|
|
| . |
| ::
|
| Minggu, 28-06-2009 | Anjungan Pantai Losari dan CPI, Apakah Obsesi Pejabat Semata? :: Winarni ::
| desain Center Point of Indonesia yang megah.. Foto : repro/istimewa.
Mega proyek Center Point of Indonesia (CPI) yang dicanangkan beberapa waktu lalu mengusik kegelisahan citizen reporter Winarni, mahasiswa Unhas yang mendalami studi perencana kota. Ia mengaitkan pembangunan proyek lainnya, Anjungan Pantai Losari dan CPI dengan kebutuhan ruang publik yang adil bagi semua masyarakat dalam uraian berikut ini. (p!)
| Kota Anging Mammiri terus melebarkan pembangunannya. Sebagai sebuah kota yang terletak di tepian pantai, arah pembangunan pun terus menggeliat, tidak hanya ke pantai tetapi telah merambah ke laut.
Degradasi pun menjadi alasan utama diadakannya revitalisasi sekaligus reklamasi. Anjungan Losari adalah sebuah proyek revitalisasi Pemkot Makassar yang mulai dikerjakan sejak tahun 2006 dan kini proyek tersebut mendapat saingan baru, Centre Point Indonesia atau akrab disebut CPI yang menjadi bagian proyek Pemprov Sulsel.
Revitalisasi Losari
Tahun 2006, sebahagian badan pantai losari telah direvitalisasi, hasilnya nampaklah Pelataran Bahari yang menjadi landmark baru kota Makassar. Sebuah keindahan yang disajikan di tepi pantai.
Revitalisasi merupakan suatu upaya menghidupkan kembali suatu kawasan atau bagian kota yang dulunya pernah hidup, akan tetapi kemudian mengalami degradasi. Proses revitalisasi sendiri meliputi perbaikan aspek fisik, aspek ekonomi dan aspek sosial. Suatu pendekatan revitalisasi harusnya mampu mengenali dan memanfaatkan potensi lingkungan baik itu sejarah, makna, keunikan lokasi maupun bagaimana menciptakan suatu citra. Pada pelaksanaan revitalisasi, masyarakat tidak berposisi sebagai objek tetapi terlibat sebagai pelaku. Artinya masyarakat tidak sekedar ikut serta mendukung aspek formalitas tetapi juga terlibat secara partisipatif.
Pada awalnya Pemkot Makassar memprioritaskan revitalisasi pantai losari karena dua alas an, yakni sebagai berikut:
Pertama, kondisi fisik pantai kini dalam keadaan memprihatinkan. Pencemaran lingkungan di sepanjang garis pantai dan ekosistem perairan laut sejak beberapa tahun lalu sampai kini belum teratasi. Kedua, terjadinya perubahan morfologi pantai.
Pencemaran yang paling mudah terlihat mata adalah sampah yang berserakan. Sampah-sampah plastik bekas makanan sering dijumpai di sudut bibir pantai. Di atas permukaan laut pun tak jauh beda, sampah-sampah tersebut tampak pasrah diombang-ambing oleh ombak lautan.
Selain persoalan sampah, pencemaran laut juga menjadi ancaman terhadap pantai losari. Prof. Dr. Winarni Monoarfa dari Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Hasanuddin, yang telah meneliti kondisi laut di Losari, menemukan adanya kandungan logam berat berupa timbal (Pb) dan cadmium (Cd). Kandungan logam berat yang terdapat di bentos, kerang atau ikan akan sangat berbahaya apabila dikonsumsi oleh warga.
Selain itu, ditemukan adanya pencemaran bakteri e-coli yang melebihi ambang batas sehingga bisa mengancam kesehatan manusia. Temuan lain secara fisik, terumbu karang di pantai losari ternyata telah hancur.
Pada dasarnya pencemaran perairan di Pantai Losari disebabkan perubahan fungsi-fungsi ruang kota di kawasan tersebut dari perumahan menjadi kawasan komersil. Berbagai hotel terbangun di sepanjang pantai. Beberapa di antaranya bahkan menghalangi masyarakat menikmati keindahan pantai. Di sepanjang pantai pula, bermuara 14 outlet drainase kota, tujuh di antanya adalah outlet besar, yang memberikan kontribusi terhadap tercemarnya perairan. Jika penggusuran PKL dilakukan untuk menciptakan ruang publik dan mengurangi pencemaran perairan, mengapa hotel tidak ikut digusur atau dipindahkan atau lebih dulu mengelolah drainase perkotaan?
Selain masalah pencemaran, adanya perubahan morfologi pantai akibat abrasi menyebabkan pondasi tanggul di beberapa bagian pantai jebol dan akan membahayakan konstruksi pantai secara keseluruhan.
Anjungan Losari
Pelataran Bahari sebagai salah satu bagian anjungan Pantai Losari sudah mulai dinikmati warga kota Makassar sejak akhir tahun 2006. Meski menghadirkan kontroversi di berbagai kalangan, proyek ini terus dilaksanakan. Kehadiran ruang publik baru itu tidak hanya menghadirkan decak kagum warga kota tetapi juga pujian dari warga kota lainnya. Mereka menikmati keindahan futuristik yang disajikan proyek tersebut seolah melupakan kodrat pantai yang bersifat alami.
