panyingkul.com Blog » Karebosi Pagi, Karebosi Sore

Karebosi Pagi, Karebosi Sore

July 2006 Irayani

Irayani Queencyputri

Berbekal pengalaman menyenangkan bersantai di alun-alun kota Malang yang sejuk dan apik beberapa waktu lalu, saya memutuskan menghabiskan suatu hari libur di Karebosi di awal April. Orang-orang merujuk Karebosi sebagai alun-alun kota Makassar. Lapangan ini adalah nol kilometer-nya Makassar. Para pakar tata kota menyebutnya sebagai daerah resapan air yang sangat penting. Sementara bagi penggemar olahraga, Karebosi adalah kata kunci, yang menjadi kawah penggodokan atlet berbagai cabang olahraga. Adapun bagi saya, Karebosi selama ini hanya sebuah nama, yang mengingatkan bentangan lapangan luas, yang dikepung bangunan yang terus tumbuh di keempat sisinya. Di hari libur itu, saya ingin menjadi bagian orang-orang di Karebosi, mungkin ikut bersorak bersama suporter PSM atau sekadar duduk menonton penjual obat. Matahari baru saja terbit di Karebosi. Foto : Irayani QueencyputriPagi itu Karebosi menggeliat sangat awal, di saat jalan masih lengang, di saat jejeran gedung perkantoran, toko, bank, sekolah dan Makassar Trade Center (MTC) masih senyap. Di tengah cuaca yang cerah, tampak orang-orang bermain basket, tenis, sepakbola, maupun hanya sekedar joging mengelilingi lapangan.Di sisi selatan banyak orang yang menonton tim Persatuan Sepakbola Makassar (PSM) sedang latihan. Sehari sebelumnya, PSM mengalahkan Persmin Minahasa sehingga sorak sorai dukungan dari pertandingan semalam yang berlangsung di Stadion Mattoanging, bergema lagi di Karebosi pagi ini. Kelompok Suporter Fanatik PSM Karebosi yang berdiri di tepi lapangan melontarkan seruan-seruan untuk menyemangati tim juku eja itu. Suasana sisi selatan lapangan Karebosi yang ditumbuhi pohon palem, yang masing-masingnya dengan jarak tanam kira-kira 50 meter per pohonnya. menghadirkan suasana yang cukup teduh dan rindang. Ramai sekali orang-orang berbagai usia yang joging di sisi selatan ini. Ada yang joging satu keluarga, berpasangan, atau bahkan sendiri. Bahkan pagi itu ada seorang kakek yang sambil menggendong cucu terlihat bersemangat berlari menyusuri lapangan. Seorang kakek dan cucu menikmati pagi di Karebosi. Foto : Irayani QueencyputriSaya berjalan pelan menyusuri sisi selatan menuju arah utara yang merupakan gerbang utama Karebosi. Gerbang ini ditandai oleh patung Pa`raga dan patung Ramang, tokoh legendaris persepakbolaan Makassar. Di bawah patung Ramang terlihat segerombolan anak-anak yang nampaknya masih SMU. Semuanya duduk di atas sadel motor, seperti sedang menunggu. Mungkin, mereka berjanji berkumpul di Karebosi, sebelum berangkat ke suatu tempat lainnya. Lokasi Karebosi yang strategis memang pilihan tempat bertemu yang paling tepat.. Siapa yang tidak kenal Karebosi? Tentu mudah berjanji bertemu di sini. Patung Ramang di gerbang Karebosi. Foto : Lily Yulianti Farid. Insert : Karebosi, tempat ideal untuk bertemu. Foto : Irayani Queencyputri Patung Ramang di gerbang Karebosi. Foto : Lily Yulianti Farid Insert : Karebosi, tempat ideal untuk bertemu. Foto : Irayani Queencyputri Tidak jauh dari serombongan anak muda tadi, terdapat sebuah gerobak yang ramai dengan pengunjung. Ini sisi lain Karebosi di pagi hari: jajanan pagi. Dan pagi ini yang hadir adalah bubur kacang hijau (di gerobaknya tertulis "Kacang Ijo"). Jajanan pagi Karebosi : Jajanan pagi Karebosi : "Kacang Ijo". Foto : Irayani Queencyputri Dengan bermodal 1.500 rupiah per mangkuk, pengunjung sudah bisa menikmati bubur kacang hijau yang ditambahkan ketan hitam dan santan. Ramai orang yang menyantap sarapan kacang hijau. Ada yang memutuskan sarapan kacang hijau setelah berolahraga, tapi ada juga yang sengaja datang hanya untuk menikmati semangkuk bubur.