|
|
| . |
| ::
|
| Senin, 02-02-2009 | Risalah Hujan Seorang Mahasiswi Perencana Kota :: Winarni ::
| Dua anak bersampan di tepi Sungai Tallo saat sungai itu meluap ketika banjir melanda Makassar 2007. Foto : Harianto Sirajuddin
Citizen reporter Winarni yang mendalami masalah perencana kota di Unhas, memandangi hujan yang mengguyur Makassar sambil menyusun sebuah risalah tentang hujan dan berbagai hal penting seputarnya. Rinai dari langit itu memang indah dipandang, tapi banjir, jalan berlubang dan drainase yang meluap, membuat lebih banyak warga cemas. |
Aku selalu bahagia
Saat hujan turun
Karena aku dapat mengenangmu
Untukku sendiri
Aku bisa tersenyum
Sepanjang hari
Karena hujan pernah
Menahanmu disini
Untukku…
Lagu milik Utopia itu mengalun ditemani resonansi dawai gitar, bersaing dengan rinai hujan yang begitu ramai di luar sana. Musim hujan membuat lagu ini kembali tenar. Harmoni lirik dan musiknya terasa begitu familiar di telinga. Siapa saja menyanyikannya atau memperdengarkannya. Namun ada hal yang membuat saya bertanya-tanya di tengah riuh rendah orang menyanyikan lagu ini, apakah betul kita bahagia saat hujan turun? Bukankah kebahagian saat mendengarkan dan merasakan hujan turun hanya kata-kata puitis seorang penyair dan pencipta lagu?
Kali ini saya membagi beberapa catatan seputar kondisi jalan, pengguna jalan dan inisiatif warga di musim hujan.
Banjir
Beberapa hari terakhir, hujan terus bernyanyi dan rasanya tak ingin berhenti. Seakan lumrah dan tak bisa dihindari, banjir pun terjadi di beberapa titik. Seperti halnya kota-kota besar di Indonesia, Kota Makassar juga telah lama menjadi langganan banjir jika musim hujan telah tiba. Banjir seperti lagu lama yang setiap tahun berulang. Namun permasalahan ini belum juga terselesaikan, bahkan cenderung meningkat, baik frekuensi, luasannya, kedalamannya maupun durasinya.
Banjir adalah peristiwa terbenamnya daratan (yang biasanya kering) karena volume air yang meningkat. Banjir dapat terjadi karena peluapan air yang berlebihan di suatu tempat akibat hujan besar, peluapan air sungai, atau pecahnya bendungan. Banjir berdasarkan jenisnya di bagi tiga. Pertama banjir yang terjadi akibat sungai tidak mampu lagi menampung aliran air yang ada akibat debit airnya sudah melebihi kapasitas. Kedua banjir lokal, yakni banjir yang terjadi akibat air yang berlebihan di tempat tersebut oleh karena kondisi tanah yang sulit melakukan penyerapan air. Dan ketiga banjir akibat pasang surut air laut.
Hujan yang mengguyur beberapa hari terakhir menyebabkan banjir di beberapa titik. Pemukiman yang tergenang air antara lain Antang, Pampang, Rappocini, Bumi Permata Hijau, Hartaco, Minasa Upa, Malengkeri, Sungai Saddang, Jalan Monginsidi, daerah Pecinan, seperti Jalan Sulawesi, Nusantara, Irian, Sangir dan Lombok.
Hal yang sama juga dialami warga di Kelurahan Bontoduri, Kecamatan Tamalate, Makassar. Hujan deras telah merendam pemukiman warga di sana, sehingga harus mengungsi. Banjir juga terjadi di Jl AP Pettarani seperti di depan Ramayana Department Store, yang menyebabkan kemacetan.
Jalan di depan rumah jabatan Wakil Gubernur Sulsel (Jl Yusuf Dg Ngawing) juga banjir hingga setinggi lutut orang dewasa. Banjir juga terjadi di Kompleks Perumahan Faizal, Daya dan beberapa lokasi lainnya.
Berdasarkan hasil pemetaan Jurnal Celebes bersama dengan stakeholder di kota ini, Kelurahan Lette di Kecamatan Mariso, dan Kelurahan Tamalanrea Jaya di Kecamatan Tamalanrea dinyatakan sebagai lokasi rawan bencana banjir
Menurut pemetaan itukedua lokasi tersebut jadi langganan banjir selain karena topografi tanah dan posisinya dari permukaan laut yang relatif rendah, juga karena kurang berfungsinya saluran air tersier dan sekunder dengan baik.
