gila yang pernah terlihat di jalan-jalan, kini tak nampak lagi, berganti dengan wajah-wajah baru yang beberapa di antaranya terlihat tergolong baru gila (mungkin karena rambutnya belum sepanjang beberapa orang gila yang telah berkeliaran lama di kota ini ). Entah mereka lenyap karena diamankan di panti rehabilitasi atau mereka mati di sudut-sudut jalan kota ini.

Namun sekali lagi, siapa yang mau ambil pusing. Mungkin banyak yang berpikir, memikirkan orang sinting bisa-bisa kita juga ikut sinting di buatnya. Selain RS Jiwa dan mungkin Departemen Sosial yang memiliki program khusus bagi mereka, rasanya belum ada lembaga yang mendedikasikan diri pada masalah ini. Mending mari kita pikirkan orang-orang waras yang hampir sinting saja, untuk kita selamatkan sebelum mereka ikut sinting. Atau mari kita pikirkan nasib orang-orang sinting yang sudah mendekati waras saja ntuk kita sadarkan sama-sama. Namun di manakah orang-orang yang dimaksud itu ? kalau dapat, mau “ … tak gendong… ke mana-mana … ! “ (p!)

*Citizen reporter Ivan Firdaus dapat dihubungi melalui email ivanfirdaus@hotmail.com

| Beri Komentar| Jumlah Komentar (28) |

Komentar :

30-08-2010
Dari : marco dg tombong | marcodgtombong@gmail.com
tulisan sdr Ivan mengingatkan sy masa2 kuliah dulu, Kadang, sosok misterius yg suka bawa gulungan kertas. sy biasa memberi dia rokok, gulungan kertas bekas tugas kuliah yg tidak terpakai lagi... point sy.. mana peran negara terhadap komunitas saudara kita yg jiwanya kurang waras ini. apa jadinya kalau mereka sudah memiliki kesadaran memperjuangkan hak-hak komunitasnya... sayangnya mereka belum sadar dan bahkan cenderung hidup sendiri dan cuek dgn lingkungannya. berpapasan dengan sesamanya pun mereka saling acuh .... tuk sdr Ivan..sukses selalu skali2 kumpul2 di Esensi..

20-08-2010
Dari : Wahyu saja lah | wahyu.ekps@gmail.com
apakah orang gila itu tak berhati?? hayati masih berhati

20-08-2010
Dari : Wahyu saja lah | wahyu.ekps@gmail.com
apakah orang gila itu tak ingat apa-apa?. apakah orang gila itu tak berhati? Hayati, masih memiliki hati

29-07-2010
Dari : daengROMPA | hit4mpek4t@gmail.com
rindu sama kadang.. kadang sadar, kadang gila, kadang ada, kadang hilang. Tapi, ada juga yang bilang sebenarnya, dalam persepsi orang gila, merekalah yang waras dan orang waras yang gila.. jadi, siapa sebenarnya yang gila??

29-06-2010
Dari : sergio | sergio@yahoo.co.id
location.href="http: //detik.com";

13-06-2010
Dari : latenrilawa | puanglatenrilawa@yahoo.com
Saya jadi ingat masa2 kul s1 di IAIN makassar era 90-an. Di kampus itu ada seorang gila namanya Agus. Agus gila, seingat saya sering masuk perpustakaan, membaca dan mencatat buku yg dibacanya. Agus juga mahir orasi ilmiah di koridor kampus dengan materi politik dan filsafat. Kabarnya, sebelum menjadi gila, Agus sempat kuliah di jurusan filsafat UIN Makassar. Agus adalah fenomena kegilaan yg jamak meskipun unik.Jamak kerana latar belakang gila umumnya kerana histori sosial yg menekan; ada yg dicipta [sistemik], ada yg karena virus. Unik karana dia gila tapi sering masuk perpustakaan dan kala itu kabarnya dia juga sering bolak-balik Up-Jkr.yg saya ingat dia juga sering menyebut nama seseorang; Anas Urbaningrum...