“Setiap pagi saya makan di sini, buburnya enak,” kata Amir (32), seorang pegawai PLN, yang kantornya terletak tak jauh dari lapangan. Sang penjual bubur sudah empat tahun berjualan di Lapangan Karebosi ini, setiap pagi sampai menjelang malam dia pasti mangkal di sini. Selain penjual bubur tadi, terdapat sejumlah pedagang makanan dan minuman lainnya di sekitar gerbang utama ini. Mereka mengakui, dalam setahun terakhir, pembeli tidak lagi ramai karena sebagian dari sisi utara-selatan Karebosi telah ditutup dan pedagang kaki lima dilarang lagi beroperasi di sana. “Saya dengar-dengar di tempat ini mau dibangun rumah untuk pemain PSM…”, kata salah seorang penjual minuman dingin. Saya lalu kembali ke sisi selatan lapangan Karebosi. Di sudut lapangan pertigaan Jl. RA Kartini dan Jl. Kajaolalido, ada beberapa hal yang menarik perhatian. Terdapat dua papan etalase tempat foto-foto, dan satu rak etalase besar yang menyimpan banyak piala. Ternyata pojok itu digunakan sebagai pusat kegiatan Makassar Football School (MFS), yang murid-muridnya sempat mengharumkan nama bangsa di sebuah pertandingan internasional. Bahkan salah satu dari pemainnya, Irvin Museng, diajak untuk bergabung dengan Ajax Amsterdam.Sudut Etalase Foto dan Piala Makassar Football School. Foto : Irayani Queencyputri. Lelah berkeliling, saya memutuskan untuk membeli sebotol air mineral 600ml dan meneguknya sambil duduk di salah satu bangku dekat pojok merah tempat mangkal Kelompok Suporter Fanatik PSM Karebosi tadi. Kerumunan suporter telah bubar, PSM telah selesai berlatih. Di sebelah kanan saya ada seorang anak muda sedang membaca koran, dan di sebelah kiri saya ada sepasang insan yang lagi mesra-mesranya membaca sms d layar telepon genggam.Apa yang bisa saya simpulkan sementara setelah menyusuri sisi selatan dan utara lapangan ini? Sambil menenggak air mineral, saya tiba pada kesimpulan: Karebosi lebih tepat disebut sebagai tempat olahraga. Harapan tentang alun-alun yang apik, ruang terbuka yang riuh rendah dengan orang-orang yang ingin bersantai, belum hadir setelah saya menghabiskan waktu kurang lebih dua jam di sini. Saat mengamati delapan ekor angsa yang berkeliaran di tengah lapangan, tidak jauh dari tempat tim PSM tadi berlatih, saya tiba-tiba terusik oleh suara-suara yang saling sahut menyahut, yang terdengar jelas. Rupanya sepasang kekasih yang tadinya terlihat mesra sambil membaca sms di layar telepon genggam mereka itu, kini beradu argumen. Kisahnya tak jauh beda dari sinetron yang menghiasi layar kaca kita: perempuan yang merajuk minta dinikahi, sementara sang pria mengaku belum siap. Sang perempuan nekat, meminta bukti kesungguhan cinta dengan mengajak hidup bersama. Begitu kisah dramatis ini berakhir yang ditandai dengan deruman motor yang membawa keduanya pergi, ternyata menyusul kisah dramatis lainnya: seorang bapak tiba datang di dekat saya dan mengajak “kencan”. Di tengah langkah bergegas untuk menyelamatkan diri dari keisengan sang bapak tadi, saya sepertinya tengah membaca salah satu halaman kisah percintaan warga kota yang tercatat di lembar buku harian