Sekaitan dengan hal tersebut, pemerintah bersama stakeholder di lapangan hendaknya memiliki taksiran (assessment) dan distribusi informasi penanganan bencana untuk mencegah jatuhnya korban.
Hujan yang terus bernyanyi di luar sana, semakin membuat saya resah. Mungkin sebagian dari kita, masih beruntung dan menikmati hujan. Tetapi mungkin ada di antara kita yang merasakan dampak akibat banjir? Wabah penyakit yang siap menyergap, rusaknya alat-alat rumah tangga bahkan kita bisa hanyut terbawa arus.
Berdasarkan realita di lapangan, banjir di daerah langganan masih terus berlangsung bahkan makin meluas. Sepuluh persoalan yang berhasil saya rampungkan sebagai alasan penyebab bencana banjir yang terus terjadi adalah, pertama: belum adanya program penanggulan banjir yang menyentuh akar permasalahan. Kedua: adanya perubahan karakteristik watak banjir. Ketiga: kawasan di dataran banjir telah berkembang dengan sangat pesat menjadi kawasan pemukiman, industri , perdagangan yang padat sehingga upaya penanggulan banjir lebih banyak bersifat tambal sulam dan represif. Keempat: makin berkurangnya ruang terbuka hijau dan daerah resapan air lainnya. Kelima: makin menjamurnya bangunan di sempadan sungai. Keenam: pengambilan air tanah yang berlangsung terus, bahkan meningkat, sehingga mengakibatkan penurunan muka tanah. Ketujuh: upaya menangani banjir selama ini masih berorientasi proyek. Kedelapan: Master plan belum dijadikan acuan pembangunan. Kesembilan: Kesadaran dan kepedulian masyarakat untuk memelihara sarana dan prasarana sistem drainase masih sangat rendah. Kesepuluh: Masyarakat belum dapat memahami sepenuhnya tentang fenomena banjir yang bersifat dinamis.
Banjir merupakan permasalahan dan tanggung jawab bersama stakeholders. Baik itu pemerintah, masyarakat maupun pengusaha. Usaha pencegahan rasanya sudah terlambat jika sudah begini keadaannya. Baiknya, kita sama-sama memikirkan pertolongan dan penanganan yang bisa dilaksanakan untuk mengurangi resiko akibat banjir ini.
Jalan Berlubang
Hati-hati pada jalan berlubang saat hujan. Saya teringat kejadian yang menimpa saya di awal bulan januari tahun ini. Tiba-tiba saja roda motor yang saya kendarai melindas masuk ke jalan berlubang yang tertutupi air di sekitar pembangunan fly over. Guncangan yang terjadi cukup keras. Beruntung saya masih bisa mengimbangi motor sehingga saya tidak benar-benar terjatuh.
Di koran lokal saya juga pernah membaca nasib malang dialami seorang ibu rumah tangga yang melintas di jalan Perintis Kemerdekaan, tepatnya di depan M’Tos. Bersama dua putranya, ia terjatuh dari motor karena melindas jalan berlubang yang tertutupi air. Seorang di jalan poros kawasan BTP pun pernah diberitakan terjatuh dari motornya karena kubangan yang dilewati terlalu dalam. Dan tentu masih banyak kisah malang lain yang dialami pengendara kendaraan akibat jalan berlubang di musim hujan.
Jika pengendara itu punya SIM dan nomor kendaraan yang sah, artinya dia mengendarai kendaraannya dengan membayar pajak dan hal itu berarti kecelakaan itu bukan karena kesalahan si pengendara motor melainkan kesalahan dinas terkait, atau mungkin lebih jelasnya kesalahan kota ini. Tapi tampaknya kota ini hanya ingin mengambil pajaknya dan tidak mau bertanggung jawab atas kecelakaan yang disebabkan oleh kerusakan jalan.
Musim hujan di kota ini memang membawa dampak buruk bagi kualitas jalan. Sejumlah jalan protokol yang berada di kawasan bisnis, pusat perkantoran, pemukiman warga, sampai pemukiman elit kembali rusak ketika musim hujan. Kerusakan jalan nyaris merata di seluruh jalan protokol di kota ini.