Konsep teknis pelaksanaan Anjungan Pantai Losari membutuhkan ruang baru hasil reklamasi seluas 11 Ha, dengan volume timbunan 600.000 m3.
Reklamasi adalah bentuk campur tangan manusia terhadap keseimbangan lingkungan alamiah yang dinamis. Salah satu permasalahan mendasar selain dari aspek teknis, sosial, ekonomis dan yuridis yang selalu menjadi perdebatan ketika berbicara tentang rencana kegiatan reklamasi adalah aspek lingkungan.
Permasalahan lingkungan yang terjadi akibat reklamasi yang kurang terkadang kurang diperhitungkan. Perubahan ekosistem dapat terjadi, seperti penurunan kualitas lingkungan, perubahan pola arus, erosi dan sedimentasi yang akan merusak ekosistem terumbu karang dan ekosistem yang terkait lainnya di sekitar lokasi reklamasi.
Awalnya proyek revitalisasi Losari ini direncanakan akan rampung pada akhir 2008, namun karena adanya pemangkasan anggaran pembangunan Pelataran Toraja-Mandar oleh Departemen Pekerjaan Umum menyebabkan proses revitalisasi ini mengalami kemunduran.
Tahun 2008 lalu, Rp3,1 miliar alokasi anggaran telah disiapkan untuk pembangunan talud, pemasangan geo tekstil, persiapan pembersihan dan penimbunan untuk menyelesaikan penimbunan Pantai Losari. Namun karena adanya keterbatasan alat, penyelesaian proyek ini pun molor.
Proyek revitalisasi tersebut berlanjut di tahun 2009 ini. Pemerintah kota melalui Dinas Pekerjaan Umum Kota Makassar telah menganggarkan Rp7 Miliar untuk penimbunan Pelataran Bugis-Makassar. Secara keseluruhan untuk pembiayaan struktur tiga pelataran para proyek revitalisasi Pantai Losari dianggarkan sebesar Rp. 39,75 miliar.
Proyek anjungan Losari yang belum juga selesai karena terus dirundung masalah kini mendapatkan saingan baru yakni Centre Point Indonesia atau sering disingkat CPI.
CPI yang megah itu
Centre Point (Titik Pusat) merupakan kawasan terpadu yang juga merupakan hasil reklamasi pantai. Proyek ini akan menimbun 150 hektar di kawasan Losari. Di kawasan ini, Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo menyebut akan membangun kawasan bisnis selain rumah ibadah.
Dalam RAPBD 2009 ini, dana berkisar Rp10,6 miliar telah dianggarkan untuk proyek ini dengan perincian, biaya amdal Rp400 juta, pematangan lahan Rp9,57 miliar, pengawasan pembangunan Rp 155 juta, master plan Rp 290 juta, dan studi kelayakan Rp 100 juta.
Di atas lahan tersebut, nantinya akan dibangun 13 titik bangunan monumental di antaranya, masjid, museum, lapangan, pusat pembelanjaan, dan tempat rekreasi.
Menurut arsitek dan Perencana Tata Kota Makassar Danny Pomanto, proyek ini dibangun tepat di titik tengah Indonesia.
"Bukan hanya Indonesia, tapi Centre Point of Indonesia ini juga merupakan pusat atau tengah dari dunia," ujarnya
The Equilbrium merupakan salah satu bangunan yang akan hadir di kawasan ini. The Equilbirum atau titik keseimbangan bermakna sebagai titik yang mengatur komposisi keseimbangan dan sebagai titik strategis Indonesia.
Dari sosialisasi mengenai pelaksanaan proyek CPI diperoleh informasi bahwa The Equilbrium didirikan di Makassar karena beberapa alasan. Alasan tersebut seperti yang dimuat salah satu harian di Makassar, yakni pertama, karena Makassar merupakan titik awal pemberontakan kepada VOC dalam perjuangan Indonesia yakni pada zaman kepemimpinan Sultan Hasanuddin. Kedua karena Makassar merupakan tempat perjuangan Syech Yusuf sebagai pahlawan Indonesia yang sangat berpengaruh di dunia. Ketiga karena Makassar merupakan titik asal pejuang-pejuang kemerdekaan Indonesia. Keempat karena Makassar adalah salah satu kota yang tetap berdiri saat krisis moneter sebagai penghasil udang dan kakao. Kelima karena Makassar merupakan salah satu gelombang awal terciptanya “Reformasi” yang ditandai dengan insiden di Universitas Muslim Indonesia. Dan terakhir karena Makassar adalah pusat distribusi pangan Indonesia pada saat negara ini kekurangan pangan. Entahlah apakah alasan tersebut dapat diterima demi pembangunan proyek ini atau alasan yang dibuat untuk semata mendukung CPI saja.
