Untitled Document
 


Untitled Document
.KITAKITA
:: Jika Anda di Panyingkul ::
 
 KABAR KITA
 
 BERANDAKITA
Kegilaan, Dari Cinta Mati di Pulau Rajuni Hingga Riwayat Kadang
:: Ivan Firdaus ::
Baba Guru, Mengenang Film Rhoma Irama di Klenteng Galesong
:: Kamaruddin Azis ::
Mengagumi Tenun Troso, Mengenang Tenun Sengkang
:: Suryadin Laoddang ::
Perempuan Besi di Gunung Perak (2-selesai)
:: M. Aan Mansyur ::
Perempuan Besi di Gunung Perak (1)
:: M. Aan Mansyur ::
 
 RISETKITA
Rasa Takut : Yang Dicitrakan, Yang Dipelihara
:: Aria W. Yudhistira ::
Risetkita: Pramoedya versus Sejarah Resmi
:: Nurhady Sirimorok ::
Hikayat Rumpon Nelayan Mandar
:: Muhammad Ridwan Alimuddin ::
Di Makassar Pernah Ada “Negeri Wajo”
:: Nurhady Sirimorok ::
Surat Itu Ditulis Upas kepada September
:: Nurhady Sirimorok ::
 
 BUKUKITA
 
 KATAKOTAKITA
Kenapa si Gondrong yang Maju?
:: Ivan Firdaus dan Mustamin al-Mandary ::
Karena ‘Rewa’ Badan Binasa
:: Sudirman Nasir ::
Yang Okkot, yang Salah Sambung
:: Nursamsu danTusiana Noor Alfisyahr ::
Kandala`ka`, Kusta Bila Dusta
:: Panyingkul ::
Ayo, Si(ng)kat Terussss..!
:: Panyingkul! ::

 
 TAHUKAHKITA
 

.
 ::
Senin, 02-02-2009 
Risalah Hujan Seorang Mahasiswi Perencana Kota
:: Winarni ::


Dua anak bersampan di tepi Sungai Tallo
saat sungai itu meluap ketika banjir melanda Makassar 2007.
Foto : Harianto Sirajuddin



Citizen reporter Winarni yang mendalami masalah perencana kota di Unhas, memandangi hujan yang mengguyur Makassar sambil menyusun sebuah risalah tentang hujan dan berbagai hal penting seputarnya. Rinai dari langit itu memang indah dipandang, tapi banjir, jalan berlubang dan drainase yang meluap, membuat lebih banyak warga cemas.
 


Aku selalu bahagia
Saat hujan turun
Karena aku dapat mengenangmu
Untukku sendiri
Aku bisa tersenyum
Sepanjang hari
Karena hujan pernah
Menahanmu disini
Untukku…


Lagu milik Utopia itu mengalun ditemani resonansi dawai gitar, bersaing dengan rinai hujan yang begitu ramai di luar sana. Musim hujan membuat lagu ini kembali tenar. Harmoni lirik dan musiknya terasa begitu familiar di telinga. Siapa saja menyanyikannya atau memperdengarkannya. Namun ada hal yang membuat saya bertanya-tanya di tengah riuh rendah orang menyanyikan lagu ini, apakah betul kita bahagia saat hujan turun? Bukankah kebahagian saat mendengarkan dan merasakan hujan turun hanya kata-kata puitis seorang penyair dan pencipta lagu?
Kali ini saya membagi beberapa catatan seputar kondisi jalan, pengguna jalan dan inisiatif warga di musim hujan.

Banjir
Beberapa hari terakhir, hujan terus bernyanyi dan rasanya tak ingin berhenti. Seakan lumrah dan tak bisa dihindari, banjir pun terjadi di beberapa titik. Seperti halnya kota-kota besar di Indonesia, Kota Makassar juga telah lama menjadi langganan banjir jika musim hujan telah tiba. Banjir seperti lagu lama yang setiap tahun berulang. Namun permasalahan ini belum juga terselesaikan, bahkan cenderung meningkat, baik frekuensi, luasannya, kedalamannya maupun durasinya.

Banjir adalah peristiwa terbenamnya daratan (yang biasanya kering) karena volume air yang meningkat. Banjir dapat terjadi karena peluapan air yang berlebihan di suatu tempat akibat hujan besar, peluapan air sungai, atau pecahnya bendungan. Banjir berdasarkan jenisnya di bagi tiga. Pertama banjir yang terjadi akibat sungai tidak mampu lagi menampung aliran air yang ada akibat debit airnya sudah melebihi kapasitas. Kedua banjir lokal, yakni banjir yang terjadi akibat air yang berlebihan di tempat tersebut oleh karena kondisi tanah yang sulit melakukan penyerapan air. Dan ketiga banjir akibat pasang surut air laut.