Beberapa data kerusakan jalan tersebut antara lain: Jl. Sabutung, Jl. Galangan Kapal, Jl. Barukang di Kecamatan Ujung Tanah; Jl. Sulawesi, Jl. Tentara Pelajar, Jl. Sumba, Jl. Irian, Jl. Slamet Riyadi di Kecamatan Wajo; Jl. Penghibur, Jl. Riburane, Jl. Bonto Lempangan, Jl. Kartini, di Kecamatan Ujung Pandang; Jl. Metro Tanjung Bunga, Jl. Cendrawasih, Jl. Mappanyukki, di Kecamatan Mariso; Jl. Mappaoddang, Jl. Mallombassang, Jl. Dangko, Jl. Andi Tonro, Jl. Baji Gau di Kecamatan Tamalate; Jl. Rappokalling, Jl. Kesempatan, Jl. Barawaja di Kecamatan Tallo. Jalan di perumahan Minasa Upa, Jl. Karunrung Raya, Jl. Banta-bantaeng di Kecamatan Rappocini; Jl. Anuang, Jl. Kakaktua, Jl. Beruang di Kecamatan Mamajang; Jl. Maccini, Jl. Abubakar Lambogo di Kecamatan Makassar; Jl. Sunu, Jl. Bayam, Jl. Kandea di Kecamatan Bontoala; Jalan Sermani, Jl. Abdullah Dg.Sirua di Kecamatan Panakukang; Jalan di Perumahan Antang, Jl. Batua Raya di Kecamatan Manggala; Jalan di perumahan Telkomas, Jalan di perumahan Bumi Tamalanrea Permai, Jl. Bontoa Raya, Jl. Tamalanrea Raya, Jalan Perintis Kemerdekaan di Kecamatan Tamalanrea; Jalan di Perumahan Taman Sudiang Indah, Jalan di Kompleks Bulurokeng di Kecamatan Biringkanaya; dan beberapa jalan lainnya.
Kerusakan yang dimaksud adalah kerusakan kecil semisal jalan bergelombang dan lubang kecil maupun kerusakan besar dengan lubang besar menganga yang bisa mengancam keselamatan sepeda motor. Dari hasil pantauan saya, beberapa ruas jalan yang rusak tersebut belum cukup setahun mengalami perbaikan maupun pengaspalan. Sayang, pengaspalan jalan yang menghabiskan anggaran ratusan juta rupiah tersebut belum seumur jagung namun sudah kembali mengalami kerusakan.
Saya salut dengan inisiatif warga di beberapa wilayah di Kabupaten Takalar dan Jeneponto. Dalam perjalanan menuju ke Kabupaten Bulukumba kemarin saya melihat beberapa solusi yang mereka lakukan untuk menghindari kecelakaan akibat jalan berlubang. Ada yang memasang tanda bahaya berupa tiang yang diikatkan kain atau kantong berwarna merah tepat di jalan berlubang, lainnya mencoba menutupi lubang tersebut dengan tanah. Bahkan ada yang menutup jalan dengan semen, salah satu orang bertugas untuk meminta dana dari pengguna jalan sedangkan beberapa orang lainnya menutup lubang tersebut dengan semen. Setidaknya, langkah kecil ini bisa mengurangi kecelakaan pengendara kendaraan. Tetapi tampaknya warga di Kota Makassar ini masih terlalu sibuk untuk melakukan hal-hal tersebut, tampaknya kita masih setia menunggu sang dinas terkait untuk menangani masalah ini.
Drainase
Air hujan yang melimpah butuh saluran yang baik. Dr. Ir, Suripin, M.Eng dalam bukunya Sistem Drainase Perkotaan mengungkapkan bahwa sejarah perkembangan sistem drainase bermula sejak jaman Romawi kuno. Bangunan drainase perkotaan pertama kali dibuat di Romawi berupa saluran bawah tanah yang cukup besar, yang digunakan untuk menampung dan membuang limpasan air hujan. Sejalan dengan perkembangan kota-kota di Eropa dan Amerika Utara, sistem drainase berkembang secara intensif.
Pada tahun 1815, di London, dilakukan tindakan perbaikan dengan melakukan perubahan peraturan yang membolehkan membuang limbah domestik ke dalam sistem drainase. Sehingga, sistem drainase yang awalnya hanya diperuntukkan bagi air hujan menjadi sistem drainase tercampur yang menerima air hujan dan air buangan domestik.