Sedangkan tujuan dari The Equilbibrum ini disebutkan agar dapat ikut membangun peradaban Indonesia, mewujudkan Makassar sebagai pusat peradaban Nusantara, menjadi pemicu kebangkitan “Indonesia baru”, mewujudkan pusat edukasi sejarah nusantara bagi generasi sekarang dan akan datang, mengembalikan Makassar sebagai “kota dunia”,, mengembangkan kawasan kota baru berstandar global, mewujudkan kota hijau terbaik di Indonesia.
"Kami akan mengganti Pantai Losari yang dulu menjadi kebanggaan masyarakat Sulsel yang saat ini kondisinya sudah tidak layak lagi sebagai tempat istirahat sambil menunggu matahari terbenam dengan mencicipi makanan khas daerah ini seperti pisang epe dan lainnya," kata Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo.
Di kala anjungan Pantai Losari terus dirundung masalah, CPI pun hadir menjadi saingan. Apalagi dilihat dari master plan yang ada, kawasan terpadu CPI ini terletak di hadapan anjungan Pantai Losari yang ada sekarang. Bukankah ini berarti, kehadiran CPI akan memudarkan eksistensi anjungan tersebut? Mengapa anggaran untuk CPI tidak diberikan saja kepada Anjungan Losari?
Ah… Tiba-tiba saya berprasangka, jangan-jangan ini usaha revitalisasi, reklamasi dan “penciptaan ruang publik” di sekitar Pantai Losari ini hanyalah sebuah obsesi seorang pejabat? Hanya sebuah ambisi? Sebagai “tonggak pencapaian” pada masa kepemimpinannya? Bukannya sebagai usaha untuk membangun sebuah kawasan yang betul- betul berguna bagi seluruh warga. Entahlah. (p!)
*Citizen reporter Winarni dapat dihubungi melalui email winarni@panyingkul.com
|
| | Jumlah
Komentar (23) |
|
| Komentar :
11-07-2009 Dari : lulut | Bung Iruang, menurut
sy tetap lebih cocok
dg kata "MAKSA",
karena sy tidak
melihat ada
relevansi/hubungan
antara Fakta [yg di
Mark Up menurut
bung] dengan
pendirian CPI itu.
Tapi terlepas itu
dimarkup atau tidak,
menurut saya tidak
ada RELEVANSI antara
pembangunan CPI
dengan alasannya.
Saya malah curiga
para pencetus Ide
sengaja menampilkan
"Fakta-Fakta heroik"
supaya warga
Makassar terlena
dengan pujian
"kehebatan" masa
lalu Makassar.
Secara psikologis,
bisa jadi warga
Makassar akan merasa
'canggung' untuk
membantah kehebatan
historisnya sendiri,
lalu Psikologi tidak
membantah ini
ditunggangi oleh
proyek itu. dan pada
gilirannya, orang
yang tidak sepakat
dg proyek itu akan
dicap [oleh yg pro
proyek] sebagai
pihak yang tidak
sepakat dan tidak
bangga dg klaim
'kehebatan historis'
makassar. Tabe 09-07-2009 Dari : Daeng Lalo | muslimin.beta@pewarta-indonesia.com Saya pernah dengar
dugaan dari seorang
cendekiawan (tak
usah saya sebut
namanya) bahwa
proyek CPI ini
adalah proyek balas
jasa Syahrul kepada
para penyumbangnya
pada saat pencalonan
Syahrul sebagai
gubernur. Nah, tugas
anda para aktifis
(utamanya aktifis
Anti-Korupsi) untuk
membuktikan
itu.Langkah pertama,
petakan siapa saja
pendukung Syahrul
dari kalangan
pengusaha; langkah
kedua, apakah para
pendukung/pengusaha
itu dapat bagian
dari proyek CPI yang
super megah itu 06-07-2009 Dari : iruang | bung Lulut, biar
lebih tajam,
bagaimana jika
istilah 'maksa' yang
anda sodorkan itu,
kita ganti dengan
'MARK-UP'? ...
sejumlah alasan
pendirian CPI/The
Equilibrium itu,
berdasar juga pada
sejumlah fakta.
misalnya tentang
Makassar sebagai
pusat distribusi
pangan Indonesia
pada saat indonesia
kekurangan pangan,
Makassar sebagai
salah satu kota yang
tetap berdiri saat
krisis moneter satu
dekade silam, atau
Makassar yang
melawan monopoli VOC
(bukan memberontak,
karena Makassar
tidak pernah
dikuasai VOC
sebelumnya, dan
terjadi bahkan
sebelum Sultan
Hasanuddin
memerintah),
misalnya ... semua
ini memang ada
faktanya juga, tapi
yang bermasalah
adalah "nilainya"
yang terlalu
dibesar-besarkan:
di-mark-up...
ditakar dengan alat
ukur yang perlu
dikalibrasi ulang
... kita juga bisa
curiga bahwa
jangan-jangan korban
40.000 jiwa sul-sel
itu juga mark-up.
memang ada korban
yang dieksekusi dan
jumlahnya bisa jadi
tak sedikit, tapi
masa' sebesar itu?
memangnya sulsel
waktu itu isinya
ayam lumpuh semua
apa, sehingga begitu
gampang dibantai?
