Untitled Document
 


Untitled Document
.KITAKITA
:: Jika Anda di Panyingkul ::
 
 KABAR KITA
 
 BERANDAKITA
Kegilaan, Dari Cinta Mati di Pulau Rajuni Hingga Riwayat Kadang
:: Ivan Firdaus ::
Baba Guru, Mengenang Film Rhoma Irama di Klenteng Galesong
:: Kamaruddin Azis ::
Mengagumi Tenun Troso, Mengenang Tenun Sengkang
:: Suryadin Laoddang ::
Perempuan Besi di Gunung Perak (2-selesai)
:: M. Aan Mansyur ::
Perempuan Besi di Gunung Perak (1)
:: M. Aan Mansyur ::
 
 RISETKITA
Rasa Takut : Yang Dicitrakan, Yang Dipelihara
:: Aria W. Yudhistira ::
Risetkita: Pramoedya versus Sejarah Resmi
:: Nurhady Sirimorok ::
Hikayat Rumpon Nelayan Mandar
:: Muhammad Ridwan Alimuddin ::
Di Makassar Pernah Ada “Negeri Wajo”
:: Nurhady Sirimorok ::
Surat Itu Ditulis Upas kepada September
:: Nurhady Sirimorok ::
 
 BUKUKITA
 
 KATAKOTAKITA
Kenapa si Gondrong yang Maju?
:: Ivan Firdaus dan Mustamin al-Mandary ::
Karena ‘Rewa’ Badan Binasa
:: Sudirman Nasir ::
Yang Okkot, yang Salah Sambung
:: Nursamsu danTusiana Noor Alfisyahr ::
Kandala`ka`, Kusta Bila Dusta
:: Panyingkul ::
Ayo, Si(ng)kat Terussss..!
:: Panyingkul! ::

 
 TAHUKAHKITA
 

.
 ::
Kamis, 29-01-2009 
Mengawasi Pilkada, Mengawal Agenda Pemilu
:: Miftahful A`la ::

Judul:
Mengawasi Pemilihan Umum Kepala Daerah
Penulis:
Prof. DR. Samsul Wahidin, SH. MS
Penerbit:
Pustaka Pelajar, Yogyakarta
Cetakan:
Januari 2009
Tebal:
425 halaman


Pemilihan umum legislatif tinggal empat bulan lagi. Berbagai partai politik, calon presiden serta calon anggota legislatif semakin gencar dan intensif melakukan berbagai manuver politik untuk menjadi juara.. Berbagai macam cara dilakukan untuk meraih suara terbanyak. Mulai dari memasang beragam iklan baik di media masa maupun televisi, berbagai slogan dan janji-jani yang menggiurkan pun turut andil menjadi pilihan para calon dalam berkampanye. Meskipun pada akhirnya semua janji yang digembor-gemborkan tidak terealisasi. Bahkan beragam iklan yang dilakukan sampai menghabiskan dana miliaran rupiah.

Dalam Pemilu 2009 mendatang, dengan begitu banyaknya partai politik yang bertarung untuk memperebutkan kursi entah di lembaga legislatif, eksekutif maupun yudikatif, tentunya tidak menutup kemungkinan berbagai sikap serta prilaku kotor akan dilakukan demi mendapatkan kemenangan. Kemenangan untuk mengantongi suara terbanyak dalam pemilu agar terpilih menjadi anggota dewan. Dalam keadaan yang semacam inilah aksi saling tuding-menuding pun tak terelakkan lagi. Sehingga konflik yang terjadi dalam tubuh internal dunia politik di Indonesia semakin memanas, meluas dan tidak berjalan dengan optimal sesuai dengan tujuan utama dalam dunia politik itu sendiri. Pertarungan dan aksi saling menjegal akan menjadi semakin sengit dan seru.

Memang, sebenarnya problematika yang menyertai Pemilu, baik Pilpres maupun pemilihan kepala daerah sudah tergolong sangat kompleks dari tahun ke tahunnya. Berbagai permasalah yang hadir senantiasa berkembang dinamis dari waktu ke waktu. Sehingga tak ada kata final untuk membangun sebuah tata kehidupan yang didasarkan kepada hukum pemerintahan daerah yang bersifat tetap. Proses itu sendirilah yang merupakan suatu ketetapan. Sehingga memerlukan satu terobosan yang akurat dan fair dalam menangani agenda tahunan ini.

Buku "Mengawasi Pemilihan Umum Kepala Daerah" ini berusaha untuk menjawab berbagai problematika yang terjadi dalam pilkada. Penulis lewat karyanya ini mengajak kepada seluruh element masyarakat Indonesia tanpa terkecuali untuk turut serta mengawasi serta mensukseskan agenda lima tahunan sekali ini yang merupakan hajatan akbar bagi Indonesia yaitu pemilihan kepala daerah (pilkada) dan yang akan menentukan masa depan bangsa-negara. Secara formal, pada dasarnya pengawasan terhadap agenda lima tahunan ini merupakan tanggang jawab penuh yang harus dilakukan oleh pengawas pemilu (panwaslu). Akan tetapi sejatinya masyarakat juga mempunyai kewajiban untuk turut serta mensukseskan agenda akbar tersebut. Karena bagaimanapun juga agenda dalam pemilihan ini akan menentukan masa depan Indonesia serta nasib rakyatnya selama lima tahun ke depan.

Di dalam buku ini dipaparkan lebih komprehensif terkait dengan berbagai macam strategi khusus untuk menghadapi persoalan yang terjadi dalam pilkada yang dilakukan secara langsung. Bagaimana cara untuk mengawasi pilkada agar pelaksanaannya aman dalam artian tidak terjadi konflik dan kualitas pilkada untuk meningkatkan mutu pendidikan demokrasi yang telah ada semuanya berusaha dikupas lebih jauh dalam buku ini. Selain juga sejarah dan cikal bakal diadakannya pemilihan kepala daerah. Dideskripsikan dengan menggunakan bahasa yang sangat lentur sehingga mudah untuk dipahami oleh semua kalangan tak terkecuali masyarakat kecil (grassroot) sekalipun.