Hujan yang mengguyur beberapa hari terakhir menyebabkan banjir di beberapa titik. Pemukiman yang tergenang air antara lain Antang, Pampang, Rappocini, Bumi Permata Hijau, Hartaco, Minasa Upa, Malengkeri, Sungai Saddang, Jalan Monginsidi, daerah Pecinan, seperti Jalan Sulawesi, Nusantara, Irian, Sangir dan Lombok.
Hal yang sama juga dialami warga di Kelurahan Bontoduri, Kecamatan Tamalate, Makassar. Hujan deras telah merendam pemukiman warga di sana, sehingga harus mengungsi. Banjir juga terjadi di Jl AP Pettarani seperti di depan Ramayana Department Store, yang menyebabkan kemacetan.

Jalan di depan rumah jabatan Wakil Gubernur Sulsel (Jl Yusuf Dg Ngawing) juga banjir hingga setinggi lutut orang dewasa. Banjir juga terjadi di Kompleks Perumahan Faizal, Daya dan beberapa lokasi lainnya.

Berdasarkan hasil pemetaan Jurnal Celebes bersama dengan stakeholder di kota ini, Kelurahan Lette di Kecamatan Mariso, dan Kelurahan Tamalanrea Jaya di Kecamatan Tamalanrea dinyatakan sebagai lokasi rawan bencana banjir

Menurut pemetaan itukedua lokasi tersebut jadi langganan banjir selain karena topografi tanah dan posisinya dari permukaan laut yang relatif rendah, juga karena kurang berfungsinya saluran air tersier dan sekunder dengan baik.

Sekaitan dengan hal tersebut, pemerintah bersama stakeholder di lapangan hendaknya memiliki taksiran (assessment) dan distribusi informasi penanganan bencana untuk mencegah jatuhnya korban.

Hujan yang terus bernyanyi di luar sana, semakin membuat saya resah. Mungkin sebagian dari kita, masih beruntung dan menikmati hujan. Tetapi mungkin ada di antara kita yang merasakan dampak akibat banjir? Wabah penyakit yang siap menyergap, rusaknya alat-alat rumah tangga bahkan kita bisa hanyut terbawa arus.

Berdasarkan realita di lapangan, banjir di daerah langganan masih terus berlangsung bahkan makin meluas. Sepuluh persoalan yang berhasil saya rampungkan sebagai alasan penyebab bencana banjir yang terus terjadi adalah, pertama: belum adanya program penanggulan banjir yang menyentuh akar permasalahan. Kedua: adanya perubahan karakteristik watak banjir. Ketiga: kawasan di dataran banjir telah berkembang dengan sangat pesat menjadi kawasan pemukiman, industri , perdagangan yang padat sehingga upaya penanggulan banjir lebih banyak bersifat tambal sulam dan represif. Keempat: makin berkurangnya ruang terbuka hijau dan daerah resapan air lainnya. Kelima: makin menjamurnya bangunan di sempadan sungai. Keenam: pengambilan air tanah yang berlangsung terus, bahkan meningkat, sehingga mengakibatkan penurunan muka tanah. Ketujuh: upaya menangani banjir selama ini masih berorientasi proyek. Kedelapan: Master plan belum dijadikan acuan pembangunan. Kesembilan: Kesadaran dan kepedulian masyarakat untuk memelihara sarana dan prasarana sistem drainase masih sangat rendah. Kesepuluh: Masyarakat belum dapat memahami sepenuhnya tentang fenomena banjir yang bersifat dinamis.

Banjir merupakan permasalahan dan tanggung jawab bersama stakeholders. Baik itu pemerintah, masyarakat maupun pengusaha. Usaha pencegahan rasanya sudah terlambat jika sudah begini keadaannya. Baiknya, kita sama-sama memikirkan pertolongan dan penanganan yang bisa dilaksanakan untuk mengurangi resiko akibat banjir ini.

Jalan Berlubang
Hati-hati pada jalan berlubang saat hujan. Saya teringat kejadian yang menimpa saya di awal bulan januari tahun ini. Tiba-tiba saja roda motor yang saya kendarai melindas masuk ke jalan berlubang yang tertutupi air di sekitar pembangunan fly over. Guncangan yang terjadi cukup keras. Beruntung saya masih bisa mengimbangi motor sehingga saya tidak benar-benar terjatuh.