Korban memang jatuh,
tapi alangkah
baiknya jika kita
bisa akurat dengan
angka, dan tak
bertahan dengan
"jumlah mitologis"
... selain
perombakan kota,
kita juga perlu
sejenis 'perombakan
jiwa' seperti yang
disiratkan bung Ipul
dan Bung Hady, agar
terjadi pertumbuhan
yang seimbang ....
03-07-2009 Dari : lulut | lulut.joni@gmail.com Tulisan yang sangat
menarik...
Komentar-komentarnya
pun tak kalah
menarik.
Saya tidak tinggal
di Makassar, tapi
pernah berkunjung ke
Makassar pertengahan
Agustus tahun 2008
lalu. Waktu itu saya
diajak jalan-jalan
ke Pantai Losari.
ketika sampai di
'pantai' Losari,
JUJUR,
komentar[pertanyaan]
pertama yang muncul
adalah: "Mana
pantai-nya?" Karena
yang terlihat
pertama kali adalah
bantaran beton di
hampir sepanjang
garis pantai. Dalam
bayangan saya, yang
namanya pantai itu
tediri dari SEA, SUN
and SAND. Saya tidak
melihat Pasir atau
tanah liat dibibir
dipantai Losari,
yang ada malah
hamparan beton.
Terkait pembangunan
CPI, alasan
didirikannya CPI di
Makkasar sungguh
mengada-ada dan
dibuat-buat.
Terkesan sangat
'dipaksakan'. contoh
alasan nomor 5:
karena Makassar
merupakan salah satu
gelombang awal
terciptanya
“Reformasi” yang
ditandai dengan
insiden di
Universitas Muslim
Indonesia. Begh..!!!
apa relevansinya??
Alasan yang lain pun
tak kalah
'maksa'...
Mungkin para pembuat
kebijakan di
Makassar kepincut
dengan pembangunan
DUBAI PALM Island,
sebuah pulau buatan
dipinggir laut.
Pulau yang didirikan
akibat ambisi para
saikh untuk
mendirikan "land
mark" yang wah tanpa
peduli pada
sodara2nya para
tetangga negara
Islam [palestina
misalna] yg
sebenarnya lebih
membutuhkan bantuan.
Kayaknya pembuat
kebijakan di
makassar lebih
mementingkan
'pemandangan' serba
wah yg bs terlihat
ketika seseorang
terbang diatas Kota
Makassar, tanpa
peduli pada
kehidupan yang ada
dibawahnya.
03-07-2009 Dari : Ipul | ipul.ji@gmail.com Bung Iruang..yup sy
setuju dengan
pendapatta tentang
pertumbuhan
mekanis/non mekanis.
cuma masalahnya,
Makassar (menurut
saya) tidak tumbuh
secara bersamaan dan
saling kait mengait.
banyak bangunan2
modern yang secara
kasat mata membuat
Makassar jadi lebih
modern (anjungan
Losari, Karebosi
Link, KFC, dll.dsb)
tapi di bawah juga
masih banyak hal-hal
mendasar yang tidak
"tumbuh". artinya
sesuatu yang paling
lekat dengan
masyarakat jadi
terabaikan. saya
sebagai pengguna
jalan betul2
merasakan betapa
jalanan Makassar
makin lama makin
tidak beradab. saya
takut Makassar
tumbuh seperti
Jakarta yang sangat
ruwet dan sekarang
susah diurai
kekusutannya.
mudah2an Makassar
tidak seperti itu
nantinya.. 02-07-2009 Dari : iruang | bung ipul, kita
memang cenderung
melihat melihat
sesuatu
tumbuh/berkembang
secara
serial-mekanis,
dimulai dari tahapan
dasar dulu lalu
berkembang ke
tahapan yang lebih
lanjut: dari a, ke
b, ke c, dst. tapi
selain pertumbuhan
serial-mekanis ini,
ada juga pertumbuhan
paralel, seperti
bayi misalnya. bayi
kan tidak tumbuh
mulai dari kepalanya
dulu misalnya.
setelah kepalanya
sempurna, baru
tumbuh tangannya;
setelah tangannya
sempurna, baru
tumbuh kakinya.
semua unsur ini kan
berkembang
serempak...
barangkali, sebuah
kota, sebuah bangsa,
bisa juga dilihat
sebagai satuan
organik seperti itu.
atau lebih tepatnya
lagi, selain hal-hal
yang memang harus
dikembangkan secara
serial yang mengenal
prioritas, kita juga
perlu mengenali
hal-hal yang
berkembang secara
paralel itu. dalam
sistem besar, yang
serial dan yang
paralel selalu hadir
berdampingan, kait
mengait.... 01-07-2009 Dari : Ipul | ipul.ji@gmail.com Saya juga ingin
memberi tanggapan.
menurut saya,
mungkin sebaiknya
pemerintah kota
Makassar memulai
dengan sebuah
langkah yang
mendasar, alih-alih
sebuah rencana
fenomenal yang
menelan dana besar.