08-10-2009
Dari : A. Tri Abdiawan | triabdee@gmail.com
bedakan antara orang yg punya masalah mental akibat kehidupan dengan yang keterbelakangan mental bawaan lahir.. Gila itu akibat ga bs terima kenyataan, mnyalahkan dirinya n menyatakan bahwa tdk adami yg penting, tdk adami yg bisa bantu.. lain lagi autis, imbibisil, itu kelainan gen yg mmbuat otak tak berfungsi baik.

02-10-2009
Dari : batto | batto09@yahoo.com
Kadang, punya kenangan khusus bagi kami anak Pozter. Terkadang ngajak Kadang ngobrol di lokasi HL, merampas tas yg sering di bawa Kadang dengan harapan mendapatkan surat berharga dalam tas dll. Hingga saat terakhir akan berangkat merantau kami di kejutkan dengan keberadaan Kadang di pelabuhan makassar...dengan senyum sumringah Kadang meminta rokok dari salah satu teman kami hingga akhirnya Kadang di gebukin polisi pelabuhan karena di anggap memalak rekan kami.....mungkin dia adalah soulmate anak Pozter yg memang sebagian sudah agak gila :). Kami rindu dengan ocehan menteri Toraja mu ha..ha..

13-08-2009
Dari : syam sdp terrajana | syamsdp@rocketmail.com
kalau sekaranga saya masih suka bertabik: "senior!," pada setiap orang yang mengalami gangguan jiwa, yang saya jumpai di jalan. bagi saya mereka adalah manusia sejati, yang mewakili serba ketidak sempurnaan kita. mari hormati mereka, kasih rokok dan makanan jika kebetulan ada.alapyupul

10-08-2009
Dari : erul | orang2pelastik_09@yahoo.co.id
gila, sama saja sebenarnya. normal, autis, keterbelakangan mental dll. manusia normal juga melakukan hal yang sama dengan kadar yang lebih parah.

08-08-2009
Dari : MULIYATY ARIEF | guysarief@yahoo.co.id.
saya memiliki cerpen yang berjudul 'jangan gila dong' & pernah diikutkan dalam lomba & belum dipublikasikan (dalam tulisan panyingkul ini salah satunya tentang fenomena karena 'Materi' Gila Harta

08-08-2009
Dari : Muliyaty Arief | guysarief@yahoo.co.id.
Tentang fenomena gila, dapat terjadi pula karena Materi 'Gila Harta' & Foto 'Gila Foto'(gifo)& salah satunya yang dituliskan di Panyingkul 'Gila Cinta (patah hati).

04-08-2009
Dari : udink-dgreen | elo_jie@yahoo.co.id
... innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Telah digendong ke akhirat pelantun lagu "Tak Gendong", Mbah Surip. Selamat jalan mbah ...

03-08-2009
Dari : muhammad yunus rm | myunusrm@gmail.com
....tdk org yang mau menjadi org gila, jadi gila bukan pilihan, tetapi kenapa ada yg gila?...tulisan sdr ivan tlh memberikan kita gambaran tentang siapa yang disbut "gila"...

31-07-2009
Dari : app | palattae09
APA Itu gila?

30-07-2009
Dari : rhandi jie coy | zizzodgreen@yahoo.co.id
banyak mintong,mie orang yang gila sekarang bang.! dari jalanan sampe yang di kantor-kantor...haha haha bang IVAN..

30-07-2009
Dari : erni | erni_aladjai@yahoo.com
Andaikan Mashuri penulis, akan lahir begitu banyak tulisan dan sajak dari patah hati. bravo kak ivan.

24-07-2009
Dari : Muh Nur Taqwim | taqwimyunus@yahoo.co.id
Banyak makna yang dapat terpetik dari tulisan ini. Walau terkesan ringan tetapi penulisnya mengungkapkan hal-hal yang benar-benar bisa membuat kita menjadi was-was ...

23-07-2009
Dari : nina | dindanina@yahoo.com
ada juga satu orang, sering lewat depan rumahku. namanya hayyong. dari Sd sampai sekarang saya kerja, hayyong masih sering lewat depan rumah.