Sebelum abad 19 berakhir, orang mulai menyadari sepenuhnya bahwa problem yang melingkupi kekumuhan sebenarnya belum terselesaikan, tetapi hanya dipindahkan dari lahan ke badan air penerima. Kota-kota yang dilewati dan/atau berdekatan dengan badan air penerima mulai berinisiatif untuk mengolah air limbah sebelum dibuang ke dalam sistem drainase. Kesadaran itu serta merta dapat direalisasikan. Hanya saja untuk semua bangunan baru diwajibkan melengkapi dengan system pembuangan air terpisah, yaitu satu untuk sanitasi dan satu lagi untuk drainase air hujan.
Seorang teman saya pernah mengeluhkan air salurang pembuangan domestik di rumahnya tiba-tiba saja naik saat hujan turun. Wajar bila hal itu teradi karena hingga saat ini kota-kota di Indonesia, termasuk Makassar masih menggunakan sistem drainase tercampur tanpa dilengkapi dengan fasilitas instalasi pengolah air limbah. Hal ini tentu saja mengkhawatirkan, mengingat air limbah yang dibuang ke sistem drainase makin meningkat volumenya, sementara kualitasnya makin menurun.
Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kota Makassar telah membentuk tim khusus untuk untuk mengantisipasi tingginya curah hujan yang berpotensi menyebabkan banjir maupun genangan di sejumlah titik di kota ini. Tim khusus ini dibentuk untuk mengatasi keluhan masyarakat. Mereka siap bergerak untuk terus memantau titik genangan air maupun melakukan antisipasi genangan air dengan membuat tali-tali air maupun membuat saluran lancar sehingga aliran air berjalan normal.
Ridwan Muhaddir, Kepala PU Kota Makassar mengingatkan agar warga yang melihat genangan air yang cukup tinggi bisa langsung mendatangi posko penanggulangan banjir di Kantor Dinas PU, kantor gabungan dinas-dinas, Jl Urip Sumoharjo, maupun menghubungi hotline posko di (0411) 436932.
Bukannya apatis hanya saja saya masih melihat banyak genangan di kota ini. Apakah Tim khusus ini betul-betul bekerja? Ataukah masyarakat yang tidak melaporkannya? Entahlah.
Tahun 2009 ini, dinas PU Kota Makassar dijadwalkan melakukan normalisasi 11 titik saluran sekunder sepanjang 11.622 meter di Kota Makassar. Biaya pengerjaaan normalisasi saluran air bersumber dari menko kesra (menteri koordinator kesejahteraan rakyat) berkisar Rp 3 miliar. Sebesar Rp 2,7 miliar diperuntukkan untuk normalisasi saluran sekunder dalam kota yang selama ini belum berfungsi maksimal akibat tingginya sendimentasi. Sisanya dialokasikan sebagai dana cadangan untuk persiapan rehabilitasi pasca bencana alam
Akankah rencana dan anggaran ini mampu mengurangi dampak banjir di kota ini? Atau akan berorientasi proyek dan anggarannya meluap begitu saja?
Ruang Terbuka Hijau
Ruang Terbuka Hijau (RTH) adalah elemen kota yang multifungsi. Selain memberi keindahan, RTH juga berfungsi sebagai tempat bermain, berolahraga, mendapatkan udara segar, pemeliharaan ekosistem dan pelembut arsitektur kota. Selain itu RTH merupakan pemeliharaan hubungan emosional dengan alam lingkungan dan arena sosialisasi masyarakat.
Persoalan berat yang dialami kota ini adalah berkurangnya ruang terbuka dan hilangnya daerah resapan air yang berganti dengan bangunan beton. Dua daerah resapan air besar bagi Kota Makassar, yakni Tanjung Bunga dan Panakukang saat ini sudah berganti wujud menjadi kawasan komersial. Kawasan Tamalanrea dan Biringkanaya yang dahulunya tanah kosong sekarang telah berganti menjadi bangunan dengan berbagai fungsi. Karebosi yang dahulu menjadi daerah resapan pun telah hilang.
Kepala Badan Pengelolaan dampak Lingkungan Daerah (Bappedalda) Sulsel, Andi Maskur, mengatakan bahwa revitalisasi Karebosi yang mengubah fungsi dan peruntukan penggunaan lahan bertentangan dengan Perda Kota Makassar Nomor 6 Tahun 2006 tentang Rancangan Tata Ruang Wilayah Kota Makassar. Karebosi dalam dokumen tersebut berfungsi sebagai area publik yang harus menjamin kemudahan akses, rasa memiliki, penjaminan privasi dan kenyamanan sebagai milik bersama. Maskur juga menambahkan fungsi Karebosi sebagai daerah resapan air telah hilang, pun 40 sumur resapan air lengkap dengan pompa yang dibangun PT Tosan saat ini tidak bisa menjamin.