tata ruang kota kita
masih belum beres
betul. drainase,
jalan raya,
perletakan bangunan,
dsb. drainase kita
masih berantakan,
jalan raya kita
makin padat dengan
tingkat populasi
kendaraan yang terus
meningkat tajam. ini
belum lagi
diperparah dengan
sarana transportasi
publik yang tidak
memadai. kota kita
juga kehilangan ciri
khas. terlalu banyak
bangunan atau
landmark modern yang
belum semuanya
serasi dengan budaya
asli kita sebagai
orang Sul-Sel. jadi
menurut hemat saya
pemerintah kota
sebaiknya mulai
dululah dengan
perbaikan2 mendasar
yang untungnya lebih
terasa ketimbang
sebuah konsep
futuristik yang
masih belum terlalu
dibutuhkan. saya
kira banyak juga
pejabat kota yang
dikenang lama karena
kemampuannya
memenuhi hak dasar
warganya, bukan
hanya
pejabat-pejabat yang
membangun
bangunan-bangunan
monumental saja.
lagipula, saya baru
tahu kalo pak Dani
Pomanto sudah jadi
ahli tata
kota...soalnya
selama ini saya cuma
tahu beliau seorang
arsitek yang memang
pandai menjual
sesuatu yang canggih
dan futuristik. 01-07-2009 Dari : iruang | bung hady, canggih
mana antara
megaproyek apl/cpi
itu dengan bandara
baru makassar?
bandara baru itu
tentu belum
sempurna, dan banyak
kritik yang bisa
diajukan (seperti
yang pernah ditulis
oleh warga P!
sendiri). tapi,
terlepas dari
berbagai kritik yang
ada, bandara itu
ternyata bisa
dikerjakan dan
menjadi bandara yang
relatif termasuk
paling baik di
indonesia di luar
cengkareng
(cengkareng juga
bisa dikritik),
paling tidak untuk
saat ini... bung,
tentu saja anda
bedalah dengan van
mook dan berbagai
kolonial itu. saya
sama sekali tidak
menyamakan. saya
hanya merasa,
terlalu pagi kita
untuk menolak sebuah
proyek hanya karena
"sejumlah kegagalan"
yang pernah ada,
lalu menutup total
kemungkinan bahwa
orang (termasuk
gubernur dkk) tidak
akan sanggup
memperbaiki diri,
tidak akan mungkin
bisa belajar... 01-07-2009 Dari : nurhady | Bung Iruang, saya,
yang bicara ini
adalah warga
Makassar, bukan
pemerintahan jajahan
bicara soal pribumi
yang mau merdeka.
dan saya bicara
berdasarkan bukti
yang saya punyai dan
saya rasakan
sendiri. saya ikut
merasakan kesalahan
"pembangunan" karena
ketidakmampuan
mereka mengelola
dana. saya berada di
pihak yang
dirugikan, sebagai
warga yang punya hak
bicara. dan saya
bicara dalam
kerangka mengkritik
rencana pemerintah
membuat megaproyek
yang menurut saya
terlalu canggih buat
mereka, karena
banyak pekerjaan
yang lebih elementer
tidak mampu mereka
bereskan dengan
baik. mengkritik
prioritas mereka
terhadap megaproyek
yang menurut saya
nilai pentingnya,
jauh di bawah
pentingnya
proyek-proyek untuk
kemaslahatan rakyat
yang sudah
benar-benar
termiskinkan. jadi
posisi saya dan
pemerintah kolonial
jauh beda. kaum
kolonial
mengutarakannya
sebagai dalih untuk
tetap menjajah, saya
menyatakannya
sebagai ungkapan
kritik kepada
pemerintah yang
ignorant terhadap
keadaan rakyatnya.
itikad mereka adalah
untuk tetap
berkuasa, sedangkan
saya untuk
mengoreksi pihak
yang berkuasa 01-07-2009 Dari : iruang | "Makassar merupakan
titik awal
pemberontakan kepada
VOC"? benarkah? ini
salah satu dasar
pendirian CPI/the
Equilibrium....
tidak apa2 kita
bikin alasan yang
imajinatif untuk
sebuah usaha
besar/megaproyek,
tapi jangan
keterlaluan seperti
inilah... katanya
the equilibrium
antara lain akan
jadi pusat edukasi
sejarah nusantara,
tapi penyataan bahwa
makassar yang
memulai
pemberontakan
terhadap voc jelas
menunjukkan
pengetahuan sejarah
yang luar biasa
buruk.... 01-07-2009 Dari : iruang | bung hady,
pernyataan anda
bahwa "mereka belum
punya cukup banyak
kemampuan untuk
mengelola dana" ada
benarnya juga,
walaupun agak bikin
merah telinga.