20-07-2009
Dari : vaisjal arifin | vaisjal@gmail.com
GILA,satu kata yang menarik untuk disimak dan ditelaah dikarenakan kata ini masuk dalam semua aspek kehidupan manusia... Pembaca tentu masih ingat berapa kali kata ini masuk dalam setiap ucapan dan aktifitas hidup soo.... GILA (Goresan Indah meLepaskan Anda)

15-07-2009
Dari : odji ismail | mataallo@gmail.com
....lagu "tak gendong kemana2" sebenarnya bisa memberi inspirasi klo orang2 gila itu masih (kadang-kadang) bisa produktif sperti "si" penyanyi itu......

15-07-2009
Dari : Ucok | akhi_alhariri@yahoo.co.id
Tp jgn salah loh.. mreka2 ini tkadang lbih sadar dr kita... prnah sy dan tman mliat orang gila yg mberikan makananx kpd anak kcil yg mnangis klaparn.. trus teman sy blang " liat mi tu orgil eh.. lbih sadar dr qt toh" jujur sy mngambil pljaran dr orang tsebut...

15-07-2009
Dari : Daeng Lalo | muslimin.beta@pewarta-indonesia.com
Pemilu 2009 juga "berhasil" melahirkan para caleg yang stres, gila dan mati sia-sia. Mungkin di Makassar juga ada? Siapa yang mau mendata?

15-07-2009
Dari : arminh | artsuru@gmail.com
@Eka: Ka itu Munir anak Sastra ji juga, anak Pariwisata. Ceritanya dia gila karena pas balik ke Makassar tuk selesaikan kuliahnya, Pariwisata sudah dibubarkan, padahal dia sakit lama di kampungnya. itu yang saya dengar. kalo Kadang, pernah sy dapat di Rantepao, masih na kenali ka, langsung na teriaki ka dan minta rokok.

14-07-2009
Dari : Dirga dg. Erang |
" banyak caleg tak terpilih menghilang entah kemana, mungkin banyak tommi yang gila kapang, kasian! "

14-07-2009
Dari : eka"besse"wulandari | ekabessewulandari@gmil.com
adalagi sekarang yg selalu berkeliaran di kampus, lebih sering di fakultas sastra, karena anak sastra tidak pernah terusik dengan kehadirannya, makanya betah di sana, namanya Munir...astaga..

14-07-2009
Dari : syamsoe | syamsoe@angingmammiri.org
fotonya bagus.. sbenarx orang sperti ini musti lebih di perhatikan dengan baik.. di beberapa ruas jalan di mks sendiri smpe skg msh sering terlihat beberapa diantara mereka yg hidup kian kemari... hmm, yg musti di waspadai itu adalah gila kekuasaan dan harta...

14-07-2009
Dari : M Aan Mansyur | m.aan.mansyur@gmail.com
di album foto saya di Facebook ada foto salah seorang di antara mereka. yang mau lihat silakan klik http://www.facebook. com/album.php?aid=24 8648&id=650845499



 :: CITIZEN REPORTER
Makassar di Panyingkul!: Sebuah Persembahan
(Kamis, 12-07-2007)
Ayo Bergabung di Panyingkul!
(Minggu, 29-04-2007)
Catatan Sederhana Para Citizen Reporter
(Selasa, 31-10-2006)
Tentang Citizen Reporter dan Rubrik di Panyingkul!
(Rabu, 11-10-2006)
Riuh Rendah di Panyingkul!
(Rabu, 16-08-2006)

Untitled Document
 :: DUNIA SEGIEMPAT KAREBOSI






 :: PILKADA




 :: ALBUM PUASA 2008




Untitled Document
 :: KONTAK TIM PANYINGKUL!

Email Redaksi :

redaksi@panyingkul.com

Tim:
yus@panyingkul.com
+62 813 226 80844

Moch. Hasymi
+62 811 955 954


© Juni 2006 - Panyingkul.com All Rights Reserved
Desain Web : Nesia Andriana -- Supported by: Yuhardin