Tak dapat dipungkiri, 10 tahun terakhir ini, Indonesia pada umumnya dan kota Makassar pada khususnya mengalami perubahan iklim. Berkurangnya kawasan hutan lindung dan daerah resapan air, kebakaran hutan dan penggunaan zat kimia rumah tangga, sedikit banyak menyebabkan perubahan iklim.
Badan Meteorologi dan Geofisika menganalisis gejala kemunculan fenomena La Nina di wilayah ekuator Pasifik barat. Jika La Nina terbentuk, hujan lebat akan berlangsung hingga April mendatang.
Jika La Nina terbentuk, maka curah hujan yang tinggi akan berlangsung lebih lama. Jika dalam keadaan normal curah hujan di atas normal berlangsung hingga akhir Februari, maka saat La Nina muncul curah hujan tinggi akan berlangsung hingga April. Apakah kita akan bahagia menikmati hujan hingga April mendatang? Ataukah sebaliknya?
Idealnya, RTRWK (Rencana Tata Ruang Wilayah Kota) yang telah menjadi dokumen hukum ini harus menjadi rujukan bersama para pengambil keputusan dalam menentukan kebijakan pembangunan namun masih banyak ketidakadilan dan pemutarbalikan skala prioritas pengembangan RTH. Alasannya lagi-lagi keterbatasan dana, pembenaran yang sudah tidak relevan lagi, jika yang diproritaskan adalah dilakasanakannya proyek-proyek pembangunan milirian rupiah.
***
Lagu Hujan milik Utopia kembali terlantunkan. Gitar di pangkuan pun masih setia menemani. Saya menatap keluar jendela mencoba menjemput bulan di tengah hujan. Ada angan yang tiba-tiba menghampiri, seandainya kebahagian seluruh warga kota ini, saat hujan turun bukan sekedar angan utopis, tapi dia menjadi betul-betul nyata dan dirasakan oleh semuanya. Tetapi akankah? Adakah yang ingin menemani saya menjawabnya? Bukankah lebih banyak di antara kita yang cemas memandang hujan? (p!)
*Citizen reporter Winarni dapat dihubungi melalui emailm winarni@panyingkul.com
|
| | Jumlah
Komentar (16) |
|
| Komentar :
24-02-2009 Dari : CEOlZzPUPlYGiCUB | gfdyln@yqiyff.com 8t4i4F
lyqgmoxiqhfd,
[url=http://qffebmel
nroj.com/]qffebmelnr
oj[/url],
[link=http://uqgsuee
yjzfg.com/]uqgsueeyj
zfg[/link],
http://czmuhvujixye.
com/ 21-02-2009 Dari : JVzBDdFbtC | pjwyxa@hjwbhl.com eC5sCz
ncszghttdyvl,
[url=http://xfikxovn
wyco.com/]xfikxovnwy
co[/url],
[link=http://jtfzkkz
nyomv.com/]jtfzkkzny
omv[/link],
http://dlkhuxvmgcgs.
com/ 20-02-2009 Dari : zSZNeXqMNUfXXWHX | fklpsv@rfceph.com YnOhsD
rrhlfvvvcpzd,
[url=http://wwmhoesu
gmps.com/]wwmhoesugm
ps[/url],
[link=http://fgwjtuw
pdziz.com/]fgwjtuwpd
ziz[/link],
http://wptvoiabcklk.
com/ 15-02-2009 Dari : yayoenk | yang manakah
penyebab banjir?
kayanya ada penyebab
utama dan ada yang
cuma penyebab kedua
deh. he he. penyebab
utama, hujan.
penyebab kedua,
drainase buruk.
kenapa bisa? karena
sebagus2nya drainase
kalo tidak ada
hujan, kan tidak
bakal banjir? tapi
kan ada banjir yang
tidak didahului
hujan? banjir yang
tidak didahului
hujan adalah banjir
yang kasuistis!