argumen ini mirip
dengan pernyataan
kaum kolonial yang
ingin terus menjajah
-- bangsa2 jajahan
itu, kaum pribumi
itu, belum punya
cukup banyak
kemampuan untuk
mengelola dana dan
negeri mereka
sendiri ... saya
tidak katakan bahwa
bung syahrul dkk
otomatis sanggup
mengerjakan proyek
ini, atau
sebaliknya, pasti
tidak akan
sanggup... 01-07-2009 Dari : iruang | lambang tukang
kleim... 01-07-2009 Dari : iruang | artikel ini menyebut
agak rinci anggaran
megaproyek CPI itu,
meskipun memang tak
menyebut summber
anggaran tersebut.
yang jelas, menurut
rapd, anggaran
center point ini
10,6 milyar (apakah
dana ini sudah
memenuhi seluruh
biaya? 10 milyar itu
rasanya bukan dana
untuk
megaproyek)....
buat saya, yang
menarik dari artikel
itu adalah
pertanyaan mengapa
(jika ini memang
proyek pemda) dana
yang ada tidak
dipakai untuk
membereskan proyek
yang sudah ada
sebelumnya (anjungan
pantai losari).
tidakkah akan lebih
baik jika proyek APL
itu dibereskan dulu?
saua sendiri ada
masalah sedikit
dengan alasan
pendirin CPI itu.
salah satu alasannya
bahwa titik itu
adalah pusat dunia.
ah, yang betul?
ngawur si arsitek
ini. di planet yang
bulat seperti bola
ini, semua titik
adalah pusat
(sekaligus pinggir).
alasan ini
mengada-ada. begitu
juga alasan pusat
indonesia. dari mana
ngukurnya?...
rasanya banyak yang
menggelikan pada
deretan alasan yang
diajukan itu...
ketimbang jadi
kebanggaan,
"deretan" alasan itu
malah bisa jadi
lambang
kedunguan.... 01-07-2009 Dari : nurhady | Yang saya mau bilang
pada data-data itu
adalah ada fakta
korupsi, ada fakta
devisit anggaran,
dan di berita lain
ada fakta soal
inefisiensi
anggaran, salah
sasaran, serta belum
lagi cacat-cacat
human resource dan
institusional lain
yang mengganggu.
yang memberitahu
kepada kita bahwa
mereka belum punya
cukup banyak
kemampuan untuk
mengelola dana. nah,
umpama kita
mengharap mereka
untuk mengurus
megaproyek itu
"dengan benar dan
terbuka" rasanya
agak berat. proyek2
lain juga sudah
mengatakan itu.
kasus Abdul HAdi
jamal, dan sejumlah
orang sulsel lain
yang terjerat
korupsi sangat
banyak. Syahrul pun
seperti itu, dia
punya banyak kasus
yang tidak usah kita
deret di sini, salah
satunya pembangunan
Dam Bili-Bili yang
banyak mengorbankan
petani di Gowa,
bahkan setelah dam
itu selesai.
mereka sulit juga
diharapkan untuk
melakukan hal yang
canggih seperti
"mengelola
pemasukan" yang
baik. Dan berapa sih
pemasukan kita? coba
kita lihat kutipan
ini:
"Makassar (ANTARA
News) - Anggaran
pembangunan,
pemeliharaan jalan
dan jembatan di
Sulawesi Selatan
mencapai Rp789,9
miliar lebih terdiri
atas dana APBN
Rp574,5 miliar,
Loan/pinjaman luar
negeri Rp62,7 miliar
dan APBD Sulsel
tahun 2008 Rp160,6
miliar lebih."
Jadi untuk bangun
jalan saja dana apbd
cuma 160,6 M dari
789,9 M. Pada Proyek
yang jelas2 bisa
meningkatkan
pendapatan deerah
saja, kontribusi
Apbd sangat kecil.
belum lagi bila kita
menghitung
transaction cost
yang tinggi.
Nah, itu belum lagi
untuk membiayai
pelayanan dasar
seperti kesehatan
dan pendidikan.
We simply don't have
money, expertese,
and good management,
to expend our little
monies on that big
porject. not just
yet 01-07-2009 Dari : iruang | data dari bung hady
ini cukup menarik,
tapi belum berkait
langsung dengan
megaproyek losari
itu. korupsi yang
diberitakan itu,
dilakukan oleh
sejumlah wakil
rakyat (anggota
DPRD), dan bukan
oleh pejabat yang
disorot oleh si
artikel. tentang
defisit anggaran
itu, pemecahannya
tentu adalah
pengelolaan
pemasukan yang lebih
baik. bisa juga
dengan mengetatkan
belanja, yang bisa
berakibat pada
penurunan anggaran
beberapa sektor,
termasuk pendidikan,
perumahan dan
kesehatan... tentu
ini bukan jalan
keluar yang
dianjurkan.
peningkatan
pendapatan provinsi
itu yang harus
digenjot memang...
jangan2, si gubernur
dan para
pendukungnya akan
berkata bahwa selain
soal "kebanggaan"
dan sekian hal tak
kasat mata, yang
bisa dicapai lewat
megaproyek losari
itu juga adalah
peningkatan
pendapatan
provinsi... tentu
asal diurus dengan
benar dan terbuka... 01-07-2009 Dari : nurhady | Dugaan Korupsi APBD
Sulsel Membengkak
Jadi Rp 59,67
Miliar
Gunawan Mashar -
detikNews
Makassar - Jika
sebelumnya, dugaan
korupsi DPRD Sulsel
hanya berkisar Rp
18,23 miliar, kini
jumlahnya membengkak
menjadi Rp 59,67
miliar. Dugaan
korupsi ini akan
dilaporkan ke KPK
(Komisi
Pemberantasan Tindak
Pidana Korupsi).