Di koran lokal saya juga pernah membaca nasib malang dialami seorang ibu rumah tangga yang melintas di jalan Perintis Kemerdekaan, tepatnya di depan M’Tos. Bersama dua putranya, ia terjatuh dari motor karena melindas jalan berlubang yang tertutupi air. Seorang di jalan poros kawasan BTP pun pernah diberitakan terjatuh dari motornya karena kubangan yang dilewati terlalu dalam. Dan tentu masih banyak kisah malang lain yang dialami pengendara kendaraan akibat jalan berlubang di musim hujan.

Jika pengendara itu punya SIM dan nomor kendaraan yang sah, artinya dia mengendarai kendaraannya dengan membayar pajak dan hal itu berarti kecelakaan itu bukan karena kesalahan si pengendara motor melainkan kesalahan dinas terkait, atau mungkin lebih jelasnya kesalahan kota ini. Tapi tampaknya kota ini hanya ingin mengambil pajaknya dan tidak mau bertanggung jawab atas kecelakaan yang disebabkan oleh kerusakan jalan.

Musim hujan di kota ini memang membawa dampak buruk bagi kualitas jalan. Sejumlah jalan protokol yang berada di kawasan bisnis, pusat perkantoran, pemukiman warga, sampai pemukiman elit kembali rusak ketika musim hujan. Kerusakan jalan nyaris merata di seluruh jalan protokol di kota ini.

Beberapa data kerusakan jalan tersebut antara lain: Jl. Sabutung, Jl. Galangan Kapal, Jl. Barukang di Kecamatan Ujung Tanah; Jl. Sulawesi, Jl. Tentara Pelajar, Jl. Sumba, Jl. Irian, Jl. Slamet Riyadi di Kecamatan Wajo; Jl. Penghibur, Jl. Riburane, Jl. Bonto Lempangan, Jl. Kartini, di Kecamatan Ujung Pandang; Jl. Metro Tanjung Bunga, Jl. Cendrawasih, Jl. Mappanyukki, di Kecamatan Mariso; Jl. Mappaoddang, Jl. Mallombassang, Jl. Dangko, Jl. Andi Tonro, Jl. Baji Gau di Kecamatan Tamalate; Jl. Rappokalling, Jl. Kesempatan, Jl. Barawaja di Kecamatan Tallo. Jalan di perumahan Minasa Upa, Jl. Karunrung Raya, Jl. Banta-bantaeng di Kecamatan Rappocini; Jl. Anuang, Jl. Kakaktua, Jl. Beruang di Kecamatan Mamajang; Jl. Maccini, Jl. Abubakar Lambogo di Kecamatan Makassar; Jl. Sunu, Jl. Bayam, Jl. Kandea di Kecamatan Bontoala; Jalan Sermani, Jl. Abdullah Dg.Sirua di Kecamatan Panakukang; Jalan di Perumahan Antang, Jl. Batua Raya di Kecamatan Manggala; Jalan di perumahan Telkomas, Jalan di perumahan Bumi Tamalanrea Permai, Jl. Bontoa Raya, Jl. Tamalanrea Raya, Jalan Perintis Kemerdekaan di Kecamatan Tamalanrea; Jalan di Perumahan Taman Sudiang Indah, Jalan di Kompleks Bulurokeng di Kecamatan Biringkanaya; dan beberapa jalan lainnya.

Kerusakan yang dimaksud adalah kerusakan kecil semisal jalan bergelombang dan lubang kecil maupun kerusakan besar dengan lubang besar menganga yang bisa mengancam keselamatan sepeda motor. Dari hasil pantauan saya, beberapa ruas jalan yang rusak tersebut belum cukup setahun mengalami perbaikan maupun pengaspalan. Sayang, pengaspalan jalan yang menghabiskan anggaran ratusan juta rupiah tersebut belum seumur jagung namun sudah kembali mengalami kerusakan.

Saya salut dengan inisiatif warga di beberapa wilayah di Kabupaten Takalar dan Jeneponto. Dalam perjalanan menuju ke Kabupaten Bulukumba kemarin saya melihat beberapa solusi yang mereka lakukan untuk menghindari kecelakaan akibat jalan berlubang. Ada yang memasang tanda bahaya berupa tiang yang diikatkan kain atau kantong berwarna merah tepat di jalan berlubang, lainnya mencoba menutupi lubang tersebut dengan tanah. Bahkan ada yang menutup jalan dengan semen, salah satu orang bertugas untuk meminta dana dari pengguna jalan sedangkan beberapa orang lainnya menutup lubang tersebut dengan semen. Setidaknya, langkah kecil ini bisa mengurangi kecelakaan pengendara kendaraan. Tetapi tampaknya warga di Kota Makassar ini masih terlalu sibuk untuk melakukan hal-hal tersebut, tampaknya kita masih setia menunggu sang dinas terkait untuk menangani masalah ini.

