| Menyerap bahasa asing maupun bahasa daerah, kini semakin lumrah. Di sebuah warung di kawasan Panakkukang, Makassar hadir “Mie Ayam dan Batagor Aslina Bandung”. Kata “Aslina” di sini tentu saja bukan nama anak gadis pemilik warung, tapi bahasa Makassar yang berarti “asli dari Bandung”.
Di Jepang pun, sejumlah restoran yang menyajikan masakan Indonesia, tidak merasa perlu membuka kamus atau berkonsultasi ke ahli bahasa untuk menuliskan nama masakan.
Ejaan menu di Restoran Surabaya di Yokohama, Jepang. Foto: Lily Yulianti/Nesia Andriana.
Di Restoran Surabaya di kota pelabuhan Yokohama hadir menu “Krupuk Udan” dan “Gure Kambin”. Bukan untuk maksud melucu, tapi semata untuk menyesuaikan dengan kebiasaan pengucapan dalam Bahasa Jepang. Kata berakhiran “n” lazim dilafalkan dengan bunyi “ng”, sementara sebaliknya, huruf “L” dilafalkan dengan bunyi “R” yang diucapkan secara samar. Jadilah tulisan “krupuk udan” itu benar adanya dalam versi Jepang karena pengucapannya toh tetap “Krupuk Udang”.
Ejaan menu di Restoran Asian Taste di Tokyo. Foto: Lily Yulianti.
Di Restoran Asian Taste di Tokyo, hadir “Sambaru Kanbing” yang tentu saja maksudnya adalah sambal goreng kambing. Dan di toko kopi Kaldi dijual Kopi Mandheling, yang maksudnya adalah biji kopi pilihan dari Mandailing, Sumatera Utara. Kopi ini adalah salah satu favorit penikmat kopi di Jepang, karena aromanya yang sangat wangi. Kopi Bari, tentu maksudnya adalah Kopi Bali.
Trik iklan : mengakrabkan nama tempat. Foto: Daeng Ammang.
Lokasi asal makanan memang penting. Coba kita telusuri nama restoran dan menu makanan. Jelas terlihat bahwa invasi gencar dilakukan para pelaku bisnis untuk mengeksploitasi tempat asal makanan itu, sebagai resep dagang yang jitu. Karena itulah bertebaran papan reklame dan tenda warung bertuliskan “Martabak Medan”, “Bakso Lapangan Tembak Senayan Jakarta” hingga “Sate Madura”. Ini memang resep dagang. Brownies, kue cokelat yang lezat jelas bukan asli Bandung namun berasal dari Amerika. Tapi yang laris di banyak tempat justru “Brownies Bandung”.
Di Maros dan sekitarnya juga populer Roti Maros, yang berukuran kecil dengan isi selai santan dan gula yang gurih. Dan karenanya, kata seorang kawan, jangan heran bila demi ekspolitasi nama kota asal makanan itu di Kota Sungguminasa bahkan ada toko yang memajang papan reklame “Roti Maros Asli Bandung”. Nah! (p!)
|
| Komentar :
02-05-2010 Dari : LinDa aJaCh Berkata | linda.cute_cool90@yahoo.com XiXixi Tp bElUm
pErNaHpIkA liAt CoTO
bAnDuNg, cOtO
SuRaBaYa
TeTaPjIe dImAnA2
pAsti coto makassar
ato paling tidak
coto daeng ,,, blom
ad cOtO MaS
.Jhahahahahha ^_^ 09-05-2009 Dari : QvodEEMdmfj | fqphip@jydahw.com vASQ6N
viqbggillwym,
[url=http://ajcxcgsc
pjkt.com/]ajcxcgscpj
kt[/url],
[link=http://ggavokg
xpyjs.com/]ggavokgxp
yjs[/link],
http://nhtdyosiedok.
com/ 17-09-2008 Dari : ipang | ifank_online@yahoo.com "Aslina Bandung"
setau saya,
penggunaan kata na
dalam "aslina" sama
dengan penggunaan
kata "nya" nah
ternyata bukan cuma
di makassar kata ini
(na) dipake tapi
bahasa orang bandung
(sunda) juga memakai
kata "na" untuk
menunjukkan
kepunyaan.
jadi bisa saja
kalimat "Aslina
Bandung| memang dari
bandung dan memakai
bahasa sunda...
tapi biar lebih
jelas, kita tanya
aja langsung ma
penjualna 03-08-2007 Dari : cikkE'uLu | ada juga "Roti Maros
khas SemaraNg"
maksudnya
apa?!......!?
aNeh.
14-10-2006 Dari : yusuf akib | yusufakib_2006@yahoo.co.id Saya terhibur
membaca tulisan
ini.Hal-hal kecil,
sederhana, dan kerap
terlewati --dan
dengan demikian
menjadi 'timbul'
setelah ada yang
jeli, misalnya
dengan menulisnya
atau mem-fotonya--
menjadi sesuatu yang
spesial.
Saya tak sabar
menunggu kreatifitas
kawan-kawan
Panyingkul!
berikutnya. 13-09-2006 Dari : Mia | mya_luvcats@yahoo.com ya...emang kalo buat
usaha tuh mgkn harus
make nama yang
menarik kali ya?jadi
g perlu
dikonsultasiin ma
ahli bahasa ?
K Anty, blh minta
emailnya g? 11-09-2006 Dari : yusuf | www.yusuf_270781@yahoo.co.id saya juga pernah
makan diwarung
aslina bandung,tapi
pelayanannya nda
terlalu memuaskan,
masalahnya waktu
masuk kayak
diacuhkanka,mungkin
dikira saya nda mau
makan barangkali. 24-08-2006 Dari : Tim Panyingkul! | redaksi@panyingkul.com Terima kasih Pak
Munawir komentarnya.
Iya benar, Bahasa
Sunda juga
menggunakan "NA"
sebagai "NYA".
salam,
Tim Panyingkul! 23-08-2006 Dari : mutigoenawan | inimoety@yahoo.com se jg pernah ji
makan mi ayam aslina
bandung yg di
pengayoman. Ada ji
jg potrek mi ayamna
di album multiply ku
=) 23-08-2006 Dari : Munawir | munawir501@yahoo.com kalo nda salah...
bahasa sunda untuk
akhiran -NYA samaji
dengan bugis yaitu
akan berakhiran
-NA... jadi ASLINA
versi yang punya
warung adalah BAHASA
SUNDA.. bukan bahasa
BUGIS/MAKASSAR...
gitu kallee.. 23-08-2006 Dari : Munawir | munawir501@yahoo.com kalo nda salah saya
dulu yang bikin
spandutna ASLINA
BANDUNG waktu masih
kerjaka' di SOSRO...
:P 18-08-2006 Dari : muh ibrahim halim | to_waranipitue@yahoo.com he..he.. saya pernah
makan di tempat ini
[aslina bandung]
bersama sekitar
11-an anggota
keluarga. pelayanan
dari ibu
pemilik/pengelola
warung betul-betul
aslina keramahan
perempuan bandung
[sunda]. mulai dari
mace sampai
kemanakanku dimanja
abis sama ibu itu. |