Penghitungan ini
dibuat oleh Bastian
Lubis, akuntan dari
Sekolah Tinggi
Ekonomi (Stie)
Patria Artha, yang
pertama kali
menyingkap kasus
ini. Bastian
mengungkap jumlah
terbaru dugaan
korupsi ini pada
Selasa (31/8/2004)
di Makassar.
Besarnya jumlah
korupsi DPRD Sulsel,
berasal dari
banyakya
penyimpangan yang
dilakukan dari mulai
Anggaran Pendapatan
Belanja Daerah
(APBD) 2001, APBD
2002, APBD 2003, dan
APBD 2004.
Masing-masing
besarnya
penyimpangan di tiap
APBD antara lain,
APBD 2001 sekitar Rp
9,51 miliar, APBD
2002 sekitar Rp
12,52 miliar, APBD
2003 sekitar Rp
22,75 miliar, dan
APBD 2004 sekitar Rp
14,84 miliar.
Menurut Bastian,
penyimpangan APBD
yang dilakukan oleh
anggota DPRD Sulsel
selama ini selalu
ditutup-tutupi.
Padahal, banyak
anggaran yang
seharusnya tidak
boleh dianggarkan.
Bastian menjelaskan,
contoh kecil
penyalahgunaan itu
antara lain
banyaknya anggaran
insentif yang
diberikan kepada
anggota dewan.
Seperti misalnya,
dana insentif
pengawasan dan
monitoring
pertanggungjawaban
Perda, yang
dibagikan kepada 75
anggota dewan. Tiap
orang mendapat Rp 25
juta. "Padahal dalam
PP 110 ini tidak
boleh dianggarkan.
Karena sudah
dianggarkan
sebelumnya," ucap
Bastian. Rencananya,
Bastian dan sejumlah
LSM di Makassar
seperti Anti
Corruption Committee
(ACC) dan Komite
Pemantau Legislatif
(Kopel) Rabu besok
(1/9/2004) akan
berangkat ke Jakarta
untuk melaporkan
dugaan korupsi DPRD
Sulsel ini ke Komisi
Pemberantasan
Korupsi (KPK).
(asy/) 01-07-2009 Dari : nurhady |
Selasa, 03-02-2009
APBD Makassar
Defisit Rp 104 M
MAKASSAR, BKM --
Anggaran Pendapatan
Belanja Daerah
(RAPBD) Kota
Makassar 2009 yang
disahkan DPRD Kota
Makassar, Senin
(2/2) mengalami
defisit hingga Rp
104,8 miliar.
Dimana, jumlah
pendapatan lebih
kecil dibandingkan
total belanja.
Berdasarkan APBD
2009, jumlah
pendapatan daerah
Kota Makassar
sebanyak Rp 1,118
triliun, sedangkan
jumlah belanja yang
terdiri dari
berbagai item cukup
tinggi mencapai Rp
1,223 triliun.
Rinciannya, jumlah
belanja langsung
sekitar Rp 505,80
miliar dan belanja
tidak langsung atau
untuk aparatur dan
pejabat mencapai Rp
671,57 miliar.
Padahal, saat
pembahasan di DPRD,
anggaran beberapa
Satuan Kerja
Perangkat Daerah
(SKPD) telah
dirasionalisasi
panitia anggaran
(Panggar)
berkali-kali.
Termasuk biaya
perjalanan dinas dan
operasional
kendaraan dinas yang
disesuaikan dengan
penurunan harga
bahan bakar.
Tingginya belanja
langsung dan tak
langsung ini menjadi
catatan tersendiri
bagi sejumlah fraksi
di DPRD. Dalam rapat
paripurna penetapan
APBD 2009 di DPRD
Makassar, kemarin
beberapa fraksi
tetap memberikan
catatan atas
beberapa SKPD.
Juru Bicara Fraksi
PAN, HM Busrah
Abdullh dalam
pandangan akhirnya
mengatakan, Dinas
Pariwisata dan
Kebudayaan telah
gagal melaksanakan
tugas. Menurutnya,
pendapatan Disbudpar
Rp 644 juta sangat
tidak berimbang
dengan jumlah
belanjanya yang
cukup fantastis,
yakni Rp 6 miliar.