Drainase
Air hujan yang melimpah butuh saluran yang baik. Dr. Ir, Suripin, M.Eng dalam bukunya Sistem Drainase Perkotaan mengungkapkan bahwa sejarah perkembangan sistem drainase bermula sejak jaman Romawi kuno. Bangunan drainase perkotaan pertama kali dibuat di Romawi berupa saluran bawah tanah yang cukup besar, yang digunakan untuk menampung dan membuang limpasan air hujan. Sejalan dengan perkembangan kota-kota di Eropa dan Amerika Utara, sistem drainase berkembang secara intensif.

Pada tahun 1815, di London, dilakukan tindakan perbaikan dengan melakukan perubahan peraturan yang membolehkan membuang limbah domestik ke dalam sistem drainase. Sehingga, sistem drainase yang awalnya hanya diperuntukkan bagi air hujan menjadi sistem drainase tercampur yang menerima air hujan dan air buangan domestik.

Sebelum abad 19 berakhir, orang mulai menyadari sepenuhnya bahwa problem yang melingkupi kekumuhan sebenarnya belum terselesaikan, tetapi hanya dipindahkan dari lahan ke badan air penerima. Kota-kota yang dilewati dan/atau berdekatan dengan badan air penerima mulai berinisiatif untuk mengolah air limbah sebelum dibuang ke dalam sistem drainase. Kesadaran itu serta merta dapat direalisasikan. Hanya saja untuk semua bangunan baru diwajibkan melengkapi dengan system pembuangan air terpisah, yaitu satu untuk sanitasi dan satu lagi untuk drainase air hujan.

Seorang teman saya pernah mengeluhkan air salurang pembuangan domestik di rumahnya tiba-tiba saja naik saat hujan turun. Wajar bila hal itu teradi karena hingga saat ini kota-kota di Indonesia, termasuk Makassar masih menggunakan sistem drainase tercampur tanpa dilengkapi dengan fasilitas instalasi pengolah air limbah. Hal ini tentu saja mengkhawatirkan, mengingat air limbah yang dibuang ke sistem drainase makin meningkat volumenya, sementara kualitasnya makin menurun.

Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kota Makassar telah membentuk tim khusus untuk untuk mengantisipasi tingginya curah hujan yang berpotensi menyebabkan banjir maupun genangan di sejumlah titik di kota ini. Tim khusus ini dibentuk untuk mengatasi keluhan masyarakat. Mereka siap bergerak untuk terus memantau titik genangan air maupun melakukan antisipasi genangan air dengan membuat tali-tali air maupun membuat saluran lancar sehingga aliran air berjalan normal.

Ridwan Muhaddir, Kepala PU Kota Makassar mengingatkan agar warga yang melihat genangan air yang cukup tinggi bisa langsung mendatangi posko penanggulangan banjir di Kantor Dinas PU, kantor gabungan dinas-dinas, Jl Urip Sumoharjo, maupun menghubungi hotline posko di (0411) 436932.

Bukannya apatis hanya saja saya masih melihat banyak genangan di kota ini. Apakah Tim khusus ini betul-betul bekerja? Ataukah masyarakat yang tidak melaporkannya? Entahlah.

Tahun 2009 ini, dinas PU Kota Makassar dijadwalkan melakukan normalisasi 11 titik saluran sekunder sepanjang 11.622 meter di Kota Makassar. Biaya pengerjaaan normalisasi saluran air bersumber dari menko kesra (menteri koordinator kesejahteraan rakyat) berkisar Rp 3 miliar. Sebesar Rp 2,7 miliar diperuntukkan untuk normalisasi saluran sekunder dalam kota yang selama ini belum berfungsi maksimal akibat tingginya sendimentasi. Sisanya dialokasikan sebagai dana cadangan untuk persiapan rehabilitasi pasca bencana alam

Akankah rencana dan anggaran ini mampu mengurangi dampak banjir di kota ini? Atau akan berorientasi proyek dan anggarannya meluap begitu saja?