bernama Karebosi. Jam di pergelangan tangan menunjukkan pukul 10.15 pagi dan saya telah menyaksikan catatan harian tentang fanatisme suporter PSM, semangat dan disiplin tim PSM yang meski baru saja menangguk kemenangan semalam lalu, kini harus kembali berlatih, daya juang pedagang kaki lima yang hadir sejak pagi-pagi sekali, dan rombongan orang-orang yang tampak berbahagia menikmati olahraga pagi, dan sepasang kekasih yang bertengkar di tepi lapangan. Sebuah pagi yang sederhana dan bersahaja. Jajanan sore Karebosi. Foto : Irayani Queencyputri Berangkat dengan asumsi bahwa suasana alun-alun kota barangkali saja hadir di sore hari, kembali saya menjejakkan kaki di Lapangan Karebosi. Betul kata para pedagang kaki lima pagi tadi, bahwa di sore hari memang lebih ramai. Para penjual mulai memenuhi daerah pintu gerbang utama Karebosi. Begitu tiba di sisi utara, perhatian saya tertuju pada seorang pria tua. Dari raut wajahnya dapat terlihat bahwa ia keturunan India. Sejak 1998 pria lanjut usia yang bernama Pak Ibrahim ini menjual arloji. Sebelumnya bahkan pernah berdagang di Manado. Ia mengambil tempat tepat di depan papan etalase “Gerakan Makassar Gemar Membaca” yang bila diperhatikan dengan seksama, artikel-artikel dalam papan itu sudah mulai menguning dimakan waktu dan tak pernah diperbaharui. Sudut-sudut lembaran artikel itu ada yang sudah terlepas dan lapuk. Pedagang arloji di depan etalase Pedagang arloji di depan etalase Berjalan sedikit ke arah alun-alun, di belakang alun-alun terlihat 6 pasang meja beserta kursi. Inilah sudut bagi para penggemar catur. Sejak menjelang siang hingga menjelang malam, tempat ini dijadikan tempat berkumpulnya para pencinta olahraga otak ini. Di setiap meja terdapat dua papan catur, sehingga 12 pasang pemain bisa bermain bersamaan. Apakah mereka bermain catur sekadar iseng? Ternyata tidak, ungkap salah seorang pemain catur yang bernama Pak Bobo. Sudut Permainan Catur di Karebosi. Foto : Irayani Q. Permainan yang dilakukan dihitung menggunakan timer yang merupakan standar permainan catur profesional. Pak Bobo, yang cukup terkenal di kalangan pecatur di Makassar, menyebut tempat ini sebagai basecamp catur Karebosi. Dia juga menyebutkan beberapa tempat di Makassar ini yang merupakan tempat para pecinta catur berkumpul dan bermain. Salah satunya Kafe Ozone di lantai lima Makassar Trade Centre yang terletak di seberang lapangan Karebosi itu. Pak Bobo yang mempunyai istri empat ini ternyata bukan orang biasa. Ia sudah pernah mengharumkan nama Makassar ke beberapa daerah di Indonesia untuk mengikuti pertandingan catur. “Di tempat ini, semua bisa datang. Siapa saja yang ingin main catur, silakan. Banyak yang datang ke sini sepulang dari kerja, mampir dulu main catur lalu pulang,” demikian penjelasannya. Menatap ke arah lapangan, seperti pagi tadi, aktivitas olahraga tetap mendominasi. Terutama olahraga sepakbola. Dan yang paling menarik perhatian, tentu saja sejumlah pemain PSM yang kembali berlatih lagi di lapangan khusus mereka. Juga tampak anak-anak kecil berseragam warna merah. “Mereka murid-murid MFS yang lagi latihan,” celetuk salah satu pengunjung di lapangan tersebut. Saya lalu memutuskan berpindah ke sisi barat lapangan. Di sana terlihat kesibukan yang tidak biasa. Ada empat tiang bambu yang terpancang di sana beserta kerumunan orang ditingkahi dengan ramainya suara-suara teriakan. Lomba Merpati di Karebosi. Foto : Irayani