Ada beberapa hal paling mendasar dan urgen tentang manfaat dalam pilkada secara langsung yang dikupas dalam buku ini. Esensi yang patut untuk kembali direnungkan dan ditelaah lebih jauh jauh agar masyarakat Indonesia tidak terjebak dengan hal-hal yang tidak bermanfaat. Pertama, agenda tahunan ini merupakan salah satu pintu utama bagi Indonesia untuk menerapkan secara utuh demokrasi yang selama ini dicita-citakan oleh masyarakatnya. Karena pilkada merupakan salah satu jawaban atas berbagai tuntutan aspirasi rakyat

Kedua, pilkada langsung ini merupakan perwujudan konstitusi dan UUD '45, seperti apa yang telah diamanatkan dalam pasal 18 ayat 4 UUD '45. Ketiga, pilkada langsung menjadi sebagai salah satu ajang yang paling kondusif untuk mendidik, memperkenalkan serta pembelajaran demokrasi politik bagi masyarakatnya (civil education), pilkada merupakan salah satu alat yang paling efektif untuk memperkuat otonomi daerah dan yang terakhir dengan adanya pilkada secara langsung, maka diharapkan mampu menjadi ajang untuk proses kaderisasi pemimpin nasional bagi bangsa-negara. Sebab sadar maupun tidak Indonesia kekurangan pemimpin yang marketable dan mampu membawa peubahan bagi kesejahteraan dan kemakmuran rakyatnya. (hal 139)

Penting kiranya bagi masyarakat Indonesia untuk mengawasi jalannya pemilihan yang sudah menjadi tradisi tahunan ini. Mulai dari proses awal hingga selesainya pemilu kepala daerah tersebut. Hal ini dimaksudkan agar dalam perjalanan pemilihan yang sedang berlanjut dapat berjalan secara optimal tanpa ada politik kotor yang berjalan di dalamnya. Dengan adanya pilkada langsung ini, masyarakat Indonesia juga akan mampu berfikir secara lebih dewasa untuk mampu mamahami perbedaan dan kekalahan antara satu dan lainnya. Selain juga akan semakin memperkuat dan mempertajam sisitem demokrasi yang telah dianut Indonesia.(p!)

* Peresensi adalah Direktur pada Center for Politic and Law Studies (CePoLS) Fakultas Syariah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, dapat dihubungi melalui email miftah87@gmail.com

| Beri Komentar| Jumlah Komentar (4) |

Komentar :

09-07-2009
Dari : Daeng Lalo | muslimin.beta@pewarta-indonesia.com
Memang penting pengawasan pilkada dilakukan orang/lembaga di luar struktur penyelenggara negara. Kasus pilkada gubernur SUlsel 2008 lalu yang berbuntut hingga ke tingkat MA adalah cermin lemahnya pengawasan pilkada sehingga pihak yang kalah merasa perlu melanjutkan berperkara di lembaga peradilan

06-02-2009
Dari : Muh. Nur Taqwim | taqwimyunus@yahoo.co.id
Pengawalan Pilkada hendaknya tidak hanya dilihat dari sisi prosesnya, tetapi hasil dari Pilkada itu penting pula difikirkan karena akan terkait kepentingan masyarakat dan bangsa ini ke depan. Alasannya adalah : saat kampanye pertama, yakni penyampaian Visi dan Misi lalu ditetapkan dalam sidang Paripurna DPRD, maka dokumen tersebut menjadi resmi sebagai rujukan dalam membuat RPJMD. Jadi logikanya, siapapun yang terpilih nantinya harus menjalankan program yang telah termuat dalam Visi Misinya. Jika ini berhasil, maka saya yakin untuk pengawalan pemilihan selanjutnya dapat berjalan dengan baik pula.

06-02-2009
Dari : Husnun | husnunarif@gmail.com
please, visit my blog klik di sini

03-02-2009
Dari : heni | heni_alny@yahoo.co.id
ya memang perlu tu mas untuk mengawasi pilkada, biyar tidak terjadi penyimpangan dalam pelaksanaannya. tp masalahnya masyarakat kita mau gak untuk mengawasinya? la baru dicekoko 100 ribu ja dah diam bagaimana mau sportif maenya. ya semoga aja pilkada dan pemilu mendatang bisa lebih fair, sportif dan tidak ada penimpangan semisal money politik dan suap gitu deh!!!!!!!!!! he heeeeeeeeeee



 :: CITIZEN REPORTER
Makassar di Panyingkul!: Sebuah Persembahan
(Kamis, 12-07-2007)
Ayo Bergabung di Panyingkul!
(Minggu, 29-04-2007)
Catatan Sederhana Para Citizen Reporter
(Selasa, 31-10-2006)
Tentang Citizen Reporter dan Rubrik di Panyingkul!
(Rabu, 11-10-2006)
Riuh Rendah di Panyingkul!
(Rabu, 16-08-2006)

Untitled Document
 :: DUNIA SEGIEMPAT KAREBOSI






 :: PILKADA




 :: ALBUM PUASA 2008




Untitled Document
 :: KONTAK TIM PANYINGKUL!

Email Redaksi :

redaksi@panyingkul.com

Tim:
yus@panyingkul.com
+62 813 226 80844

Moch. Hasymi
+62 811 955 954


© Juni 2006 - Panyingkul.com All Rights Reserved
Desain Web : Nesia Andriana -- Supported by: Yuhardin