Ruang Terbuka Hijau
Ruang Terbuka Hijau (RTH) adalah elemen kota yang multifungsi. Selain memberi keindahan, RTH juga berfungsi sebagai tempat bermain, berolahraga, mendapatkan udara segar, pemeliharaan ekosistem dan pelembut arsitektur kota. Selain itu RTH merupakan pemeliharaan hubungan emosional dengan alam lingkungan dan arena sosialisasi masyarakat.

Persoalan berat yang dialami kota ini adalah berkurangnya ruang terbuka dan hilangnya daerah resapan air yang berganti dengan bangunan beton. Dua daerah resapan air besar bagi Kota Makassar, yakni Tanjung Bunga dan Panakukang saat ini sudah berganti wujud menjadi kawasan komersial. Kawasan Tamalanrea dan Biringkanaya yang dahulunya tanah kosong sekarang telah berganti menjadi bangunan dengan berbagai fungsi. Karebosi yang dahulu menjadi daerah resapan pun telah hilang.

Kepala Badan Pengelolaan dampak Lingkungan Daerah (Bappedalda) Sulsel, Andi Maskur, mengatakan bahwa revitalisasi Karebosi yang mengubah fungsi dan peruntukan penggunaan lahan bertentangan dengan Perda Kota Makassar Nomor 6 Tahun 2006 tentang Rancangan Tata Ruang Wilayah Kota Makassar. Karebosi dalam dokumen tersebut berfungsi sebagai area publik yang harus menjamin kemudahan akses, rasa memiliki, penjaminan privasi dan kenyamanan sebagai milik bersama. Maskur juga menambahkan fungsi Karebosi sebagai daerah resapan air telah hilang, pun 40 sumur resapan air lengkap dengan pompa yang dibangun PT Tosan saat ini tidak bisa menjamin.

Tak dapat dipungkiri, 10 tahun terakhir ini, Indonesia pada umumnya dan kota Makassar pada khususnya mengalami perubahan iklim. Berkurangnya kawasan hutan lindung dan daerah resapan air, kebakaran hutan dan penggunaan zat kimia rumah tangga, sedikit banyak menyebabkan perubahan iklim.
Badan Meteorologi dan Geofisika menganalisis gejala kemunculan fenomena La Nina di wilayah ekuator Pasifik barat. Jika La Nina terbentuk, hujan lebat akan berlangsung hingga April mendatang.
Jika La Nina terbentuk, maka curah hujan yang tinggi akan berlangsung lebih lama. Jika dalam keadaan normal curah hujan di atas normal berlangsung hingga akhir Februari, maka saat La Nina muncul curah hujan tinggi akan berlangsung hingga April. Apakah kita akan bahagia menikmati hujan hingga April mendatang? Ataukah sebaliknya?

Idealnya, RTRWK (Rencana Tata Ruang Wilayah Kota) yang telah menjadi dokumen hukum ini harus menjadi rujukan bersama para pengambil keputusan dalam menentukan kebijakan pembangunan namun masih banyak ketidakadilan dan pemutarbalikan skala prioritas pengembangan RTH. Alasannya lagi-lagi keterbatasan dana, pembenaran yang sudah tidak relevan lagi, jika yang diproritaskan adalah dilakasanakannya proyek-proyek pembangunan milirian rupiah.

***


Lagu Hujan milik Utopia kembali terlantunkan. Gitar di pangkuan pun masih setia menemani. Saya menatap keluar jendela mencoba menjemput bulan di tengah hujan. Ada angan yang tiba-tiba menghampiri, seandainya kebahagian seluruh warga kota ini, saat hujan turun bukan sekedar angan utopis, tapi dia menjadi betul-betul nyata dan dirasakan oleh semuanya. Tetapi akankah? Adakah yang ingin menemani saya menjawabnya? Bukankah lebih banyak di antara kita yang cemas memandang hujan? (p!)

*Citizen reporter Winarni dapat dihubungi melalui emailm winarni@panyingkul.com

| Beri Komentar| Jumlah Komentar (16) |

Komentar :

24-02-2009
Dari : CEOlZzPUPlYGiCUB | gfdyln@yqiyff.com
8t4i4F lyqgmoxiqhfd, [url=http://qffebmel nroj.com/]qffebmelnr oj[/url], [link=http://uqgsuee yjzfg.com/]uqgsueeyj zfg[/link], http://czmuhvujixye. com/

21-02-2009
Dari : JVzBDdFbtC | pjwyxa@hjwbhl.com
eC5sCz ncszghttdyvl, [url=http://xfikxovn wyco.com/]xfikxovnwy co[/url], [link=http://jtfzkkz nyomv.com/]jtfzkkzny omv[/link], http://dlkhuxvmgcgs. com/