(sebenarnya ada
jawaban radikalnya:
penyebab banjir,
sudah jelas hujan.
bahkan sebelum
peradaban manusia
ada, banjir sudah
terjadi di muka
bumi... banjir hanya
sebutan yang dibuat
oleh manusia untuk
menanami situasi
yang tidak nyaman
berupa tempat
tinggal mereka, atau
apa saja, tergenang
air!) sekarang
tinggal bagaimana
mengelola banjir.
itu yang tidak bisa
kita lakukan.
apalagi pemerintah
kita. 09-02-2009 Dari : arhyen | adriyanti.m@gmail.com Hujan laksana sebuah
musik indah yang d
sajikan dari langit,
dengan melodi indah
yang mendayu serta
mendinginkan
kesedihan dan lara
yang panjang. Sebuah
pencarian panjang
yang tak bertepi dan
mengajarkan secuil
larik kehidupan.Ada
kegembiraan datang d
balik turunnya
hujan. Seperti
sebuah semangat yang
sempat layu dan
kemudian segar dalam
percikan air dari
langit,Meski hujan
yang tidak
sepenuhnya
menyajikan sebuah
cerita tentang
kesedihan… 08-02-2009 Dari : banjirwatcher | iya, kota makassar,
dan sepertinya semua
kota di indonesia,
kota 'langganan'
banjir. pelanggan
setia, bo'!..
hehe... soal banjir,
di manakah letak
soalnya? kalo saya,
soalnya [sudah]
bermula di
perencanaan. rencana
kota tidak pernah
benar-benar
diselesaikan dulu di
level makro, baru
dibikin
detil-detilnya. atau
bisa juga: rencana
makronya ada, tapi
tidak pernah ditaati
(tipikal
pemerintahan ..ehm,
korup?). penanganan
banjir (yang hampir
tidak kita lihat
itu) juga pake cara
"sambut di hilir"
ala ujian UN. tambal
sulam. ada banjir,
bikin got; bukan
mencegah banjir
dengan menaati
rencana kota yang
sudah
memperhitungkan
peluang banjir.....
lalu ruko pun
didirikan di
mana-mana. Volume
pertambahan ruko
kayanya punya
korelasi langsung
yang positif dengan
pertamabahn volume
banjir. Cobami. tapi
ini cuma
hipotesis... tulisan
ini membuat salut
dengan ketekunan
penulis melakukan
riset pra
penulisan..
(jangan-jangan data
yang dipaparkan
tulisan ini lebih
lengkap dari yang
dipunyai pemerintah
kota?). cuma,
kayanya hujannya
memang terlalu
dibikin
melodramatis, ah.. 06-02-2009 Dari : Muh. Nur Taqwim | taqwimyunus@yahoo.co.id Pertanyaannya
adalah, sudah
benarkah RTRWK Kota
Makassar ? Jika
mesti menjadi Payung
Hukum mengapa
penegakannya tidak
berjalan ? Saya
tidak berfikir bila
keadaan ini sengaja
dipelihara oleh
kalangan tertentu.
Bahwa keseimbangan
ekosistem di Kota
Makassar sudah rusak
kita bisa setuju
semua, tetapi sudah
benarkah
langkah-langkah
taktis yang diambil
pemerintah saat ini
terkait problematika
seperti yang
digambarkan pada
tulisan di atas?
Saya berharap agar
kiranya Pemkot
sebagai Fasilitator
dapat memfasilitasi
dengan baik dan
benar bagaimana kita
bisa membangun
kebersamaan, dalam
rangka menata kota
ini. 04-02-2009 Dari : Hijrahccank | hijrahersan@gmail.com kayaknya kita lupa
bahwa hujan bukan
saja penyebab banjir
tapi lihatlah sisi
positif dari hujan.
saya teringan akan
sebuah ceramah yang
pernah saya dengar
katanya "hujan itu
adalah berkah dari
Allah karena setiap
malaikat turun
mengantarkan tetes
air dari langit"
kita seharusnya
bersyukur akan
adanya hujan karena
hujan kita tidak
kekeringan. dan bila
air dari langit itu
dapat kita
manfaatkan dengan
tidak menebang pohon
dan menjaga
kebersihan saya rasa
hujan akan membuat
kota kita makin
indah. makanya kita
harus membuat
perencanaan kota
yang sebaik mungkin
sesuai dengan sikon.
saya sebagai
mahasiswa
pemerintahan perlu
bekerja sama dengan
penulis tentunya
untuk membuat kota
yang indah, bebas
banjir, aman dan
nyaman tentunya
hehehehe 03-02-2009 Dari : eko | eko.rusdianto@yahoo.com saya setuju dengan
Aan. hujan bukan
faktor utama
penyebab banjir di
kota ini. 03-02-2009 Dari : Juna | yustio004@yahoo.com Hammadarasulullah...