"Kadisbudpar punya
catatan buruk, dia
tak pantas lagi
menjabat, dan harus
dicopot dari jabatan
Kadis. Dia gagal
melaksanakan tugas,
defisitnya terlalu
besar. Pulau
Kayangan tidak bisa
dikelola, sehingga
tak pernah memberi
kontribusi kepada
daerah. Begitupula
pajak tempat
hiburan. Ada yang
sudah 10 tahun
menunggak pajak,
tapi tidak ada
ketegasan
Kadisbudpar," kritik
Busrah. 01-07-2009 Dari : nurhady | sebelumnya saya
minta maaf karena
teledor tidak
mengatakan dari awal
bahwa saya memang
mau menggeser
pembicaraan ini ke
soal uang, soal
ekonomi politik,
yang terlalu sering
dilupakan dalam
banyak perbincangan
soal ini. biar lebih
lengkap aja gitu lho 01-07-2009 Dari : nurhady | Ok bung Iruang, saya
cari datanya dulu
yah, mohon sabar
yah. atau barangkali
ada yang lain bisa
menyumbang data?
yang dibutuhkan? 01-07-2009 Dari : iruang | ewa001@gmail.com bung hady, kalau
soal prioritas dana,
diskusi kita sudah
bergeser dari apa
yang diajukan oleh
tulisan ini. artikel
di atas mencurigai
obsesi/ambisi si
pejabat. ini yang
saya diskusikan.
soal prioritas dana,
tentu saya setuju
dengan bung. perlu
kita periksa lebih
teliti di sini:
apakah pembangunan
taman megah ini
otomatis akan
"merusak"
pembangunan untuk
kebutuhan dasar
warga seperti
kesehatan,
pendidikan, dll, dsb
itu. jangan2
keduanya bisa
berjalan. setidaknya
bisa dibuat sejalan.
jika kita punya
bahan/data yang
jelas soal anggaran
ini, baru kita bisa
berdiskusi dengan
baik. jika tidak
punya, diskusi kita
tak akan banyak
manfaatnya.... 01-07-2009 Dari : iruang | ewa001@gmail.com sekedar tambahan:
kelengkapan dasar
sebuah kota tentu
saja bukan hanya
taman yang megah.
ada banyak yang lain
lagi, termasuk pusat
kesenian dan lembaga
bantuan hukum untuk
warga, dll, dsb.
pokoknya, belajar
dari ali sadikin
lah. juga dari dg
patompo, tentu ... 01-07-2009 Dari : nurhady | nurhadys@gmail,com Bung Iruang,
persoalan saya
adalah, prioritas
uang yang akan
digunakan untuk
proyek itu. bagi
saya lebih bagus
uang itu dipakek
untuk hal-hal yang
lebih berguna,
seperti menyantuni
orang miskin,
memperbaiki sarana
kesehatan dan
sanitasi yang buruk
di banyak tempat,
dan membantu
memudahkan orang
miskin mengakses
pendidikan. saya
lebih bangga kalau
Sulsel berhasil
melakukan semua di
atas ketimbang cuma
membangun bangunan
untuk pesiar
pejabat! tak penting
buat rakyat miskin.
kau tentu tidak mau
daerah ini menjadi
pensuplai orang
miskin, orang busung
lapar, orang kurang
gizi, orang tak
berpendidikan,
sehingga kita
semakin mudah dicap
pabbambangang na
tolo, mahsiswanya
suka berkelahi,
orang miskinnya mati
kelaparan, angka
buta hurufnya
bertahan di atas
rata2 nasional, dan
tingkat kurang gizi
berada di peringkat
yahud. untuk apa ada
bangunan megah itu,
kalo kita sengsara.
saya teringat firaun
yang membangun
berhala2 dan
menindas rakyatnya! 01-07-2009 Dari : iruang | ewa001@gmail.com terima kasih gang.
saya kira, tak apa
kalau proyek
revitalisasi,
reklamasi dan
“penciptaan ruang
publik” di sekitar
Pantai Losari ini
berangkat dari
obsesi ambisius
seorang pejabat,
asalkan dikerjakan
dengan betul.
kalau proyek seperti
ini, belum apa2
sudah dicurigai,
yang enak adalah
pejabat yang memilih
untuk tidak
melakukan apa2.
ali sadikin juga
dulu ambisius dan
terobsesi menjadikan
jakarta ibu kota
yang baik dan
bermartabat. ia
punya banyak
pengecam. tapi ia
bekerja dengan
subgguh2. hasilnya
adalah ibu kota yang
orang bisa bangga
dengannya.
tak pernah lagi
jakarta menjadi
begitu membanggakan
sejak ditinggalkan
oleh ali sadikin... |
|
|
|
|
| ::
CITIZEN REPORTER |
 | (Kamis, 12-07-2007) |  | (Minggu, 29-04-2007) |  | (Selasa, 31-10-2006) |  | (Rabu, 11-10-2006) |  | (Rabu, 16-08-2006) | |
|
Untitled Document
| ::
DUNIA SEGIEMPAT KAREBOSI |
|
Untitled Document
| ::
KONTAK TIM PANYINGKUL! |
Email Redaksi :
redaksi@panyingkul.com
Tim:
yus@panyingkul.com
+62 813 226 80844
Moch. Hasymi
+62 811 955 954
|
|
|