20-02-2009
Dari : zSZNeXqMNUfXXWHX | fklpsv@rfceph.com
YnOhsD rrhlfvvvcpzd, [url=http://wwmhoesu gmps.com/]wwmhoesugm ps[/url], [link=http://fgwjtuw pdziz.com/]fgwjtuwpd ziz[/link], http://wptvoiabcklk. com/

15-02-2009
Dari : yayoenk |
yang manakah penyebab banjir? kayanya ada penyebab utama dan ada yang cuma penyebab kedua deh. he he. penyebab utama, hujan. penyebab kedua, drainase buruk. kenapa bisa? karena sebagus2nya drainase kalo tidak ada hujan, kan tidak bakal banjir? tapi kan ada banjir yang tidak didahului hujan? banjir yang tidak didahului hujan adalah banjir yang kasuistis! (sebenarnya ada jawaban radikalnya: penyebab banjir, sudah jelas hujan. bahkan sebelum peradaban manusia ada, banjir sudah terjadi di muka bumi... banjir hanya sebutan yang dibuat oleh manusia untuk menanami situasi yang tidak nyaman berupa tempat tinggal mereka, atau apa saja, tergenang air!) sekarang tinggal bagaimana mengelola banjir. itu yang tidak bisa kita lakukan. apalagi pemerintah kita.

09-02-2009
Dari : arhyen | adriyanti.m@gmail.com
Hujan laksana sebuah musik indah yang d sajikan dari langit, dengan melodi indah yang mendayu serta mendinginkan kesedihan dan lara yang panjang. Sebuah pencarian panjang yang tak bertepi dan mengajarkan secuil larik kehidupan.Ada kegembiraan datang d balik turunnya hujan. Seperti sebuah semangat yang sempat layu dan kemudian segar dalam percikan air dari langit,Meski hujan yang tidak sepenuhnya menyajikan sebuah cerita tentang kesedihan…

08-02-2009
Dari : banjirwatcher |
iya, kota makassar, dan sepertinya semua kota di indonesia, kota 'langganan' banjir. pelanggan setia, bo'!.. hehe... soal banjir, di manakah letak soalnya? kalo saya, soalnya [sudah] bermula di perencanaan. rencana kota tidak pernah benar-benar diselesaikan dulu di level makro, baru dibikin detil-detilnya. atau bisa juga: rencana makronya ada, tapi tidak pernah ditaati (tipikal pemerintahan ..ehm, korup?). penanganan banjir (yang hampir tidak kita lihat itu) juga pake cara "sambut di hilir" ala ujian UN. tambal sulam. ada banjir, bikin got; bukan mencegah banjir dengan menaati rencana kota yang sudah memperhitungkan peluang banjir..... lalu ruko pun didirikan di mana-mana. Volume pertambahan ruko kayanya punya korelasi langsung yang positif dengan pertamabahn volume banjir. Cobami. tapi ini cuma hipotesis... tulisan ini membuat salut dengan ketekunan penulis melakukan riset pra penulisan.. (jangan-jangan data yang dipaparkan tulisan ini lebih lengkap dari yang dipunyai pemerintah kota?). cuma, kayanya hujannya memang terlalu dibikin melodramatis, ah..

06-02-2009
Dari : Muh. Nur Taqwim | taqwimyunus@yahoo.co.id
Pertanyaannya adalah, sudah benarkah RTRWK Kota Makassar ? Jika mesti menjadi Payung Hukum mengapa penegakannya tidak berjalan ? Saya tidak berfikir bila keadaan ini sengaja dipelihara oleh kalangan tertentu. Bahwa keseimbangan ekosistem di Kota Makassar sudah rusak kita bisa setuju semua, tetapi sudah benarkah langkah-langkah taktis yang diambil pemerintah saat ini terkait problematika seperti yang digambarkan pada tulisan di atas? Saya berharap agar kiranya Pemkot sebagai Fasilitator dapat memfasilitasi dengan baik dan benar bagaimana kita bisa membangun kebersamaan, dalam rangka menata kota ini.