Queencyputri. Ketika saya mendekati, ternyata ada permainan unik yang tengah berlangsung. Pertandingan ini memakai sepasang burung merpati. Burung merpati jantan dibawa sampai ke daerah pelabuhan, kemudian dilepaskan dengan harapan burung merpati jantan tersebut akan terbang untuk bertemu dengan betinanya, yang menunggu gelisah di Karebosi. Empat tiang yang dipancang dijadikan sebagai batas, dan burung merpati yang datang harus datang dari arah atas, tanpa boleh mengenai sisi-sisi batas yang sudah dipancang itu. Burung merpati yang tercepat datang dan tepat masuknya adalah pemenang, dan terus dipertandingkan babak penyisihan berikutnya hingga menemukan pemenang utamanya. “Jagoan hari ini yaitu Daeng Kebo,” tutur salah satu penonton pertandingan burung balap tersebut sambil menunjuk ke arah sepasang burung merpati berwarna putih bersih. Betul kata para pedagang kaki lima, di sore hari Karebosi lebih semarak. Selain orang-orang yang menggiring bola, ada pemain catur, dan peserta lomba burung balap. Dan saat kembali ke sisi utara lapangan, saya harus menambah catatan: penjual obat pun telah mulai beraksi. Sore itu, sang penjual obat berkoar-koar mempromosikan dagangannya yang dijamin bisa meningkatkan kejantanan pria. Dengan topik promosi seperti ini, tentu saja saya menjadi aneh sebagai penonton wanita satu-satunya di antara sejumlah pria yang menyaksikan dengan antusias. Sore hari memang lebih semarak. Penjaja makanan pun makin ramai, termasuk penjual bubur kacang hijau yang telah mulai berjualan sejak pagi tadi, masih bertahan di sana. Tak jauh dari tempat saya berdiri, terlihat penjual rujak Karebosi ramai dirubung pembeli. Kata orang, rujak Karebosi yang laris itu telah mampu membuat pemiliknya naik haji beberapa tahun yang lalu. Penjual rujak yang sukses di Karebosi. Foto : Irayani Queencyputri. Sore sebentar lagi tuntas, dan saya menyaksikan orang-orang sedang berkemas-kemas pulang. Si tukang obat memasukkan barang dagangannya ke kardus besar, lalu dinaikkan ke atas kereta beroda. Dengan dibantu oleh dua orang anak-anak ia menyimpan aset dagangannya itu di dalam sebuah pos jaga dekat gerobak penjual bubur kacang hijau yang menjual tadi pagi. Setelah memastikan barang dagangannya telah tersimpan dengan benar, penjual obat tadi pergi menghampiri sebuah warung dan bercanda dengan ibu penjaga warung. Dia bercerita tentang seorang pembeli yang terburu-buru hingga lupa mengambil uang kembaliannya. “Takut ki ketahuan barangkali,” ibu penjaga warung itu menimpali. Lapangan mulai sepi saat azan magrib berkumandang. Empat tiang bambu untuk pertandingan burung balap sudah diturunkan. Dekat pos jaga tempat penyimpanan barang dagangan penjual obat tadi terlihat seorang tukang becak yang sedang beristirahat di atas becaknya sambil bercanda ria dengan kedua anaknya yang masih balita. Tak jauh dari situ berdiri sebuah papan bertuliskan “Jagalah Kebersihan dan Keindahan Lapangan Karebosi". Sayangnya , hanya dua langkah dari situ terdapat tumpukan sampah yang kelihatannya sudah lama teronggok. Setelah senja usai, saya bergegas meninggalkan lapangan yang menyimpan kisah orang-orang biasa itu, orang-orang yang mencari hidup, atau yang sekadar melepas lelah, yang menyalurkan hobi, atau yang bersungguh-sungguh berlatih mewujudkan obsesi sebagai atlet tangguh. (p!)

Rubrik: BERANDA KITA

Leave a Comment

Required

Required, hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Rubrik