Banjir memang
menjadi sahabat di
musim hujan. Ia
kalau bersahabatnya
itu tidak berbahaya,
kalau merugikan,
apalagi bisa menelan
korban, seperti
'luluare'ku' di
polman, siapa tonji
mau. Tapi mau
bagaimana lagi.
sudah seperti itu
keadaannya. Di
daerah pegunungan
mungkin tidak
terkena banjir, tapi
longsor selalu
mengintai. Seperti
yang terjadi di
kebunku (waktu saya
pulang ke Mamuju,
bln 10-12, 2008)
Desa Salubara'na Kab
Mamuju SULBAR. Ada
sekitar 20 puluh
pohon coklat yang
roboh, bahkan
rumah-rumahku (gubuk
di kebun) nyaris
roboh terkena
longsor. Di kebun
tetangga juga banyak
yang longsor
sehingga banyak yang
mengeluh. Lantas
saya bilang kepada
beberapa teman
sewaktu kumpul di
lapangan bola,
"masih untung kita
ini, karena cuman
lonsorji saja
kebunta', tidak
nakena'ki' banjir
seperti di daerah
lain." Kemudian ada
teman yang nyeletuk
"mana musuka nakena
banjir, atau nakena
longsor kebunmu?."
Spontan yang lain
menjawab. "Dotami
tida' ada."
Untunglah
rumah-rumah warga
tidak ada yang
terkena longsor.
Namun saya sangat
menyayangkan karena
tidak dapat
mengambil gambar
sebagai laporan
dokumentasi.
03-02-2009 Dari : surul | asrulbachtiar@ymail.com eee...de...de,bagus
semua ulasannya,baik
sang penulis, maupun
komentator..yang
sama-sama punya
wawasan luas dengan
faktor alam dan
lingkungan.Kalau di
Jakarta, khususnya
di daerah Kampung
Melayu, warganya
justru menganggap
banjir adalah
anugerah yang harus
di nikmati, tidak
perlu dihindari.
Jadi hanya pasrah
menunggu uluran
tangan berupa
bantuan dari
pemerintah, dan
setelah itu, tunggu
lagi sampai
tahun-tahun
berikutnya. 03-02-2009 Dari : Ipul | ipul.ji@gmail.com saya suka hujan, dan
saya juga tidak
setuju kalau hujan
selalu disalahkan
sebagai penyebab
banjir.
kayaknya kita deh
manusia ini yang
selalu menyebabkan
banjir. pembangunan
yang tidak
terpikirkan secara
detail dan hanya
mengejar bentuk
tanpa peduli pada
eksesnya pada
lingkungan. pemkot
Makassar harusnya
sadar kalau curah
hujan di kota ini
jauh lebih tinggi
dari beberapa kota
besar lainnya di
Indonesia, dan itu
berarti perlu
penanganan dan
perhatian lebih
serius. tapi
kenyataannya koq
kayak dibiarkan saja
selama bertahun2 ?.
jangan-jangan
sebentar lagi kota
kita ini akan
mengikuti kota
Jakarta yang tiap
tahun capek berteman
dengan hujan... 02-02-2009 Dari : barusankehujanan | LelakiHujan, Saya
tidak melihat bahwa
penulis menyalahkan
hujan..
Dia kan cuma
menyebut, kalo hujan
menyebabkan
Banjir...
Seperti Api yg
menyebabkan
Kebakaran..
Api tidak bersalah
(dan perlu
dipersalahkan) dalam
persoalan Kebakaran,
Tapi 'pengelolaan'
api yg tidak becus
yg menyebabkan
kekakaran.
Pun Banjir..
(Air)hujan yg
menyebabkan banjir
di Makassar kemaren,
bukan air laut (rob)
ato air yg lain..
Penulis sudah
berusaha meng-urai
kenapa "(air) hujan"
bisa menyebabkan
banjir di Makassar,
sekaligus tawaran
solusi..