04-02-2009
Dari : Hijrahccank | hijrahersan@gmail.com
kayaknya kita lupa bahwa hujan bukan saja penyebab banjir tapi lihatlah sisi positif dari hujan. saya teringan akan sebuah ceramah yang pernah saya dengar katanya "hujan itu adalah berkah dari Allah karena setiap malaikat turun mengantarkan tetes air dari langit" kita seharusnya bersyukur akan adanya hujan karena hujan kita tidak kekeringan. dan bila air dari langit itu dapat kita manfaatkan dengan tidak menebang pohon dan menjaga kebersihan saya rasa hujan akan membuat kota kita makin indah. makanya kita harus membuat perencanaan kota yang sebaik mungkin sesuai dengan sikon. saya sebagai mahasiswa pemerintahan perlu bekerja sama dengan penulis tentunya untuk membuat kota yang indah, bebas banjir, aman dan nyaman tentunya hehehehe

03-02-2009
Dari : eko | eko.rusdianto@yahoo.com
saya setuju dengan Aan. hujan bukan faktor utama penyebab banjir di kota ini.

03-02-2009
Dari : Juna | yustio004@yahoo.com
Hammadarasulullah... Banjir memang menjadi sahabat di musim hujan. Ia kalau bersahabatnya itu tidak berbahaya, kalau merugikan, apalagi bisa menelan korban, seperti 'luluare'ku' di polman, siapa tonji mau. Tapi mau bagaimana lagi. sudah seperti itu keadaannya. Di daerah pegunungan mungkin tidak terkena banjir, tapi longsor selalu mengintai. Seperti yang terjadi di kebunku (waktu saya pulang ke Mamuju, bln 10-12, 2008) Desa Salubara'na Kab Mamuju SULBAR. Ada sekitar 20 puluh pohon coklat yang roboh, bahkan rumah-rumahku (gubuk di kebun) nyaris roboh terkena longsor. Di kebun tetangga juga banyak yang longsor sehingga banyak yang mengeluh. Lantas saya bilang kepada beberapa teman sewaktu kumpul di lapangan bola, "masih untung kita ini, karena cuman lonsorji saja kebunta', tidak nakena'ki' banjir seperti di daerah lain." Kemudian ada teman yang nyeletuk "mana musuka nakena banjir, atau nakena longsor kebunmu?." Spontan yang lain menjawab. "Dotami tida' ada." Untunglah rumah-rumah warga tidak ada yang terkena longsor. Namun saya sangat menyayangkan karena tidak dapat mengambil gambar sebagai laporan dokumentasi.

03-02-2009
Dari : surul | asrulbachtiar@ymail.com
eee...de...de,bagus semua ulasannya,baik sang penulis, maupun komentator..yang sama-sama punya wawasan luas dengan faktor alam dan lingkungan.Kalau di Jakarta, khususnya di daerah Kampung Melayu, warganya justru menganggap banjir adalah anugerah yang harus di nikmati, tidak perlu dihindari. Jadi hanya pasrah menunggu uluran tangan berupa bantuan dari pemerintah, dan setelah itu, tunggu lagi sampai tahun-tahun berikutnya.

03-02-2009
Dari : Ipul | ipul.ji@gmail.com
saya suka hujan, dan saya juga tidak setuju kalau hujan selalu disalahkan sebagai penyebab banjir. kayaknya kita deh manusia ini yang selalu menyebabkan banjir. pembangunan yang tidak terpikirkan secara detail dan hanya mengejar bentuk tanpa peduli pada eksesnya pada lingkungan. pemkot Makassar harusnya sadar kalau curah hujan di kota ini jauh lebih tinggi dari beberapa kota besar lainnya di Indonesia, dan itu berarti perlu penanganan dan perhatian lebih serius. tapi kenyataannya koq kayak dibiarkan saja selama bertahun2 ?. jangan-jangan sebentar lagi kota kita ini akan mengikuti kota Jakarta yang tiap tahun capek berteman dengan hujan...

02-02-2009
Dari : barusankehujanan |
LelakiHujan, Saya tidak melihat bahwa penulis menyalahkan hujan.. Dia kan cuma menyebut, kalo hujan menyebabkan Banjir... Seperti Api yg menyebabkan Kebakaran.. Api tidak bersalah (dan perlu dipersalahkan) dalam persoalan Kebakaran, Tapi 'pengelolaan' api yg tidak becus yg menyebabkan kekakaran. Pun Banjir.. (Air)hujan yg menyebabkan banjir di Makassar kemaren, bukan air laut (rob) ato air yg lain.. Penulis sudah berusaha meng-urai kenapa "(air) hujan" bisa menyebabkan banjir di Makassar, sekaligus tawaran solusi.. Hmmmmm, memang kadang 'bahasa teknik' dan 'bhs sastra' bisa beda makna...

02-02-2009
Dari : lelakihujan aka lelakibugis |
sebagai pecinta hujan, saya ikut terganggu oleh kesan bahwa hujanlah penyebab banjir. saya tak akan pernah cemas melihat hujan datang, tentu saya akan menyambutnya dengan hati senang. saya hanya cemas [dalam taraf ekstrem] bila melihat kelakuan para pengambil kebijakan kota ini. atas nama pembangunan, semua lahan diisi [yang sayangnya, kebanyakan ruko dan mall] tanpa mempedulikan apakah lahan itu adalah lahan yang berfungsi sebagai daerah resapan air atau ruang terbuka hijau. lihatlah pula, betapa tak becusnya pemerintah kota ini mengurus selokan. contoh nyata adalah genangan air di depan biblioholic, sebelum lahan kosong itu dibanguni ruko meski hujan berhari-hari kami tak kebanjiran. kini, meski hujan hanya turun sehari genangan airnya tak mau surut dalam tiga hari. ini diperparah oleh tak adanya selokan yang memadai sepanjang jalan perintis. lalu pantaskah hujan disalahkan?

02-02-2009
Dari : dg. sugi |
menggetarkan.. pertama karena ada penyair menggugat..kok hujan yang "disalahkan". Jelas bukan itu yang hendak di sampaikan. yang kedua: kalo saya ada di pihak pemerintah kota, saya agak beku di dalam, bukan karena hujan, tapi karena list jalan berlubang yang winarni sodorkan. taruhan, tak ada "pihak berwajib" punya list itu.. Dua hal itu, membuat tulisan winarni ini seperti menyodorkan pada saya peristiwa "membuka kaleng yang penuh ulat." hujan datang, menghapus kosmetik kota yang dibangun dengan setengah hati.Di bangun untuk keperluan-keperluan project dan pemanfaatan alokasi dana. Hujan datang, untuk memperlihatkan bahwa apa yang selama musim panas terkesan "mulus", hanyalah soal mendempul.. keahlian mendempul . keahlian mengakali, sebenarnya. sungguh, ngeriiiiiiii kaleeeeeee korupsi di negeri ini.

02-02-2009
Dari : aan mansyur | aanmansyur@gmail.com
ada 'pelecehan' terhadap penyair di tulisan ini! utamanya penyair-hujan seperti saya. hehehe. banjir dan hujan tuh dua hal yang berbeda kan? padahal hujanlah yang menghidupi petani, ojek payung, penjual raincoat, dan banyak lagi yang lain--juga mungkin saja banyak dari kita lahir karena musim hujan. (meski tentu banyak juga penjual yang merana di musim hujan) "Hujan yang mengguyur beberapa hari terakhir menyebabkan banjir di beberapa titik." dalam liputan banjir, kalimat klise seperti kalimat Winarni yang saya kutip di atas adalah kalimat yang saya benci. sebab jika kalimat itu yang kita gunakan, masa dengan meminta Tuhan tak mengirim hujan jadi solusinya? di depan biblioholic juga tergenang banjir beberapa hari terakhir ini loh. tapi, duh, tak nyaman rasanya menyebutkan bahwa itu karena hujan berhari-hari. saya paham bahwa bukanlah hujan yang betul-betul disalahkan Winarni dalam tulisannya di atas. tetapi memasukkan sentimentalia hujan dengan maksud jadi pemanis tulisan malah rasanya jadi tak nyaman buat saya sendiri. semoga hanya saya yang terganggu dengan itu!



 :: CITIZEN REPORTER
Makassar di Panyingkul!: Sebuah Persembahan
(Kamis, 12-07-2007)
Ayo Bergabung di Panyingkul!
(Minggu, 29-04-2007)
Catatan Sederhana Para Citizen Reporter
(Selasa, 31-10-2006)
Tentang Citizen Reporter dan Rubrik di Panyingkul!
(Rabu, 11-10-2006)
Riuh Rendah di Panyingkul!
(Rabu, 16-08-2006)

Untitled Document
 :: DUNIA SEGIEMPAT KAREBOSI






 :: PILKADA




 :: ALBUM PUASA 2008




Untitled Document
 :: KONTAK TIM PANYINGKUL!

Email:

redaksi@panyingkul.com

Makassar:

Nilam Indahsari +62 81 241 229 089
M. Aan Mansyur +62 411-586459

Jakarta
Moch. Hasymi  +62 811 955 954



© Juni 2006 - Panyingkul.com All Rights Reserved
Desain Web : Nesia Andriana -- Supported by: Yuhardin