Hmmmmm, memang
kadang 'bahasa
teknik' dan 'bhs
sastra' bisa beda
makna... 02-02-2009 Dari : lelakihujan aka lelakibugis | sebagai pecinta
hujan, saya ikut
terganggu oleh kesan
bahwa hujanlah
penyebab banjir.
saya tak akan pernah
cemas melihat hujan
datang, tentu saya
akan menyambutnya
dengan hati senang.
saya hanya cemas
[dalam taraf
ekstrem] bila
melihat kelakuan
para pengambil
kebijakan kota ini.
atas nama
pembangunan, semua
lahan diisi [yang
sayangnya,
kebanyakan ruko dan
mall] tanpa
mempedulikan apakah
lahan itu adalah
lahan yang berfungsi
sebagai daerah
resapan air atau
ruang terbuka hijau.
lihatlah pula,
betapa tak becusnya
pemerintah kota ini
mengurus selokan.
contoh nyata adalah
genangan air di
depan biblioholic,
sebelum lahan kosong
itu dibanguni ruko
meski hujan
berhari-hari kami
tak kebanjiran.
kini, meski hujan
hanya turun sehari
genangan airnya tak
mau surut dalam tiga
hari. ini diperparah
oleh tak adanya
selokan yang memadai
sepanjang jalan
perintis.
lalu pantaskah hujan
disalahkan?
02-02-2009 Dari : dg. sugi | menggetarkan..
pertama karena ada
penyair
menggugat..kok hujan
yang "disalahkan".
Jelas bukan itu yang
hendak di
sampaikan.
yang kedua:
kalo saya ada di
pihak pemerintah
kota, saya agak beku
di dalam, bukan
karena hujan, tapi
karena list jalan
berlubang yang
winarni sodorkan.
taruhan, tak ada
"pihak berwajib"
punya list itu..
Dua hal itu, membuat
tulisan winarni ini
seperti menyodorkan
pada saya peristiwa
"membuka kaleng yang
penuh ulat."
hujan datang,
menghapus kosmetik
kota yang dibangun
dengan setengah
hati.Di bangun untuk
keperluan-keperluan
project dan
pemanfaatan alokasi
dana. Hujan datang,
untuk memperlihatkan
bahwa apa yang
selama musim panas
terkesan "mulus",
hanyalah soal
mendempul.. keahlian
mendempul . keahlian
mengakali,
sebenarnya.
sungguh,
ngeriiiiiiii
kaleeeeeee korupsi
di negeri ini.
02-02-2009 Dari : aan mansyur | aanmansyur@gmail.com ada 'pelecehan'
terhadap penyair di
tulisan ini!
utamanya
penyair-hujan
seperti saya.
hehehe.
banjir dan hujan tuh
dua hal yang berbeda
kan?
padahal hujanlah
yang menghidupi
petani, ojek payung,
penjual raincoat,
dan banyak lagi yang
lain--juga mungkin
saja banyak dari
kita lahir karena
musim hujan. (meski
tentu banyak juga
penjual yang merana
di musim hujan)
"Hujan yang
mengguyur beberapa
hari terakhir
menyebabkan banjir
di beberapa titik."
dalam liputan
banjir, kalimat
klise seperti
kalimat Winarni yang
saya kutip di atas
adalah kalimat yang
saya benci.
sebab jika kalimat
itu yang kita
gunakan, masa dengan
meminta Tuhan tak
mengirim hujan jadi
solusinya?
di depan biblioholic
juga tergenang
banjir beberapa hari
terakhir ini loh.
tapi, duh, tak
nyaman rasanya
menyebutkan bahwa
itu karena hujan
berhari-hari.
saya paham bahwa
bukanlah hujan yang
betul-betul
disalahkan Winarni
dalam tulisannya di
atas. tetapi
memasukkan
sentimentalia hujan
dengan maksud jadi
pemanis tulisan
malah rasanya jadi
tak nyaman buat saya
sendiri.
semoga hanya saya
yang terganggu
dengan itu!
|
|
|
|
|
| ::
CITIZEN REPORTER |
 | (Kamis, 12-07-2007) |  | (Minggu, 29-04-2007) |  | (Selasa, 31-10-2006) |  | (Rabu, 11-10-2006) |  | (Rabu, 16-08-2006) | |
|
Untitled Document
| ::
DUNIA SEGIEMPAT KAREBOSI |
|
Untitled Document
| ::
KONTAK TIM PANYINGKUL! |
Email:
redaksi@panyingkul.com
Makassar:
Nilam Indahsari +62 81 241 229 089
M. Aan Mansyur +62 411-586459
Jakarta
Moch. Hasymi +62 811 955 954
|
|
|